Setelah makan dan salat isya, aku dan suami rebahan di kamar. Suamiku bekerja sebagai OB di sebuah kantor di kota. Gajinya memang tak seberapa, tapi usahanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga sangat luar biasa.
Suami tak hanya mengandalkan gaji di kantor, tapi di sela waktu, ia juga menanam sayur di lahan belakang rumah.
"Fahri itu emang kek bapaknya, suka banget bercocok tanam." Ibu waktu itu pernah bilang, saat kutanyai ke mana Bang Fahri pergi, sudah lelah aku mencarinya di rumah, tapi tak ada.
Aku dan Bang Fahri baru menikah, belum pun sebulan. Kami hanya akad secara sederhana, belum mengadakan resepsi pernikahan. Perkenalan yang sat set, tapi kami merasa sama-sama cocok.
Jadi, memang belum lama aku di sini. Sebab itu, belum tahu bahwa di belakang rumah ada ladang.
Di kebun Bang Fahri, ada beberapa jenis sayuran seperti bayam, sawi, kangkung dan kacang panjang. Kadang juga nanam terong katanya, nanti semua hasilnya akan dibawa ke pasar untuk dijual atau ditukar dengan bahan dapur yang diperlukan.
Hanya Bang Fahri yang rajin seperti itu, kadang dibantu Ozan, adiknya yang laki-laki jika tak kuliah. Kalau Adel dan Mayra, memang sama sekali tak berniat bantu.
Kelas beda. Seleb katanya.
Apalagi Mayra sudah tak tinggal di sini lagi, dia sudah punya rumah sendiri tak berapa jauh dari rumah Ibu.
Aku rebahan sambil scroll scroll hape, tadi siang aku sudah mendaftar akun kloningan buat ngepoin Adelia dan K
Mayra. Entah mengapa, jiwa kepoku meronta-ronta melihat mereka yang doyan banget pamer sok seleb ke aku atau orang lain.
Aku manggut-manggut sambil senyum-senyum sendiri. Pengikut Adelia sudah 20K. Rata-rata kontennya tayang antara seribu sampai dua ribu. Ada satu postingan yang disematkan yang mencapai view ratusan ribu, sepertinya itu satu video yang fyp di Toktok.
"Kenapa, Dek? Kok senyum-senyum?" tanya suami melihat aku yang senyum senyum sendiri.
"Adelia tuh seleb ya, Bang?" tanyaku.
"Seleb apa pula?" tanya Bang Fahri lagi.
"Ya seleb, orang yang terkenal di media sosial semacam I*******m, Tiktok gitu."
"Elah. Nggak terlalu ngerti Abang, Dek. Tapi banyak sih sekarang cewek-cewek pada sok seleb." Sepertinya Bang Fahri tidak terlalu memantau media sosial.
"Abang punya Tiktok?" tanyaku.
"Gak. Ngabisin kuota aja," jawabnya.
Aku nyengir. Sebenarnya iya, tapi aku kadang kepo dan butuh hiburan aja.
"Eh, Bang, Bang," panggilku.
"Apa?"
"Liat nih Adel," kataku seraya memperlihatkan ponsel pada Bang Fahri.
Ponsel kini berada di tangan suamiku. Ia melihat video yang kutampilkan. Aku masih di beranda Adel dan ngepoin kontennya, dan tiba-tiba ia mengunggah konten baru yang menurutku tidak patut dipamer di sana.
Adel memposting video tanpa jilbab, memamerkan rambut barunya. Video dengan beberapa gerakan yang kuakui menggemaskan, ditambah sound jedag jedug.
Pantas saja tadi sore aku lihat rambut Adel udah seperti bule bule gitu. Bule kampung. Sepertinya dia baru saja cat rambut.
"Kenapa rambut kau?" tanya Ibu saat ia melihat Adel tadi.
"Blonde, Mak," jawabnya tanpa rasa berdosa.
"Jangan macam-macam pula kau ya, udah bagus itu rambut malah dicat gini gitu," protes Ibu. Adel malah berlalu tak peduli.
Ya, rambut Adel memang bagus. Lurus hitam dan berkilau. Kini malah dicat warna bule dan dibuat agak ikal ngembang, mungkin dia ke salon.
"Video kapan ini?" tanya Bang Fahri padaku.
"Baru aja, Bang. Keknya habis dari salon tadi sore. Udah ditegur sama Mamak, tadi dianya tak acuh."
Bang Fahri mengembalikan ponsel padaku, lalu ia keluar dari kamar. Aku mengikutinya dari belakang dan ternyata ia berdiri di depan pintu kamar Adel, dan mengetuknya.
"Adel," panggil suamiku.
"Dek,"
Beberapa kali dipanggil, hanya sahutan yang terdengar dari dalam. Mungkin lagi sibuk apa hingga Adel tak langsung buka pintu.
"Bentar, Bang."
Bang Fahri menunggu. Aku berada di dekat kamar sendiri.
"Kenapa, Bang?" tanya Adel saat membuka pintu. Suaminya sedang tidak di rumah, belum pulang karena lembur katanya.
Bang Fahri menatap dengan seksama rambut adiknya, membuat Adel menunduk.
"Apa ini, Dek?" tanya Bang Fahri memegang rambut Adel.
"Halah … Abang ini norak lah. Cat rambut udah jadi hal yang biasa jaman sekarang." Adel membantah.
"Biasa di orang lain, bukan berarti biasa di kita. Terus ngapain sampe posting gak berhijab di Tiktok?" tanya Bang Fahri.
Adel mengerutkan kening. "Abang punya akun Tiktok?"
Bang Fahri diam sejenak. Semua orang di rumah ini tahu kalau ia tak terlalu main sosmed.
Aku pun ikut terdiam, takut pula Bang Fahri bilang kalau ia melihat video Adel dari hapeku.
"Ada, baru aja beberapa hari."
Ah, lega mendengar jawab suamiku. Bukan apa, aku tahu persis gimana sifat Adel. Bisa habis diomeli jika ia tahu aku ngadu ke suami tentang video itu.
Sebenarnya bukan ngadu, tapi kasian aja sama Adel. Cantik cantik masa dipamerin ke yang gak halal. Belum lagi dosa jariyah tetap akan berlaku karena videonya itu.
"Ingat bapak, Dek. Bapak udah tenang di sana. Jangan sampai kita di dunia ini menjadi petaka untuknya di sana." Bang Fahri mengingatkan.
"Hapus ya," pintanya. Ah, suamiku itu lembut sekali. Ia gak langsung bar bar dengan Adel.
"Tapi kan sayang, Bang. Viewnya dah banyak, keknya mau fyp." Adel bela diri.
"View banyak gak bisa nolong kau di akhirat. Semakin banyak yang nonton, semakin menumpuk dosa kau nanti," kata
Bang Fahri.
Aku hanya tersenyum.
Sementara Adel cemberut, "iya deh, iya. Dosa terus, akhirat terus!"
Seleb 32.Beberapa hari setelah perdebatan itu, aku langsung mencairkan uang empat ratus juta setelah Mayra menemukan harga yang menurutku cocok. Tanah ini lumayan luas sampai ke belakang tempat suamiku biasanya berkebun."Aku pengennya dibagi sama, Bang," kata Mayra saat aku telah meletakkan bergepok uang merah di atas meja. Ijo gak tuh matanya.Terdengar Bang Fahri mengela napas lelah."Kau tahu harusnya kau dapat berapa bagian?" tanya suamiku.Kami kembali berkumpul malam itu.Mayra menggeleng."Kau, Adel?" tanya suamiku pada adik perempuannya yang lain.Adel juga menggeleng."Kau, Ozan?" Kembali Bang Fahri bertanya pada adik bungsunya."Setahuku anak laki-laki dapat seperdua, sementara anak perempuan dapatnya dua pertiga kalau dalam hukum faraid," jawabnya dengan tegas."Iya, betul." Suamiku berkata."Berarti kau bisa hitung sendiri kan harusnya dapat berapa?" tanya suamiku pada Adel dan Mayra.Keduanya mengangguk lesu, kek gak niat mengangguk gitu."Tapi kita harus bagi adil, Ba
Seleb 31."Bang Fahri, Ozan!" teriakku lagi. Bang Fahri sedang menonton televisi di ruang tengah. Sementara Ozan yang lagi di kamar, langsung keluar saat mendengar teriakanku."Kenapa, Dek?" tanya suamiku."Mamak … Bang," kataku dengan suara yang bergetar.Ponsel masih di tanganku, masih hidup. Aku berikan pada Bang Fahri dan ia mulai bertanya pada orang di seberang sana."Innalilahi wa inna ilaihi raji'un, Mamak …." Tangis Bang Fahri juga ikut pecah. Ozan berdiri mematung, terlalu stok dengan kabar yang ia dnegar barusan. "Ya Allah … Mamak," lirih Ozan.Kami menangis, teringat kembali terakhir kali bertemu dan memeluknya di bandara. Kami baru sadar bahwa itu ternyata menjadi momen terakhir kebersamaan kami di dunia ini.Bang Fahri masih berusaha tenang dan bertanya beberapa hal pada seorang ustadz yang melakukan badal haji Bapak.Katanya, Ibu sempat pusing dan mengeluh lemas. Lalu muntah dua kali, hingga dibawakan ke rumah sakit terdekat di sana. Tak berapa lama kemudian, Ibu men
Seleb 30.Gema takbiran berkumandang di kampungku. Seperti biasa, saat lebaran aku selalu pulang ke kampung, menikmati waktu bersama Ibu dan Nenek, sesibuk apa pun itu.Kalau aku tidak pulang, Ibu dan Nenek pasti nangis, karena pernah seperti itu dulu saat aku belum punya banyak karyawan."Apa gunanya banyak duit, Nak, kalau lebaran aja gak bisa kumpul sama keluarga," kata Nenek sambil nangis pas aku pulang beberapa minggu setelah lebaran waktu itu.Jangan ditanya bagaimana reaksiku, langsung sesenggukan sambil mengangguk membenarkan Nenek dan berulang kali minta maaf. Setelah itu, setiap lebaran aku pasti pulang, takut membuat hati mereka bersedih."Anak satu-satunya, udahlah hari-hari ditinggal, lebaran pun tak pulang," tambah Ibu.Nyes banget waktu itu. Sedih dan nyesek sampai ke ubun-ubun rasanya. Mereka bukan tak mengerti aku sibuk, justru sangat mengerti, tapi dalam dua puluh empat jam berhari, berbulan, bertahun-tahun, mereka hanya meminta beberapa waktu untuk bersama. Karena
Seleb 29.Rutinitasku masih sama, bolak balik Jakarta-Medan. Adik-adik iparku juga masih sama, kelakuannya.Adel dan Mayra masih sibuk live di Tiktok, sambil bikin konten. Penjualannya meningkat kulihat, hingga akhirnya Adel bisa beli motor impian. Meskipun bukan uang dari hasil ngelive, karena yang dari penjualan live hanya bisa buat jajan bakso atau beli pakaian yang ia suka."Biar senang istriku, Kak." Hendra duluan bilang ke aku dan Bang Fahri saat mau beli motor Honda PCX.Makin ke sini, hubungan Adel dan Hendra makin membaik. Lelaki itu juga telah memutuskan hubungan dengan gadis di luar sana tanpa sepengetahuan Adel, sebelum terlambat, katanya.Beda Adel, beda lagi Mayra. Perempuan satu anak itu berkali-kali menghubungiku untuk meminta pinjaman uang."Bayar yang sebelumnya dulu," kataku saat ia meminta.Aku bahkan tak segan berkata seperti itu jika di depan Bang Fahri, karena aku tahu posisiku benar. Mudah sekali lidahnya mengatakan pinjam dulu, ngutang dulu, sementara yang se
Seleb 28.Beberapa hari setelah pesta pernikahan, aku kembali ke kampung. Banyak yang berubah setelah aku kembali di sana. Kini aku memang sudah dikenal sebagai owner, bukan lagi orang biasa seperti saat dulu pertama pulang ke rumah suami.Sebagian mengagumi, menyemangati, sementara sebagiannya lagi bermanis di depan, lalu kudengar mereka mengataiku di belakang. Mengatai aku aoke jurus dukun biar laris dan tuduhan serupa lainnya.Lucu memang!Sikap Mayra dan Adel juga berubah. Entah mengapa mereka jadi lebih suka meminta dengan cara yang agak maksa, dan seolah sebuah keharusan untuk aku memberi."Kak, minta uang buat beli peralatan ngonten, dong!" kata Adel sambil manyun manja. Sekilas aku menatapnya, lalu menatap suamiku."Pakai yang udah ada aja," kata suamiku.Aku yakin Bang Fahri malu dengan sikap adiknya itu. Bukan apa, soalnya waktu itu Hendra bilang, ia sudah melengkapi peralatan ngonten untuk istrinya itu. Tinggal sampelnya aja yang belum, nunggu uang gaji bulan depan katany
Seleb 27."Selamat ya, Bu Bos. Aku doakan semoga pernikahannya sakinah mawadah warahmah," kata Sonia sambil salim dan memelukku.Gadis itu pun menangis di pelukanku entah sebab apa. Mungkin kembali teringat olehnya saat ia pulang dari luar negeri, karena ibunya sakit, saat itu ia sedang kesusahan mencari pekerjaan di Jakarta. Lalu, aku dan Sonia bertemu, dan menawarkam pekerjaan untuknya."Jangan nangis, kita lagi bahagia," kataku sambil puk puk bahunya."Yah, kan nangis bukan hanya tentang sedih, Bu Bos. Ini air mata bahagia."Aku mengangguk, lalu menangkupkan telapak tangan di wajahnya. Diantara semua karyawan yang paling dekat, Sonia lah yang paling lebih dekat denganku. Kemudian ia juga memberi ucapan selamat untuk Bang Fahri seraya menangkupkan dua tangan di dada."Bang, doain aku cepat nyusul ya," katanya."Nyusul ke mana?" tanya Bang Fahri dengan nada becanda."Nikah lah, Bang.""Owh, sama adekku aja, mau nggak?" tanya Bang Fahri."Boleh juga, Bang," ucap Sonia sambil tertawa