Share

Bab 5. Ingin Pulang

last update Last Updated: 2025-12-26 12:54:35

Kekhawatira tampak jelas pada wajah gadis desa itu.

Tanpa sadar, perlahan Mega memijat lembut bagian tangan Awan yang terasa kram.

Hal itu membuat Awan terpana dengan halusnya perlakuan Mega padanya.

"Mari, Pak, biar saya kompres dengan air hangat!" tawar Mega.

Awan terkesiap, dan tanpa berucap sepatah katapun, lelaki garang itu hanya menurut.

Mega berjalan lebih dulu masih sembari memegangi tangan Awan, hingga keduanya tiba di lantai bawah.

"Bapak tunggu disini sebentar, biar saya ambilkan air hangatnya!" pinta Mega. Ia mendudukkan tubuh Awan di kursi panjang di sebelah tangga.

Awan masih tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Mega beranjak, Awan sama sekali tak melepaskan pandangannya pada Mega, tanpa ia sadari, senyum manis tiba-tiba saja mengembang pada wajah tampannya, "dasar, yang sakit tanganku, tapi di memperlakukan aku seolah yang sakit adalah seluruh badanku!" Awan bergumam.

Senyum yang awalnya manis pada wajah Awan, mendadak berubah menjadi senyum yang datar. Ia teringat, baru kali ini ada perempuan selain ibunya yang menaruh perhatian padanya.

Hingga tak lama berselang, Mega tampak sudah kembali membawa baskom kecil di tangannya.

"Saya ijin mengompres tangan Bapak ya!" ucap Mega meminta ijin.

"Hemmm!" sahut Awan singkat.

Mega pun kemudian mendudukkan tubuhnya di bagian kosong tepat di samping Awan, namun baru saja menempel tubuhnya pada kursi, Awan segera melayangkan tatapan sinis pada Mega.

Mega yang segera tersadar akan posisinya pun mengurungkan niatnya, ia yang awalnya hendak duduk, memilih berlutut di hadapan Awan.

Mega yang sudah merendam handuk di dalam baskom kecil lebih dulu memerasnya hingga merasa handuk tak lagi berair, Mega pun membalutkan handuk hangat itu pada tangan Awan.

Dan ajaibnya, Awan bisa merasa sedikit lebih rileks setelah mendapat perlakuan dari Mega, "tunggu sampai handuknya tidak hangat lagi ya, Pak!" lembut Mega berucap.

Namun jawaban Awan lagi-lagi hanya bergumam.

Sembari mengompres, Mega pelan memijat jemari tangan Awan berharap aliran darah pada lelaki di hadapannya itu bisa kembali lancar.

"Bagaimana, Pak, sudah lebih enak?" tanya Mega.

"Hemm, lumayan!" sahut Awan.

Mega pun kemudian membuka balutan handuk pada tangan Awan dan kembali bangkit berdiri.

"Saya simpan ini dulu, Pak!" pamit Mega lagi. Kali ini Awan tak memberikan jawaban, ia justru hanya mengelus perlahan tangannya yang tidak lagi terasa kram.

Tak mendapat jawaban, Mega memilih pergi.

Namun belum sempat melangkahkan kakinya, Mega harus kembali mengurungkan niatnya saat Awan memanggil namanya.

"Mega," panggil Awan yang tentu saja membuat Mega segera kembali mengarahkan tatapannya pada Awan.

"iya, Pak," jawab Mega.

"Buatkan aku teh hangat, lalu antar ke kamarku," perintah Awan yang segera dibalas anggukkan oleh Mega.

******

Di dapur

Mega tampak celingukan, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur. Hingga tampaklah deretan gelas berkaki tinggi yang berada di tatakan yang tidak jauh dari posisinya berdiri.

Segera saja Mega berjalan perlahan untuk meraih gelas berkaki itu. Mega kemudian meraih sebuah gelas dan meletakkannya.

Kali ini dia kembali di buat bingung mencari keberadaan teh dan gula, "rumah orang kaya! Tapi teh dan gulapun tidak ada!" gumam Mega masih mencari keberadaan dua benda yang akan ia buat menjadi minuman hangat itu.

"Mencari apa, Mega?" tanya Minah menyadari Mega yang sejak tadi tampak kebingungan.

"Mencari gula dan teh, Mbak!. Pak Awan, minta dibuatkan teh hangat," jawab Mega.

"Owalah! ... Kenapa tidak bertanya sejak tadi?" sahut Minah.

"Tadi aku lihat, Mbak Minah sedang sibuk. Pesan Nenek kalau ada yang sedang sibuk tidak boleh di ajak bicara nanti konsentrasinya bubar," jawab Mega.

Minahi terkekeh sedikit, "ada-ada saja!"

"Teh dan gula ada di lemari kecil itu!" Minah menunjuk sebuh lemari yang tidak jauh dari posisi Mega berdiri.

Mega mengarahkan tatapannya mengikutu jari telunjuk Minah, "harus buka lemari, Mbak? Kata Nenek tidak boleh sembarangan membuka lemari milik orang lain!" jawab Mega.

Minah menghela nafas, "tidak apa-apa, lagi pula isi lemari itu bukan emas dan permata!" sahut Minah.

"Cangkirnya ada di lemari sebelahnya!" lanjut pembantu senior itu memberi arahan.

"Cangkir? Tapi aku sudah mengambil gelas ini, Mbak!" Mega mengangkat gelas berkaki yang tadi di ambilnya untuk ia perlihatkan pada Minah.

Kali ini Minah menepuk keningnya sendiri, "aturannya, kalau membuat teh dan kopi memakai cangkir, kalau gelas yang kamu pegang itu untuk meminum minuman dingin. Kembalikan kembali ke tempatnya dan segera buat tehnya, Tuan Awan tidak suka menunggu lama!" perintah Minah.

Beberapa saat kemudian

Secangkir teh hangatpun akhirnya siap, Mega membawanya dengan nampan yang kemudian segera ia antarkan pada Awan.

Melihat pintu kamar baru milik Awan sudah terbuka, Mega pun menerobos masuk begitu saja, "ini, Pak, te ....!" Mega dibuat terkejeut saat mendapati Awan saat itu sedang bertelanjang dada.

Lelaki itupun segera memutar tubuhnya, lalu meraih baju yang tadi sempat ia lepas.

"Maaf, Pak!" Mega membuang muka ke arah yang lain.

"Dasar tidak tau tata krama, apa kedua orang tuamu tidak mengajari kamu soal sopan santun!" omel Awan sembari mengenekan kembali bajunya.

Mega hanya diam.

Awan berjalan mendekati Mega sembari mengaitkan kancing bajunya, "atau orang kampung memang tidak tau tata krama makanya seenaknya saja masuk ke dalam kamar orang!" cibir Awan.

"Maaf, Pak, saya hanya mengantar teh hangat yang Bapak suruh tadi," sahut Mega tanpa membalas tatapan Awan.

Pandangan Awan pun tertuju pada cangkir teh yang dibawa oleh Mega, dimana kepulan asap tipis masih tampak berkebul di atas cangkirnya, "melihat tata kramamu yang seperti itu saja, aku yakin teh buatanmu ini pasti tidak enak!" ucap Awan.

Ucapan Awan terasa menusuk hati Mega, kali ini Mega memberanikan diri menegakkan pandangannya, ia arahkan sorot matanya pada Awan, "apa hubungannya soal tata krama dan rasa teh?" portes Mega.

Tanpa ragu, Awan membalas tatapan sengit dari Mega, "itulah, orang kampungan seperti kamu mana bisa merasakan selarasnya rasa teh dengan sikap pembuatnya," jawab Awan melangkah semakin dekat pada Mega.

Mega menghela nafas kasar, "terserah, Anda saja Pak Awan. Cukup ini kali terkahir saya membuat teh untuk Anda!" tegas Mega.

Merasa dilawan, Awan meraih rahang Mega lalu mencengkramnya, "berani kau melawan ucapanku, apa kamu lupa statusmu disini!" bisik Awan penuh penegasan.

Mega ingin membrontak, namun tangannya yang masih mengenggam nampan membuat Mega merasa kesulitan untuk melawan.

"Dasar orang kampung!" Awan sedikit kasar melepas cengkramannya, membuat tubuh Mega terhuyung hingga teh yang ada di atas nampan ikut bergeser dan sedikit tumpah.

"Keluar dari kamarku sekarang! ... Tidak berguna!" usir Awan memutar tubuhnya menjadi membelakangi Mega.

Tubuh Mega bergetar hebat menahan kekesalan di dalam dadanya, namun tak ingin menambah masalah, Mega akhirnya keluar dari kamar Awan tanpa berucap sepatah katapun.

Mendengar langkah kaki Mega pergi, Awan kembali menoleh, "ada gunanya juga dia di sini!" gumam Awan menyunggingkan senyum miring dibibirnya.

******

Di luar Kamar

Mega berjalan cepat untuk kembali kedapur, nampan berisi teh masih tergenggam kuat di tangannya.

Sampai di dapur, Mega meletakkan nampan itu, namun tiba-tiba saja tubuhnya mrosot jatuh terduduk di atas lantai.

Menyadari keadaan Mega, Minah segera mengahmpiri gadis yang baru saja datang dari desa itu, "ada apa, Mega?" tanya Minah merengkuh kedua bahu Mega.

Mega menggeleng tanpa menoleh pada Minah.

"Dimarahi Tuan lagi?" tebak Minah.

Mendengar pertanyaan dari Minah, Mega perlahan menoleh, menampakkan wajah yang memerah menahan tangis.

"Ada masalah apa lagi, apa karena tehnya terlalu lama dibuat?" tebak Minah lagi.

Mega menggeleng, "aku mau pulang, Mbak, aku tidak betah disini!" ucap Mega dengan suara bergetar menahan tangis.

Minah ikut berlutut di samping Mega sembari masih merangkul pundak gadis lemah itu, "masalahnya apa, kalau di marahi Tuan tidak apa-apa ini baru pertama kali. Tuan Awan dan Bu Amel itu orang baik, mungkin ini baru tryning," jelas Minah.

Mega kembali menggeleng, tatapannya tampak kosong.

"Sudahlah, biar nanti Mbak Minah yang buatkan teh untuk Tuan, kalau sudah tidak ada tugas dari Tuan dan Nyonya kamu kembali istirahat saja ya!" perintah Minah tak ingin teman kerja barunya ini merasa tak betah bekerja disini. Padahal Minah tak mengetahui perjanjian antara Mega dan Amelia.

Mega mengangguk, lebih dulu ia menyeka air mata yang meleleh membasahi wajahnya dan barulah ia bangkit kembali berdiri dibantu Minah "terimakasih ya, Mbak!" ucap Mega.

Minah mengangguk, "sudah tidak usah menangis, nanti hilang cantiknya!" hibur Minah ikut menyeka air mata yang tiba-tiba kembali menetes di pipi Mega. Mega yang tidak pernah merasakan belaian kasih sayang seorang ibu sejak kecil merasa trenyuh saat mendapatkan perhatian dari Minah, apa lagi usia Minah yang diperkirakan Mega tidak jauh dari Usia Bibinya membuat Mega semakin di buat nyaman dengan sikap dewasa Minah.

Baru saja akan melangkah kembali ke kamarnya, telinga Mega kembali menangkap suara Awan memanggilnya begitu keras.

"Tuan memanggil!" ucap Minah yang ikut mendengar panggilan Awan.

"Biarkan saja, Mbak, itu bukan namaku!" jawab Mega.

BERSAMBUNG .....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 5. Ingin Pulang

    Kekhawatira tampak jelas pada wajah gadis desa itu. Tanpa sadar, perlahan Mega memijat lembut bagian tangan Awan yang terasa kram. Hal itu membuat Awan terpana dengan halusnya perlakuan Mega padanya. "Mari, Pak, biar saya kompres dengan air hangat!" tawar Mega. Awan terkesiap, dan tanpa berucap sepatah katapun, lelaki garang itu hanya menurut. Mega berjalan lebih dulu masih sembari memegangi tangan Awan, hingga keduanya tiba di lantai bawah. "Bapak tunggu disini sebentar, biar saya ambilkan air hangatnya!" pinta Mega. Ia mendudukkan tubuh Awan di kursi panjang di sebelah tangga. Awan masih tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Mega beranjak, Awan sama sekali tak melepaskan pandangannya pada Mega, tanpa ia sadari, senyum manis tiba-tiba saja mengembang pada wajah tampannya, "dasar, yang sakit tanganku, tapi di memperlakukan aku seolah yang sakit adalah seluruh badanku!" Awan bergumam. Senyum yang awalnya manis pada wajah Awan, mendadak berubah menjadi

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 4. Kamar

    Mega lalu menggelengkan kepalanya. "Sudah aku duga, perempuan kampungan seperti kamu mana bisa!" remeh Awan yang kali ini benar-benar melangkah pergi meninggalkan Mega yang masih terduduk di atas lantai bersama Tomi yang masih berdiri diam di posisinya. Melihat kepergian Awan, Tomi bergegas menghampiri Mega dan kemudian mengulurkan tangannya. Mega tertegun sesaat, ada perasaan ragu dalam hati gadis desa itu membuatnya tidak langsung membelas uluran tangan Tomi, "mari aku bantu berdiri!" tawar Tomi. Namun Mega masih diam dan hanya mengarahkan tatapannya pada kedua tangan Tomi. Walau masih ada perasaan ragu, akhirnya Mega pun membalas uluran tangan Tomi, dan kini bisa kembali berdiri. "Terimakasih, Pak! Maaf jadi merepotkan!" ucap Mega sedikit menundukkan kepalanya. "Tidak masalah!" sahut Tomi. "Saya permisi ...!" pamit Mega. "Tunggu ....!" cegah Tomi secepat kilat. Mega mengurungkan niatnya untuk pergi, ia lebih dulu kembali menoleh pada Tomi. "Makanan yang di ma

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 3. Majikan

    Di Area Kamar ART "Ehhh ... ada, Den Tomi!" seorang wanita setengah baya yang tidak lain adalah Art yang menjaga rumah Awan selama rumah itu tak ditinggali, wanita paruh baya itu segera menyapa kedatangan Tomi. "Iya, Mbak!" jawab Tomi singkat. Sang Art senior segera melongok ke arah belakang Tomi, "Den Tomi datang dengan siapa?" tanya Minah. Tomi menggeser sedikit tubuhnya ke kanan, memberi ruang agar Mega terlihat oleh Minah. Minah kemudian mengarahkan tatapannya pada gadis muda yang ada di belakang Tomi, "siapa ini, Den?" tanya Minah. "Namanya Mega, Mbak. Emmm ... mungkin sementara dia akan menjadi ART membantu Mbak Minah untuk sementara waktu, dan untuk kedepannya nanti Bu Amelia yang akan jelaskan!" jelas Tomi. "Tolong tunjukkan kamar untuk Mega ya, Mbak!" pinta Tomi. Minah mengangguk, ia lalu menggandeng tangan Mega dan membawa gadis desa itu menuju kamarnya. Di depan Mega dan Minah berderet dua pintu yang bersebelahan, "siapa tadi nama kamu?" ulang Minah. "Sa

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 2. Dingin

    Bentakkan dari sang Tuan rumah membuat Mega terkejut dan semakin takut, kembali wajah gadis desa itu tertunduk, "nama saya Mega, saya datang dari kampung atas perintah Bibi saya," jawab Mega, tak terasa begitu ketakutannya membuat mata Mega berkaca-kaca. Setelah mendengar jawaban dari Mega, Awan pun kembali melanjutkan langkahnya, "orang kampung ... pantas saja kampungan!" sindir Awan saat tepat melewati Mega. Namun Mega hanya diam tak berani menjawab. Beberapa menit kemudian merasa yakin jika Awan sudah menghilang, Mega pun memutuskan untuk menyusul masuk ke dalam rumah. Mega pijaki beberapa anak tangga, hingga kini ia tiba di pintu utama. "Dari mana saja, Mbak? Bu Amelia sudah menunggu!" ucap satpam yang hendak mencari keberadaan Mega. "Maaf, Pak!" ucap Mega terdengar lesu. "Cepat ajak masuk dia, Pak!" suara seorang perempuan terdengar menyahuti dari dalam. "Mari," Satpam penjaga rumah Awan mempersilahkan Mega masuk lebih dulu. ****** Di Ruang Tamu Tampaklah

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 1. Pergi

    "Mau tidak mau kamu harus pergi sekarang?" usir seorang wanita kepada seorang gadis muda yang sedang terisak di hadapannya. "tapi, Bi, apa tidak ada cara lain? Mega tidak mau mengambil jalan itu, Bi?" tolak Mega masih dengan suara terisak. Sang Bibi berkacak pinggang, "cara lain, kamu pikir dengan cara apa untuk cepat mengumpulkan uang banyak sedangkan kamu sendiri tau pengobatan ibuku membutuhkan uang yang tidak sedikit," sinis sang Bibi. Pelan tapi pasti wanita bernama Romlah itu berjalan mendekati Mega dan sedikit membungkukkan tubuhnya membuat wajahnya begitu dekat dengan Mega. "Kamu jual diri dengan 100 priapun tidak akan bisa langsung menutup semua biaya. Dan tentunya kamu menginginkan kesembuhan Nenekmu kan? Ingat! dialah orang yang paling berjasa dalam hidupmu?" tegas Romlah yang kemudian bangkit membetulkan posisinya. mega lebih dulu menyeka air mata yang membanjiri wajahnya. Gadis itu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, 'apa tidak apa-apa?' batin Mega, k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status