MasukKekhawatira tampak jelas pada wajah gadis desa itu.
Tanpa sadar, perlahan Mega memijat lembut bagian tangan Awan yang terasa kram. Hal itu membuat Awan terpana dengan halusnya perlakuan Mega padanya. "Mari, Pak, biar saya kompres dengan air hangat!" tawar Mega. Awan terkesiap, dan tanpa berucap sepatah katapun, lelaki garang itu hanya menurut. Mega berjalan lebih dulu masih sembari memegangi tangan Awan, hingga keduanya tiba di lantai bawah. "Bapak tunggu disini sebentar, biar saya ambilkan air hangatnya!" pinta Mega. Ia mendudukkan tubuh Awan di kursi panjang di sebelah tangga. Awan masih tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Mega beranjak, Awan sama sekali tak melepaskan pandangannya pada Mega, tanpa ia sadari, senyum manis tiba-tiba saja mengembang pada wajah tampannya, "dasar, yang sakit tanganku, tapi di memperlakukan aku seolah yang sakit adalah seluruh badanku!" Awan bergumam. Senyum yang awalnya manis pada wajah Awan, mendadak berubah menjadi senyum yang datar. Ia teringat, baru kali ini ada perempuan selain ibunya yang menaruh perhatian padanya. Hingga tak lama berselang, Mega tampak sudah kembali membawa baskom kecil di tangannya. "Saya ijin mengompres tangan Bapak ya!" ucap Mega meminta ijin. "Hemmm!" sahut Awan singkat. Mega pun kemudian mendudukkan tubuhnya di bagian kosong tepat di samping Awan, namun baru saja menempel tubuhnya pada kursi, Awan segera melayangkan tatapan sinis pada Mega. Mega yang segera tersadar akan posisinya pun mengurungkan niatnya, ia yang awalnya hendak duduk, memilih berlutut di hadapan Awan. Mega yang sudah merendam handuk di dalam baskom kecil lebih dulu memerasnya hingga merasa handuk tak lagi berair, Mega pun membalutkan handuk hangat itu pada tangan Awan. Dan ajaibnya, Awan bisa merasa sedikit lebih rileks setelah mendapat perlakuan dari Mega, "tunggu sampai handuknya tidak hangat lagi ya, Pak!" lembut Mega berucap. Namun jawaban Awan lagi-lagi hanya bergumam. Sembari mengompres, Mega pelan memijat jemari tangan Awan berharap aliran darah pada lelaki di hadapannya itu bisa kembali lancar. "Bagaimana, Pak, sudah lebih enak?" tanya Mega. "Hemm, lumayan!" sahut Awan. Mega pun kemudian membuka balutan handuk pada tangan Awan dan kembali bangkit berdiri. "Saya simpan ini dulu, Pak!" pamit Mega lagi. Kali ini Awan tak memberikan jawaban, ia justru hanya mengelus perlahan tangannya yang tidak lagi terasa kram. Tak mendapat jawaban, Mega memilih pergi. Namun belum sempat melangkahkan kakinya, Mega harus kembali mengurungkan niatnya saat Awan memanggil namanya. "Mega," panggil Awan yang tentu saja membuat Mega segera kembali mengarahkan tatapannya pada Awan. "iya, Pak," jawab Mega. "Buatkan aku teh hangat, lalu antar ke kamarku," perintah Awan yang segera dibalas anggukkan oleh Mega. ****** Di dapur Mega tampak celingukan, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur. Hingga tampaklah deretan gelas berkaki tinggi yang berada di tatakan yang tidak jauh dari posisinya berdiri. Segera saja Mega berjalan perlahan untuk meraih gelas berkaki itu. Mega kemudian meraih sebuah gelas dan meletakkannya. Kali ini dia kembali di buat bingung mencari keberadaan teh dan gula, "rumah orang kaya! Tapi teh dan gulapun tidak ada!" gumam Mega masih mencari keberadaan dua benda yang akan ia buat menjadi minuman hangat itu. "Mencari apa, Mega?" tanya Minah menyadari Mega yang sejak tadi tampak kebingungan. "Mencari gula dan teh, Mbak!. Pak Awan, minta dibuatkan teh hangat," jawab Mega. "Owalah! ... Kenapa tidak bertanya sejak tadi?" sahut Minah. "Tadi aku lihat, Mbak Minah sedang sibuk. Pesan Nenek kalau ada yang sedang sibuk tidak boleh di ajak bicara nanti konsentrasinya bubar," jawab Mega. Minahi terkekeh sedikit, "ada-ada saja!" "Teh dan gula ada di lemari kecil itu!" Minah menunjuk sebuh lemari yang tidak jauh dari posisi Mega berdiri. Mega mengarahkan tatapannya mengikutu jari telunjuk Minah, "harus buka lemari, Mbak? Kata Nenek tidak boleh sembarangan membuka lemari milik orang lain!" jawab Mega. Minah menghela nafas, "tidak apa-apa, lagi pula isi lemari itu bukan emas dan permata!" sahut Minah. "Cangkirnya ada di lemari sebelahnya!" lanjut pembantu senior itu memberi arahan. "Cangkir? Tapi aku sudah mengambil gelas ini, Mbak!" Mega mengangkat gelas berkaki yang tadi di ambilnya untuk ia perlihatkan pada Minah. Kali ini Minah menepuk keningnya sendiri, "aturannya, kalau membuat teh dan kopi memakai cangkir, kalau gelas yang kamu pegang itu untuk meminum minuman dingin. Kembalikan kembali ke tempatnya dan segera buat tehnya, Tuan Awan tidak suka menunggu lama!" perintah Minah. Beberapa saat kemudian Secangkir teh hangatpun akhirnya siap, Mega membawanya dengan nampan yang kemudian segera ia antarkan pada Awan. Melihat pintu kamar baru milik Awan sudah terbuka, Mega pun menerobos masuk begitu saja, "ini, Pak, te ....!" Mega dibuat terkejeut saat mendapati Awan saat itu sedang bertelanjang dada. Lelaki itupun segera memutar tubuhnya, lalu meraih baju yang tadi sempat ia lepas. "Maaf, Pak!" Mega membuang muka ke arah yang lain. "Dasar tidak tau tata krama, apa kedua orang tuamu tidak mengajari kamu soal sopan santun!" omel Awan sembari mengenekan kembali bajunya. Mega hanya diam. Awan berjalan mendekati Mega sembari mengaitkan kancing bajunya, "atau orang kampung memang tidak tau tata krama makanya seenaknya saja masuk ke dalam kamar orang!" cibir Awan. "Maaf, Pak, saya hanya mengantar teh hangat yang Bapak suruh tadi," sahut Mega tanpa membalas tatapan Awan. Pandangan Awan pun tertuju pada cangkir teh yang dibawa oleh Mega, dimana kepulan asap tipis masih tampak berkebul di atas cangkirnya, "melihat tata kramamu yang seperti itu saja, aku yakin teh buatanmu ini pasti tidak enak!" ucap Awan. Ucapan Awan terasa menusuk hati Mega, kali ini Mega memberanikan diri menegakkan pandangannya, ia arahkan sorot matanya pada Awan, "apa hubungannya soal tata krama dan rasa teh?" portes Mega. Tanpa ragu, Awan membalas tatapan sengit dari Mega, "itulah, orang kampungan seperti kamu mana bisa merasakan selarasnya rasa teh dengan sikap pembuatnya," jawab Awan melangkah semakin dekat pada Mega. Mega menghela nafas kasar, "terserah, Anda saja Pak Awan. Cukup ini kali terkahir saya membuat teh untuk Anda!" tegas Mega. Merasa dilawan, Awan meraih rahang Mega lalu mencengkramnya, "berani kau melawan ucapanku, apa kamu lupa statusmu disini!" bisik Awan penuh penegasan. Mega ingin membrontak, namun tangannya yang masih mengenggam nampan membuat Mega merasa kesulitan untuk melawan. "Dasar orang kampung!" Awan sedikit kasar melepas cengkramannya, membuat tubuh Mega terhuyung hingga teh yang ada di atas nampan ikut bergeser dan sedikit tumpah. "Keluar dari kamarku sekarang! ... Tidak berguna!" usir Awan memutar tubuhnya menjadi membelakangi Mega. Tubuh Mega bergetar hebat menahan kekesalan di dalam dadanya, namun tak ingin menambah masalah, Mega akhirnya keluar dari kamar Awan tanpa berucap sepatah katapun. Mendengar langkah kaki Mega pergi, Awan kembali menoleh, "ada gunanya juga dia di sini!" gumam Awan menyunggingkan senyum miring dibibirnya. ****** Di luar Kamar Mega berjalan cepat untuk kembali kedapur, nampan berisi teh masih tergenggam kuat di tangannya. Sampai di dapur, Mega meletakkan nampan itu, namun tiba-tiba saja tubuhnya mrosot jatuh terduduk di atas lantai. Menyadari keadaan Mega, Minah segera mengahmpiri gadis yang baru saja datang dari desa itu, "ada apa, Mega?" tanya Minah merengkuh kedua bahu Mega. Mega menggeleng tanpa menoleh pada Minah. "Dimarahi Tuan lagi?" tebak Minah. Mendengar pertanyaan dari Minah, Mega perlahan menoleh, menampakkan wajah yang memerah menahan tangis. "Ada masalah apa lagi, apa karena tehnya terlalu lama dibuat?" tebak Minah lagi. Mega menggeleng, "aku mau pulang, Mbak, aku tidak betah disini!" ucap Mega dengan suara bergetar menahan tangis. Minah ikut berlutut di samping Mega sembari masih merangkul pundak gadis lemah itu, "masalahnya apa, kalau di marahi Tuan tidak apa-apa ini baru pertama kali. Tuan Awan dan Bu Amel itu orang baik, mungkin ini baru tryning," jelas Minah. Mega kembali menggeleng, tatapannya tampak kosong. "Sudahlah, biar nanti Mbak Minah yang buatkan teh untuk Tuan, kalau sudah tidak ada tugas dari Tuan dan Nyonya kamu kembali istirahat saja ya!" perintah Minah tak ingin teman kerja barunya ini merasa tak betah bekerja disini. Padahal Minah tak mengetahui perjanjian antara Mega dan Amelia. Mega mengangguk, lebih dulu ia menyeka air mata yang meleleh membasahi wajahnya dan barulah ia bangkit kembali berdiri dibantu Minah "terimakasih ya, Mbak!" ucap Mega. Minah mengangguk, "sudah tidak usah menangis, nanti hilang cantiknya!" hibur Minah ikut menyeka air mata yang tiba-tiba kembali menetes di pipi Mega. Mega yang tidak pernah merasakan belaian kasih sayang seorang ibu sejak kecil merasa trenyuh saat mendapatkan perhatian dari Minah, apa lagi usia Minah yang diperkirakan Mega tidak jauh dari Usia Bibinya membuat Mega semakin di buat nyaman dengan sikap dewasa Minah. Baru saja akan melangkah kembali ke kamarnya, telinga Mega kembali menangkap suara Awan memanggilnya begitu keras. "Tuan memanggil!" ucap Minah yang ikut mendengar panggilan Awan. "Biarkan saja, Mbak, itu bukan namaku!" jawab Mega. BERSAMBUNG .....Mega terkesiap saat akhirnya pintu kamarnya terbuka, wajahnya tampak menegang, hingga perasaan tegang itu menghilang saat sosok Awanlah yang muncul dari balik pintu. "Pak Awan!" ucap Mega penuh kelegaan. Awan segera mengarahkan tatapannya pada Mega. "Ada apa? kenapa wajahmu begitu sumringah setelah melihat aku?" tanya Awan. Seketika itu juga, wajah sumringah Mega kembali berubah masam. "Ada apa lagi, Bapak kemari? Bukannya saya sudah bilang jangan datang kemari kecuali Bapak ....!" Mega tak melanjutkan ucapannya. Awan tak segera menjawab, ia lebih dulu melangkahkan kakinya lalu duduk tepat di sebalah Mega. Mega pun menggeser duduknya menjauhi Awan. "Kenapa harus membuat aturan seperti itu?" tanya Awan tanpa menoleh pada Mega. Sementara Mega justru mengarahkan tatapannya pada Awan, "saya sudah pernah bilang, saya tidak mau menghancurkan rumah tangga anda dan Bu Amelia," jelas Mega. "Cukup Mega!" Awan menoleh membalas menatap Mega, kini sorot mata keduanya saling ber
Di balik pintu, Mega masih terdiam. "Ayolah, Mega, nampan ini berat," keluh Awan dari balik pintu. Akhirny Mega mengalah, ia lalu membuka pintu selebar-lebarnya. Awan menyunggingkan senyum lebar, namun senuman itu tak mendapat balasan dari Mega. Mega lebih dulu memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu di depan Awan. Hingga langkah kaki keduanya tiba di dapur. Awan segera menurunkan nampan di atas meja, dan ia pun menata meja makan Mega yang awalnya kosong menjadi berisi makanan yang lengkap. "Sudah siap ... ayo kita makan!" ajak Awan. Lebih dulu Mega tatapi satu persatu makanan yang sudah tersaji di atas meja makannya, "kenapa, Bapak repot-repot begini, saya sedang tidak berselera," Mega tampak lesu. Awan tak menjawab, ia justru menarik satu kursi di dekat Mega, "duduklah ... walau tidak berselera, kau harus tatap makan, jangan sampai kamu sakit bahkan sampai kurus, nanti apa kata orang?" ucap Awan sengaja membercandai Mega. "Kata orang ... memang siapa yang tau kala
Melihat kehadiran Amelia, Minah seketika menundukkan kepalanya, sementara Awan justru mengarahkan tatapan tajam pada wanita yang masih menyandang setatus istri pertamanya itu. "Memangnya semalam kau pergi kemana?" tanya Awan. Amelia membalas tatapan tajam dari Awan, "setelah perdebatan semalam, aku memilih menenangkan diri dirumah, Mama," sahut Amelia beralasan. "Lain kali jangan keluar rumah tanpa seijinku," sahut Awan yang kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Amelia terdiam, hanya sorot matanya yang mengikuti langkah Awan, sampai Awan masuk ke dalam kamarnya. Lalu perlahan Amelia melangkahkan kakinya menghampiri Minah. Minah yang merasa takut hanya menundukkan tanpa berani menegakkan kepalanya. "Atas dasar apa Mbak Minah mengadu seperti itu?" tanya Amelia. "Maaf, Nyonya, bukan maksud saya mengadu, tapi ...." "Alah ... tidak usah banyak tapi, sudah jelas aku mendengar semuanya dengan telingaku sendiri," potong Amelia sebelum Minah selesai melanjutkan ucap
Mega tak menerima begitu saja. Ia berusaha membrontak, namun sayang tenaganya yang tidak sepadan dengan Awan disertai tubuh yang belum benar-benar pulih membuat Mega kalah dan hanya bisa menerima apa yang dilakukan Awan padanya. ****** Di Kamar Amelia "Sepertinya Awan tadi tidak menyadari," ucap Amelia sembari menatapi pantulan lehernya yang tampak memerah di beberapa bagian. Cermin besar itu terus ia tatapi, "dasar Adit sialan, bisa-bisanya dia meninggalkan bekas sebanyak ini!" grutu Amelia. Ia lalu meraih sebuah botol berisi cairan bening, lalu ia teteskan pada sebuah kapas tipis. Amelia lalu menggosokkan kapas yang sudah basah itu pada beberapa titik lehernya yang tampak memerah. "Aduuhhh ... kenapa tidak mau hilang?" wajah Amelia tampak kebingungan. "Kalau begini caranya, bagaimana aku bertemu dengan Awan nanti," gumamnya. Merasa kesal karena tak mendapatkan cara menghilangkan bekas merah disekitar lehernya, Amelia memilih bangkit dari duduknya. Ia lalu merebahkan
Sorot mata Amelia segera tertuju pada kedua tangan Mega dan Awan yang tengah saling bergandengan, sontak saja Mega menarik paksa tangannya dari genggaman tangan Awan. Amelia yang awalnya hendak masuk ke dalam lift pun akhirnya memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu disusul Mega dan Awan di belakanya. "Aku dengar dari Mbak Minah kalau Mega sakit, makanya aku sengaja datang untuk membesuk. Tapi ternyata seudah sembuh," ucap Amelia ketika telah sampai di depan pintu lobby. "Semalam dia memang sakit, makanya aku langsung membawanya kesini," sahut Awan. Sahutan itu hanya dijawab senyum sinis oleh Amelia, hingga akhirnya mobil yang di kemudikan Pak Arman pun telah datang. Amelia dan Awan duduk di kursi belakang sementara Mega duduk di kursi depan di samping Pak Arman. "Sudah baikan, Neng?" tanya Arman. Mega tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja baik, semalam aku ke paviliun juga dia baik-baik saja," sahut Amelia sedikit sinis. "Atau sakitmu hanya pura-pura, un
"Sudahlah, Pak!, Saya sudah tau semuanya. Tidak perlu ada yang ditutupi lagi," sahut Mega sinis. Awan mengehela nafas, berusaha meredam gejolak emosinya yang sempat memanas, "jangan mengajak aku berdebat, keadaanmu belum pulih, beristirahatlah," pungkas Awan. Mega kini hanya diam, hal itu membuat suasana ruang perawatannya sejenak terasa sunyi senyap. "Mau makan apa? Biar aku carikan?!" tawar Awan. Namun Mega hanya diam. "Aku bertanya padamu, Mega," Awan sedikit meninggikan suaranya. Hal itu membuat Mega mengarahkan tatapannya pada Awan. "Saya tidak lapar," singkat Mega yang kembali membuang muka ke arah yang lain. "Setidaknya makanlah sesuatu untuk mengisi perutmu," Awan sedikit melembutkan nada bicaranya. "Saya sudah bilang saya tidak lapar, lagi pula nanti pasti mendapat jatah makan dari rumah sakit, saya makan itu saja," sahut Mega lagi. Awan kembali menghela nafas, "dasar keras kepala," gumam Awan mengepal geram. Ia sandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di bela







