Mag-log in**Bab 097 Memancing di Air Keruh**
Setelah percakapan dengan Adrian dan Casandra berakhir, Athaleyah dengan tenang melangkah kembali ke kompartemen mereka. Saihan dan Kevin sudah lebih dulu berjalan di depannya, tidak memberikan komentar apa pun tentang interaksi yang baru saja terjadi di ruang tunggu Stasiun Grevin.
Saat mereka memasuki kompartemen, Kevin duduk lebih dulu dengan santai, menyandarkan kepalanya pada dinding gerbong sambil menghela napa
**Bab 118: Topeng Yang Terbuka**Pintu utama Galeri masih terbuka.Tawa masih terdengar.Koin masih beradu.Tidak ada yang berubah—di permukaan.Lalu—Langkah kaki. Seragam. Masuk.Tidak banyak. Tapi cukup rapi untuk mengubah arah pandangan.Beberapa kepala menoleh. Lalu lebih banyak. Bisik mulai menyebar.“Pasukan…?”“Barat…?”—Di meja elit—Julius tidak langsung bergerak. Hanya matanya yang bergeser.Menghitung. Jumlah. Formasi. S
**Bab 117: Saihan dan Tony**Saihan dan Tony telah berada di arena.Sorak sorai membahana dari tribun kelas bawah—liar, kasar, tanpa jeda.Nama mereka mulai diteriakkan. Tidak serempak. Tidak rapi. Tapi cukup.Dua pemuda seumuran dari lingkungan bawah Nauruan.Siapa yang tidak mengenal mereka.Menonjol sejak muda.Sama kuat. Sama tangkas.Sama-sama pemimpin.Namun tidak pernah benar-benar berdiri di sisi yang sama.
**Bab 116: Di Balik Tirai Galeri**Lorong belakang Galeri Pertaruhan jauh dari kemewahan aula utama.Tidak ada lampu kristal. Tidak ada tawa halus para bangsawan. Yang ada hanya cahaya redup dari lentera besi, bau lembap kayu tua, dan jejak sesuatu yang lebih tajam—darah yang tak pernah benar-benar dibersihkan.Di sanalah Ash berjalan.Punggungnya sedikit membungkuk, langkahnya disesuaikan—tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Pakaian kasarnya kusam, penuh noda minyak dan debu, cukup untuk membuatnya tampak seperti pekerja rendahan yang tak layak diperhatikan.Di pundaknya, ia memikul peti kayu. Di dalamnya—bukan hanya alat kebersihan seperti yang terlihat. Tapi ruang kosong.Untuk bukti.
**Bab 115: Saihan Muncul Di Arena**Sorak sorai dari tribun bawah menggulung seperti gelombang yang tak pernah benar-benar surut.Serak. Kasar. Putus asa.Tangan-tangan kotor terangkat tinggi—menggenggam kepingan logam yang dingin dan berat. Upah seharian. Kadang lebih. Keringat yang belum sempat mengering, perut yang mungkin belum sempat terisi.Mereka melemparkannya ke meja taruhan.Bukan untuk hidup.Untuk dua nyawa di arena.Debu berputar tipis di bawah cahaya lampu. Bau besi—anyir, melekat—bercampur dengan tanah yang diinjak berkali-kali. Dan darah… selalu ada. Tipis, tapi tak pernah benar-benar hilang.
**Bab 114: Tuan KDi Galeri Pertaruhan.Topeng—berbagai rupa, berbagai ukiran—menutup wajah para tamu. Namun tidak ada yang mampu menutupi bau yang merayap di udara: anyir besi, tanah berdebu yang terinjak, keringat yang mengering di lipatan kain mahal, dan—yang paling halus namun paling jelas—bau darah yang tak pernah benar-benar hilang dari tempat ini.Di bawah cahaya lampu yang remang, deretan meja berjajar rapi. Bangsawan-bangsawan duduk di balik topeng mereka, menikmati hidangan mahal dan minuman yang dituangkan tanpa jeda. Mereka berbicara pelan, tertawa kecil—seolah-olah ini hanyalah jamuan biasa.Namun tatapan mereka tidak pernah benar-benar pergi dari arena.Mereka ingin kebrutalan.
**Bab 113 Viscountess Yseult Merchanze**Cafe itu sepi dan hangat, tapi udara terasa menegang seketika saat pintu terbuka. Viscountess Yseult melangkah masuk, anggun seperti biasa, tapi langkahnya berhenti ketika melihat sosok yang duduk tenang di meja sudut—seolah waktu tak pernah mengubahnya, kecuali sorot mata yang kini jauh lebih dingin."Halo, Viscountess Yseult Merchanze." Sapa itu datang dengan kelembutan yang terdengar nyaris seperti tantangan.Yseult mengangkat alis. "Ah, aku pikir aku baru saja melihat hantu..." Nada suaranya datar, tapi matanya menelanjangi kenyataan."Hany
**Bab 070 Terpuruk**Dua minggu telah berlalu.Dua minggu tanpa kabar, tanpa jejak, tanpa secercah harapan.Salju terus turun, membekukan tanah dan menghapus setiap kemungkinan jejak yang bisa ditemukan. Udara di Skythia semakin menusuk, seolah ikut menekan beban yang menghantam tubuh dan pikiran se
**Bab 069 Kerinduan**Tok tok tok.Suara ketukan terdengar di balik pintu ruang kerja Hugh."Masuk."Helena melangkah masuk dengan hati-hati. Wajahnya tegang, tetapi sorot matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam. Kesedihan yang tak ia katakan.Hugh, yang duduk di balik meja dengan tubuh sedikit
**Bab 068 Lelah **Saihan berjalan cepat di lorong panjang dengan ekspresi muram. Napasnya berat, sorot matanya tajam. Kekesalan dan amarah mengendap di dalam dirinya. Hari ini terlalu panjang. Terlalu banyak hal yang mengacaukan pikirannya. Lalu—BRUK!Tubuhnya menabrak seseorang dengan cukup keras
**Bab 067 Hugh dan Ash**Hugh melangkah cepat keluar dari ruang interogasi, diikuti oleh Ashton yang masih diliputi kemarahan yang ditahannya dengan susah payah. Langkah mereka berat, membawa beban dari informasi yang baru saja mereka dapatkan.Dari awal, semua ini sudah direncanakan.Dari awal, Att







