登入**Bab 115: Saihan Muncul Di Arena**
Sorak sorai dari tribun bawah menggulung seperti gelombang yang tak pernah benar-benar surut.
Serak. Kasar. Putus asa.
Tangan-tangan kotor terangkat tinggi—menggenggam kepingan logam yang dingin dan berat. Upah seharian. Kadang lebih. Keringat yang belum sempat mengering, perut yang mungkin belum sempat terisi.<
**Bab 118: Topeng Yang Terbuka**Pintu utama Galeri masih terbuka.Tawa masih terdengar.Koin masih beradu.Tidak ada yang berubah—di permukaan.Lalu—Langkah kaki. Seragam. Masuk.Tidak banyak. Tapi cukup rapi untuk mengubah arah pandangan.Beberapa kepala menoleh. Lalu lebih banyak. Bisik mulai menyebar.“Pasukan…?”“Barat…?”—Di meja elit—Julius tidak langsung bergerak. Hanya matanya yang bergeser.Menghitung. Jumlah. Formasi. S
**Bab 117: Saihan dan Tony**Saihan dan Tony telah berada di arena.Sorak sorai membahana dari tribun kelas bawah—liar, kasar, tanpa jeda.Nama mereka mulai diteriakkan. Tidak serempak. Tidak rapi. Tapi cukup.Dua pemuda seumuran dari lingkungan bawah Nauruan.Siapa yang tidak mengenal mereka.Menonjol sejak muda.Sama kuat. Sama tangkas.Sama-sama pemimpin.Namun tidak pernah benar-benar berdiri di sisi yang sama.
**Bab 116: Di Balik Tirai Galeri**Lorong belakang Galeri Pertaruhan jauh dari kemewahan aula utama.Tidak ada lampu kristal. Tidak ada tawa halus para bangsawan. Yang ada hanya cahaya redup dari lentera besi, bau lembap kayu tua, dan jejak sesuatu yang lebih tajam—darah yang tak pernah benar-benar dibersihkan.Di sanalah Ash berjalan.Punggungnya sedikit membungkuk, langkahnya disesuaikan—tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Pakaian kasarnya kusam, penuh noda minyak dan debu, cukup untuk membuatnya tampak seperti pekerja rendahan yang tak layak diperhatikan.Di pundaknya, ia memikul peti kayu. Di dalamnya—bukan hanya alat kebersihan seperti yang terlihat. Tapi ruang kosong.Untuk bukti.
**Bab 115: Saihan Muncul Di Arena**Sorak sorai dari tribun bawah menggulung seperti gelombang yang tak pernah benar-benar surut.Serak. Kasar. Putus asa.Tangan-tangan kotor terangkat tinggi—menggenggam kepingan logam yang dingin dan berat. Upah seharian. Kadang lebih. Keringat yang belum sempat mengering, perut yang mungkin belum sempat terisi.Mereka melemparkannya ke meja taruhan.Bukan untuk hidup.Untuk dua nyawa di arena.Debu berputar tipis di bawah cahaya lampu. Bau besi—anyir, melekat—bercampur dengan tanah yang diinjak berkali-kali. Dan darah… selalu ada. Tipis, tapi tak pernah benar-benar hilang.
**Bab 114: Tuan KDi Galeri Pertaruhan.Topeng—berbagai rupa, berbagai ukiran—menutup wajah para tamu. Namun tidak ada yang mampu menutupi bau yang merayap di udara: anyir besi, tanah berdebu yang terinjak, keringat yang mengering di lipatan kain mahal, dan—yang paling halus namun paling jelas—bau darah yang tak pernah benar-benar hilang dari tempat ini.Di bawah cahaya lampu yang remang, deretan meja berjajar rapi. Bangsawan-bangsawan duduk di balik topeng mereka, menikmati hidangan mahal dan minuman yang dituangkan tanpa jeda. Mereka berbicara pelan, tertawa kecil—seolah-olah ini hanyalah jamuan biasa.Namun tatapan mereka tidak pernah benar-benar pergi dari arena.Mereka ingin kebrutalan.
**Bab 113 Viscountess Yseult Merchanze**Cafe itu sepi dan hangat, tapi udara terasa menegang seketika saat pintu terbuka. Viscountess Yseult melangkah masuk, anggun seperti biasa, tapi langkahnya berhenti ketika melihat sosok yang duduk tenang di meja sudut—seolah waktu tak pernah mengubahnya, kecuali sorot mata yang kini jauh lebih dingin."Halo, Viscountess Yseult Merchanze." Sapa itu datang dengan kelembutan yang terdengar nyaris seperti tantangan.Yseult mengangkat alis. "Ah, aku pikir aku baru saja melihat hantu..." Nada suaranya datar, tapi matanya menelanjangi kenyataan."Hany
**Bab 075 Introspeksi**Ruang Rapat Manor EldoriaSalju yang terus turun di luar jendela membuat suasana di dalam ruangan terasa semakin dingin dan suram. Cahaya lampu minyak berpendar samar di dinding batu, menciptakan bayangan yang bergerak seiring api yang bergetar.Vadim Griffith duduk di kursin
**Bab 074 Tamparan**Salju yang turun perlahan membungkus Manor Eldoria dalam keheningan yang semakin menyesakkan. Di beranda kamar Atthy, Hugh berdiri mematung, memandangi hamparan putih yang seolah tak berujung. Dingin yang menggigit tidak ia pedulikan, sama seperti ia tidak memedulikan waktu yang
**Bab 073 Kegundahan Ash**Salju turun perlahan di luar Manor Eldoria, menambah kesan sunyi dan muram yang sudah menyelimuti tempat itu selama dua minggu terakhir. Dingin menusuk hingga ke dalam, merayapi dinding-dinding batu yang kokoh. Di halaman, prajurit-prajurit masih berjaga, wajah mereka menu
**Bab 072 Vadim dan Ash**"Selamat siang, Yang Mulia Grand Duke Griffith." sapa Ash saat memasuki ruangan di mana Vadim telah menunggunya."Selamat siang, Tuan Ashton Galina," balas Vadim sambil mempersilakan Ash duduk di hadapannya. Tatapannya tajam, menilai pria di depannya dengan penuh kewaspadaa







