Masuk
“Mhmh…!” Suara erangan lembut wanita yang tengah terjerat buaian perkasa kaum laknat.
Kaum laknat yang dimaksud, tentu saja adalah pria hidung belang yang kini terus menggerakkan jari jemarinya, meraba-raba keindahan wanita cantik yang berada dalam dekapannya.
Keduanya dalam posisi duduk di atas sofa. Tentunya, sang wanita cantik berada di atas pangkuan paha kekar dan perkasa milik pria hidung belang tersebut. Rona merah merona terlihat jelas di pipi putih mulus milik wanita cantik itu.
“Emmuah…!” Kecupan penuh hasrat dari pria hidung belang juga tak kalah gencarnya dalam melancarkan serangan-serangan mematikan yang mampu membuat wanita cantik itu merasa lemas dan tidak berdaya untuk melawan.
“Emhm, ah! Pak, pelan-pelan, ya!” ucap wanita cantik tersebut dengan lembut sambil berusaha mencoba memberikan sedikit dorongan.
Pasalnya, jari jemari pria hidung belang tengah mencubit puncak gunung kembar miliknya yang tentu membuat wanita cantik merasa sedikit sakit. Meski begitu, perkataannya seolah angin lalu saja bagi pria hidung belang tersebut.
“Hehe, memangnya kenapa, Sariska? Bukannya kamu dan aku sudah biasa dengan hal ini? Belum lagi, dengan tubuh seindah ini, pasti pria lain juga tak kuasa melakukan hal yang sama sepertiku. Sudahlah, nikmati saja sama seperti hari-hari biasanya!”
Pria hidung belang menjawab dengan ketus dan jahil sambil menatap wajah cantiknya sosok wanita dalam dekapannya tersebut. Wanita cantik itu bernama Sariska Lianor, seorang wanita penghibur yang memang sudah biasanya menghangatkan sosis keras milik para pria hidung belang.
Dari satu ranjang, pindah ke ranjang lainnya. Para pria hidung belang yang menjadi pelanggannya pasti memesannya dengan hasrat penuh nafsu membara. Jelas tak mungkin, kaum laknat tersebut mengenal yang namanya batasan diri. Larut dalam kenikmatan, tubuh indahnya Sariska Lianor begitu memukau pria hidung belang.
“Ah…! Pelan-pelan, Pak!” ucap Sariska Lianor sekali lagi ketika merasakan sensasi di mana pria hidung belang kini benar-benar melumat habis penuh nafsu pada salah satu puncak gunung kembar miliknya.
Pria hidung belang tak merespon dengan kata-kata, tapi melanjutkannya dengan aksi yang nyata. Tak cukup hanya dengan melumat puncak gunung kembar, pria tersebut melancarkan serangan dengan sosis keras miliknya yang langsung menembus goa tersembunyi miliknya Sariska Lianor.
“Urgh…!” rintih Sariska Lianor merasakan hentakan ganas pria hidung belang tersebut yang memuncak, menerobos masuk ke dalam goa tersembunyi miliknya.
“Huh…! Haha, benar-benar nikmat luar biasa tubuhmu ini, Sariska! Tak mungkin diriku akan bosan dengan ini, haha! Rasakan dan nikmati setiap hentakanku ini!” ungkap pria hidung belang dengan semangat membara yang diluapkan dalam setiap hentakan yang menggesek dinding goa tersembunyi miliknya Sariska Lianor berulang kali.
“Ah, ah…! Urgh…!” Desahan Sariska Lianor satu demi satu keluar dari sela-sela bibirnya yang merah merona.
Apabila digabungkan, desahan itu sudah dapat dirakit menjadi satu paragraf penuh. Sariska Lianor hanya bisa pasrah dengan kenyataan yang pahit itu. Meski desahan yang keluar dari lisannya menggambarkan kenikmatan hakiki, tapi hatinya dipenuhi rasa jijik setiap kali desahan dari mulutnya itu keluar.
Rasa jijik kepada pria hidung belang dan pada dirinya sendiri. Sebuah ironi yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh wanita sepertinya. Meski statusnya saat ini jelas tak ada mulianya sama sekali, Sariska Lianor dahulu tidak serendah ini.
Selayaknya gadis muda biasa yang polos dengan perkara duniawi. Sariska Lianor hanya ingin dicintai oleh orang-orang yang dicintainya. Sebuah keinginan yang seharusnya tidak berlebih-lebihan karena sudah sewajarnya memang begitu adanya.
Sayangnya, takdir seolah-olah menolak harapannya dan mempermainkan kehidupannya. Sang ayah yang seharusnya menjadi sosok pelindung, malah berubah menjadi ancaman baginya. Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya berefek padanya, tapi juga kepada ibu dan adik laki-lakinya.
Seolah tak cukup dengan hal itu, sang ayah bahkan berani selingkuh dengan terang-terangan, membuat harapan terakhir Sariska Lianor dan ibunya hancur lebur. Sang ayah akhirnya benar-benar meninggalkan Sariska Lianor bersama ibu dan adiknya.
Kepergian sang ayah membuat sang ibu jatuh sakit parah dan harus dirawat rutin. Bahkan dokter yang merawat ibunya mengatakan, kalau ibunya harus segera dioperasi kalau tidak ingin meninggal dunia dalam waktu dekat. Alhasil, biaya perobatan rumah sakit semakin membengkak yang membuat Sariska Lianor pusing tak karuan.
Belum lagi, sang adik laki-lakinya yang tidak bisa diharapkan juga harus dibiayai sekolahnya. Adiknya tersebut suka foya-foya akibat sering bertengkar dengan ayahnya dahulu. Sariska Lianor yang baru lulus SMA segera mengurungkan niatnya untuk kuliah dan mulai mencari-cari pekerjaan.
Sayangnya, pekerjaan yang tersedia menuntut ijazah di atas SMA. Sebuah tamparan realita yang lagi-lagi menghancurkan hatinya. Di tengah-tengah keputusasaannya, Sariska Lianor menemukan lowongan kerja di tempat bernama Kafe Layanan Malam.
Dari namanya saja, perasaan tak nyaman di hatinya Sariska Lianor jelas merasakannya. Akan tetapi, hanya lowongan kerja itu saja yang tidak meminta ijazah di atas SMA. Sesuatu yang sangat langka dan dibutuhkan olehnya saat itu juga demi menyelesaikan permasalahan mendesak hidupnya saat ini.
Berbekal tekad dan keberanian, Sariska Lianor datang melamar pekerjaan tersebut dengan pakaian serapi mungkin. Jujur saja, Sariska Lianor memang cantik jelita.
Entah mengapa, sang ayahnya yang tukang selingkuh tersebut tidak pernah menyentuh kesuciannya, malah lebih sering memarahinya dan sesekali memukulnya.
Alhasil, Sariska Lianor masih bisa mempertahankan tubuhnya yang luar biasa elegan dan wajahnya yang cantik jelita.
Para wanita penghibur di hadapannya dibuat tak berdaya sampai menggigit bibirnya sendiri. Di sisi lain, Pak Diwar tetap tenang menganggukkan kepalanya. “Tuan Muda memang sangat tepat sekali. Terlepas dari saran saya untuk memberikan cadangan, mereka tampaknya masih jauh dari itu. Kalau dipaksakan, hanya akan menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu nantinya!” ucap Pak Diwar tanpa ragu-ragu sedikit pun.Jarjon Daryankor memejamkan matanya sambil mengangguk sedikit. “Baiklah, kalian semua boleh kembali ke tempat duduk masing-masing! Giliran selanjutnya para wanita penghibur peringkat kedua. Kalian bisa maju ke depan!” tegas Jarjon Daryankor membuka matanya dan menatap ke arah para wanita penghibur di tempat duduk dan langsung mengabaikan para wanita penghibur peringkat satu di hadapannya tersebut.Para wanita penghibur peringkat dua seperti Bu Risma perlahan-lahan bangkit dari tempat duduknya masing-masing dengan berbagai macam perasaan campur aduk. Sudah jelas kalau mereka semua merasa
Namun, dibalik semua itu, Sariska Lianor jelas yang paling panik di antara mereka semua. Pemikirannya Bu Risma ternyata tidak unik untuknya saja. Entah mengapa, Sariska Lianor juga ikut-ikutan memikirkan hal yang serupa.“Du, dua pelanggan! Siapa lagi yang kedua kalau statusnya tidak kalah dengan Tuan Muda Jarjon Daryankor itu sendiri? Mustahil kalau ada sosok lainnya di sini. Seingatku, Jarjon Daryankor adalah putra tunggal dari Kepala Keluarga Daryankor saat ini?! Dengan ini bisa dipastikan, pelanggan kedua kemungkinan besar adalah ayahnya. Urgh, apa mungkin hal ini bisa terjadi?!” pikir Sariska Lianor menjadi berantakan dengan liar dan tidak terkendali.Meski berpengalaman selama lima tahun bekerja sebagai wanita penghibur, Sariska Lianor tidak pernah berada di posisi di mana dia harus merelakan tubuhnya untuk dinikmati oleh dua orang pria bejat sekaligus. Sariska Lianor selalu menghindari hal itu dan memilih satu pelanggan setiap pemesanan layanannya di dalam satu kamar sewa.Tida
“Ehem! Jadi namamu Sariska Lianor, hmm…. Tidak diragukan lagi, namamu sudah menyiratkan betapa indahnya kamu! Kalau begitu, kamu akan dipilih menjadi kandidat utama. Silahkan kembali duduk di tempatmu sebelumnya! Setelah ini, kamu dapat langsung ikut denganku!” tegas Jarjon Daryankor tampak berusaha bersikap wibawa meski senyum dan eskpresi wajahnya sudah bisa dideteksi betapa bernafsu dia.Para wanita penghibur yang mendengar dan menyaksikan semua itu hanya bisa terdiam. Dalam hati dan pikiran, segala macam keluhan serta cacian muncul dan menumpuk di sana. Seandainya langsung diutarakan dengan berterus terang, kemungkinan akan menimbulkan Tsunami raksasa bukannya hal yang mustahil sama sekali.Bu Risma menjadi yang paling jengkel ketika mendengar Jarjon Daryankor memuji dan sekaligus memilih Sariska Lianor begitu saja menjadi yang pertama di depan banyak kandidat lainnya. “Kenapa, kenapa selalu kamu yang selangkah di depanku, Sariska Lianor?! Bagaimana bisa dunia ini adil kalau terus
Jarjon Daryankor terdiam dan tidak menjawab perkataannya Pak Diwar. Dalam keheningan tersebut, tatapan matanya seolah terikat erat dengan Sariska Lianor. Melihat hal itu, Pak Diwar yang tidak peka perlahan-lahan akhirnya paham juga. Dengan cepat, Pak Diwar segera mengingatkan.“Tuan Muda, sebaiknya Anda harus lebih bijaksana dan fokus dengan tujuan sebenarnya! Semakin bagus bibit yang digunakan, maka hasil panennya tidak akan mengkhianati prosesnya. Kalau Tuan Muda mengesampingkan wanita dengan kualitas tinggi seperti ini, bukankah kemungkinan misi kita gagal nantinya akan jauh lebih tinggi!” tegas Pak Diwar yang membuat Jarjon Daryankor mengedipkan matanya.Namun, perkataan Pak Diwar seolah belum cukup menyadarkan Jarjon Daryankor dari lamunan liarnya tersebut. “Tuan Muda, jangan lupakan betapa besar penderitaan Anda selama ini! Darbas Liankora bukan pria biasa yang bisa ditipu dengan bibit kualitas yang biasa-biasa saja. Selama wanita ini yang kita gunakan, saya merasa cukup percaya
Pak Diwar menyipitkan matanya ketika melihat sosok Sariska Lianor setelah mencoba membandingkan dengan penampilan para wanita penghibur peringkat satu lainnya. “Hmm…, tidak disangka ada wanita seindah ini. Biarpun pakaian yang dikenakan terlalu formal dan jelas kalah seksi dibandingkan yang lainnya, tapi wajah hingga postur tubuhnya bisa dipastikan berada di barisan depan yang paling unggul! Tuan Muda, bagaimana menurutmu?” ucap Pak Diwar dengan tenang.Pak Jidan hampir menggertakkan giginya ketika mendengar itu. “Dasar bajingan! Cepat sekali lirikan matanya ketika menemukan mutiara terpendam seperti Sariska Lianor! Tampaknya memang hari ini adalah hari perpisahan! Aku harus memilih antara menjadi lebih dekat dengan Tuan Muda ataukah bertahan mencoba melindungi Sariska Lianor yang belum pasti apakah nantinya mau hidup denganku!” pikir Pak Jidan semakin berat hati saja.Jarjon Daryankor dengan aneh melirik ke arah Pak Diwar. “Apakah dia memang seindah itu? Menurutmu target kita akan te
Para wanita penghibur akhirnya terdiam dan tidak lagi berebut secara terang-terangan meski masih berlomba memiliki tempat duduk di barisan terdepan.Sariska Lianor dan Bu Risma saling melirik sebentar sebelum lanjut memilih tempat duduk yang saling berseberangan. Kepercayaan diri mereka tampak tidak terukur, walaupun sebenarnya mereka berdua juga tidak terlalu percaya diri sama sekali.“Apapun yang terjadi, aku harus terpilih!” batin Bu Risma menyakinkan dirinya sendiri.Sariska Lianor memejamkan matanya sambil merenung. “Tidak ada informasi terkait selera wanita dari sosok bernama Jarjon Daryankor ini. Sudah aku cari-cari di internet sejak kemarin sampai tadi selama perjalanan, masih saja tidak menemukan seleranya! Dengan kata lain, semua tergantung dengan keberuntunganku sendiri!” batin Sariska Lianor tampak sedikit pasrah dengan keadaan.Pak Jidan menghela napasnya dengan lega. “Kalian rapikan dahulu pakaian dan segala macam riasan di wajah kalian. Maksimal penampilan terbaik kalia







