Share

Tak Sengaja Bertemu

Author: Lystania
last update Last Updated: 2025-12-06 14:40:24

Dengan sisa gajinya yang ada, Rena membayarkan tagihan listrik dan air melalui aplikasi di ponselnya. Sesuai dengan ucapan Alex, harusnya hari ini gajinya sudah masuk ke rekening.

"Apa karena hari ini hari sabtu ya?" tanyanya sendiri. Ia berkali-kali mengecek aplikasi mobile banking-nya, tapi saldonya masih tetap sama. Tak ada penambahan, malah kurang karena membayar tagihan tadi. Rena melempar kesal ponselnya ke atas kasur, kemudian melangkah keluar. Untung saja, Mama dan Tisa sudah punya kegiatan masing-masing hari ini, kalau tidak mereka pasti sudah mengajak Rena untuk jalan-jalan. Setelah Tisa dan Mama pergi, Rena juga bersiap, untuk pergi ke mall. Cuci mata untuk menghilangkan penat sejenak.

Mengendarai motor maticnya, Rena menuju mall yang berada tak jauh dari komplek rumahnya. Gadis itu benar-benar menjaga pandangan matanya agar tidak melihat barang yang menarik perhatiannya. Ia menaiki eskalator berkeliling tiap lantai, kemudian turun. Bersiap hendak menuruni satu lantai lagi, tiba-tiba saja terdengar seseorang memanggil namanya.

"Halo, Putri." Rena berjalan mendekati Putri yang tengah berdiri di depan toko sepatu di dekat eskalator.

"Tante, ikut sama Putri jalan-jalan di mall ya" pinta Putri.

"Maaf, Sayang. Gak bisa. Tante duluan ya." Rena menolak halus permintaan Putri. Ia mengusap lembut pipi Putri, kemudian berbalik meninggalkan Putri. Baru saja akan menapakkan kaki pada anak tangga, terdengar jelas gadis kecil itu memanggil Rena dengan sebutan yang membuatnya terkejut, hingga mengakibatkan langkah kakinya terhenti.

MAMA

Rena berbalik menatap Putri yang berdiri dengan mata berkaca-kaca, membuat Rena tak tega. Tak ada pilihan lain, ia kembali menghampiri Putri. Panggilan yang Putri lontarkan barusan, tidak hanya membuat Rena saja yang kaget, tapi Alex dan Ira, ibunya Alex tercengang mendengar kata yang keluar dari mulut Putri.

"Putri mau kemana?" tanya Rena menggandeng Putri. Tak lupa ia melemparkan senyum pada Alex dan Ira yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Siapa wanita yang bersama Putri itu?" tanya Ira menyadarkan lamunan Alex.

"Karyawan Alex di kantor."

"Dekat? Sampai-sampai Putri bisa panggil mama sama dia?"

"Lumayan dekat sih, Ma."

"Kamu sudah hampir tiga tahun sendiri, belum ada niatan untuk mencari pasangan?"

"Kita bahas nanti aja ya, Ma. Dia itu dekat sama Putri bukan sama aku," ucap Alex sambil berjalan menghampiri Rena dan Putri.

Ira menarik nafas panjang. Meski ia tidak pernah memaksa Alex untuk menikah lagi, tapi ia sudah sangat ingin melihat Alex memiliki pasangan lagi.

***

“Awas aja kalau dia berani bilang kalau aku mau mengambil keuntungan lagi,” gumam Rena dalam hati saat mereka sedang makan di salah satu restoran sebelum pulang.

Saat Ira sedang ke kamar kecil, Alex langsung menyodorkan ponselnya dan meminta Rena untuk memasukkan nomor rekeningnya.

"Ini, Pak." Dengan cepat Rena mengembalikan ponsel Alex setelah selesai memasukkan nomor rekeningnya.

"Tante ikut kita pulang kan?" celetuk Putri membuat suasana langsung hening.

"Tante Rena punya rumah sendiri, Sayang," ucap Ira.

"Aku bayar dulu, Ma." Alex bangkit berdiri.

Sedikit merajuk, Ira mencoba untuk membujuk Putri dan mengatakan kalau Rena akan ikut mengantar sampai ke mobil.

"Makasih ya, Mbak Rena. Kita pulang duluan," pamit Ira diiringi dengan lambaian tangan Putri. Sementara Alex hanya memandang datar ke arah Rena.

Di dalam mobil, Ira yang sangat penasaran kenapa Putri sampai memanggil Rena dengan sebutan mama, langsung bertanya pada cucunya itu.

"Putri tadi panggil apa sama temennya Papa?"

"Panggil apa, Oma? Tante ya."

"Bukan itu. Yang waktu Putri nangis tadi," ucap Ira lagi.

"Mama," ucap Putri polos.

"Kok panggil mama?"

"Kan biar sama kayak Papa. Papa panggil Oma, Mama. Terus Putri panggil Mama sama siapa dong?" Kalimat yang begitu biasa, namun memiliki arti yang sangat dalam. Alex dan Ira saling berpandangan.

Entah apa yang kini sedang dirasakan Putri, hingga ucapan seperti itu keluar dari mulut mungil gadis berusia empat tahun itu.

Begitu sampai di rumah, Putri yang sudah tertidur pulas, digendong oleh Alex ke kamarnya. Berharap bisa langsung istirahat, Ira malah memanggil Alex untuk bicara di ruang tamu.

"Sudah saatnya kamu memikirkan kebahagiaan Putri, Lex."

"Selama ini yang Alex lakukan untuk kebahagiaan Putri, Ma. Supaya segala kebutuhannya terpenuhi. Alex gak mau Putri kekurangan apapun."

"Yang kamu ucapkan itu memang benar. Tapi yang kamu pikirkan itu hanya kebahagiaan luarnya saja. Putri itu punya hati. Hati yang harus kamu pikirkan."

Alex terdiam. Selama ini ia memang terlalu fokus bekerja sehingga kurang memperhatikan kebutuhan emosional Putri. Kebersamaan dengan anak perempuannya itu sangat kurang. Belakangan ini Alex memang suka membawa Putr ikut ke kantor, dengan alasan agar waktu dengan Anaknya semakin berkualitas. Walau kadang-kadang Putri lebih banyak main dengan karyawannya.

"Mama sangat yakin pasti banyak wanita yang mau sama kamu. Atau, mau Mama yang cariin jodoh buat kamu?"

"Nggak lah, Ma. Ngapain dijodoh-jodohin? Alex masih laku dan bisa cari sendiri."

"Kalau bisa cari sendiri, ya carilah. Jangan kelamaan. Kasihan Putri. Kamu gak boleh egois."

"Iya, Alex bakal cari. Tapi nyari Mama buat Putri kan gak mudah, Ma. Alex juga gak mau sembarangan."

"Mama tahu. Kamu harus ingat ya, kriteria utamanya, wanita itu harus bisa menerima dan menyayangi Putri seperti anaknya sendiri."

"Kalau gitu Alex cari pengasuh aja buat Putri."

"Memangnya kamu gak mau nikah lagi? Gak pengen ada yang ngurusin kamu? Menyiapkan semua kebutuhan kamu? Gak mau ada yang perhatian sama kamu? Kamu masih ada hasrat kan sama perempuan?"

"Masih lah, Ma. Alex masih normal, tapi Alex masih nyaman sendiri."

"Mungkin sekarang kamu masih nyaman sendiri, tapi waktu terus berputar. Ada saatnya kamu perlu teman untuk berbagi suka duka. Bukan, Mama. Tapi pasangan kamu."

Tidak ada sanggahan ataupun komentar lagi dari Alex. Mendengar apa yang dikatakan Ira, sedikit membuka pikiran pria itu. Tidak mungkin dia terus berada dalam situasi ini. Sendiri dan sedikit keteteran mengurusi anak semata wayangnya. Namun, ada satu hal yang membuat Alex bingung. Pesan mendiang istrinya yang telah menyiapkan satu nama untuk menggantikan posisinya. Nama yang masih sulit untuk Alex terima.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Salah Ruangan

    Hari ketiga Alex tak masuk kantor. Ia tengah berada di rumah sakit, menemani Ira yang sedang dirawat karena sakit jantungnya kumat. Itu artinya, sudah dua malam Rena lembur menjadi pengasuh. Sepulang kerja, ia harus ke rumah Eric untuk menemani dan menidurkan Putri. Meski di rumah Alex ada Bi Siti yang menemani, Putri bersikeras ingin ditemani tidur oleh Rena.Dengan mata yang masih mengantuk, ia berjalan menuju meja kerjanya."Pulang jam berapa dari rumah Pak Alex, Ren?" tanya Manda."Gak tahu, Nda. Gak lihat jam lagi." Rena menyahut dengan mulut menguap lebar."Kamu tidur sana gih di ruangan Pak Alex. Soalnya nanti siang, pesan Pak Alex kamu harus ke rumah sakit, bawain buku cek yang harus ditandatangani dia," ucap Bu Ria."Kenapa gak Manda aja sih yang disuruh," sungut Rena hampir menangis."Pesan Pak Alex gitu, gimana dong," sahut Manda."Yang penting sekarang kamu istirahat aja sana," suruh Bu Ria lagi.Dengan langkah sempoyongan Rena menuju ruangan Alex. Merebahkan diri di atas

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Perseteruan Sepihak

    "Ada gila-gilanya kali Pak Alex ya, Nda?"Manda tertawa seraya mengaduk minumannya. Mereka tengah menikmati waktu senja di salah satu cafe dekat kantor, setelah pulang kerja."Jadi pengasuh Putri itu ide bagus kali, Ren.""Aku memang senang bisa main sama Putri, tapi membayangkan akan terus berhadapan sama Pak Alex, aku gak sanggup, Nda.""Siapa tahu upah jadi pengasuh Putri besar, Ren. Lumayan kali buat tabungan. Anaknya Pak Alex kan baik, nurut lagi sama kamu. Pasti gak bakal repot ngurus dia. Lagian pekerjaan jadi pengasuh itu bagus. Bagus untuk mengasah kemampuan mendidik anak."Seraya memakan sosis yang ada di meja, otaknya berpikir. Semua perkataan Manda ada benarnya juga. Untuk anaknya, pasti Alex rela memberikan yang terbaik. Termasuk upah yang setimpal untuk menjadi pengasuh.***"Tadi Putri main sama Tante Rena lo, Oma," lapor Putri pada Ira sesaat setelah selesai makan malam."Kata Papa, Putri sekolah. Kok malah main sama Tante Rena?""Baru sebentar ditinggal, dia sudah nan

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Tugas Baru

    Sabtu ini, Rena harus terima kalau Mama dan Tisa pergi liburan ke rumah Tante Olin, Adik Mama, yang berada di Bandung. Yang artinya beberapa hari ke depan Rena akan sendirian di rumah. "Kamu hati-hati ya di rumah," pesan Mama sebelum masuk ke mobil yang dikirimkan Tante Olin untuk menjemput. "Iya, Ma." "Dadah, Kakak." Tisa melambaikan tangannya dari balik kaca jendela mobil. Begitu mereka pergi, Rena juga bersiap pergi ke kantor. Tak lupa ia membeli sarapan pagi sebelum tiba di kantor. Tampak Manda telah sibuk dengan tumpukan berkas yang menggunung di atas mejanya, hingga wajahnya tak terlihat lagi. "Ngapain sih pagi-pagi sudah makan kertas?" Rena meletakkan tasnya di meja. "Kerjaan kamu nih, Ren," ucap Manda. "berkas yang kemarin kecampur sama berkas yang sudah beres. Jadinya kan harus dipilih lagi." "Aduh maaf ya, Nda. Aku kirain kemarin berkas yang di meja kamu itu sama kayak berkas yang aku kerjain. Jadinya aku gabung. Ntar aku makan sebentar ya, nanti aku pisahin

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Lelaki Lain

    Rena telah tiba di kantor. On time. Tekadnya tak ingin lagi terlambat masuk kantor, agar Alex tidak memiliki alasan untuk mengomeli dan menunda pembayaran gajinya lagi."Tumben kamu sudah datang?" tanya Manda yang melihat Rena sudah duduk dibalik layar komputernya."Biar bos gak ada alasan buat nunda pembayaran gaji aku.""Hah!" seru Manda kaget.“Kesel banget tahu gak sih, sama kelakuan Pak Alex. Rasanya pengen nonjok muka dia.”“Tapi kalau aku lihat, kayaknya Pak Alex bermasalahnya cuma sama kamu aja deh, Ren.”“Aku juga gak ngerti. Apa sih, salah aku sama dia? Semua yang aku kerjakan pasti ada aja yang bikin dia ngomel.”Lisa menjentikkan jarinya. “Aku tahu salah kamu apa?”Rena memasang tampang serius, siap mendengarkan ucapan Manda.“Salah kamu itu, kamu kurang perhatian sama Pak Alex. Kamu kan sekretaris dia, harusnya kamu lebih perhatian sama dia. Bukannya malah ngejar bonus dari penjualan rumah.”“Perhatian dari hongkong! Ya kali perhatian sama dia bisa dapat uang. Lebih baik

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Tak Sengaja Bertemu

    Dengan sisa gajinya yang ada, Rena membayarkan tagihan listrik dan air melalui aplikasi di ponselnya. Sesuai dengan ucapan Alex, harusnya hari ini gajinya sudah masuk ke rekening."Apa karena hari ini hari sabtu ya?" tanyanya sendiri. Ia berkali-kali mengecek aplikasi mobile banking-nya, tapi saldonya masih tetap sama. Tak ada penambahan, malah kurang karena membayar tagihan tadi. Rena melempar kesal ponselnya ke atas kasur, kemudian melangkah keluar. Untung saja, Mama dan Tisa sudah punya kegiatan masing-masing hari ini, kalau tidak mereka pasti sudah mengajak Rena untuk jalan-jalan. Setelah Tisa dan Mama pergi, Rena juga bersiap, untuk pergi ke mall. Cuci mata untuk menghilangkan penat sejenak.Mengendarai motor maticnya, Rena menuju mall yang berada tak jauh dari komplek rumahnya. Gadis itu benar-benar menjaga pandangan matanya agar tidak melihat barang yang menarik perhatiannya. Ia menaiki eskalator berkeliling tiap lantai, kemudian turun. Bersiap hendak menuruni satu lantai lagi,

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Tertunda

    Rena berbaring sembari melepas pelan hansaplast yang menutupi luka di jari telunjuknya. Memorinya memutar ulang kejadian di dapur kemarin."Ada apa dengan Pak Alex ya?" Rena memandangi jari telunjuknya."Kok belum tidur? Sudah jam sepuluh begini," ucap Mama membuat Rena kaget lantas menarik selimutnya.***Tidak ingin terlambat sampai ke kantor, pukul enam gadis itu telah bangun. Setelah mengenakan pakaian dan memoles tipis make up pada wajahnya, Rena menyampirkan tas di baju lantas keluar dari kamar."Kak, Tisa ikut sampai depan ya?""Tapi kamu sudah siap ‘kan?""Sudah dong, kak,” ucap Tisa tersenyum lebar. Begitu menurunkan Tisa di depan komplek, Rena langsung meneruskan perjalanannya menuju kantor. Begitu senangnya Rena saat mendapati kantor masih sepi. Hanya ada ia dan Pak Lukman, lelaki paruh baya yang bertugas menjaga dan membersihkan kantor."Pagi banget sudah datang ke kantor, Mbak?""Iya nih, Pak," sahut Rena seraya berjalan menuju mejanya, melewati Pak Lukman yang sedang me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status