Share

Bab 7

Penulis: El Baarish
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-08 23:24:34

Seleb 7

.

"Ma, Adek mau es krim lah," rengek Naufal, bocah kelas satu SD itu pada ibunya. Naufal anak pertama Mayra, masih sendirian, belum nambah adek dia.

Hari ini Mayra, adik pertama dari Bang Fahri berkunjung ke rumah. Ini kali kedua aku melihat wajahnya setelah waktu itu datang ke acara akad.

"Halah, gak usah lah. Kau lagi pilek itu," tolak Mayra.

Di desa ini masih ada yang jualan es krim keliling. Sebab itu, Naufal merengek karena ada anak tetangga yang beli. Jadi, gerobak es krim khas kampung itu berhenti di dekat rumah.

"Gak lah, Ma. Udah sembuh Adek," bantah anak itu, tetap kekeuh pengen es krim.

"Sana minta sama nenek! Mama gak ada pula duit pecah," kata Mayra.

Aku bahkan geleng kepala melihat Mayra. Bisa-bisanya ia pelit gitu ke anak. Palingan harga es krim cuma dua ribuan untuk anak-anak, atau lima ribu kalau pake roti.

Bukannya dibeliin, malah disuruh minta sama Ibu yang sedang jualan es tebu.

Aku masuk kamar dan mengambil uang lima belas ribu. Kemudian memberikannya untu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 32

    Seleb 32.Beberapa hari setelah perdebatan itu, aku langsung mencairkan uang empat ratus juta setelah Mayra menemukan harga yang menurutku cocok. Tanah ini lumayan luas sampai ke belakang tempat suamiku biasanya berkebun."Aku pengennya dibagi sama, Bang," kata Mayra saat aku telah meletakkan bergepok uang merah di atas meja. Ijo gak tuh matanya.Terdengar Bang Fahri mengela napas lelah."Kau tahu harusnya kau dapat berapa bagian?" tanya suamiku.Kami kembali berkumpul malam itu.Mayra menggeleng."Kau, Adel?" tanya suamiku pada adik perempuannya yang lain.Adel juga menggeleng."Kau, Ozan?" Kembali Bang Fahri bertanya pada adik bungsunya."Setahuku anak laki-laki dapat seperdua, sementara anak perempuan dapatnya dua pertiga kalau dalam hukum faraid," jawabnya dengan tegas."Iya, betul." Suamiku berkata."Berarti kau bisa hitung sendiri kan harusnya dapat berapa?" tanya suamiku pada Adel dan Mayra.Keduanya mengangguk lesu, kek gak niat mengangguk gitu."Tapi kita harus bagi adil, Ba

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 31

    Seleb 31."Bang Fahri, Ozan!" teriakku lagi. Bang Fahri sedang menonton televisi di ruang tengah. Sementara Ozan yang lagi di kamar, langsung keluar saat mendengar teriakanku."Kenapa, Dek?" tanya suamiku."Mamak … Bang," kataku dengan suara yang bergetar.Ponsel masih di tanganku, masih hidup. Aku berikan pada Bang Fahri dan ia mulai bertanya pada orang di seberang sana."Innalilahi wa inna ilaihi raji'un, Mamak …." Tangis Bang Fahri juga ikut pecah. Ozan berdiri mematung, terlalu stok dengan kabar yang ia dnegar barusan. "Ya Allah … Mamak," lirih Ozan.Kami menangis, teringat kembali terakhir kali bertemu dan memeluknya di bandara. Kami baru sadar bahwa itu ternyata menjadi momen terakhir kebersamaan kami di dunia ini.Bang Fahri masih berusaha tenang dan bertanya beberapa hal pada seorang ustadz yang melakukan badal haji Bapak.Katanya, Ibu sempat pusing dan mengeluh lemas. Lalu muntah dua kali, hingga dibawakan ke rumah sakit terdekat di sana. Tak berapa lama kemudian, Ibu men

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 30

    Seleb 30.Gema takbiran berkumandang di kampungku. Seperti biasa, saat lebaran aku selalu pulang ke kampung, menikmati waktu bersama Ibu dan Nenek, sesibuk apa pun itu.Kalau aku tidak pulang, Ibu dan Nenek pasti nangis, karena pernah seperti itu dulu saat aku belum punya banyak karyawan."Apa gunanya banyak duit, Nak, kalau lebaran aja gak bisa kumpul sama keluarga," kata Nenek sambil nangis pas aku pulang beberapa minggu setelah lebaran waktu itu.Jangan ditanya bagaimana reaksiku, langsung sesenggukan sambil mengangguk membenarkan Nenek dan berulang kali minta maaf. Setelah itu, setiap lebaran aku pasti pulang, takut membuat hati mereka bersedih."Anak satu-satunya, udahlah hari-hari ditinggal, lebaran pun tak pulang," tambah Ibu.Nyes banget waktu itu. Sedih dan nyesek sampai ke ubun-ubun rasanya. Mereka bukan tak mengerti aku sibuk, justru sangat mengerti, tapi dalam dua puluh empat jam berhari, berbulan, bertahun-tahun, mereka hanya meminta beberapa waktu untuk bersama. Karena

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 29

    Seleb 29.Rutinitasku masih sama, bolak balik Jakarta-Medan. Adik-adik iparku juga masih sama, kelakuannya.Adel dan Mayra masih sibuk live di Tiktok, sambil bikin konten. Penjualannya meningkat kulihat, hingga akhirnya Adel bisa beli motor impian. Meskipun bukan uang dari hasil ngelive, karena yang dari penjualan live hanya bisa buat jajan bakso atau beli pakaian yang ia suka."Biar senang istriku, Kak." Hendra duluan bilang ke aku dan Bang Fahri saat mau beli motor Honda PCX.Makin ke sini, hubungan Adel dan Hendra makin membaik. Lelaki itu juga telah memutuskan hubungan dengan gadis di luar sana tanpa sepengetahuan Adel, sebelum terlambat, katanya.Beda Adel, beda lagi Mayra. Perempuan satu anak itu berkali-kali menghubungiku untuk meminta pinjaman uang."Bayar yang sebelumnya dulu," kataku saat ia meminta.Aku bahkan tak segan berkata seperti itu jika di depan Bang Fahri, karena aku tahu posisiku benar. Mudah sekali lidahnya mengatakan pinjam dulu, ngutang dulu, sementara yang se

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 28

    Seleb 28.Beberapa hari setelah pesta pernikahan, aku kembali ke kampung. Banyak yang berubah setelah aku kembali di sana. Kini aku memang sudah dikenal sebagai owner, bukan lagi orang biasa seperti saat dulu pertama pulang ke rumah suami.Sebagian mengagumi, menyemangati, sementara sebagiannya lagi bermanis di depan, lalu kudengar mereka mengataiku di belakang. Mengatai aku aoke jurus dukun biar laris dan tuduhan serupa lainnya.Lucu memang!Sikap Mayra dan Adel juga berubah. Entah mengapa mereka jadi lebih suka meminta dengan cara yang agak maksa, dan seolah sebuah keharusan untuk aku memberi."Kak, minta uang buat beli peralatan ngonten, dong!" kata Adel sambil manyun manja. Sekilas aku menatapnya, lalu menatap suamiku."Pakai yang udah ada aja," kata suamiku.Aku yakin Bang Fahri malu dengan sikap adiknya itu. Bukan apa, soalnya waktu itu Hendra bilang, ia sudah melengkapi peralatan ngonten untuk istrinya itu. Tinggal sampelnya aja yang belum, nunggu uang gaji bulan depan katany

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 27

    Seleb 27."Selamat ya, Bu Bos. Aku doakan semoga pernikahannya sakinah mawadah warahmah," kata Sonia sambil salim dan memelukku.Gadis itu pun menangis di pelukanku entah sebab apa. Mungkin kembali teringat olehnya saat ia pulang dari luar negeri, karena ibunya sakit, saat itu ia sedang kesusahan mencari pekerjaan di Jakarta. Lalu, aku dan Sonia bertemu, dan menawarkam pekerjaan untuknya."Jangan nangis, kita lagi bahagia," kataku sambil puk puk bahunya."Yah, kan nangis bukan hanya tentang sedih, Bu Bos. Ini air mata bahagia."Aku mengangguk, lalu menangkupkan telapak tangan di wajahnya. Diantara semua karyawan yang paling dekat, Sonia lah yang paling lebih dekat denganku. Kemudian ia juga memberi ucapan selamat untuk Bang Fahri seraya menangkupkan dua tangan di dada."Bang, doain aku cepat nyusul ya," katanya."Nyusul ke mana?" tanya Bang Fahri dengan nada becanda."Nikah lah, Bang.""Owh, sama adekku aja, mau nggak?" tanya Bang Fahri."Boleh juga, Bang," ucap Sonia sambil tertawa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status