Share

Ala-ala India

Author: El Baarish
last update Huling Na-update: 2025-06-07 11:58:41

Seleb 5

.

Minggu sore kulihat Ozan kembali duduk di gazebo belakang rumah. Itu anak-anak benar-benar adem banget jiwanya. Dia mengalah lagi dari Adel.

Bang Fahri beberapa hari ini masih menghabiskan waktu di sawah. Suamiku memang tipe orang yang gak bisa duduk diam rumah, harus gerak biar berkeringat.

Ibu pun seperti itu kulihat. 

"Bang, kenapa Mamak masih kerja? Kasian kali lah Adek tengok. Bisa gak Mamak gak usah kerja lagi?" kataku pada Bang Fahri saat kami akan tidur malam hari.

"Mamak tuh gak bisa kalau gak kerja. Bisa sakit badannya, Dek!"

"Lah, kok gitu?"

"Ya gitu, karena memang udah dari dulu Mamak jualan es tebu. Langganan pun udah banyak, katanya kalau beli di tempat lain banyakan campur air atau pemanis buatan biar makin banyak untung."

Bang Fahri menjelaskan. Katanya, Ibu jualan es tebu sejak setelah Bapak meninggal.

Dulu Bapak kerja di pabrik, nanam sayur, bajak sawah, apapun ia kerjakan. Ia sempat beli lahan dan membangun rumah ini dari hasil kerjanya. Namun, takdir merenggut nyawanya terlalu dini. Bapak mengalami kecelakaan di pabrik saat ia bekerja.

Saat itu Bang Fahri sedang menempuh pendidikan di pesantren modern yang biayanya lumayan untuk seukuran orang desa yang kerjanya hanya di pabrik ditambah serabutan lainnya. Setelah Bapak meninggal, Bang Fahri terpaksa keluar dari pesantren dan melanjutkan sekolah di SMA Negeri yang biayanya lebih murah.

Setelah tamat SMA, Bang Fahri mencari pekerjaan sana sini untuk membantu Ibu. Lalu, saat ada sedikit uang, Ibu menyuruh Bang Fahri untuk membeli mesin penggiling tebu.

Saat itu adik-adiknya masih kecil-kecil, jadi segala tanggungan mereka otomatis terbebani pada Ibu dan Bang Fahri.

Kata Bang Fahri, masih mending mereka punya rumah. Tak harus memikirkan di mana akan tinggal, bayar kontrakan pakai uang dari mana. Sehari-hari hanya memikirkan keperluan sekolah adik-adiknya dan kebutuhan makan.

Sebab itu, Bang Fahri telat menikah. Ia baru menikah di usianya yang ke tiga puluh lima tahun. Aku juga telat, kini usiaku sudah tiga puluh tahun.

Kami sama-sama telat nikah, dengan alasan yang berbeda.

Sebab itu pula, rumah ini hanya tampak lumayan besar di luar, untuk seukuran rumah di kampung. Tapi di dalamnya tak ada perabotan. Tak ada televisi, sofa, rak kaca mewah atau apa pun yang menarik perhatian. Yang ada hanya kulkas biasa, penanak nasi dan blender.

"Seperti apa rupa Bapak, Bang?" tanyaku pada suami.

Kemudian ia bangun dan membuka lemari mengambil sesuatu. Lalu, ditunjukkan padaku.

Terlihatlah seorang lelaki yang masih terlihat muda, dengan kumis tipis. Rambutnya agak cepak gitu, khas orang jaman. Tapi, kalau diperhatikan Bapak ganteng juga, pantas aja nurun ke anaknya. Di samping Bapak, ada Ibu yang tersenyum dengan selendang yang menutupi kepalanya.

Fix, aku harus minta Bang Fahri untuk mencuci foto lawas ini menjadi lebih besar. Nanti akan dipajang di dinding sebagai kenangan.

"Bapak ganteng ya, Bang," kataku.

"Iya, tapi gantengan Abang, kan?" tanyanya seraya tersenyum menggoda.

"Dih, narsis Abang ini."

"Narsis sama istri sendiri boleh, kan?"

Ya boleh dong, Bang. Masa aku harus ngaku duluan kalau Abang ini ganteng. Malu dong, Bang. Batinku dalam hati.

"Dek …," panggil Bang Fahri.

"Apa?" tanyaku yang melihat suami senyam senyum.

"Abang lapar," katanya.

"Makan, Bang."

"Lapar mata," katanya lagi.

"Emang mata bisa makan?" tanyaku. Sebenarnya aku paham maksudnya apa. Tapi ya masih malu.

Ia mengangguk, lalu makin mendekat padaku hingga deru napasnya yang hangat bisa kurasa menyapu wajahku. Setelah itu you know lah apa yang terjadi.

.

"Zan …," panggilku seraya meletakkan kue dan teh hangat di dekatnya.

Cuaca mendung sangat mendukung untuk ngemil dan ngeteh.

"Wah, makasih banyak ya, Kak. Baik kali kakak satu ini. Kemarinnya bolu karamel, sekarang bolu pisang. Enak pula," kata Ozan panjang lebar.

Aku hanya tersenyum. "Makasihnya belajar yang giat aja biar sukses sidangnya, sukses juga karirnya nanti. Aamiiin."

Ozan tersenyum padaku. "Aku makan ya, Kak."

"Iyalah, masa diliatin doang, mana kenyang?" 

Kami tertawa.

"Eh, Zan. Emangnya sawah Bang Fahri di mana?" tanyaku penasaran.

"Wah, parah Abang nih. Kakak belum pernah diajaknya jalan-jalan keliling kampung?" tanya Ozan.

Aku menggeleng.

Lalu, ia memberitahuku di mana Bang Fahri nyawah. Aku mengangguk, sepertinya tidak akan tersesat, karena hanya beda lorong dari rumah ini.

Oke, langsung tancap gas ke lokasi. Saat keluar rumah, Ibu bertanya aku mau ke mana. Saat aku menjawab ingin menyusul Fahri ia hanya mengangguk sambil bilang.

"Bawa saja payung, Sela. Keknya mau hujan pula nih."

"Gapapa, Mak."

Aku terus menyusuri pematang sawah, sampai kakiku jadi kotor karena lumpur. Hitung-hitung nostalgia masa kecil. Entah sudah berapa lama aku tidak pergi ke sawah. Dulu, Nenek dan Kakek juga kerja di sawah, dan aku sering menyusul mereka di sana.

"Abang …," teriakku memanggil Bang Fahri. 

"Iya, Dek." Lelaki itu menoleh dan seketika aku menyembunyikan wajah karena salah panggil. Lelaki itu malah tertawa, aku jadi balik arah karena malu.

"Dek …,"

Aku mendengar panggilan itu, tapi tak berniat menoleh.

"Dek Shela …," panggil seseorang lagi. Di sawah yang luas ini, suara agak tidak jelas. Aku berbalik dan tersenyum saat melihat Bang Fahri yang memanggil.

Ternyata sawahnya berada di sebelah kanan yang aku salah panggil tadi. Dua pematang sawah berselang.

Segera saja aku menghampiri suamiku.

"Istri kau, Fahri?" tanya orang yang salah kupanggil tadi.

"Iya," jawab suamiku.

"Cantik cantik jangan pula kau suruhnya ke sawah,"

Bang Fahri hanya tertawa. Siapa yang nyuruh, wong aku sendiri yang inisiatif. Eh!

Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Langit sudah gelap, sejak tadi memang mendung. Semua orang dengan cepat turun dari sawah menghindari hujan dan akan pulang.

Bang Fahri juga melangkah padaku, menjajakan kakinya di bawah lumpur.

Aku menatap langit dan merasakan tetes demi tetes air hujan. Duh, komplit banget deh. Sawah, hujan, perpaduan yang pas untuk nostalgia.

Jadi pengen nyanyiin lagu India.

Yaudah aku nyanyi aja deh, kapan lagi romantisan di tengah sawah hujan-hujanan gini.

Yeh mausam ki baarish

Yeh baarish ka paani

Yeh paani Ki bondein

Tujhe hi toh dhoondhe

Aku terus berjalan pada Bang Fahri yang juga berjalan padaku. Aku mengulurkan tangan padanya bak gaya artis film India yang lagi jatuh cinta. Manisnya Bang Fahri juga mengulurkan tangan padaku, hingga kini kami berdua menari di pematang sawah.

Aku membelalakkan mata mendengar Bang Fahri menyambung lirik lagu yang kunyanyikan.

Yeh milne Ki khwahish

Ye khwahish purani

Ho poori thuji se Meri heh kahaani 

Ah, makin jatuh cinta. Baru tau kalau Bang Fahri juga suka Bollywood.

"RI, hujan, Ri …!" teriak laki-laki yang tadi salah kupanggil.

Apaan sih, orang itu ganggu aja. Aku mau lanjut chori chori chupke chupke nih.

"Fahri, hujan!" 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 32

    Seleb 32.Beberapa hari setelah perdebatan itu, aku langsung mencairkan uang empat ratus juta setelah Mayra menemukan harga yang menurutku cocok. Tanah ini lumayan luas sampai ke belakang tempat suamiku biasanya berkebun."Aku pengennya dibagi sama, Bang," kata Mayra saat aku telah meletakkan bergepok uang merah di atas meja. Ijo gak tuh matanya.Terdengar Bang Fahri mengela napas lelah."Kau tahu harusnya kau dapat berapa bagian?" tanya suamiku.Kami kembali berkumpul malam itu.Mayra menggeleng."Kau, Adel?" tanya suamiku pada adik perempuannya yang lain.Adel juga menggeleng."Kau, Ozan?" Kembali Bang Fahri bertanya pada adik bungsunya."Setahuku anak laki-laki dapat seperdua, sementara anak perempuan dapatnya dua pertiga kalau dalam hukum faraid," jawabnya dengan tegas."Iya, betul." Suamiku berkata."Berarti kau bisa hitung sendiri kan harusnya dapat berapa?" tanya suamiku pada Adel dan Mayra.Keduanya mengangguk lesu, kek gak niat mengangguk gitu."Tapi kita harus bagi adil, Ba

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 31

    Seleb 31."Bang Fahri, Ozan!" teriakku lagi. Bang Fahri sedang menonton televisi di ruang tengah. Sementara Ozan yang lagi di kamar, langsung keluar saat mendengar teriakanku."Kenapa, Dek?" tanya suamiku."Mamak … Bang," kataku dengan suara yang bergetar.Ponsel masih di tanganku, masih hidup. Aku berikan pada Bang Fahri dan ia mulai bertanya pada orang di seberang sana."Innalilahi wa inna ilaihi raji'un, Mamak …." Tangis Bang Fahri juga ikut pecah. Ozan berdiri mematung, terlalu stok dengan kabar yang ia dnegar barusan. "Ya Allah … Mamak," lirih Ozan.Kami menangis, teringat kembali terakhir kali bertemu dan memeluknya di bandara. Kami baru sadar bahwa itu ternyata menjadi momen terakhir kebersamaan kami di dunia ini.Bang Fahri masih berusaha tenang dan bertanya beberapa hal pada seorang ustadz yang melakukan badal haji Bapak.Katanya, Ibu sempat pusing dan mengeluh lemas. Lalu muntah dua kali, hingga dibawakan ke rumah sakit terdekat di sana. Tak berapa lama kemudian, Ibu men

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 30

    Seleb 30.Gema takbiran berkumandang di kampungku. Seperti biasa, saat lebaran aku selalu pulang ke kampung, menikmati waktu bersama Ibu dan Nenek, sesibuk apa pun itu.Kalau aku tidak pulang, Ibu dan Nenek pasti nangis, karena pernah seperti itu dulu saat aku belum punya banyak karyawan."Apa gunanya banyak duit, Nak, kalau lebaran aja gak bisa kumpul sama keluarga," kata Nenek sambil nangis pas aku pulang beberapa minggu setelah lebaran waktu itu.Jangan ditanya bagaimana reaksiku, langsung sesenggukan sambil mengangguk membenarkan Nenek dan berulang kali minta maaf. Setelah itu, setiap lebaran aku pasti pulang, takut membuat hati mereka bersedih."Anak satu-satunya, udahlah hari-hari ditinggal, lebaran pun tak pulang," tambah Ibu.Nyes banget waktu itu. Sedih dan nyesek sampai ke ubun-ubun rasanya. Mereka bukan tak mengerti aku sibuk, justru sangat mengerti, tapi dalam dua puluh empat jam berhari, berbulan, bertahun-tahun, mereka hanya meminta beberapa waktu untuk bersama. Karena

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 29

    Seleb 29.Rutinitasku masih sama, bolak balik Jakarta-Medan. Adik-adik iparku juga masih sama, kelakuannya.Adel dan Mayra masih sibuk live di Tiktok, sambil bikin konten. Penjualannya meningkat kulihat, hingga akhirnya Adel bisa beli motor impian. Meskipun bukan uang dari hasil ngelive, karena yang dari penjualan live hanya bisa buat jajan bakso atau beli pakaian yang ia suka."Biar senang istriku, Kak." Hendra duluan bilang ke aku dan Bang Fahri saat mau beli motor Honda PCX.Makin ke sini, hubungan Adel dan Hendra makin membaik. Lelaki itu juga telah memutuskan hubungan dengan gadis di luar sana tanpa sepengetahuan Adel, sebelum terlambat, katanya.Beda Adel, beda lagi Mayra. Perempuan satu anak itu berkali-kali menghubungiku untuk meminta pinjaman uang."Bayar yang sebelumnya dulu," kataku saat ia meminta.Aku bahkan tak segan berkata seperti itu jika di depan Bang Fahri, karena aku tahu posisiku benar. Mudah sekali lidahnya mengatakan pinjam dulu, ngutang dulu, sementara yang se

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 28

    Seleb 28.Beberapa hari setelah pesta pernikahan, aku kembali ke kampung. Banyak yang berubah setelah aku kembali di sana. Kini aku memang sudah dikenal sebagai owner, bukan lagi orang biasa seperti saat dulu pertama pulang ke rumah suami.Sebagian mengagumi, menyemangati, sementara sebagiannya lagi bermanis di depan, lalu kudengar mereka mengataiku di belakang. Mengatai aku aoke jurus dukun biar laris dan tuduhan serupa lainnya.Lucu memang!Sikap Mayra dan Adel juga berubah. Entah mengapa mereka jadi lebih suka meminta dengan cara yang agak maksa, dan seolah sebuah keharusan untuk aku memberi."Kak, minta uang buat beli peralatan ngonten, dong!" kata Adel sambil manyun manja. Sekilas aku menatapnya, lalu menatap suamiku."Pakai yang udah ada aja," kata suamiku.Aku yakin Bang Fahri malu dengan sikap adiknya itu. Bukan apa, soalnya waktu itu Hendra bilang, ia sudah melengkapi peralatan ngonten untuk istrinya itu. Tinggal sampelnya aja yang belum, nunggu uang gaji bulan depan katany

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 27

    Seleb 27."Selamat ya, Bu Bos. Aku doakan semoga pernikahannya sakinah mawadah warahmah," kata Sonia sambil salim dan memelukku.Gadis itu pun menangis di pelukanku entah sebab apa. Mungkin kembali teringat olehnya saat ia pulang dari luar negeri, karena ibunya sakit, saat itu ia sedang kesusahan mencari pekerjaan di Jakarta. Lalu, aku dan Sonia bertemu, dan menawarkam pekerjaan untuknya."Jangan nangis, kita lagi bahagia," kataku sambil puk puk bahunya."Yah, kan nangis bukan hanya tentang sedih, Bu Bos. Ini air mata bahagia."Aku mengangguk, lalu menangkupkan telapak tangan di wajahnya. Diantara semua karyawan yang paling dekat, Sonia lah yang paling lebih dekat denganku. Kemudian ia juga memberi ucapan selamat untuk Bang Fahri seraya menangkupkan dua tangan di dada."Bang, doain aku cepat nyusul ya," katanya."Nyusul ke mana?" tanya Bang Fahri dengan nada becanda."Nikah lah, Bang.""Owh, sama adekku aja, mau nggak?" tanya Bang Fahri."Boleh juga, Bang," ucap Sonia sambil tertawa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status