MasukDengan sisa gajinya yang ada, Rena membayarkan tagihan listrik dan air melalui aplikasi di ponselnya. Sesuai dengan ucapan Alex, harusnya hari ini gajinya sudah masuk ke rekening.
"Apa karena hari ini hari sabtu ya?" tanyanya sendiri. Ia berkali-kali mengecek aplikasi mobile banking-nya, tapi saldonya masih tetap sama. Tak ada penambahan, malah kurang karena membayar tagihan tadi. Rena melempar kesal ponselnya ke atas kasur, kemudian melangkah keluar. Untung saja, Mama dan Tisa sudah punya kegiatan masing-masing hari ini, kalau tidak mereka pasti sudah mengajak Rena untuk jalan-jalan. Setelah Tisa dan Mama pergi, Rena juga bersiap, untuk pergi ke mall. Cuci mata untuk menghilangkan penat sejenak. Mengendarai motor maticnya, Rena menuju mall yang berada tak jauh dari komplek rumahnya. Gadis itu benar-benar menjaga pandangan matanya agar tidak melihat barang yang menarik perhatiannya. Ia menaiki eskalator berkeliling tiap lantai, kemudian turun. Bersiap hendak menuruni satu lantai lagi, tiba-tiba saja terdengar seseorang memanggil namanya. "Halo, Putri." Rena berjalan mendekati Putri yang tengah berdiri di depan toko sepatu di dekat eskalator. "Tante, ikut sama Putri jalan-jalan di mall ya" pinta Putri. "Maaf, Sayang. Gak bisa. Tante duluan ya." Rena menolak halus permintaan Putri. Ia mengusap lembut pipi Putri, kemudian berbalik meninggalkan Putri. Baru saja akan menapakkan kaki pada anak tangga, terdengar jelas gadis kecil itu memanggil Rena dengan sebutan yang membuatnya terkejut, hingga mengakibatkan langkah kakinya terhenti. MAMA Rena berbalik menatap Putri yang berdiri dengan mata berkaca-kaca, membuat Rena tak tega. Tak ada pilihan lain, ia kembali menghampiri Putri. Panggilan yang Putri lontarkan barusan, tidak hanya membuat Rena saja yang kaget, tapi Alex dan Ira, ibunya Alex tercengang mendengar kata yang keluar dari mulut Putri. "Putri mau kemana?" tanya Rena menggandeng Putri. Tak lupa ia melemparkan senyum pada Alex dan Ira yang berdiri tak jauh dari mereka. "Siapa wanita yang bersama Putri itu?" tanya Ira menyadarkan lamunan Alex. "Karyawan Alex di kantor." "Dekat? Sampai-sampai Putri bisa panggil mama sama dia?" "Lumayan dekat sih, Ma." "Kamu sudah hampir tiga tahun sendiri, belum ada niatan untuk mencari pasangan?" "Kita bahas nanti aja ya, Ma. Dia itu dekat sama Putri bukan sama aku," ucap Alex sambil berjalan menghampiri Rena dan Putri. Ira menarik nafas panjang. Meski ia tidak pernah memaksa Alex untuk menikah lagi, tapi ia sudah sangat ingin melihat Alex memiliki pasangan lagi. *** “Awas aja kalau dia berani bilang kalau aku mau mengambil keuntungan lagi,” gumam Rena dalam hati saat mereka sedang makan di salah satu restoran sebelum pulang. Saat Ira sedang ke kamar kecil, Alex langsung menyodorkan ponselnya dan meminta Rena untuk memasukkan nomor rekeningnya. "Ini, Pak." Dengan cepat Rena mengembalikan ponsel Alex setelah selesai memasukkan nomor rekeningnya. "Tante ikut kita pulang kan?" celetuk Putri membuat suasana langsung hening. "Tante Rena punya rumah sendiri, Sayang," ucap Ira. "Aku bayar dulu, Ma." Alex bangkit berdiri. Sedikit merajuk, Ira mencoba untuk membujuk Putri dan mengatakan kalau Rena akan ikut mengantar sampai ke mobil. "Makasih ya, Mbak Rena. Kita pulang duluan," pamit Ira diiringi dengan lambaian tangan Putri. Sementara Alex hanya memandang datar ke arah Rena. Di dalam mobil, Ira yang sangat penasaran kenapa Putri sampai memanggil Rena dengan sebutan mama, langsung bertanya pada cucunya itu. "Putri tadi panggil apa sama temennya Papa?" "Panggil apa, Oma? Tante ya." "Bukan itu. Yang waktu Putri nangis tadi," ucap Ira lagi. "Mama," ucap Putri polos. "Kok panggil mama?" "Kan biar sama kayak Papa. Papa panggil Oma, Mama. Terus Putri panggil Mama sama siapa dong?" Kalimat yang begitu biasa, namun memiliki arti yang sangat dalam. Alex dan Ira saling berpandangan. Entah apa yang kini sedang dirasakan Putri, hingga ucapan seperti itu keluar dari mulut mungil gadis berusia empat tahun itu. Begitu sampai di rumah, Putri yang sudah tertidur pulas, digendong oleh Alex ke kamarnya. Berharap bisa langsung istirahat, Ira malah memanggil Alex untuk bicara di ruang tamu. "Sudah saatnya kamu memikirkan kebahagiaan Putri, Lex." "Selama ini yang Alex lakukan untuk kebahagiaan Putri, Ma. Supaya segala kebutuhannya terpenuhi. Alex gak mau Putri kekurangan apapun." "Yang kamu ucapkan itu memang benar. Tapi yang kamu pikirkan itu hanya kebahagiaan luarnya saja. Putri itu punya hati. Hati yang harus kamu pikirkan." Alex terdiam. Selama ini ia memang terlalu fokus bekerja sehingga kurang memperhatikan kebutuhan emosional Putri. Kebersamaan dengan anak perempuannya itu sangat kurang. Belakangan ini Alex memang suka membawa Putr ikut ke kantor, dengan alasan agar waktu dengan Anaknya semakin berkualitas. Walau kadang-kadang Putri lebih banyak main dengan karyawannya. "Mama sangat yakin pasti banyak wanita yang mau sama kamu. Atau, mau Mama yang cariin jodoh buat kamu?" "Nggak lah, Ma. Ngapain dijodoh-jodohin? Alex masih laku dan bisa cari sendiri." "Kalau bisa cari sendiri, ya carilah. Jangan kelamaan. Kasihan Putri. Kamu gak boleh egois." "Iya, Alex bakal cari. Tapi nyari Mama buat Putri kan gak mudah, Ma. Alex juga gak mau sembarangan." "Mama tahu. Kamu harus ingat ya, kriteria utamanya, wanita itu harus bisa menerima dan menyayangi Putri seperti anaknya sendiri." "Kalau gitu Alex cari pengasuh aja buat Putri." "Memangnya kamu gak mau nikah lagi? Gak pengen ada yang ngurusin kamu? Menyiapkan semua kebutuhan kamu? Gak mau ada yang perhatian sama kamu? Kamu masih ada hasrat kan sama perempuan?" "Masih lah, Ma. Alex masih normal, tapi Alex masih nyaman sendiri." "Mungkin sekarang kamu masih nyaman sendiri, tapi waktu terus berputar. Ada saatnya kamu perlu teman untuk berbagi suka duka. Bukan, Mama. Tapi pasangan kamu." Tidak ada sanggahan ataupun komentar lagi dari Alex. Mendengar apa yang dikatakan Ira, sedikit membuka pikiran pria itu. Tidak mungkin dia terus berada dalam situasi ini. Sendiri dan sedikit keteteran mengurusi anak semata wayangnya. Namun, ada satu hal yang membuat Alex bingung. Pesan mendiang istrinya yang telah menyiapkan satu nama untuk menggantikan posisinya. Nama yang masih sulit untuk Alex terima.Pagi ini Alex kembali menjemput Rena. Meski Rena masih terlihat marah, ia sedikit lega karena gadis itu tak mendiamkannya lagi."Hari ini, saya ada janji sama Bunda untuk fitting terakhir baju kebaya," ucap Rena, "tapi saya masih ragu mau ini lanjut atau tidak.""Kamu ngomong apa sih, Sayang? Marahnya udahan dong. Aku harus apa supaya kamu gak marah lagi?" Alex was was mendengar ucapan Rena barusan. Apa jadinya kalau Rena benar-benar ragu dan tak mau lanjut dengan pernikahan mereka yang hanya tinggal hitungan hari lagi."Gak tau," sahut Rena cuek mengangkat bahunya.Alex menyandarkan tangannya seraya menopang kepalanya yang terasa berat."Susah banget kalau kamu sudah marah. Ngebujuknya susah banget," ucap Alex. Kakinya menginjak pedal gas pelan karena lampu lalu lintas telah berubah warna jadi hijau.***Selesai membereskan laporan, Rema meletakkan semua laporan itu di samping laptop Alex."Eh, mau kemana?" tanya Alex saat melihat Rena berjalan menuju pintu dengan membawa tasnya. "S
Hari ini adalah hari kedua Rena tak masuk kantor, karena matanya masih sembab habis menangis setiap malam. Terbayang-bayang dengan foto dan video itu, ia kembali membenamkan diri dalam selimut."Kakak kenapa? Sakit?" tanya Tisa datang menghampiri."Iya nih gak enak badan. Pengen istirahat di rumah aja," sahutnya Rena dari dalam selimut."Ya udah kakak istirahat aja." Tisa berlalu dari kamar kakaknya itu. Ia yakin Rena sedang ada masalah dengan Alex tapi ia tidak mau ikut campur urusan mereka.Tak berselang lama Mama datang ke kamar Rena dan menayangkan keadaan anak sulungnya itu. Ia sudah curiga kalau Rena sedang ada masalah dari gelagatnya beberapa hari ini.“Kalau kamu ada masalah cepat diselesaikan, jangan malah dibiarin. Ayo sekarang cuci muka. Di depan ada Bu Ira sama Putri,” ucap Mama meminta Rena menemui mereka. "Bilang Rena lagi keluar kota aja ya, Ma. Rena lagi pengen sendiri.""Oke tapi masalah kamu harus cepat diselesaikan. Mama sama Tisa
Alex dan Rena pergi ke salah satu toko kue untuk memesan kue ulang tahun untuk Putri. Melihat beberapa kue yang terpajang di etalase, Rena kemudian menunjuk salah satu kue berwarna biru dengan karakter princess."Bagus. Kamu pesan dulu ya, aku angkat telepon sebentar," ucap Alex menjauh dari tempat itu.Agak malas sebenarnya menerima telepon dari Desita, tapi membaca pesannya yang seperti sedang meminta pertolongan, ia jadi tak tega."Ya sudah kita ketemu di kantor aku aja jam setengah delapan," ucap Alex pelan."Makasih ya, Lex," sahut Desita dengan suara sedikit serak.Rena yang telah selesai memesan kue, pergi menghampiri Alex dan mengejutkannya."Telepon dari siapa sih? Serius amat,” kata Rena menepuk pundak Alex."Teman lama ngajak ketemuan. Katanya mau curhat tentang bisnisnya," ucap Alex berdusta. Kenyataannya ia tak terlalu berdusta, karena mengatakan yang sebenarnya. Kurangnya hanya satu, tak menyebutkan nama teman lamanya itu."Oh ya udah. K
"Mas, ini berkasnya sudah siap. Berangkat jam berapa?" tanya Rena yang sedari tadi bolak balik mengecek berkas takut ada yang ketinggalan."Ha?" Alex tak fokus dengan pertanyaan Rena. Ia malah menarik tangan gadis itu dan mendudukkannya di pangkuan."Mas, nanti ada yang liat," protes Rena."Biarin aja kenapa," sahut Alex, "nanti kamu mau pakai baju apa, kebaya? Atau gaun?" Alex menunjukkan layar laptop."Saya kira Mas Alex ngapain, kelihatan serius. Eh, taunya liatin ini," ucap Rena.Secara tiba-tiba pintu terbuka, tampak Tria berdiri mematung melihat pemandangan yang di depannya."Aduh maaf ganggu, Pak," ucapnya hendak menutup pintu lagi."Gapapa. Ada apa?" tanya Alex santai yang tak membiarkan Rena untuk beranjak dari pangkuannya."Ini, Pak. Laporan dari Bu Een," ucap Tria meletakkan laporan itu di atas meja lalu berbalik hendak meninggalkan ruangan."Tria," panggil Alex."Iya, Pak.""Jangan kaget kalau nanti kamu bakal sering liat aku m
Mereka tengah menggeser beberapa barang di ruang tamu dan memindahkannya ke kamar agar ruang tamu tampak sedikit luas. "Mbak, Ibu mertua Mbak datang tuh," bisik Tante Bunga.Mama menoleh ke arah pintu depan, ia kemudian meminta Tante Bunga untuk mengawasi petugas katering yang mulai menyiapkan makanan.Mama lalu menemui Oma Ida dan Papi Citra di depan dan menyuruh mereka masuk."Mbak, yang lain sibuk. Jadi saya sama Ibu aja yang datang," ucap Papi Citra memberitahu."Gapapa. Saya tinggal ke dalam dulu ya, Bu. Mau beres-beres.""Iya." Oma Ida memperhatikan beberapa orang berseragam hitam yang lalu lalang membawa kartu wadah makanan.“Dia benar-benar bisa menghandle semuanya sendiri,” gumam Oma Ida memuji Mama dalam hati.Tepat dengan janjinya, Alex datang bersama Ira dan Putri.Gadis kecil itu berbisik pada Alex meminta izin agar bisa bersama dengan Tisa karena tak nyaman berada di keramaian."Iya, Sayang," ucap Alex membintangi putrinya
"Pilih gaun yang oke ya," ucap Alex saat mereka berada di salah satu butik untuk memilih gaun yang akan Rena pakai untuk acara jamuan makan malam. Peresmian ini akan diadakan sebanyak dua kali acara. Pagi peresmian yang akan disiarkan di salah satu stasiun tv karena akan langsung dibuka oleh Gubernur Jakarta sekaligus berkeliling memperlihatkan fasilitas dan benefit yang akan di dapat. Sementara untuk acara malam, khusus untuk rekanan bisnis dan mitra kerja."Oke apanya, Mas? Oke seksinya ya," tebak Rena."Jangan. Nanti kamu banyak yang lirik lagi di sana. Kamu kan datang kesana sebagai calon istri saya, bukan sekretaris," ucap Alex.Rena mengulum senyum. Ia lalu menunjukkan satu gaun tanpa lengan berwarna soft pink dengan panjang di bawah lutut."Coba dulu, kayaknya sih oke," ucap Alex berjalan menuju ruang ganti."Eh, ngapain? Tunggu di luar aja, Mas!" seru Rena kala Alex hendak ikut masuk ke dalam ruang ganti."Bantuin buka resleting," ucap Alex dengan waj
"Mama lagi perjalanan menuju Jakarta ya, Ren. Tante Bunga harus pasang ring," ucap Mama di seberang telepon."Hah! Tante Bunga sakit separah itu, Ma?" tanya Rena tak percaya. Alex yang berada di ruangan, mencoba mendengarkan percakapan Rena di telepon."Iya, Sayang. Nanti sore kamu langsu
Telah berpakaian rapi dan menentang tas di tangannya, Rena keluar dari kamar menuju ruang tamu."Kaka mau jalan sama Kak Alex ya?" tanya Tisa yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya di laptop."Kenapa jadi sama dia? Kakak mau keluar sama Nico," sahut Rena meralat ucapan adiknya."
Setelah hujan deras kemarin, kini pagi tampak begitu indah dengan sinar matahari. "Hari ini Rena harus baca surat ini," ucap Alex sambil memegang kertas yang berisi pesan dari Reina. Pagi-pagi sekali ia sudah tiba di kantor dan memastikan bahwa jadwalnya kosong."Tumben sudah di kantor,
Rena tak menghiraukan Alex yang berkali-kali memanggil untuk memintanya tetap berada di ruangan.“Memangnya dia siapa? Mentang-mentang dia bos lalu bisa seenaknya,” gumam Rena dalam hati langsung meninggalkan kantor saat jam pulang telah tiba.Rasanya tak terima dengan sikap Alex yang mar







