LOGINRena berbaring sembari melepas pelan hansaplast yang menutupi luka di jari telunjuknya. Memorinya memutar ulang kejadian di dapur kemarin.
"Ada apa dengan Pak Alex ya?" Rena memandangi jari telunjuknya. "Kok belum tidur? Sudah jam sepuluh begini," ucap Mama membuat Rena kaget lantas menarik selimutnya. *** Tidak ingin terlambat sampai ke kantor, pukul enam gadis itu telah bangun. Setelah mengenakan pakaian dan memoles tipis make up pada wajahnya, Rena menyampirkan tas di baju lantas keluar dari kamar. "Kak, Tisa ikut sampai depan ya?" "Tapi kamu sudah siap ‘kan?" "Sudah dong, kak,” ucap Tisa tersenyum lebar. Begitu menurunkan Tisa di depan komplek, Rena langsung meneruskan perjalanannya menuju kantor. Begitu senangnya Rena saat mendapati kantor masih sepi. Hanya ada ia dan Pak Lukman, lelaki paruh baya yang bertugas menjaga dan membersihkan kantor. "Pagi banget sudah datang ke kantor, Mbak?" "Iya nih, Pak," sahut Rena seraya berjalan menuju mejanya, melewati Pak Lukman yang sedang menyapu. Meski telah sarapan di rumah, entah kenapa Rena masih merasa lapar. Alhasil ia keluar kantor untuk membeli bubur ayam yang berada tak jauh dari kantornya. Sedang menunggu penjual menyiapkan pesanannya, seseorang memanggil Rena dari dalam mobil sambil melambaikan tangan. "Tante," sapa ramah seorang anak perempuan, Putri. "Selamat pagi, Putri.” Rena tersenyum ke arah Putri yang turun dari mobil dan berjalan ke arahnya. Senyum manis Rena berubah kala Alex juga ikut turun menghampirinya. “Tante, Putri juga mau itu,” kata Putri menunjukkan bungkusan yang ada di tangan Rena. “Boleh,” sahut Rena yang selalu membeli dua porsi bubur ayam. Tanpa aba-aba Putri langsung menggandeng tangan Rena berjalan menuju kantor. Dari belakang Alex terus memperhatikan gerak gerik mereka. Setibanya di kantor, Rena langsung mengantarkan Putri ke ruangan Alex. Namun, baru saja keluar dari ruangan bosnya itu, Putri malah menghampiri Rena dan minta ditemani makan bubur di ruangan Alex. “Putri makan sama Papa aja di ruangan ya,” ucap Rena menolak halus, “Tante di sini aja, sekalian mau ngerjain ini,” lanjut Rena menepuk tumpukan berkas yang ada di mejanya. Mendengar jawaban Rena, raut wajah Putri langsung berubah murung. Bibir manyun serta mata-mata berkaca-kaca Putri, membuat Rena merasa iba. Ia akhirnya mengiyakan ucapan gadis kecil itu. Rasanya tak karuan berada di ruangan Alex saat ini. Apalagi Putri yang belum bisa makan dengan cepat, menyebabkan Rena harus lebih lama menemaninya. Ia sengaja mengambil posisi duduk membelakangi Alex karena malas melihat wajah bosnya itu. “Hebat. Buburnya sudah mau habis. Tante ambilin minum dulu ya di pantry” kata Rena beralasan agar bisa keluar dari ruangan itu. Dengan penuh senyum, Putri menganggukan kepala. Beberapa detik kemudian, Alex beranjak dari kursi menyusul Rena keluar. “Papa sebentar keluar ya,” kata Alex sebelum menutup pintu. Rena yang tengah menghabiskan segelas air minum, hampir tersedak saat melihat Alex masuk ke dalam pantry. “Ngapain sih Bos?” gumam Rena dalam hati. "Kamu ada maksud apa, jadi dekat-dekat sama anak saya? Kamu mau manfaatin anak saya untuk kepentingan kamu?" "Bapak ngomong apa sih? Memangnya saya ada maksud apa?" tanya Rena tak mengerti. "Ya mana saya tahu maksud kamu apa. Heran, anak saya bisa dekat dan nurut banget sama kamu," ucap Alex mengambil segelas berisi air minum, kemudian berlalu dari hadapan Rena. "Mimpi apa punya bos kaya gitu. Untung hari ini gajian," Rena mengisi gelasnya tadi kemudian meminumnya habis. *** Gaji dan bonus yang biasanya masuk di jam sebelas siang, sampai mendekati jam pulang tak kunjung masuk ke rekening Rena. Untuk ketiga kalinya, ia menanyakan pada Manda mengenai laporan absen dan penjualannya selama sebulan ini. "Ampun deh. Ya gak mungkin lah absen sama laporan penjualan kamu ketinggalan. Coba tanya Bu Ria" usul Manda yang tengah membereskan meja kerjanya. Meski sedikit ragu, ia menghampiri Bu Ria yang kebetulan baru keluar dari ruangan Alex. "Bu, kok-" "Gaji sama bonus kamu ditahan sama Pak Alex. Coba kamu tanya ke Pak Alex ya." Kening Rena berkerut bingung. "Ditahan?" "Katanya, karena kamu beberapa kali telat masuk kantor." "Cuma tiga kali, Bu," kata Rena manyun. "Coba masuk ke ruangan Pak Alex dulu. Biasalah Bos suka aneh-aneh. Kamu kayak gak tahu dia aja," timpal Manda yang kemudian pamit pulang duluan. Rena mematikan komputer dan meletakkan tasnya di atas meja, sebelum masuk ke ruangan Alex. Meski malas berurusan dengan Pak Alex, tapi untuk urusan gaji dan bonus, Rena harus tetap maju. Ia mengetuk pintu ruangan Alex dengan perasaan berdebar. Tangannya bergetar saat membuka pintu. "Ada apa? Yang lain sudah pulang, kenapa kamu malah masuk ke sini?" tanya Eric dengan nada datar saat Rena berjalan mendekat ke arahnya. Ia menyandarkan punggung di kursi dan menatap Rena yang masih berdiri di depannya. "Kenapa gaji dan bonus saya belum masuk, Pak?" Alex menaikkan sebelah sudut bibirnya. “Cari masalah nih orang,” batin Rena kesal. Diperlakukan seperti ini, rasanya Rena ingin melemparkan surat pengunduran dirinya ke wajah tampan Alex. "Dari semua karyawan, cuma kamu yang paling sering datang telat. Jadi, wajar dong kalau saya juga telat membayar gaji kamu?" Rena terdiam mendengar ucapan Alex. Beberapa kali ganti tempat kerja, baru kali ini ia menemui bos yang resenya minta ampun. Sampai harus menahan haknya hanya karena hal kecil. Gak tahu kena sambet apa. "Maaf, Pak. Bulan ini saya cuma tiga kali telat." Nada suara Rena melemah. Tak mungkin ia ngotot. "Itu artinya, bulan ini, dan dua bulan ke depan, gaji kamu akan telat tiga hari dari tanggal biasanya gajian." Mendengar ucapan semena-mena dari mulut Alex, Rena hampir saja menitikkan air mata. Ia teringat janjinya pada Mama untuk membelikan alat pijat elektrik di gajian bulan ini. Rena menarik nafas panjang. "Terima kasih, Pak. Saya permisi dulu." Seperti tak ada masalah, Alex dengan santainya berlalu begitu saja. Masuk ke mobil dan meninggalkan kantor. "Hujan, Mbak," ucap Pak Lukman. Rena terdiam. Air matanya menetes tanpa aba-aba. "Kok nangis, Mbak? Ada masalah apa?" "Benci banget sama bos! Pokoknya benci, benci, benci!" seru Rena tak tertahan lagi. Rasanya lega sudah mengumpat seperti itu. "Benci kenapa toh, Mbak? Bos ganteng gitu kok dibenci?" "Gimana gak benci, Pak? Masa gaji saya bulan ini ditahan cuma karena saya telat masuk kantor. Rasanya pengen resign, Pak. Gak tahan punya bos kayak dia.” Rena menyeka sudut matanya. "Lah, gitu amat, Pak Alex. Sabar, Mbak. Mungkin beliau lagi ada masalah." "Dia mah selalu ada masalah, Pak. Gemes banget rasanya." Rena masih kesal. Dengan berjalan gontai ia menuju motornya. Rena melambai pada Pak Lukman, kemudian melaju di atas jalan raya. Saking kepikiran soal gaji, ia hampir beberapa kali menabrak pengendara lain di depannya.Pagi ini Alex kembali menjemput Rena. Meski Rena masih terlihat marah, ia sedikit lega karena gadis itu tak mendiamkannya lagi."Hari ini, saya ada janji sama Bunda untuk fitting terakhir baju kebaya," ucap Rena, "tapi saya masih ragu mau ini lanjut atau tidak.""Kamu ngomong apa sih, Sayang? Marahnya udahan dong. Aku harus apa supaya kamu gak marah lagi?" Alex was was mendengar ucapan Rena barusan. Apa jadinya kalau Rena benar-benar ragu dan tak mau lanjut dengan pernikahan mereka yang hanya tinggal hitungan hari lagi."Gak tau," sahut Rena cuek mengangkat bahunya.Alex menyandarkan tangannya seraya menopang kepalanya yang terasa berat."Susah banget kalau kamu sudah marah. Ngebujuknya susah banget," ucap Alex. Kakinya menginjak pedal gas pelan karena lampu lalu lintas telah berubah warna jadi hijau.***Selesai membereskan laporan, Rema meletakkan semua laporan itu di samping laptop Alex."Eh, mau kemana?" tanya Alex saat melihat Rena berjalan menuju pintu dengan membawa tasnya. "S
Hari ini adalah hari kedua Rena tak masuk kantor, karena matanya masih sembab habis menangis setiap malam. Terbayang-bayang dengan foto dan video itu, ia kembali membenamkan diri dalam selimut."Kakak kenapa? Sakit?" tanya Tisa datang menghampiri."Iya nih gak enak badan. Pengen istirahat di rumah aja," sahutnya Rena dari dalam selimut."Ya udah kakak istirahat aja." Tisa berlalu dari kamar kakaknya itu. Ia yakin Rena sedang ada masalah dengan Alex tapi ia tidak mau ikut campur urusan mereka.Tak berselang lama Mama datang ke kamar Rena dan menayangkan keadaan anak sulungnya itu. Ia sudah curiga kalau Rena sedang ada masalah dari gelagatnya beberapa hari ini.“Kalau kamu ada masalah cepat diselesaikan, jangan malah dibiarin. Ayo sekarang cuci muka. Di depan ada Bu Ira sama Putri,” ucap Mama meminta Rena menemui mereka. "Bilang Rena lagi keluar kota aja ya, Ma. Rena lagi pengen sendiri.""Oke tapi masalah kamu harus cepat diselesaikan. Mama sama Tisa
Alex dan Rena pergi ke salah satu toko kue untuk memesan kue ulang tahun untuk Putri. Melihat beberapa kue yang terpajang di etalase, Rena kemudian menunjuk salah satu kue berwarna biru dengan karakter princess."Bagus. Kamu pesan dulu ya, aku angkat telepon sebentar," ucap Alex menjauh dari tempat itu.Agak malas sebenarnya menerima telepon dari Desita, tapi membaca pesannya yang seperti sedang meminta pertolongan, ia jadi tak tega."Ya sudah kita ketemu di kantor aku aja jam setengah delapan," ucap Alex pelan."Makasih ya, Lex," sahut Desita dengan suara sedikit serak.Rena yang telah selesai memesan kue, pergi menghampiri Alex dan mengejutkannya."Telepon dari siapa sih? Serius amat,” kata Rena menepuk pundak Alex."Teman lama ngajak ketemuan. Katanya mau curhat tentang bisnisnya," ucap Alex berdusta. Kenyataannya ia tak terlalu berdusta, karena mengatakan yang sebenarnya. Kurangnya hanya satu, tak menyebutkan nama teman lamanya itu."Oh ya udah. K
"Mas, ini berkasnya sudah siap. Berangkat jam berapa?" tanya Rena yang sedari tadi bolak balik mengecek berkas takut ada yang ketinggalan."Ha?" Alex tak fokus dengan pertanyaan Rena. Ia malah menarik tangan gadis itu dan mendudukkannya di pangkuan."Mas, nanti ada yang liat," protes Rena."Biarin aja kenapa," sahut Alex, "nanti kamu mau pakai baju apa, kebaya? Atau gaun?" Alex menunjukkan layar laptop."Saya kira Mas Alex ngapain, kelihatan serius. Eh, taunya liatin ini," ucap Rena.Secara tiba-tiba pintu terbuka, tampak Tria berdiri mematung melihat pemandangan yang di depannya."Aduh maaf ganggu, Pak," ucapnya hendak menutup pintu lagi."Gapapa. Ada apa?" tanya Alex santai yang tak membiarkan Rena untuk beranjak dari pangkuannya."Ini, Pak. Laporan dari Bu Een," ucap Tria meletakkan laporan itu di atas meja lalu berbalik hendak meninggalkan ruangan."Tria," panggil Alex."Iya, Pak.""Jangan kaget kalau nanti kamu bakal sering liat aku m
Mereka tengah menggeser beberapa barang di ruang tamu dan memindahkannya ke kamar agar ruang tamu tampak sedikit luas. "Mbak, Ibu mertua Mbak datang tuh," bisik Tante Bunga.Mama menoleh ke arah pintu depan, ia kemudian meminta Tante Bunga untuk mengawasi petugas katering yang mulai menyiapkan makanan.Mama lalu menemui Oma Ida dan Papi Citra di depan dan menyuruh mereka masuk."Mbak, yang lain sibuk. Jadi saya sama Ibu aja yang datang," ucap Papi Citra memberitahu."Gapapa. Saya tinggal ke dalam dulu ya, Bu. Mau beres-beres.""Iya." Oma Ida memperhatikan beberapa orang berseragam hitam yang lalu lalang membawa kartu wadah makanan.“Dia benar-benar bisa menghandle semuanya sendiri,” gumam Oma Ida memuji Mama dalam hati.Tepat dengan janjinya, Alex datang bersama Ira dan Putri.Gadis kecil itu berbisik pada Alex meminta izin agar bisa bersama dengan Tisa karena tak nyaman berada di keramaian."Iya, Sayang," ucap Alex membintangi putrinya
"Pilih gaun yang oke ya," ucap Alex saat mereka berada di salah satu butik untuk memilih gaun yang akan Rena pakai untuk acara jamuan makan malam. Peresmian ini akan diadakan sebanyak dua kali acara. Pagi peresmian yang akan disiarkan di salah satu stasiun tv karena akan langsung dibuka oleh Gubernur Jakarta sekaligus berkeliling memperlihatkan fasilitas dan benefit yang akan di dapat. Sementara untuk acara malam, khusus untuk rekanan bisnis dan mitra kerja."Oke apanya, Mas? Oke seksinya ya," tebak Rena."Jangan. Nanti kamu banyak yang lirik lagi di sana. Kamu kan datang kesana sebagai calon istri saya, bukan sekretaris," ucap Alex.Rena mengulum senyum. Ia lalu menunjukkan satu gaun tanpa lengan berwarna soft pink dengan panjang di bawah lutut."Coba dulu, kayaknya sih oke," ucap Alex berjalan menuju ruang ganti."Eh, ngapain? Tunggu di luar aja, Mas!" seru Rena kala Alex hendak ikut masuk ke dalam ruang ganti."Bantuin buka resleting," ucap Alex dengan waj
Mama datang menghampiri Rena di kamar dan menanyakan kapan mereka bisa ke rumah Oma Ida untuk memberi tahu rencana pernikahan Rena. Memperbaiki posisi duduknya, Rena menatap Mama."Harus ya, Ma?""Harus, Sayang. Jadi maksud kamu gimana? Mereka gak perlu datang?"Rena tak menjawab.
Setelah tiga hari full beristirahat di rumah, hari ini dengan dijemput Alex, Rena pergi ke kantor."Hati-hati di jalan ya," pesan Mama pada Alex dan Rena setelah pamit dan mencium punggung tangan Mama.Berkendara dengan kecepatan sedang, mereka akhirnya sampai juga di kantor."Bisa?"
Setelah mengurus administrasi rumah sakit, dokter akhirnya memperbolehkan Rena untuk pulang. Dengan diantar Alex mereka tiba juga di rumah.“Pelan-pelan,” ucap Nico saat Rena hendak turun.“Saya bisa sendiri, Pak,” ujar Rena saat Alex hendak membantunya turun.“Kak Rena masih aja
"Gak tau kenapa, kali ini Alex harus didorong-dorong dulu. Harus ditakut-takuti dulu," ucap Ira begitu duduk di samping Mama."Apanya, Mbak?" tanya Mama tak paham."Ini soal kedekatannya sama Rena," sahut Ira. "Mbak Ira setuju sama hubungan Alex dan anak saya kan?" tanya Mama ingin memper







