ログイン"GADIS KAMPUNG!" seru Awan lagi.
"Temui Tuan dulu, jangan buat Tuan menjadi marah lagi!" perintah Minah. "Tapi, Mbak ....!" Mega tampak ragu. Minah menganggukkan kepalanya, membuat Mega akhrinya mengalah dan kembali menemui Awan. Mega berjalan cepat, saat telinganya masih menangkap suara sang Tuan masih terus memanggilnya. Sampai akhirnya tibalah Mega di depan kamar Awan. Dimana keadaan pintu kamar Awan masih sama seperti beberapa saat Mega keluar dari sana. Tak ingin mendapat omelan yang kedua kalinya, Mega lebih dulu mengetuk pintu kamar lelaki galak itu. Tok Tok Tok Suara ketukan segera membuat Awan mengarahkan pandangannya pada pintu kamarnya. "Masuk!" ketus Awan. Masih dalam keadaan menundukkan kepalanya, Mega melangkah masuk ke dalam kamar Tauannya itu, "Bapak memanggil saya?" tanya Mega. Awan menyunggingkan senyum sinis, "tentu saja, dirumah ini siapa lagi yang kampungan selain kamu!" sinis Awan. Mega menarik nafas dalam-dalam, menahan rasa sebak di dalam dadanya. Megapun menegakkan pandangannya, "ada apa lagi, Pak?" Sejenak Awan terdiam, ia tatapi keadaan Mega dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya. "Kau tidak ada baju lain? bajumu terlalu kampungan!" hina Awan. Mega menegok sedikit lengan baju yang ia kenakan. "Jawab!" sentak Awan seketika membuat Mega terjingkat kaget. "Kau Tuli, apa juga bisu?" hina Awan lagi. Mega menyentak nafas, "semua baju saya seperti ini, Pak, bahkan ini baju paling bagus yang saya punya. Dan sudah pasti kampungan saya kan memang orang kampung!" jawab Mega. "Selera orang kampung memang buruk!" cibir Awan tersenyum remeh. "Iya, hanya Bapak yang seleranya bagus!" Mega tersenyum datar. Ucapan Mega membuat Kristian mengarahkan sorot mata yang begitu tajam padanya, dan tanpa ragu sorot mata itu segera dibalas oleh Mega, "apa? Apa saya salah lagi? Bukannya benar, selera Bapak memang bagus kan!" jawab Mega. "Ahhh, sudahlah ... Cepat bereskan barang-barangku!" perintah Awan. Mega lalu menoleh pada koper dan beberapa barang milik Awan, yang seingat Mega kedua barang itu tadi ia tinggalkan begitu saja di tengah tangga. "Tungga apa lagi cepat bereskan!" setak Awan lagi. Kerasnya suara Awan, lagi-lagi membuat Mega terjingkat kaget. Mega menghela nafas lalu mengelus dadanya, "Semoga aku tidak jantungan!" gumamnya. Mega kemudian berjalan menuju koper dan barang milik Awan, namun lebih dulu Mega mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, "kamar seluas ini tidak punya lemari? Lalu mau di taruh dimana baju dan barang-barang ini?" gumam Mega kebingungan. "Mencari apa? Sepertinya mulutmu hanya hiasan, tidak ada fungsinya!" omel Awan menyadari kebingungan yang dirasakan oleh Mega. Namun lagi-lagi Mega tak menggubris omelan Awan. Merasa tak dianggap ada oleh Mega, Awan pun bangkit dari duduknya. Ia berjalan pelan mendekati Mega yang tengah membelakangi dirinya. Mega tak menyadari jika Awan kini telah berada tepat di belakangnya, hingga saat ia berbalik badan, tanpa sengaja tubuhnya bertabrakkan dengan tubuh Awan. Mega terhenyak lalu memundurkan tubuhnya beberapa langkah, "Bapak mengagetkan saya!" protes Mega. Namun kali ini bergantian, Awan hanya diam namun sorot mata tajamnya terus terarah pada Mega. Raut wajah datar namun mengerikan itu terus Awan arahkan pada Mega membuat Mega sedikit merasa ketakutan. Bahkan Awan terus melangkahkan kakinya menuju Mega sementara Mega berusaha menghindar dan terus mundur, hati Mega merasa was-was, "jangan macam-macam, Pak!" suara Mega terdengar gemetar ketakutan. "Takut?" tanya Awan singkat. "Jangan macam-macam, Pak, kalau memang Bapak menyuruh saya merapikan kamar ini, tolong Bapak keluar!" usir Mega. Awan tersenyum mengejek, tanpa aba-aba Awan mencengkram rahang Mega lalu menarik wajah gadis itu mendekat pada wajahnya, kini wajah keduanya semakin dekat tanpa ada penghalang apapun diantara keduanya. Bahkan hembusan nafas Mega yang memburu karena ketakutan pun dapat di rasakan oleh Awan, "apa hakmu mengusir aku, ini kamarku, ini rumahku. Jadi jangan coba mengatur aku, PAHAM!" tegas Awan. Kebencian tergambar jelas pada sorot mata Mega, tangannya mengepal geram tapi sayang, ia hanya bisa menahan tanpa bisa melampiaskan kekesalannya pada lelaki galak di hadapannya itu. Awan mengeratkan rahangnya tepat di depan wajah Mega yang masih di dalam cengkraman tangannya, "sepertinya aku masih bisa berubah pikiran!" ucap Awan membuat sorot mata Mega semakin tajam terarah padanya. Mega yang sudah terhimpit kali ini memegangi tangan Awan dengan kuat berusaha melepas cengkraman tangan Awan pada rahangnya. "Mau aku lepaskan?" bisik Awan. Mega yang tadi enggan menatap Awan kini tergerak untuk membalas tatapan lelaki yang tegah mengintimidasi dirinya itu. Awan pun melepas cengkramannya, ia lalu memundurkan tubuhnya sedikit menjauhi Mega. "Keluar, biar aku bereskan sendiri!" usir Awan. Mega terhenyak, ia merasa heran karena perubahan sikap Awan yang begitu mendadak. 'Apa ini maksud dia tadi berubah pikiran?' Mega bertanya dalam hati. "Tunggu apa lagi, cepat keluar!" sentak Awan kembali ke mode galak. Mega terjingkat lalu bergegas keluar dari kamar Awan, "dasar orang aneh!" Mega percepat langkah kakinya, hingga sampai di depan pintu kamar yang masih terbuka. "Loh kamu!" tanpa Mega sadari, ia nyaris bertabrakan dengan Amelia yang kala itu hendak masuk ke kamar Awan. "Bu ... Bu Amel!" ucap Mega tergagap. Mega merasa tak enak hati karena kedapatan keluar dari kamar Awan. "Ta ... tadi, tadi ....!" Mega salah tingkah. "Ada apa?" tanya Amelia lagi. "Tadi, Pak Awan memanggil saya!" jelas Mega. Amelia tersenyum tipis, "tidak apa-apa, tidak usah takut saya tidak marah!" ucap Amelia. Tentu Mega merasa heran melihat reaksi Amelia. Tanpa berucap apapun lagi, Amelia pun melangkah masuk ke dalam kamar baru yang akan di tempati oleh Awan. ****** Di dalam kamar Awan. "Sepertinya ada yang berubah pikiran!" ucap Amelia sembari melangkah masuk ke dalam kamar. "Biasakan ketuk pintu sebelum masuk!" tegas Awan tanpa menoleh pada Amelia. "Oh iya aku lupa!" jawab Amelia. Amelia kembali melanjutkan langkah kakinya mendekati Awan yang tampak begitu sibuk tanpa sedikitpun menoleh padanya. "Aku barusah berpapasan dengan Mega, gadis yang kamu bilang kampungan itu ... Bagaimana? Pilihaku pas dengan seleramu kan?" tanya Amelia. Mendengar ucapan Amelia, Awan meletakkan barang yang sedang di pilahnya dan segera bangkit dari posisinya, "apa kau paling merasa tau dengan seleraku?" sinis Awan. Amelia menautkan kedua alisnya, "tentu saja, dari sekian orang yang ikut mendaftar memang ada beberapa yang cantik, tapi aku rasa mereka tampak membosankan makanya aku memilih dia!" jelas Amelia. "Sepertinya dia penurut!" lanjut Amelia. "Bagaimana menurutmu?" sambungnya lagi. BERSAMBUNG ....Rasa nyeri terasa menusuk hati Mega dengan begitu dalam, "tadi Mbak Minah yang menyambut saya kesini atas perintah Pak Awan...kalau kehadiran saya membuat Bu Amel terganggu biar saya kembali ke paviliun saja," pamit Mega. Amelia sini tersenyums, "baguslah kalau kamu sadar diri," Mega mengangguk, lalu memutar tubuhnya. “Tunggu, Mel… tadi memang aku yang meminta Mbak Minah memanggil Mega, mau bagimanapun Mega juga butuh asupan,” jelas Awan. Amelia menatap Mega dengan sedikit tajam. Ucapan Awan tak membuat Mega menghentikan langkah kakinya, dan Awan pun buru-buru mengejar Mega. Saat tepat di belakang Mega Awan segera meraih pergelangan tangan Mega dan sontak saja Mega pun menghentikan langkah kakinya namun tanpa menoleh ke Awan. "Kamu juga harus makan!" cegah Awan. "Saya belum lapar, lebih baik Bapak dan Ibu saja yang makan!" tolak Mega sedikit ketus. Awan menarik tangan Mega membuat Mega tersentak dan sontak saja tubuhnya berputar menghadap Awan. Sorot mata Awan tampak tajam me
Awan mengerutkan kening, sementara Mega menarik tangan hingga terlepas dari genggaman tangan Awan. “Maksudmu?” tanya Awan. Mega menghela nafas, “kemarin Bapak bilang Bu Amelia tidak bisa melayani selayaknya istri pada suaminya, itu alasan Bapak menjadikan saya sebagai penggantinya, bahkan sampai menyiapkan segala keperluan Anda pun juga saya yang lakukan, dan sepertinya sekarang Bu Amelia sudah bisa melayani Anda, jadi hari ini minta tolong pada Bu Amelia saja,” terang Mela yang kemudian pergi begitu saja dari hadapan Awan. Awan terhenyak sesaat, bukannya marah justru Awan mengembangkan sebuah senyuman di wajahnya. "Sikapnya ... apa itu artinya dia cemburu?!" gumam Awan, dada Awan seketika menghangat dan semburat merah tempak mengembang mewarnai wajah Awan kala itu.Awan lalu meneruska langkahnya, pelan ia susuri langkah demi langkah untuk menyusul Mega dan berutungnya dugaan Awan benar, ia bisa menemukan Mega yang tengah berdiri di tepian sungai buatan.Sebuah senyuma kembali te
"Mega!" Awan terkesiap. Awan lalu menoleh padan jam dinding yang ada di kamar Amelia, "sudah pagi ... jangan-jangan semalaman dia menunggu aku?" batin Awan. Awan pun bergegas bangkit dari ranjang Amelia, dan lebih dulu mengemasi pakaiannya untuk kembali ia kenakan. Namun baru saja Awan selesai berpakaian, Amelia yang baru saja keluar dari kamar mandi kembali mencegah langkah Awan. "Loh ... kamu mau kemana, Wan?" tanya Amelia, rambutnya masih tampak basah dengan butiran air yang masih tampak menetes dari ujung rambutnya. Setelah kejadian semalam, bahkan Amelia pun sudah tak merasa malu mengenakan pakaian terbuka di depan Awan. "Sudah hampir siang ... aku harus bekerja," jawab Awan. Sembari menggosok rambutnya dengan handuk, Amelia berjalan mendekati Awan lalu berdiri tepat di hadapannya. "Setelah apa yang kita lakukan semalam, kamu langsung meninggalkan aku begini, Wan," ucap Amelia, wajahnya tampak memelas. "Atau jangan-jangan ....!" wajah yang awalnya memelas kini ber
Awan menerima gelas pemberian Amelia lalu duduk di sofa, ia tatapi sejenak hidangan yang tersaji di meja yang ada di depannya, "kalau seperti ini, kenapa tidak makan di bawah saja?" tanya Awan."Aku kan tadi sudah bilang, Wan, aku ingin makan berdua ... kalau di bawah kamu pasti mengajak Mega juga kan!" Amellia memasang wajah cemberut, "tadi kan aku sudah bilang ... aku ingin dekat dengan kamu, kita harus mencoba saling membuka hati kan, Wan. Kamu membuka hati untuk Mega saja bisa masa untuk aku tidak," lanjut Amelia.Awan hanya diam namun tatapan tajamnya terus ia arahkan pada Amelia. Awan lalu menghela nafas, "terserah kamu saja," sahutnya singkat.Amelia tersenyum tipis, "bisa tolong ambilkan aku makanan,Wan, aku sudah lapar!" pinta Amelia dan Awan pun bangkit dari duduknya untuk kemudian mengambilkan makanan untuk Amelia dan juga untuk dirinya sendiri.Setelah memberikan piring berisi makanan itu pada Amelia, Awan pun memilih untuk kemba;li duduk di sofanya semula.Namun tak sepe
Amelia mengepal geram, "sialan ... dia menolak aku, bahkan bersikap begitu sinis padaku ... tapi dengan perempuan desa itu dia bisa bersikap begitu manis," geram Amelia.Amelia terus mengarahkan tatapannya pada Mega dan Awan yang masih berbincang di pinggir kolam, "aku tidak bisa tinggal diam ... kalau begini terus lama-lama Awan bisa jatuh cinta pada perempuan kampung itu," grutu Amelia.Sementara di tepi kolam, Awan mengulurkan tangannya pada Mega, "ayo ... aku sudah lapar!" tagih Awan.Tanpa ragu Mega meraih tangan Awan dan keduanya pun berjalan bergandengan untuk kembali masuk ke dalam rumah.Dari jendela kamar Awan, Amelia masih begitu betah mengawasi, tanpa Amelia sadari kedekatan Awan dan Mega berhasil membuat hati Amelia memanas. Bahkan beberapa sumpah serapah beberapa kali terdengar keluar dari mulut Amelia. Melihat Mega dan Awan kembali, Amelia pun bergegas keluar dari kamar Awan untuk menyusul Mega dan Awan.Dari tempat Amelia berdiri, ia bisa melihat Awan yang baru saja
Dada Amelia kembang kempis menahan amarah di dalam dadanya. Amelia melirik tajam Mega dengan ekor matanya, "aku mau kita bicara berdua, bisa tidak suruh dia pergi!" pinta Amelia dengan nada sinis. Awan menatap ragu, namun beruntungnya Mega selalu paham akan posisinya, Mega mengangguk lalu mengalah untuk membiarkan Awan berbincang dengan Amelia. "Dia sudah pergi, jadi cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Awan. Amelia yang tadi tengah menatap kepergian Mega pun menoleh pada Awan, Amelia menyipitkan matanya, "kenapa aku rasa kamu sinis sekarang, atau jangan-jangan perempuan kampung itu sudah berhasil mencuci otakmu agar membenci aku!" tuduh Amelai. "Kamu ini bicara apa, Mega bukan orang seperti itu," sahut Awan. "Oh ya ...!" Amelia memasang wajah masam. "Bisa kita bicara di dalam, Mega saja boleh keluar masuk ke dalam kamarmu seenaknya, masa aku tidak boleh,'' lanjut Amelia. Awan menatap Amelia dengan tatapan melas, lalu ia memberi isyarat agar Amelia segera m
Amelia terkesiap, sejenak ia arahkan perhatiannya pada Awan "ada apa lagi? Kau meminta aku memulangkan dia lagi?" tebak Amelia sedikit sewot. Awan lebih dulu mengedarkan pandangannya kesegala arah, "masuk! Tidak enak membahas disini!" ajak Awan, lelaki itu berjalan lebih dulu sementara Amelia men
Di Area Kamar ART "Ehhh ... ada, Den Tomi!" seorang wanita setengah baya yang tidak lain adalah Art yang menjaga rumah Awan selama rumah itu tak ditinggali, wanita paruh baya itu segera menyapa kedatangan Tomi. "Iya, Mbak!" jawab Tomi singkat. Sang Art senior segera melongok ke arah belakang
Bentakkan dari sang Tuan rumah membuat Mega terkejut dan semakin takut, kembali wajah gadis desa itu tertunduk, "nama saya Mega, saya datang dari kampung atas perintah Bibi saya," jawab Mega, tak terasa begitu ketakutannya membuat mata Mega berkaca-kaca. Setelah mendengar jawaban dari Mega, Awan
"Mau tidak mau kamu harus pergi sekarang?" usir seorang wanita kepada seorang gadis muda yang sedang terisak di hadapannya. "tapi, Bi, apa tidak ada cara lain? Mega tidak mau mengambil jalan itu, Bi?" tolak Mega masih dengan suara terisak. Sang Bibi berkacak pinggang, "cara lain, kamu pikir den







