Share

Tertunda

Author: Lystania
last update Last Updated: 2025-12-04 17:52:55

Rena berbaring sembari melepas pelan hansaplast yang menutupi luka di jari telunjuknya. Memorinya memutar ulang kejadian di dapur kemarin.

"Ada apa dengan Pak Alex ya?" Rena memandangi jari telunjuknya.

"Kok belum tidur? Sudah jam sepuluh begini," ucap Mama membuat Rena kaget lantas menarik selimutnya.

***

Tidak ingin terlambat sampai ke kantor, pukul enam gadis itu telah bangun. Setelah mengenakan pakaian dan memoles tipis make up pada wajahnya, Rena menyampirkan tas di baju lantas keluar dari kamar.

"Kak, Tisa ikut sampai depan ya?"

"Tapi kamu sudah siap ‘kan?"

"Sudah dong, kak,” ucap Tisa tersenyum lebar. 

Begitu menurunkan Tisa di depan komplek, Rena langsung meneruskan perjalanannya menuju kantor. Begitu senangnya Rena saat mendapati kantor masih sepi. Hanya ada ia dan Pak Lukman, lelaki paruh baya yang bertugas menjaga dan membersihkan kantor.

"Pagi banget sudah datang ke kantor, Mbak?"

"Iya nih, Pak," sahut Rena seraya berjalan menuju mejanya, melewati Pak Lukman yang sedang menyapu. Meski telah sarapan di rumah, entah kenapa Rena masih merasa lapar. Alhasil ia keluar kantor untuk membeli bubur ayam yang berada tak jauh dari kantornya. Sedang menunggu penjual menyiapkan pesanannya, seseorang memanggil Rena dari dalam mobil sambil melambaikan tangan.

"Tante," sapa ramah seorang anak perempuan, Putri.

"Selamat pagi, Putri.” Rena tersenyum ke arah Putri yang turun dari mobil dan berjalan ke arahnya. Senyum manis Rena berubah kala Alex juga ikut turun menghampirinya.

“Tante, Putri juga mau itu,” kata Putri menunjukkan bungkusan yang ada di tangan Rena.

“Boleh,” sahut Rena yang selalu membeli dua porsi bubur ayam.

Tanpa aba-aba Putri langsung menggandeng tangan Rena berjalan menuju kantor. Dari belakang Alex terus memperhatikan gerak gerik mereka.

Setibanya di kantor, Rena langsung mengantarkan Putri ke ruangan Alex. Namun, baru saja keluar dari ruangan bosnya itu, Putri malah menghampiri Rena dan minta ditemani makan bubur di ruangan Alex.

“Putri makan sama Papa aja di ruangan ya,” ucap Rena menolak halus, “Tante di sini aja, sekalian mau ngerjain ini,” lanjut Rena menepuk tumpukan berkas yang ada di mejanya. 

Mendengar jawaban Rena, raut wajah Putri langsung berubah murung. Bibir manyun serta mata-mata berkaca-kaca  Putri, membuat Rena merasa iba. Ia akhirnya mengiyakan ucapan gadis kecil itu. Rasanya tak karuan berada di ruangan Alex saat ini. Apalagi Putri yang belum bisa makan dengan cepat, menyebabkan Rena harus lebih lama menemaninya. Ia sengaja mengambil posisi duduk membelakangi Alex karena malas melihat wajah bosnya itu.

“Hebat. Buburnya sudah mau habis. Tante ambilin minum dulu ya di pantry” kata Rena beralasan agar bisa keluar dari ruangan itu. Dengan penuh senyum, Putri menganggukan kepala. 

Beberapa detik kemudian, Alex beranjak dari kursi menyusul Rena keluar.

“Papa sebentar keluar ya,” kata Alex sebelum menutup pintu.

Rena yang tengah menghabiskan segelas air minum, hampir tersedak saat melihat Alex masuk ke dalam pantry.

“Ngapain sih Bos?” gumam Rena dalam hati.

"Kamu ada maksud apa, jadi dekat-dekat sama anak saya? Kamu mau manfaatin anak saya untuk kepentingan kamu?"

"Bapak ngomong apa sih? Memangnya saya ada maksud apa?" tanya Rena tak mengerti.

"Ya mana saya tahu maksud kamu apa. Heran, anak saya bisa dekat dan nurut banget sama kamu," ucap Alex mengambil segelas berisi air minum, kemudian berlalu dari hadapan Rena.

"Mimpi apa punya bos kaya gitu. Untung hari ini gajian," Rena mengisi gelasnya tadi kemudian meminumnya habis. 

***

Gaji dan bonus yang biasanya masuk di jam sebelas siang, sampai mendekati jam pulang tak kunjung masuk ke rekening Rena. Untuk ketiga kalinya, ia menanyakan pada Manda mengenai laporan absen dan penjualannya selama sebulan ini.

"Ampun deh. Ya gak mungkin lah absen sama laporan penjualan kamu ketinggalan. Coba tanya Bu Ria" usul Manda yang tengah membereskan meja kerjanya. Meski sedikit ragu, ia menghampiri Bu Ria yang kebetulan baru keluar dari ruangan Alex.

"Bu, kok-"

"Gaji sama bonus kamu ditahan sama Pak Alex. Coba kamu tanya ke Pak Alex ya."

Kening Rena berkerut bingung. "Ditahan?"

"Katanya, karena kamu beberapa kali telat masuk kantor."

"Cuma tiga kali, Bu," kata Rena manyun.

"Coba masuk ke ruangan Pak Alex dulu. Biasalah Bos suka aneh-aneh. Kamu kayak gak tahu dia aja," timpal Manda yang kemudian pamit pulang duluan.

Rena mematikan komputer dan meletakkan tasnya di atas meja, sebelum masuk ke ruangan Alex. Meski malas berurusan dengan Pak Alex, tapi untuk urusan gaji dan bonus, Rena harus tetap maju. Ia mengetuk pintu ruangan Alex dengan  perasaan berdebar. Tangannya bergetar saat membuka pintu.

"Ada apa? Yang lain sudah pulang, kenapa kamu malah masuk ke sini?" tanya Eric dengan nada datar saat Rena berjalan mendekat ke arahnya. Ia menyandarkan punggung di kursi dan menatap Rena yang masih berdiri di depannya.

"Kenapa gaji dan bonus saya belum masuk, Pak?"

Alex menaikkan sebelah sudut bibirnya.

“Cari masalah nih orang,” batin Rena kesal. Diperlakukan seperti ini, rasanya Rena ingin melemparkan surat pengunduran dirinya ke wajah tampan Alex.

"Dari semua karyawan, cuma kamu yang paling sering datang telat. Jadi, wajar dong kalau saya juga telat membayar gaji kamu?"

Rena terdiam mendengar ucapan Alex. Beberapa kali ganti tempat kerja, baru kali ini ia menemui bos yang resenya minta ampun. Sampai harus menahan haknya hanya karena hal kecil. Gak tahu kena sambet apa. 

"Maaf, Pak. Bulan ini saya cuma tiga kali telat." Nada suara Rena melemah. Tak mungkin ia ngotot.

"Itu artinya, bulan ini, dan dua bulan ke depan, gaji kamu akan telat tiga hari dari tanggal biasanya gajian."

Mendengar ucapan semena-mena dari mulut Alex, Rena hampir saja menitikkan air mata. Ia teringat janjinya pada Mama untuk membelikan alat pijat elektrik di gajian bulan ini.

Rena menarik nafas panjang. "Terima kasih, Pak. Saya permisi dulu."

Seperti tak ada masalah, Alex dengan santainya berlalu begitu saja. Masuk ke mobil dan meninggalkan kantor.

"Hujan, Mbak," ucap Pak Lukman.

Rena terdiam. Air matanya menetes tanpa aba-aba.

"Kok nangis, Mbak? Ada masalah apa?"

"Benci banget sama bos! Pokoknya benci, benci, benci!" seru Rena tak tertahan lagi. Rasanya lega sudah mengumpat seperti itu.

"Benci kenapa toh, Mbak? Bos ganteng gitu kok dibenci?"

"Gimana gak benci, Pak? Masa gaji saya bulan ini ditahan cuma karena saya telat masuk kantor. Rasanya pengen resign, Pak. Gak tahan punya bos kayak dia.” Rena menyeka sudut matanya. 

"Lah, gitu amat, Pak Alex. Sabar, Mbak. Mungkin beliau lagi ada masalah."

"Dia mah selalu ada masalah, Pak. Gemes banget rasanya." Rena masih kesal. Dengan berjalan gontai ia menuju motornya. Rena melambai pada Pak Lukman, kemudian melaju di atas jalan raya. Saking kepikiran soal gaji, ia hampir beberapa kali menabrak pengendara lain di depannya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
carsun18106
say punten ada bbrp kali salah tulis nama, rena jd vina, alex jadi eric
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Cerita Lama Mama

    Selesai makan malam, mereka bertiga santai di ruang tamu sambil menikmati siaran TV. Rena meraih ponselnya lalu membuka galeri fotonya. Ia kaget setengah mati tak menemukan foto keluarga Alex yang di potretnya kemarin. Rena sngat yakin meski fotonya tak jelas, ia sama sekali tak menghapus foto itu. Mencoba mencari di seluruh folder yang ada di ponselnya tapi tetap saja tidak ada. Foto itu menghilang secara misterius. Takut, bingung, gak ngerti, gak percaya, semua rasa itu berkecamuk dalam dirinya. Ia meletakkan ponselnya di meja kemudian mengalihkan fokusnya."Ma," panggil Rena sedikit ragu. "Kenapa, Ren?" sahut Mama tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.Rena terdiam. Bingung mau bicara mulai mana. "Mau nanya apa?" tanya Mama.Terlihat jelas wajah anak gadisnya itu menyimpan sesuatu, hingga Mama yakin pasti ada yang ingin Rena tanyakan."Rena ini benar anak kandung Mama sama Papa kan?" Meski ragu, kalimat itu akhirnya keluar juga dari mulutnya."Ih, K

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Di Makam

    Beruntung sebelum jam makan siang Alex dan Rena telah tiba di kantor. Pertemuan dengan klien tadi berjalan dengan lancar dan cepat. Baru saja akan memesan makan siang untuk Alex, pintu ruangan terbuka secara tiba-tiba. Desita langsung masuk tanpa aba-aba."Lex, dari tadi aku telepon kamu. Tapi kamu gak angkat," ucapnya yang kemudian telah berdiri di samping Alex yang tengah menatap layar ponselnya.“Ampun ini mantannya Pak Alex, gak ada sopan-sopannya sih. Bilang salam kek, ini main ngeluyur masuk aja,” gumam Rena dalam hati dongkol. Ia benar-benar tak suka dengan adanya Desita. "Iya tadi lagi rapat sama klien, Des. Ini juga baru sampai," sahut Alex. Desita kemudian menarik manja tangan Alex."Kita makan siang di luar yuk, Lex. Kamu gak boleh nolak. Pokoknya gak boleh."Tak ada pilihan lain, Alex akhirnya mengikuti permintaan Desita juga. Ia malas mendengar rengekan manja Desita."Cuma kita berdua aja ya," ucapnya lagi saat melihat Alex melirik ke arah Rena.

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Buram

    Pagi-pagi sekali Rena telah siap pergi ke kantor. Sebelumnya ia sudah meminta Alex untuk tidak mengantar jemputnya lagi. Mencium punggung tangan Mama, gadis yang mengenakan kemeja biru itu mengendarai motor maticnya pergi bekerja.Ia khusus pagi-pagi sekali pergi ke kantor untuk mencari foto keluarga Alex. Gadis itu masih penasaran dengan wanita di foto itu. Lebih tepatnya penasaran dengan wajah mendiang istrinya Alex. Ia merasakan ada kemiripan dengan wanita yang beberapa tahun lalu ia temui di taman."Pagi banget ngantor, Mbak," sapa Pak Ian."Iya nih, Pak." Rena tersenyum seraya berlalu menuju ruangannya di lantai dua.Melewati beberapa ruangan yang masih kosong, ia sampai juga di ruangan kerjanya. Setelah meletakkan tasnya di atas meja, Rena langsung membuka laci kedua dan ketiga yang kemarin belum sempat diperiksanya."Gak ada juga," ucapnya seraya menghela nafas. Ia kemudian berdiri tepat di belakang kursi Alex memperhatikan meja kerja bosnya. Barangkali ad

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Mimpi Itu

    Niat hati mau bangun pagi dan masuk kerja seperti biasa, pada kenyataannya Rena malah bangun jam setengah delapan. Itu juga karena Mama yang bolak balik ke kamar untuk membangunkannya. "Kayaknya kalau kamu telat, sekarang udah gapapa ya sama Alex?" Mama membuka gorden kamar. "Tetep aja kali, Ma." Rena bangun dan membereskan tempat tidurnya. "Kamu jangan bikin Mama jadi negatif thinking lagi tentang bos kamu dong." Rena tertawa. "Banyak banget kuenya? Dari Om Arsyad?” "Iya, Ma. Itu juga ada sepatu dari Tante Bunga. Rena taruh di meja ruang tamu," ucap Rena seraya meregangkan badannya. “Mama sudah liat,” sahut Mama yang kemudian menyuruh Rena untuk mandi. *** Tiba di kantor tepat pukul setengah sembilan, Rena tak melihat mobil Alex di parkiran. Gadis itu jadi bisa santai sejenak di ruangan Manda. "Capek banget, Nda. Capek di jalan," ucap Rena meletakkan sekotak kue di meja Manda. "Capek di jalan atau capek dijalani sama Pak Alex?" Manda terkekeh. "Jangan mulai deh

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Jalan Pulang

    Menikmati suasana adem di Bandung, pagi ini mengenakan sepeda tandem, mereka berempat berolahraga berkeliling komplek, sebelum akhirnya mereka keluar menuju salah satu lapangan yang berada di dekat komplek perumahan Tante Bunga. "Om kamu kebapakan anget ya," ucap Alex saat Rena bilang mau makan bubur ayam dan Om Arsyad langsung membelikannya. "Iya. Om orangnya baik banget. Gak pernah marah, apalagi ngancam," ucap Rena sambil menatap Alex dengan mata yang membesar. "Kamu ngeledek saya?" "Bapak ngerasa? Bagus kalo gitu." Rena tertawa. Alex langsung mengalungkan pelukan erat di leher gadis itu. "Putri aja sering Bapak marahin. Jangan anak, karyawan aja juga ikut Pak Alex marahin." "Marahkan ada sebabnya," sahut Alex tak mau kalah. Ia melepaskan Rena saat Om Arsyad datang membawakan bubur ayam untuk mereka. "Ini bubur ayamnya. Oh iya, minumnya mau apa, Sayang?" "Jus aja, Om." "Jus alpukat ya. Tunggu sebentar ya," ucap Om Arsyad yang kemudian menghampiri penjual jus. “A

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Di Sini

    Bingung dengan apa yang dilakukan Alex, Rena mendorong pelan pria itu sambil menggeser duduknya sedikit menjauh."Nanti dikirain orang mesum, Bapak jangan dekat-dekat deh," ucap Rena."Cuma cium kening masa dikira mesum? Terus yang di kamar tadi pagi apa namanya?"Seketika wajah Rena memerah."Emang jablay sih Pak Alex. Udah lama enggak kan?" ledek Rena."Hati-hati ya kamu. Gak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti, siapa tau malah kamu yang jablay sama saya," ucap Alex nakal dengan kedua alis terangkat."Jangan sampai ya. Sebelum itu terjadi, saya pasti sudah resign." Gadis itu beranjak dari kursi."Berani kamu resign, lihat aja nanti akibatnya," ucap Alex mengiringi langkah kaki Rena."Sudah galak, suka emosi, sekarang malah suka ngancam."Alex tertawa lantas merangkul pundak sekretarisnya itu.“Rei, wanita yang kamu pilihkan ini memang lain daripada yang lain,” batinnya. Menikmati suasana taman yang rindang hingga waktu menunjukkan puku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status