Masuk**Bab 116: Di Balik Tirai Galeri**
Lorong belakang Galeri Pertaruhan jauh dari kemewahan aula utama.
Tidak ada lampu kristal. Tidak ada tawa halus para bangsawan. Yang ada hanya cahaya redup dari lentera besi, bau lembap kayu tua, dan jejak sesuatu yang lebih tajam—darah yang tak pernah benar-benar dibersihkan.
Di sanalah Ash berjalan.
**Bab 116: Di Balik Tirai Galeri**Lorong belakang Galeri Pertaruhan jauh dari kemewahan aula utama.Tidak ada lampu kristal. Tidak ada tawa halus para bangsawan. Yang ada hanya cahaya redup dari lentera besi, bau lembap kayu tua, dan jejak sesuatu yang lebih tajam—darah yang tak pernah benar-benar dibersihkan.Di sanalah Ash berjalan.Punggungnya sedikit membungkuk, langkahnya disesuaikan—tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Pakaian kasarnya kusam, penuh noda minyak dan debu, cukup untuk membuatnya tampak seperti pekerja rendahan yang tak layak diperhatikan.Di pundaknya, ia memikul peti kayu. Di dalamnya—bukan hanya alat kebersihan seperti yang terlihat. Tapi ruang kosong.Untuk bukti.
**Bab 115: Saihan Muncul Di Arena**Sorak sorai dari tribun bawah menggulung seperti gelombang yang tak pernah benar-benar surut.Serak. Kasar. Putus asa.Tangan-tangan kotor terangkat tinggi—menggenggam kepingan logam yang dingin dan berat. Upah seharian. Kadang lebih. Keringat yang belum sempat mengering, perut yang mungkin belum sempat terisi.Mereka melemparkannya ke meja taruhan.Bukan untuk hidup.Untuk dua nyawa di arena.Debu berputar tipis di bawah cahaya lampu. Bau besi—anyir, melekat—bercampur dengan tanah yang diinjak berkali-kali. Dan darah… selalu ada. Tipis, tapi tak pernah benar-benar hilang.
**Bab 114: Tuan KDi Galeri Pertaruhan.Topeng—berbagai rupa, berbagai ukiran—menutup wajah para tamu. Namun tidak ada yang mampu menutupi bau yang merayap di udara: anyir besi, tanah berdebu yang terinjak, keringat yang mengering di lipatan kain mahal, dan—yang paling halus namun paling jelas—bau darah yang tak pernah benar-benar hilang dari tempat ini.Di bawah cahaya lampu yang remang, deretan meja berjajar rapi. Bangsawan-bangsawan duduk di balik topeng mereka, menikmati hidangan mahal dan minuman yang dituangkan tanpa jeda. Mereka berbicara pelan, tertawa kecil—seolah-olah ini hanyalah jamuan biasa.Namun tatapan mereka tidak pernah benar-benar pergi dari arena.Mereka ingin kebrutalan.
**Bab 113 Viscountess Yseult Merchanze**Cafe itu sepi dan hangat, tapi udara terasa menegang seketika saat pintu terbuka. Viscountess Yseult melangkah masuk, anggun seperti biasa, tapi langkahnya berhenti ketika melihat sosok yang duduk tenang di meja sudut—seolah waktu tak pernah mengubahnya, kecuali sorot mata yang kini jauh lebih dingin."Halo, Viscountess Yseult Merchanze." Sapa itu datang dengan kelembutan yang terdengar nyaris seperti tantangan.Yseult mengangkat alis. "Ah, aku pikir aku baru saja melihat hantu..." Nada suaranya datar, tapi matanya menelanjangi kenyataan."Hany
**Bab 112 Deklarasi Thally**Pintu terbuka dengan bunyi berderit ringan. Thally tertegun.Di depan sana, berdiri tegap seorang lelaki bersandar pada dinding dengan tangan menyilang, wajahnya datar, matanya dingin. Saihan Malaken. Menunggunya sejak entah kapan.Thally mengernyit, wajahnya mengeras, tapi ia tidak berkata apa-apa. Ada semacam kehati-hatian dalam sorot matanya, meski gerak-geriknya tetap anggun dan tenang.Lalu, Thally menyempitkan mata, tidak menyapa. Hanya tatapan yang berbicara—penuh tanda tanya, sekaligus tak ingin tahu. Ia tak ingin memulai apa pun pagi itu.
**Bab 111 Situasi Baru**Langit Skythia menggantung kelabu di balik jendela tinggi ruang kerja sang Duke. Asap dari perapian menyebar perlahan, bercampur dengan aroma perkamen tua dan bara kayu cemara. Di tengah ruangan, Duke Hugh berdiri tegap di depan meja besar yang dipenuhi peta, laporan, dan segel kerajaan. Matanya tajam menatap api, seakan membakar bayang-bayang musuh yang belum terlihat.''Tuanku Duke, Margrave mulai bergerak,'' ujar Alwyn, menyampaikan laporan dengan nada serius. Suaranya menggema pelan di ruangan itu, seperti bisikan angin yang membawa kabar badai.Hugh menoleh cepat. Wajahnya menegang sesaat, lalu bibirnya melengkung menyeringai. Sorot matanya menyala pen
**Bab 092 Suasana Baru**Di dalam rumah sederhana milik Garran dan Sania, suasana hangat terpancar dari perapian yang menyala di sudut ruangan. Meja makan kayu di tengah ruangan dipenuhi dengan hidangan sederhana, tetapi cukup untuk mengenyangkan. Kaiden, Garran, dan Sania du
**Bab 091 Kabar Berita**Atthy menundukkan kepalanya, jemarinya saling menggenggam erat di atas selimut yang menutupi tubuhnya. Matanya tampak berkabut, seakan ada perasaan yang begitu dalam sedang ia tahan agar tidak pecah di hadapan Sania."Bibi, terima
**Bab 090 Kewaspadaan**Suasana di dalam kedai sederhana itu terasa lebih berat dari biasanya. Udara dingin dari luar menyusup masuk melalui celah pintu yang terbuka setiap kali seseorang keluar-masuk, membawa serta aroma tanah basah dan kayu bakar yang samar. Api unggun keci
**Bab 088 Siuman**Dunia terasa berat, seperti ada selubung tebal yang membelenggu kesadarannya. Atthy membuka matanya perlahan, tapi cahaya yang menyelinap dari sela-sela jendela membuatnya menyipit. Napasnya pendek, dadanya naik turun dengan irama yang tidak stabil. Tenggor







