Home / Romansa / MENJEMPUT ISTRIKU / 097 Memancing di Air Keruh

Share

097 Memancing di Air Keruh

Author: Wolfy
last update publish date: 2025-09-06 17:30:46

**Bab 097 Memancing di Air Keruh**

Setelah percakapan dengan Adrian dan Casandra berakhir, Athaleyah dengan tenang melangkah kembali ke kompartemen mereka. Saihan dan Kevin sudah lebih dulu berjalan di depannya, tidak memberikan komentar apa pun tentang interaksi yang baru saja terjadi di ruang tunggu Stasiun Grevin.

Saat mereka memasuki kompartemen, Kevin duduk lebih dulu dengan santai, menyandarkan kepalanya pada dinding gerbong sambil menghela napa

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MENJEMPUT ISTRIKU   118 Topeng Yang Terbuka

    **Bab 118: Topeng Yang Terbuka**Pintu utama Galeri masih terbuka.Tawa masih terdengar.Koin masih beradu.Tidak ada yang berubah—di permukaan.Lalu—Langkah kaki. Seragam. Masuk.Tidak banyak. Tapi cukup rapi untuk mengubah arah pandangan.Beberapa kepala menoleh. Lalu lebih banyak. Bisik mulai menyebar.“Pasukan…?”“Barat…?”—Di meja elit—Julius tidak langsung bergerak. Hanya matanya yang bergeser.Menghitung. Jumlah. Formasi. S

  • MENJEMPUT ISTRIKU   117 Saihan dan Tony

    **Bab 117: Saihan dan Tony**Saihan dan Tony telah berada di arena.Sorak sorai membahana dari tribun kelas bawah—liar, kasar, tanpa jeda.Nama mereka mulai diteriakkan. Tidak serempak. Tidak rapi. Tapi cukup.Dua pemuda seumuran dari lingkungan bawah Nauruan.Siapa yang tidak mengenal mereka.Menonjol sejak muda.Sama kuat. Sama tangkas.Sama-sama pemimpin.Namun tidak pernah benar-benar berdiri di sisi yang sama.

  • MENJEMPUT ISTRIKU   116 Dibalik Tirai Galeri

    **Bab 116: Di Balik Tirai Galeri**Lorong belakang Galeri Pertaruhan jauh dari kemewahan aula utama.Tidak ada lampu kristal. Tidak ada tawa halus para bangsawan. Yang ada hanya cahaya redup dari lentera besi, bau lembap kayu tua, dan jejak sesuatu yang lebih tajam—darah yang tak pernah benar-benar dibersihkan.Di sanalah Ash berjalan.Punggungnya sedikit membungkuk, langkahnya disesuaikan—tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Pakaian kasarnya kusam, penuh noda minyak dan debu, cukup untuk membuatnya tampak seperti pekerja rendahan yang tak layak diperhatikan.Di pundaknya, ia memikul peti kayu. Di dalamnya—bukan hanya alat kebersihan seperti yang terlihat. Tapi ruang kosong.Untuk bukti.

  • MENJEMPUT ISTRIKU   115 Saihan Muncul Di Arena

    **Bab 115: Saihan Muncul Di Arena**Sorak sorai dari tribun bawah menggulung seperti gelombang yang tak pernah benar-benar surut.Serak. Kasar. Putus asa.Tangan-tangan kotor terangkat tinggi—menggenggam kepingan logam yang dingin dan berat. Upah seharian. Kadang lebih. Keringat yang belum sempat mengering, perut yang mungkin belum sempat terisi.Mereka melemparkannya ke meja taruhan.Bukan untuk hidup.Untuk dua nyawa di arena.Debu berputar tipis di bawah cahaya lampu. Bau besi—anyir, melekat—bercampur dengan tanah yang diinjak berkali-kali. Dan darah… selalu ada. Tipis, tapi tak pernah benar-benar hilang.

  • MENJEMPUT ISTRIKU   114 Tuan K

    **Bab 114: Tuan KDi Galeri Pertaruhan.Topeng—berbagai rupa, berbagai ukiran—menutup wajah para tamu. Namun tidak ada yang mampu menutupi bau yang merayap di udara: anyir besi, tanah berdebu yang terinjak, keringat yang mengering di lipatan kain mahal, dan—yang paling halus namun paling jelas—bau darah yang tak pernah benar-benar hilang dari tempat ini.Di bawah cahaya lampu yang remang, deretan meja berjajar rapi. Bangsawan-bangsawan duduk di balik topeng mereka, menikmati hidangan mahal dan minuman yang dituangkan tanpa jeda. Mereka berbicara pelan, tertawa kecil—seolah-olah ini hanyalah jamuan biasa.Namun tatapan mereka tidak pernah benar-benar pergi dari arena.Mereka ingin kebrutalan.

  • MENJEMPUT ISTRIKU   113 Viscountess Yseult Merchanze

    **Bab 113 Viscountess Yseult Merchanze**Cafe itu sepi dan hangat, tapi udara terasa menegang seketika saat pintu terbuka. Viscountess Yseult melangkah masuk, anggun seperti biasa, tapi langkahnya berhenti ketika melihat sosok yang duduk tenang di meja sudut—seolah waktu tak pernah mengubahnya, kecuali sorot mata yang kini jauh lebih dingin."Halo, Viscountess Yseult Merchanze." Sapa itu datang dengan kelembutan yang terdengar nyaris seperti tantangan.Yseult mengangkat alis. "Ah, aku pikir aku baru saja melihat hantu..." Nada suaranya datar, tapi matanya menelanjangi kenyataan."Hany

  • MENJEMPUT ISTRIKU   039 Naira 3

    **Bab 039 Naira 3**Ketukan di pintu memecah suasana. Seorang pelayan masuk dan membungkuk hormat. "Dokter Sarah telah tiba."Seorang wanita muda dengan jubah dokter yang bersih melangkah masuk. Meski usianya masih muda, sekitar 25 tahun, wajahnya penuh ketenangan dan profesionalisme. "Duchess, Tua

  • MENJEMPUT ISTRIKU   038 Naira 2

    **Bab 038 Naira 2**Lorong-lorong Manor Eldoria terasa lebih sepi dari biasanya. Udara dingin yang meresap melalui jendela-jendela besar menciptakan kesan suram yang semakin mempertegas kekhawatiran Karl. Langkahnya mantap dan tergesa, diikuti oleh Atthy yang tetap mempertahankan ketenangannya. Nam

  • MENJEMPUT ISTRIKU   034 Penyambutan dan Perpisahan

    **Bab 034 Penyambutan dan Perpisahan**Langit di luar Manor Eldoria telah sepenuhnya gelap ketika makan malam disajikan di ruang utama. Meja panjang yang dihiasi lilin-lilin elegan dan peralatan makan perak mencerminkan keagungan keluarga Griffith. Pelayan bergerak dengan tenang dan terlatih, memas

  • MENJEMPUT ISTRIKU   032 Perkenalan

    **Bab 032 Perkenalan**Grand Duke Vadim Griffith duduk di kursi yang disediakan dengan ketenangan khasnya, memandang Atthy yang berdiri di depan pintu. Sebuah senyum tipis terlukis di wajahnya yang tampak seperti mengukur situasi. Ketika Atthy masuk, ia langsung memberi hormat."Yang mulia Grand Du

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status