Seleb 4
.
Aku baru keluar dari kamar setelah mandi pagi. Namun, kulihat Ozan membuat beberapa gerakan dan berbisik pada Adel yang sedang live. Terlihat Adel hanya melihat sekilas, tanpa peduli.
Ozan tak mau suaranya malah terekam live Adel, sebab itu ia hanya mengisyaratkan dengan gerakannya dan menunjukkan pada kakaknya itu.
Ia malah asik dengan live jualannya.
"Harganya cuma 60 ribuan, buaruan di co ya. Kapan lagi dapat harga murah, gais, khusus di room live aku ya. Setelah live, harga balik ke normal."
Adel malah masih terus mempromosikan barang-barang yang dijualnya melalui live. Entahlah dengan Adel, entah berapa pendapatannya sehari dari live itu hingga ia mengabaikan Ozan yang mau ngomong sama dia.
Ozan pasrah, terlihat ia yang menghembuskan napas lelah.
"Kenapa, Zan?" tanyaku.
Hari ini Sabtu, Ozan libur kuliah. Bang Fahri juga libur kerja, tapi ia tak di rumah. Bang Fahri ke sawah, karena ingin membersihkan rumput liar di sawah agar tak mengganggu padi yang sedang hijau.
"Ribut kali lah, Kak. Lagi belajarnya aku." Ozan mengeluh tak bisa fokus belajar karena Adel lagi live, teriak teriak dan itu cukup mengganggu.
Ozan satu-satunya dari keluarga suami yang bisa kuliah. Ia kuliah keperawatan karena mendapat beasiswa. Diantara empat adik beradik itu, kata Bang Fahri, cuma Ozan yang paling pintar bidang akademik.
Aku melihat ke arah Adel, tampak ia mengembuskan napas kasar lewat mulutnya. Terlihat sangat kesal mungkin.
Kemudian ia mendekat pada kami, sepertinya ia menjeda livenya untuk sesaat.
"Kenapa sih, Zan, hah?" ketus Adel kesal.
"Mau belajarnya aku, Kak. Bisa kau pelankan sedikit?" pinta Ozan baik-baik.
"Banyak ba cot lah kau ini, belajar ya belajar lah sana. Ngapa pula kau ganggu aku cari nafkah. Memanglah aku ribut di sini. Lagi berjuangnya aku buat bikin studio sendiri. Parah lah memang keluarga ini, gak ada pula yang dukung aku."
Aku menggeleng mendengar Adel yang emosi dan bahkan omelannya sudah ke mana-mana. Padahal Ozan hanya meminta agar suaranya sedikit pelan karena sedang belajar di dalam kamar.
Kata Bang Fahri, sebentar lagi Ozan akan sidang skripsi, jadi mungkin ia sedang belajar untuk mempersiapkan itu atau sedang belajar untuk tes tes lainnya sebelum sidang.
Namun, Adel dengan egoisnya malah mementingkan diri sendiri.
Aku menatap Ozan. Kasihan pula aku lihat dia.
Rumah ini termasuk besar untuk seukuran orang desa, ada empat kamar. Satu kamar aku dan suami, satu kamar lagi Adel dan suaminya, satu untuk ibu, dan satunya lagi untuk Ozan. Sehingga Adel hanya bisa live di ruang tengah, jadi suaranya ribut ke mana-mana. Mungkin kalau di kamar bisa sedikit tertahan suaranya karena pintu tertutup.
Lelaki itu menghembuskan napas untuk sesaat. Aku menatap Ozan seolah memberi kode agar ia yang mengalah. Tak diberi kode pun, aku yakin ia akan mengalah.
"Belajar di ayunan aja, Zan," kataku. Semata hanya agar mereka tak ribut. Malas juga aku menghadapi sikap Adel.
"Nanti aku buatkan kue," kataku.
Ia mengangguk setuju. Setuju atau tidak, ia tetap harus pindah tempat biar fokus.
Ozan masuk kamar, dan mengambil beberapa buku serta laptop yang ia perlukan. Kemudian kulihat ia pergi ke belakang rumah, di sana ada ayunan yang diikat Bang Fahri dari pohon ke pohon. Ada juga semacam gazebo sederhana bikinan Bang Fahri.
Yang penting bisa duduk dan ada atapnya untuk melindungi dari sinar matahari.
Tinggallah aku dan Adel. Ia tampak menatap kesal padaku. Entahlah kok rasanya dia benci kali sama aku ya?
Rasa tak sukanya jadi makin bertambah saat aku menghalangi dan menghentikan keinginannya untuk menjadikan Ibu seperti babu.
Seperti pagi tadi.
"Bu, sekalian ya." Adel cengengesan sambil menatap Ibu. Di tangannya ada seember pakaian kotor.
Aku yang sedang nyuci sama Ibu jadi geram melihatnya.
"Cuci sendiri," kataku saat Adel akan memasukkan pakaiannya ke mesin cuci.
"Mamak mending mandi, Mak, buat jualan es tebu. Biar Shela yang lanjutkan ini." Aku berkata pada Ibu.
Ibu menuruti kataku, langsung mandi. Lagian sisa bajunya tidak banyak. Pun aku kasihan karena dia udah tua.
Eh, si Adel malah datang-datang dan langsung masukin pakaian dia dan suami ke mesin.
Langsung saja kuambil pakaiannya dan memasukkan kembali ke ember.
"Miara ayam dapatlah telor, dapatlah anak ayam. Nah, miara malas dapat apa?" sentakku pada Adel yang langsung masam mukanya.
"Jangan mentang-mentang kau ya. Cuciin sekalian! Aku sibuk mau cari duit!"
"Cuci sendiri! Sorry bukan laundry!" kataku seraya melempar pakaian itu ke dekat kakinya. Enak aja.
Adel melotot sambil giginya dirapatkan. Memangnya aku takut? Emangnya cuma dia yang punya gigi?
Ozan aja yang laki-laki, nyuci baju sendiri dia. Tadi pagi-pagi banget dia nyuci dan udah dijemur. Nah, ini betina satu ini malasnya minta ampun.
Nyuci malas, masak malas, bersih-bersih juga malas. Dan alasan untuk itu semua adalah live, cari duit.
Akhirnya Adel nyuci sendiri, sambil mendumel sambil merepet, sambil mungkin membayangkan pakaian yang digiling di mesin adalah mukaku. Terserah!
Seleb 32.Beberapa hari setelah perdebatan itu, aku langsung mencairkan uang empat ratus juta setelah Mayra menemukan harga yang menurutku cocok. Tanah ini lumayan luas sampai ke belakang tempat suamiku biasanya berkebun."Aku pengennya dibagi sama, Bang," kata Mayra saat aku telah meletakkan bergepok uang merah di atas meja. Ijo gak tuh matanya.Terdengar Bang Fahri mengela napas lelah."Kau tahu harusnya kau dapat berapa bagian?" tanya suamiku.Kami kembali berkumpul malam itu.Mayra menggeleng."Kau, Adel?" tanya suamiku pada adik perempuannya yang lain.Adel juga menggeleng."Kau, Ozan?" Kembali Bang Fahri bertanya pada adik bungsunya."Setahuku anak laki-laki dapat seperdua, sementara anak perempuan dapatnya dua pertiga kalau dalam hukum faraid," jawabnya dengan tegas."Iya, betul." Suamiku berkata."Berarti kau bisa hitung sendiri kan harusnya dapat berapa?" tanya suamiku pada Adel dan Mayra.Keduanya mengangguk lesu, kek gak niat mengangguk gitu."Tapi kita harus bagi adil, Ba
Seleb 31."Bang Fahri, Ozan!" teriakku lagi. Bang Fahri sedang menonton televisi di ruang tengah. Sementara Ozan yang lagi di kamar, langsung keluar saat mendengar teriakanku."Kenapa, Dek?" tanya suamiku."Mamak … Bang," kataku dengan suara yang bergetar.Ponsel masih di tanganku, masih hidup. Aku berikan pada Bang Fahri dan ia mulai bertanya pada orang di seberang sana."Innalilahi wa inna ilaihi raji'un, Mamak …." Tangis Bang Fahri juga ikut pecah. Ozan berdiri mematung, terlalu stok dengan kabar yang ia dnegar barusan. "Ya Allah … Mamak," lirih Ozan.Kami menangis, teringat kembali terakhir kali bertemu dan memeluknya di bandara. Kami baru sadar bahwa itu ternyata menjadi momen terakhir kebersamaan kami di dunia ini.Bang Fahri masih berusaha tenang dan bertanya beberapa hal pada seorang ustadz yang melakukan badal haji Bapak.Katanya, Ibu sempat pusing dan mengeluh lemas. Lalu muntah dua kali, hingga dibawakan ke rumah sakit terdekat di sana. Tak berapa lama kemudian, Ibu men
Seleb 30.Gema takbiran berkumandang di kampungku. Seperti biasa, saat lebaran aku selalu pulang ke kampung, menikmati waktu bersama Ibu dan Nenek, sesibuk apa pun itu.Kalau aku tidak pulang, Ibu dan Nenek pasti nangis, karena pernah seperti itu dulu saat aku belum punya banyak karyawan."Apa gunanya banyak duit, Nak, kalau lebaran aja gak bisa kumpul sama keluarga," kata Nenek sambil nangis pas aku pulang beberapa minggu setelah lebaran waktu itu.Jangan ditanya bagaimana reaksiku, langsung sesenggukan sambil mengangguk membenarkan Nenek dan berulang kali minta maaf. Setelah itu, setiap lebaran aku pasti pulang, takut membuat hati mereka bersedih."Anak satu-satunya, udahlah hari-hari ditinggal, lebaran pun tak pulang," tambah Ibu.Nyes banget waktu itu. Sedih dan nyesek sampai ke ubun-ubun rasanya. Mereka bukan tak mengerti aku sibuk, justru sangat mengerti, tapi dalam dua puluh empat jam berhari, berbulan, bertahun-tahun, mereka hanya meminta beberapa waktu untuk bersama. Karena
Seleb 29.Rutinitasku masih sama, bolak balik Jakarta-Medan. Adik-adik iparku juga masih sama, kelakuannya.Adel dan Mayra masih sibuk live di Tiktok, sambil bikin konten. Penjualannya meningkat kulihat, hingga akhirnya Adel bisa beli motor impian. Meskipun bukan uang dari hasil ngelive, karena yang dari penjualan live hanya bisa buat jajan bakso atau beli pakaian yang ia suka."Biar senang istriku, Kak." Hendra duluan bilang ke aku dan Bang Fahri saat mau beli motor Honda PCX.Makin ke sini, hubungan Adel dan Hendra makin membaik. Lelaki itu juga telah memutuskan hubungan dengan gadis di luar sana tanpa sepengetahuan Adel, sebelum terlambat, katanya.Beda Adel, beda lagi Mayra. Perempuan satu anak itu berkali-kali menghubungiku untuk meminta pinjaman uang."Bayar yang sebelumnya dulu," kataku saat ia meminta.Aku bahkan tak segan berkata seperti itu jika di depan Bang Fahri, karena aku tahu posisiku benar. Mudah sekali lidahnya mengatakan pinjam dulu, ngutang dulu, sementara yang se
Seleb 28.Beberapa hari setelah pesta pernikahan, aku kembali ke kampung. Banyak yang berubah setelah aku kembali di sana. Kini aku memang sudah dikenal sebagai owner, bukan lagi orang biasa seperti saat dulu pertama pulang ke rumah suami.Sebagian mengagumi, menyemangati, sementara sebagiannya lagi bermanis di depan, lalu kudengar mereka mengataiku di belakang. Mengatai aku aoke jurus dukun biar laris dan tuduhan serupa lainnya.Lucu memang!Sikap Mayra dan Adel juga berubah. Entah mengapa mereka jadi lebih suka meminta dengan cara yang agak maksa, dan seolah sebuah keharusan untuk aku memberi."Kak, minta uang buat beli peralatan ngonten, dong!" kata Adel sambil manyun manja. Sekilas aku menatapnya, lalu menatap suamiku."Pakai yang udah ada aja," kata suamiku.Aku yakin Bang Fahri malu dengan sikap adiknya itu. Bukan apa, soalnya waktu itu Hendra bilang, ia sudah melengkapi peralatan ngonten untuk istrinya itu. Tinggal sampelnya aja yang belum, nunggu uang gaji bulan depan katany
Seleb 27."Selamat ya, Bu Bos. Aku doakan semoga pernikahannya sakinah mawadah warahmah," kata Sonia sambil salim dan memelukku.Gadis itu pun menangis di pelukanku entah sebab apa. Mungkin kembali teringat olehnya saat ia pulang dari luar negeri, karena ibunya sakit, saat itu ia sedang kesusahan mencari pekerjaan di Jakarta. Lalu, aku dan Sonia bertemu, dan menawarkam pekerjaan untuknya."Jangan nangis, kita lagi bahagia," kataku sambil puk puk bahunya."Yah, kan nangis bukan hanya tentang sedih, Bu Bos. Ini air mata bahagia."Aku mengangguk, lalu menangkupkan telapak tangan di wajahnya. Diantara semua karyawan yang paling dekat, Sonia lah yang paling lebih dekat denganku. Kemudian ia juga memberi ucapan selamat untuk Bang Fahri seraya menangkupkan dua tangan di dada."Bang, doain aku cepat nyusul ya," katanya."Nyusul ke mana?" tanya Bang Fahri dengan nada becanda."Nikah lah, Bang.""Owh, sama adekku aja, mau nggak?" tanya Bang Fahri."Boleh juga, Bang," ucap Sonia sambil tertawa