Masuk**Bab 097 Memancing di Air Keruh**
Setelah percakapan dengan Adrian dan Casandra berakhir, Athaleyah dengan tenang melangkah kembali ke kompartemen mereka. Saihan dan Kevin sudah lebih dulu berjalan di depannya, tidak memberikan komentar apa pun tentang interaksi yang baru saja terjadi di ruang tunggu Stasiun Grevin.
Saat mereka memasuki kompartemen, Kevin duduk lebih dulu dengan santai, menyandarkan kepalanya pada dinding gerbong sambil menghela napa
**Bab 116: Di Balik Tirai Galeri**Lorong belakang Galeri Pertaruhan jauh dari kemewahan aula utama.Tidak ada lampu kristal. Tidak ada tawa halus para bangsawan. Yang ada hanya cahaya redup dari lentera besi, bau lembap kayu tua, dan jejak sesuatu yang lebih tajam—darah yang tak pernah benar-benar dibersihkan.Di sanalah Ash berjalan.Punggungnya sedikit membungkuk, langkahnya disesuaikan—tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Pakaian kasarnya kusam, penuh noda minyak dan debu, cukup untuk membuatnya tampak seperti pekerja rendahan yang tak layak diperhatikan.Di pundaknya, ia memikul peti kayu. Di dalamnya—bukan hanya alat kebersihan seperti yang terlihat. Tapi ruang kosong.Untuk bukti.
**Bab 115: Saihan Muncul Di Arena**Sorak sorai dari tribun bawah menggulung seperti gelombang yang tak pernah benar-benar surut.Serak. Kasar. Putus asa.Tangan-tangan kotor terangkat tinggi—menggenggam kepingan logam yang dingin dan berat. Upah seharian. Kadang lebih. Keringat yang belum sempat mengering, perut yang mungkin belum sempat terisi.Mereka melemparkannya ke meja taruhan.Bukan untuk hidup.Untuk dua nyawa di arena.Debu berputar tipis di bawah cahaya lampu. Bau besi—anyir, melekat—bercampur dengan tanah yang diinjak berkali-kali. Dan darah… selalu ada. Tipis, tapi tak pernah benar-benar hilang.
**Bab 114: Tuan KDi Galeri Pertaruhan.Topeng—berbagai rupa, berbagai ukiran—menutup wajah para tamu. Namun tidak ada yang mampu menutupi bau yang merayap di udara: anyir besi, tanah berdebu yang terinjak, keringat yang mengering di lipatan kain mahal, dan—yang paling halus namun paling jelas—bau darah yang tak pernah benar-benar hilang dari tempat ini.Di bawah cahaya lampu yang remang, deretan meja berjajar rapi. Bangsawan-bangsawan duduk di balik topeng mereka, menikmati hidangan mahal dan minuman yang dituangkan tanpa jeda. Mereka berbicara pelan, tertawa kecil—seolah-olah ini hanyalah jamuan biasa.Namun tatapan mereka tidak pernah benar-benar pergi dari arena.Mereka ingin kebrutalan.
**Bab 113 Viscountess Yseult Merchanze**Cafe itu sepi dan hangat, tapi udara terasa menegang seketika saat pintu terbuka. Viscountess Yseult melangkah masuk, anggun seperti biasa, tapi langkahnya berhenti ketika melihat sosok yang duduk tenang di meja sudut—seolah waktu tak pernah mengubahnya, kecuali sorot mata yang kini jauh lebih dingin."Halo, Viscountess Yseult Merchanze." Sapa itu datang dengan kelembutan yang terdengar nyaris seperti tantangan.Yseult mengangkat alis. "Ah, aku pikir aku baru saja melihat hantu..." Nada suaranya datar, tapi matanya menelanjangi kenyataan."Hany
**Bab 112 Deklarasi Thally**Pintu terbuka dengan bunyi berderit ringan. Thally tertegun.Di depan sana, berdiri tegap seorang lelaki bersandar pada dinding dengan tangan menyilang, wajahnya datar, matanya dingin. Saihan Malaken. Menunggunya sejak entah kapan.Thally mengernyit, wajahnya mengeras, tapi ia tidak berkata apa-apa. Ada semacam kehati-hatian dalam sorot matanya, meski gerak-geriknya tetap anggun dan tenang.Lalu, Thally menyempitkan mata, tidak menyapa. Hanya tatapan yang berbicara—penuh tanda tanya, sekaligus tak ingin tahu. Ia tak ingin memulai apa pun pagi itu.
**Bab 111 Situasi Baru**Langit Skythia menggantung kelabu di balik jendela tinggi ruang kerja sang Duke. Asap dari perapian menyebar perlahan, bercampur dengan aroma perkamen tua dan bara kayu cemara. Di tengah ruangan, Duke Hugh berdiri tegap di depan meja besar yang dipenuhi peta, laporan, dan segel kerajaan. Matanya tajam menatap api, seakan membakar bayang-bayang musuh yang belum terlihat.''Tuanku Duke, Margrave mulai bergerak,'' ujar Alwyn, menyampaikan laporan dengan nada serius. Suaranya menggema pelan di ruangan itu, seperti bisikan angin yang membawa kabar badai.Hugh menoleh cepat. Wajahnya menegang sesaat, lalu bibirnya melengkung menyeringai. Sorot matanya menyala pen
**Bab 095 Syal**Udara di ruang kerja Hugh berat oleh kelelahan yang tidak diucapkan. Matahari musim dingin menyusup pelan melalui celah jendela tinggi, memantulkan bayangan panjang di atas lantai batu. Di belakang meja kayu besar, Hugh duduk membungkuk sedikit, tangan kiriny
**Bab 094 Kekhawatiran**Senja di Kedai MegravUdara di luar kedai membeku hingga menusuk tulang. Tapi di dalam, hangatnya api dari tungku, aroma seduhan herbal, dan suara kayu yang berderak menciptakan suasana yang nyaris nyaman. Langit di luar berwarna
**Bab 093 Rindu**"Rusha, kau itu masih harus memulihkan diri. Biarkan saja..." ujar Sania pada Atthy yang mulai membantu di kedai."Tidak apa-apa, Bibi. Kalau hanya segini, tidak akan ada masalah untukku. Lagi pula, sudah hampir satu bulan sejak aku sium
**Bab 092 Suasana Baru**Di dalam rumah sederhana milik Garran dan Sania, suasana hangat terpancar dari perapian yang menyala di sudut ruangan. Meja makan kayu di tengah ruangan dipenuhi dengan hidangan sederhana, tetapi cukup untuk mengenyangkan. Kaiden, Garran, dan Sania du







