LOGIN**Bab 097 Memancing di Air Keruh**
Setelah percakapan dengan Adrian dan Casandra berakhir, Athaleyah dengan tenang melangkah kembali ke kompartemen mereka. Saihan dan Kevin sudah lebih dulu berjalan di depannya, tidak memberikan komentar apa pun tentang interaksi yang baru saja terjadi di ruang tunggu Stasiun Grevin.
Saat mereka memasuki kompartemen, Kevin duduk lebih dulu dengan santai, menyandarkan kepalanya pada dinding gerbong sambil menghela napa
**Bab 114: Tuan KDi Galeri Pertaruhan.Topeng—berbagai rupa, berbagai ukiran—menutup wajah para tamu. Namun tidak ada yang mampu menutupi bau yang merayap di udara: anyir besi, tanah berdebu yang terinjak, keringat yang mengering di lipatan kain mahal, dan—yang paling halus namun paling jelas—bau darah yang tak pernah benar-benar hilang dari tempat ini.Di bawah cahaya lampu yang remang, deretan meja berjajar rapi. Bangsawan-bangsawan duduk di balik topeng mereka, menikmati hidangan mahal dan minuman yang dituangkan tanpa jeda. Mereka berbicara pelan, tertawa kecil—seolah-olah ini hanyalah jamuan biasa.Namun tatapan mereka tidak pernah benar-benar pergi dari arena.Mereka ingin kebrutalan.
**Bab 113 Viscountess Yseult Merchanze**Cafe itu sepi dan hangat, tapi udara terasa menegang seketika saat pintu terbuka. Viscountess Yseult melangkah masuk, anggun seperti biasa, tapi langkahnya berhenti ketika melihat sosok yang duduk tenang di meja sudut—seolah waktu tak pernah mengubahnya, kecuali sorot mata yang kini jauh lebih dingin."Halo, Viscountess Yseult Merchanze." Sapa itu datang dengan kelembutan yang terdengar nyaris seperti tantangan.Yseult mengangkat alis. "Ah, aku pikir aku baru saja melihat hantu..." Nada suaranya datar, tapi matanya menelanjangi kenyataan."Hany
**Bab 112 Deklarasi Thally**Pintu terbuka dengan bunyi berderit ringan. Thally tertegun.Di depan sana, berdiri tegap seorang lelaki bersandar pada dinding dengan tangan menyilang, wajahnya datar, matanya dingin. Saihan Malaken. Menunggunya sejak entah kapan.Thally mengernyit, wajahnya mengeras, tapi ia tidak berkata apa-apa. Ada semacam kehati-hatian dalam sorot matanya, meski gerak-geriknya tetap anggun dan tenang.Lalu, Thally menyempitkan mata, tidak menyapa. Hanya tatapan yang berbicara—penuh tanda tanya, sekaligus tak ingin tahu. Ia tak ingin memulai apa pun pagi itu.
**Bab 111 Situasi Baru**Langit Skythia menggantung kelabu di balik jendela tinggi ruang kerja sang Duke. Asap dari perapian menyebar perlahan, bercampur dengan aroma perkamen tua dan bara kayu cemara. Di tengah ruangan, Duke Hugh berdiri tegap di depan meja besar yang dipenuhi peta, laporan, dan segel kerajaan. Matanya tajam menatap api, seakan membakar bayang-bayang musuh yang belum terlihat.''Tuanku Duke, Margrave mulai bergerak,'' ujar Alwyn, menyampaikan laporan dengan nada serius. Suaranya menggema pelan di ruangan itu, seperti bisikan angin yang membawa kabar badai.Hugh menoleh cepat. Wajahnya menegang sesaat, lalu bibirnya melengkung menyeringai. Sorot matanya menyala pen
**Bab 110 Gangguan**Ketegangan langsung mengental. Beberapa pengunjung mulai berdiri, tubuh mereka tegang, mata waspada. Beberapa tangan bahkan sudah merayap ke gagang senjata.Garran tetap fokus. Matanya tak lepas dari pria itu, tapi suaranya kini diarahkan pada Brisa. "Brisa, ada apa?"Brisa tak menunduk. Ia menatap lurus, nadanya penuh amarah dan jijik. "Dia meraba bokongku. Sampai roknya tersingkap. Dasar bajingan mesum."Desahan marah terdengar dari beberapa sudut ruangan.Garran m
**Bab 109 Surat ketiga**"Rusha, aku tidak akan mengulangi perkataanku lagi. Duduk, beristirahat sekarang!" seru Garran, suaranya menggelegar di tengah hiruk-pikuk kedai.Nada tegas dan gelombang khawatir yang tak disembunyikan membuat Atthy—yang dipanggil Rusha oleh semua orang di desa itu—mengernyitkan dahi. Ia menunduk, lalu menatap Garran dengan mata memelas, bibirnya nyaris bergetar.Namun Garran tetap berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada. "Jangan membuat wajah seperti itu. Aku tidak akan lagi terjebak oleh wajah kasihanmu itu!" tukasnya, meski sorot matanya jelas mengandung kasih sayang.
**Bab 100 Di Penginapan**Di Pintu Stasiun NauruanAngin hangat Nauruan berembus pelan, membawa aroma besi rel kereta, dan di sekitar stasiun terlihat hiruk pikuk lalu lalang pedagang dan para penumpang. Di antara kerumunan itu, Ash berdiri tegak, matanya segera menang
**Bab 099 Julius Amshel**Kerumunan di stasiun Nauruan tetap ramai, namun kehadiran seorang pria berseragam militer di antara mereka perlahan menciptakan ruang kosong di sekitarnya.Tatapan Julius Amshel begitu dominan.Sosoknya tegak
**Bab 098 Kedengkian Seorang Wanita**Hanya tiga stasiun lagi sebelum kereta mencapai Nauruan. Perjalanan panjang mereka hampir berakhir. Besok pagi, mereka akan tiba di stasiun utama Nauruan, mengakhiri perjalanan yang penuh ketegangan terselubung dan pertemuan tak terduga.
**Bab 096 Pertemuan**Saat menunggu keberangkatan kembali di Stasiun Grevin, Athaleyah duduk dengan anggun di salah satu kursi kayu yang berjejer di ruang tunggu kelas atas. Matanya menatap jendela besar yang memperlihatkan hamparan salju di luar, seakan menikmati ketenangan







