Share

Kaget

Author: El Baarish
last update Last Updated: 2025-06-07 11:57:02

Seleb 3

.

"Lewat sini, Bang!" kataku pada seorang lelaki yang mengantarkan mesin cuci ke rumah Ibu mertua.

Sore ini aku mengajak Ibu untuk membelikan mesin cuci di sebual toko elektronik. Jujur saja, aku kasihan melihat Ibu yang nyucinya masih pakai tangan. Udah tua, banyak kerjaan, kasian. Bahkan baju Adelia dan suaminya pun ikut dicuci. Itu yang membuat hatiku semakin miris.

"Cuci sendiri, Adel. Kau itu sudah besar, harus mandiri!"

"Ozan aja nyuci sendiri bajunya, lah kau!"

"Ya, aku lagi sibuk, Mak. Aku mau live ini, nyari duit!" kata Adelia.

Memang Ibu selalu mengomel jika Adel memasukkan pakaian kotornya dan suami ke dalam keranjang saat Ibu akan mencuci. Aku menggelengkan kepala saat melihat tingkahnya. Ada ya anak udah sebesar itu, tapi masih merepotkan orangtua.

Beberapa hari aku tinggal di sini, aku memang cuci baju sendiri, baju milik suami juga. Namun, sejujurnya aku tak sanggup jika harus mencuci pakai tangan, lelah.

Pekerjaan Ibu jadi bertambah banyak, dan semua gara-gara Adel yang menurutku tak tahu malu. Bahkan Ozan, adik bungsu saja mencuci bajunya sendiri di sela-sela waktu dia kuliah.

Mau negur Adel, tapi aku tak mau ribut. Hapal betul aku gimana sikap Adel kalau ditegur. Bahkan kadang sama Bang Fahri aja dia suka ngejawab, apalagi sama aku yang baru di rumah ini.

"Oke, taruh aja di situ, Bang." Aku menyuruh lelaki itu meletakkan mesin cuci di dekat kamar mandi, dekat dengan saluran pembuangan air.

Lelaki itu hanya mengangguk. Lalu, setelah pekerjaannya selesai, ia pun pergi dan mengendarai kembali becaknya.

"Apaan tuh, Mak?" tanya Adel yang mungkin baru saja mengakhiri sesi livenya. Terlihat dari bajunya yang rapi disertai make up di wajahnya.

"Lah, udah buta pula mata kau?" cerocos Ibu yang mungkin menurutnya Adel bisa melihat, tapi kenapa masih bertanya.

Aku jadi tersenyum geli melihatnya, Ibu memang begitu bicaranya. Syukurlah aku dan Bang Fahri sama-sama orang Medan, hingga tak terlalu terkejut dengan nada dan bahasanya.

"Ya iya, maksudnya siapa yang beli?" tanya Adel.

"Kakak kau ini. Mamak tadi diajaknya ke toko elektronik," jawab Ibu.

"Duit kau, Kak?" tanya Adel yang kini menatapku.

Aku langsung menggeleng. Pun Ibu sudah bertanya tadi saat kami di toko. Aku bilang, itu duit Bang Fahri yang katanya kasian melihat Ibu dan aku masih nyuci pakai tangan.

"Duit Abang!" jawabku.

"Owh, syukurlah, tapi ini keknya murah sih!" ucap Adel, lalu berjalan ke tempatnya live tadi.

Aku hanya mengendikkan bahu mendengar Adel.

Aku sepertinya harus mengatakan ini ke Bang Fahri saat dia pulang nanti. Aku tidak mau Ibu dan semua orang tahu kalau itu duitku yang kupakai untuk beli mesin cuci. Bahkan tadi, aku membelikan yang harganya murah, mesin cuci merek biasa yang harganya dua jutaan. Yang penting bisa bekerja untuk nyuci dan mengeringkan.

Masalah nanti Bang Fahri akan bertanya duit dari mana, aku yakin ia tak akan curiga karena aku pernah bekerja di Jakarta, tentu punya tabungan dong jika hanya dua jutaan.

Biarlah mereka tak tahu dulu, siapa aku yang sebenarnya. Aku takut perlakuan mereka akan berubah. Biarlah semua berjalan dengan alami.

.

"Cepat kali kau siap nyuci hari ini, Atik!" seru tetangga sebelah rumah yang juga sedang menjemur pakaian.

Nama ini Nur Hayati. Semua orang di kampung ini memanggil Atik. Semua nama anak perempuannya memiliki nama depan Nur, dan nama depan Ahmad untuk anak lelaki.

Ahmad Fahri

Ahmad Fauzan

Nur Mayra

Nur Adelia

"Iyalah, biar tutup mulut kau itu. Udah beli mesin cuci akunya. Slebew!" kata Ibu yang membuatku tertawa. Aku sedang berada di dapur, membuatkan teh untuk Bang Fahri.

Tetangga itu juga yang membuatku sangat ingin membeli mesin cuci untuk ibu, karena kelihatannya agak julid memang.

"Banyak duit sekarang kau?" tanya Ibu tetangga itu.

"Jangan kau tanya pula. Duit gak bersuara. Kalau duitku bersuara bisa pengsan kau!" 

Aku menatap Bang Fahri sambil menahan tawa, dalam hati membatin gasss Bu, gaaasss. Jadi pengen pamer tas Gucci ke tetangga.

Sombong dengan orang yang sombong mah dianjurkan yak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 32

    Seleb 32.Beberapa hari setelah perdebatan itu, aku langsung mencairkan uang empat ratus juta setelah Mayra menemukan harga yang menurutku cocok. Tanah ini lumayan luas sampai ke belakang tempat suamiku biasanya berkebun."Aku pengennya dibagi sama, Bang," kata Mayra saat aku telah meletakkan bergepok uang merah di atas meja. Ijo gak tuh matanya.Terdengar Bang Fahri mengela napas lelah."Kau tahu harusnya kau dapat berapa bagian?" tanya suamiku.Kami kembali berkumpul malam itu.Mayra menggeleng."Kau, Adel?" tanya suamiku pada adik perempuannya yang lain.Adel juga menggeleng."Kau, Ozan?" Kembali Bang Fahri bertanya pada adik bungsunya."Setahuku anak laki-laki dapat seperdua, sementara anak perempuan dapatnya dua pertiga kalau dalam hukum faraid," jawabnya dengan tegas."Iya, betul." Suamiku berkata."Berarti kau bisa hitung sendiri kan harusnya dapat berapa?" tanya suamiku pada Adel dan Mayra.Keduanya mengangguk lesu, kek gak niat mengangguk gitu."Tapi kita harus bagi adil, Ba

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 31

    Seleb 31."Bang Fahri, Ozan!" teriakku lagi. Bang Fahri sedang menonton televisi di ruang tengah. Sementara Ozan yang lagi di kamar, langsung keluar saat mendengar teriakanku."Kenapa, Dek?" tanya suamiku."Mamak … Bang," kataku dengan suara yang bergetar.Ponsel masih di tanganku, masih hidup. Aku berikan pada Bang Fahri dan ia mulai bertanya pada orang di seberang sana."Innalilahi wa inna ilaihi raji'un, Mamak …." Tangis Bang Fahri juga ikut pecah. Ozan berdiri mematung, terlalu stok dengan kabar yang ia dnegar barusan. "Ya Allah … Mamak," lirih Ozan.Kami menangis, teringat kembali terakhir kali bertemu dan memeluknya di bandara. Kami baru sadar bahwa itu ternyata menjadi momen terakhir kebersamaan kami di dunia ini.Bang Fahri masih berusaha tenang dan bertanya beberapa hal pada seorang ustadz yang melakukan badal haji Bapak.Katanya, Ibu sempat pusing dan mengeluh lemas. Lalu muntah dua kali, hingga dibawakan ke rumah sakit terdekat di sana. Tak berapa lama kemudian, Ibu men

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 30

    Seleb 30.Gema takbiran berkumandang di kampungku. Seperti biasa, saat lebaran aku selalu pulang ke kampung, menikmati waktu bersama Ibu dan Nenek, sesibuk apa pun itu.Kalau aku tidak pulang, Ibu dan Nenek pasti nangis, karena pernah seperti itu dulu saat aku belum punya banyak karyawan."Apa gunanya banyak duit, Nak, kalau lebaran aja gak bisa kumpul sama keluarga," kata Nenek sambil nangis pas aku pulang beberapa minggu setelah lebaran waktu itu.Jangan ditanya bagaimana reaksiku, langsung sesenggukan sambil mengangguk membenarkan Nenek dan berulang kali minta maaf. Setelah itu, setiap lebaran aku pasti pulang, takut membuat hati mereka bersedih."Anak satu-satunya, udahlah hari-hari ditinggal, lebaran pun tak pulang," tambah Ibu.Nyes banget waktu itu. Sedih dan nyesek sampai ke ubun-ubun rasanya. Mereka bukan tak mengerti aku sibuk, justru sangat mengerti, tapi dalam dua puluh empat jam berhari, berbulan, bertahun-tahun, mereka hanya meminta beberapa waktu untuk bersama. Karena

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 29

    Seleb 29.Rutinitasku masih sama, bolak balik Jakarta-Medan. Adik-adik iparku juga masih sama, kelakuannya.Adel dan Mayra masih sibuk live di Tiktok, sambil bikin konten. Penjualannya meningkat kulihat, hingga akhirnya Adel bisa beli motor impian. Meskipun bukan uang dari hasil ngelive, karena yang dari penjualan live hanya bisa buat jajan bakso atau beli pakaian yang ia suka."Biar senang istriku, Kak." Hendra duluan bilang ke aku dan Bang Fahri saat mau beli motor Honda PCX.Makin ke sini, hubungan Adel dan Hendra makin membaik. Lelaki itu juga telah memutuskan hubungan dengan gadis di luar sana tanpa sepengetahuan Adel, sebelum terlambat, katanya.Beda Adel, beda lagi Mayra. Perempuan satu anak itu berkali-kali menghubungiku untuk meminta pinjaman uang."Bayar yang sebelumnya dulu," kataku saat ia meminta.Aku bahkan tak segan berkata seperti itu jika di depan Bang Fahri, karena aku tahu posisiku benar. Mudah sekali lidahnya mengatakan pinjam dulu, ngutang dulu, sementara yang se

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 28

    Seleb 28.Beberapa hari setelah pesta pernikahan, aku kembali ke kampung. Banyak yang berubah setelah aku kembali di sana. Kini aku memang sudah dikenal sebagai owner, bukan lagi orang biasa seperti saat dulu pertama pulang ke rumah suami.Sebagian mengagumi, menyemangati, sementara sebagiannya lagi bermanis di depan, lalu kudengar mereka mengataiku di belakang. Mengatai aku aoke jurus dukun biar laris dan tuduhan serupa lainnya.Lucu memang!Sikap Mayra dan Adel juga berubah. Entah mengapa mereka jadi lebih suka meminta dengan cara yang agak maksa, dan seolah sebuah keharusan untuk aku memberi."Kak, minta uang buat beli peralatan ngonten, dong!" kata Adel sambil manyun manja. Sekilas aku menatapnya, lalu menatap suamiku."Pakai yang udah ada aja," kata suamiku.Aku yakin Bang Fahri malu dengan sikap adiknya itu. Bukan apa, soalnya waktu itu Hendra bilang, ia sudah melengkapi peralatan ngonten untuk istrinya itu. Tinggal sampelnya aja yang belum, nunggu uang gaji bulan depan katany

  • MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!   Bab 27

    Seleb 27."Selamat ya, Bu Bos. Aku doakan semoga pernikahannya sakinah mawadah warahmah," kata Sonia sambil salim dan memelukku.Gadis itu pun menangis di pelukanku entah sebab apa. Mungkin kembali teringat olehnya saat ia pulang dari luar negeri, karena ibunya sakit, saat itu ia sedang kesusahan mencari pekerjaan di Jakarta. Lalu, aku dan Sonia bertemu, dan menawarkam pekerjaan untuknya."Jangan nangis, kita lagi bahagia," kataku sambil puk puk bahunya."Yah, kan nangis bukan hanya tentang sedih, Bu Bos. Ini air mata bahagia."Aku mengangguk, lalu menangkupkan telapak tangan di wajahnya. Diantara semua karyawan yang paling dekat, Sonia lah yang paling lebih dekat denganku. Kemudian ia juga memberi ucapan selamat untuk Bang Fahri seraya menangkupkan dua tangan di dada."Bang, doain aku cepat nyusul ya," katanya."Nyusul ke mana?" tanya Bang Fahri dengan nada becanda."Nikah lah, Bang.""Owh, sama adekku aja, mau nggak?" tanya Bang Fahri."Boleh juga, Bang," ucap Sonia sambil tertawa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status