Share

Jari Berdarah

Author: Lystania
last update Last Updated: 2025-12-04 17:52:25

Rena yang tengah makan siang di warung nasi padang samping kantor, tak sengaja mendengar percakapan pasangan suami istri yang tengah membahas mengenai masalah rumah. Naluri untuk mendapatkan bonus kembali membara. Ia segera menyelesaikan makan siangnya dan berjalan menuju meja itu.

“Halo, selamat siang. Mas dan Mbaknya cari rumah ya," ucap Rena tanpa basa basi.

"Iya, Mbak."

"Saya Rena. Kalau ada waktu mampir ke kantor kami ya.” Rena meletakkan selembar kartu nama di atas meja sembari pamit.

Dengan senyum sumringah, gadis itu sangat yakin pasangan tadi akan datang menemuinya. Betul saja baru duduk sekitar sepuluh menit di kursinya, Rena melihat kedua orang tadi memasuki kantor.

"Ada yang bisa saya bantu?” Rena menghampiri dan mengajak mereka duduk di sofa.

"Saya, Ambar. Ini Rian, suami saya."

"Senang sekali Mbak Ambar dan Mas Rian mampir ke sini,” ucap Rena ramah sembari meraih beberapa brosur perumahan yang ada di meja.

"Kita lagi cari rumah yang tipenya agak besar dan lokasinya di tengah kota.”

Rena langsung menyodorkan beberapa brosur yang sesuai dengan apa yang di mau oleh calon nasabahnya itu. Penuh antusias ia menjelaskan sampai tak menyadari kedatangan Alex dan Putri.

“Sok-sok an kerja,” gumam Eric dalam hati seraya menggelengkan kepalanya. Bukannya senang melihat Rena bekerja penuh semangat, Alex malah kesal sendiri.

"Pa, Putri mau main sama Tante Rena," ucap Putri menarik tangannya.

"No. Ikut Papa aja," jawab Alex dengan mata melotot. Dengan wajah cemberut Putri mengikuti Alex ke ruangannya.

***

Manda membenahi beberapa berkas di mejanya sambil sesekali menikmati keripik singkong yang ada di dalam toples.

"Rena, ini belum lengkap nih berkasnya."

"Masa sih?" ucapnya tak percaya, "perasaan kemarin sudah lengkap deh."

"Nih, coba kamu lihat lagi." Manda menyodorkan berkas pada Rena.

"Maaf, maaf, khilaf." Rena kemudian menautkan aplikasi WA-nya pada komputer agar lebih mudah untuk melakukan pekerjaan.

Tengah asyik menyusun laporan harian, Rena merasakan ada yang aneh dengan perutnya. Tiba-tiba melilit dan keinginan untuk buang angin tak dapat ditahan lagi. Dengan cepat ia menuju toilet. Betapa lega saat semua isi perutnya telah keluar.

"Gara-gara ikan balado tadi kayaknya," ucapnya sambil menekan tombol flush. Baru saja akan merapikan pakaiannya, rasa sakit yang sempat hilang tadi kembali muncul. Ia kembali duduk sambil sesekali meremas perutnya.

DUK DUK DUK

Tiba-tiba pintu toilet di gedor-gedor, membuat Rena terkejut.

"Siapa?"

"Kamu ngapain di dalam?"

Suara yang tak asing baginya.

“Aduh ngapain sih Pak Alex ini? Gak tahu orang sakit perut apa?” kesal Rena dalam hati.

"Maaf saya sakit perut, Pak."

"Saya juga sakit perut! Cepat kamu keluar!" Teriak Alex.

“Ya ampun. Punya toilet sendiri tapi malah pakai toilet lain,” gerutu Rena dalam hati. Setelah memastikan toilet dalam kondisi bersih, ia keluar dari ruangan berukuran kecil itu. Ia mengepalkan tinju ke arah Alex yang baru saja masuk ke dalam.

"Repot banget punya bos!"

"Saya dengar itu, Rena." Suara Alex dari dalam membuat Rena kabur ke dapur, lantas duduk dan menyeduh segelas teh hangat untuk meredakan sakit perutnya.

"Tante, Putri juga mau teh," ucap Putri sambil menarik pelan ujung baju Rena.

"Sebentar Tante buatkan ya," jawab Rena tersenyum manis. Ia berdiri dari kursinya dan menyeduh satu cangkir kecil teh untuk Putri. Dua menit kemudian ia kembali ke meja dan meletakkan secangkir teh di depan gadis kecil itu.

"Manis. Enak," ucapnya dengan wajah sumringah. Putri kemudian turun dari kursi dan membawa cangkir berisi teh itu di tangannya.

"Putri mau kemana, minum di sini aja," ucap Rena. Dengan langkah kaki yang besar ia berusaha menyusul Putri. Namun sayang, Alex yang baru keluar dari toilet malah menabrak Putri yang berdiri tepat di depan pintu dapur. Suara cangkir pecah dan tangisan Putri menggema ke seluruh ruangan kantor, membuat karyawan yang lain berlarian ke dapur.

"Sudah, sudah. Putri kan gak apa-apa, air matanya dihapus ya," ucap Rena membantu Putri berdiri kemudian mengusap air matanya.

"Manda, kamu aja Putri ke depan!" perintah Alex. Tanpa bantahan, Manda menggendong Putri dan membawanya ke depan, bersamaan dengan bubarnya karyawan lain.

"Saya gak mengerti, gimana sih kamu ini!" seru Alex membuat Rena menarik nafas kesal. Ia tak menjawab ucapan Alex, tapi fokus membersihkan pecahan cangkir tadi.

Alex kemudian mengambil posisi berjongkok di depan Rena.

"Kamu gak denger saya ngomong apa!?" Suara Alex yang cukup nyaring, membuat Rena kaget hingga mengakibatkan ibu jari dan telunjuknya, menggenggam pecahan beling itu. Membuat luka dan darah dengan cepat mengalir dari jarinya.

"Aduh." Rena menjerit dan meringis. Baru saja akan menghisap luka di jari telunjuknya, Alex dengan cepat menarik tangan Rena, dan menghisapnya. Rena dibuat bingung dengan apa yang dilakukan Alex saat ini. Beberapa kali ia mencoba menarik tangannya, tapi yang didapatnya hanya tatapan tajam Alex.

"Lain kali kalau saya bicara itu, didengar dan dijawab." Alex mengeluarkan jari Vina dari dalam mulutnya.

"Bapak ngapain tadi?"

"Saya ngapain?" Bukannya menjawab Alex malah bertanya balik. Tangan Rena menjangkau sapu yang ada di dekat pintu dapur.

"Permisi, saya mau beresin ini dulu," ucap Rena dengan sapu yang siap menyapu pecahan beling yang ada di sekitar kaki Alex.

"Misi, Pak," ucap Rena menyapu pecahan cangkir yang ada di dekat kaki Alex.

"Bereskan semuanya! Dan kenapa kamu biarkan Putri bawa cangkir sendiri?"

"Kalau Bapak bisa lebih hati-hati, mungkin Bapak gak bakal nabrak Putri," jawab Rena tak terima dengan ucapan Alex yang seolah menyalahkannya.

"Kamu menyalahkan saya?!"

"Bapak yang duluan nyalahin saya," kata Rena kesal. Tak banyak bunyi, Alex kemudian berlalu dari dapur meninggalkan gadis itu.

"Tante, gak apa-apa kan?" tanya Putri  begitu Rena kembali ke mejanya.

"Gak apa-apa, Putri sayang." Rena tersenyum seraya mengusap rambut hitam Putri. Ia kemudian mengambil hansaplast dari dalam laci dan menempelkan di jarinya.

"Gak boleh kayak tadi ya Putri. Bahaya lo," ucap Rena.

"Iya, Tante. Putri cuma mau bawain teh ke ruangan Papa. Papa sakit perut."

"Bikinin lagi gih buat Pak Alex, Ren," ucap Manda.

"Males banget tahu gak sih. Boleh gak, aku kasih garam aja ke teh dia?"

"Hush, entar kedengeran sama anaknya," ucap Manda setengah berbisik.

Karena permintaan Putri juga, Rena akhirnya membuatkan segelas teh hangat dan mengantarkannya ke ruangan Alex.

"Papa, Putri bawain teh buat Papa," ucap Putri saat Rena telah meletakkan segelas teh itu di meja Alex.

"Makasih ya, Sayang," jawab Alex sambil memangku anak perempuannya itu.

"Pasti enak. Manis sudah di kasih garam kan, Tante?"

Eric melotot memandang Rena, sementara Rena melotot memandang Putri.

"Gula, Putri," koreksi Rena. Ia buru-buru permisi pamit sebelum Alex mengeluarkan amarahnya.

"Hampir aja kena semprot."

"Kenapa? Bos marah lagi?" tanya Manda bingung melihat ekspresi Rina.

"Gapapa, Nda." Rena menggeleng. Dalam hati rasanya ingin sekali menjahili Alex.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Salah Ruangan

    Hari ketiga Alex tak masuk kantor. Ia tengah berada di rumah sakit, menemani Ira yang sedang dirawat karena sakit jantungnya kumat. Itu artinya, sudah dua malam Rena lembur menjadi pengasuh. Sepulang kerja, ia harus ke rumah Eric untuk menemani dan menidurkan Putri. Meski di rumah Alex ada Bi Siti yang menemani, Putri bersikeras ingin ditemani tidur oleh Rena.Dengan mata yang masih mengantuk, ia berjalan menuju meja kerjanya."Pulang jam berapa dari rumah Pak Alex, Ren?" tanya Manda."Gak tahu, Nda. Gak lihat jam lagi." Rena menyahut dengan mulut menguap lebar."Kamu tidur sana gih di ruangan Pak Alex. Soalnya nanti siang, pesan Pak Alex kamu harus ke rumah sakit, bawain buku cek yang harus ditandatangani dia," ucap Bu Ria."Kenapa gak Manda aja sih yang disuruh," sungut Rena hampir menangis."Pesan Pak Alex gitu, gimana dong," sahut Manda."Yang penting sekarang kamu istirahat aja sana," suruh Bu Ria lagi.Dengan langkah sempoyongan Rena menuju ruangan Alex. Merebahkan diri di atas

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Perseteruan Sepihak

    "Ada gila-gilanya kali Pak Alex ya, Nda?"Manda tertawa seraya mengaduk minumannya. Mereka tengah menikmati waktu senja di salah satu cafe dekat kantor, setelah pulang kerja."Jadi pengasuh Putri itu ide bagus kali, Ren.""Aku memang senang bisa main sama Putri, tapi membayangkan akan terus berhadapan sama Pak Alex, aku gak sanggup, Nda.""Siapa tahu upah jadi pengasuh Putri besar, Ren. Lumayan kali buat tabungan. Anaknya Pak Alex kan baik, nurut lagi sama kamu. Pasti gak bakal repot ngurus dia. Lagian pekerjaan jadi pengasuh itu bagus. Bagus untuk mengasah kemampuan mendidik anak."Seraya memakan sosis yang ada di meja, otaknya berpikir. Semua perkataan Manda ada benarnya juga. Untuk anaknya, pasti Alex rela memberikan yang terbaik. Termasuk upah yang setimpal untuk menjadi pengasuh.***"Tadi Putri main sama Tante Rena lo, Oma," lapor Putri pada Ira sesaat setelah selesai makan malam."Kata Papa, Putri sekolah. Kok malah main sama Tante Rena?""Baru sebentar ditinggal, dia sudah nan

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Tugas Baru

    Sabtu ini, Rena harus terima kalau Mama dan Tisa pergi liburan ke rumah Tante Olin, Adik Mama, yang berada di Bandung. Yang artinya beberapa hari ke depan Rena akan sendirian di rumah. "Kamu hati-hati ya di rumah," pesan Mama sebelum masuk ke mobil yang dikirimkan Tante Olin untuk menjemput. "Iya, Ma." "Dadah, Kakak." Tisa melambaikan tangannya dari balik kaca jendela mobil. Begitu mereka pergi, Rena juga bersiap pergi ke kantor. Tak lupa ia membeli sarapan pagi sebelum tiba di kantor. Tampak Manda telah sibuk dengan tumpukan berkas yang menggunung di atas mejanya, hingga wajahnya tak terlihat lagi. "Ngapain sih pagi-pagi sudah makan kertas?" Rena meletakkan tasnya di meja. "Kerjaan kamu nih, Ren," ucap Manda. "berkas yang kemarin kecampur sama berkas yang sudah beres. Jadinya kan harus dipilih lagi." "Aduh maaf ya, Nda. Aku kirain kemarin berkas yang di meja kamu itu sama kayak berkas yang aku kerjain. Jadinya aku gabung. Ntar aku makan sebentar ya, nanti aku pisahin

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Lelaki Lain

    Rena telah tiba di kantor. On time. Tekadnya tak ingin lagi terlambat masuk kantor, agar Alex tidak memiliki alasan untuk mengomeli dan menunda pembayaran gajinya lagi."Tumben kamu sudah datang?" tanya Manda yang melihat Rena sudah duduk dibalik layar komputernya."Biar bos gak ada alasan buat nunda pembayaran gaji aku.""Hah!" seru Manda kaget.“Kesel banget tahu gak sih, sama kelakuan Pak Alex. Rasanya pengen nonjok muka dia.”“Tapi kalau aku lihat, kayaknya Pak Alex bermasalahnya cuma sama kamu aja deh, Ren.”“Aku juga gak ngerti. Apa sih, salah aku sama dia? Semua yang aku kerjakan pasti ada aja yang bikin dia ngomel.”Lisa menjentikkan jarinya. “Aku tahu salah kamu apa?”Rena memasang tampang serius, siap mendengarkan ucapan Manda.“Salah kamu itu, kamu kurang perhatian sama Pak Alex. Kamu kan sekretaris dia, harusnya kamu lebih perhatian sama dia. Bukannya malah ngejar bonus dari penjualan rumah.”“Perhatian dari hongkong! Ya kali perhatian sama dia bisa dapat uang. Lebih baik

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Tak Sengaja Bertemu

    Dengan sisa gajinya yang ada, Rena membayarkan tagihan listrik dan air melalui aplikasi di ponselnya. Sesuai dengan ucapan Alex, harusnya hari ini gajinya sudah masuk ke rekening."Apa karena hari ini hari sabtu ya?" tanyanya sendiri. Ia berkali-kali mengecek aplikasi mobile banking-nya, tapi saldonya masih tetap sama. Tak ada penambahan, malah kurang karena membayar tagihan tadi. Rena melempar kesal ponselnya ke atas kasur, kemudian melangkah keluar. Untung saja, Mama dan Tisa sudah punya kegiatan masing-masing hari ini, kalau tidak mereka pasti sudah mengajak Rena untuk jalan-jalan. Setelah Tisa dan Mama pergi, Rena juga bersiap, untuk pergi ke mall. Cuci mata untuk menghilangkan penat sejenak.Mengendarai motor maticnya, Rena menuju mall yang berada tak jauh dari komplek rumahnya. Gadis itu benar-benar menjaga pandangan matanya agar tidak melihat barang yang menarik perhatiannya. Ia menaiki eskalator berkeliling tiap lantai, kemudian turun. Bersiap hendak menuruni satu lantai lagi,

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Tertunda

    Rena berbaring sembari melepas pelan hansaplast yang menutupi luka di jari telunjuknya. Memorinya memutar ulang kejadian di dapur kemarin."Ada apa dengan Pak Alex ya?" Rena memandangi jari telunjuknya."Kok belum tidur? Sudah jam sepuluh begini," ucap Mama membuat Rena kaget lantas menarik selimutnya.***Tidak ingin terlambat sampai ke kantor, pukul enam gadis itu telah bangun. Setelah mengenakan pakaian dan memoles tipis make up pada wajahnya, Rena menyampirkan tas di baju lantas keluar dari kamar."Kak, Tisa ikut sampai depan ya?""Tapi kamu sudah siap ‘kan?""Sudah dong, kak,” ucap Tisa tersenyum lebar. Begitu menurunkan Tisa di depan komplek, Rena langsung meneruskan perjalanannya menuju kantor. Begitu senangnya Rena saat mendapati kantor masih sepi. Hanya ada ia dan Pak Lukman, lelaki paruh baya yang bertugas menjaga dan membersihkan kantor."Pagi banget sudah datang ke kantor, Mbak?""Iya nih, Pak," sahut Rena seraya berjalan menuju mejanya, melewati Pak Lukman yang sedang me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status