MasukKalimat itu dikatakan dengan penuh penekanan. Akan tetapi Song Jingren lebih dulu menarik pedangnya sebelum Moran sempat menyanggah. Hanya perlu hitungan detik, pria itu memutar pergelangan tangannya lalu menarik kembali senjatanya. Ia mengembalikan pedang kepada Jin Lin dan pergi melewati Moran begitu saja.
Baru setelah sosoknya menjauh, Moran menyadari lututnya melemah. Dunia di sekelilingnya seakan bergoyang. Ia terhuyung satu langkah ke belakang.
“Nyonya!” Xi Bao berlari cepat, rok pelayannya terseret di lantai batu. Ia memeluk pinggang Moran dan menahan tubuhnya agar tidak jatuh. “Nyonya, apa Anda terluka?”
Moran mengangkat tangan, memberi isyarat agar pelayannya tidak panik. Napasnya masih berantakan. Dadanya naik turun dengan cepat. Ia menyentuh lehernya perlahan, ujung jarinya meraba kulit yang masih terasa panas. Tidak ada darah. Hanya bekas garis tipis yang perih ketika tersentuh.
“Tidak,” gumam Moran pelan setelah berhasil menelan ludahnya. “Aku hanya terkejut saja.”
Xi Bao mengembuskan napas pendek, lalu memutar bola matanya dengan kesal. Tangannya masih belum melepaskan lengan Moran, seolah takut Nyonya mudanya kembali limbung.
“Para pria suka sekali bicara pakai kekerasan ya?” gerutunya. “Kemarin pendekar misterius itu, sekarang Jenderal Song. Entah besok siapa lagi yang akan mengacungkan pedang pada Nyonya.”
Moran tersenyum tipis mendengar nada sinis itu. Ia merapikan rambutnya yang tergerai, lalu mengibaskan debu yang tak terlihat dari lengannya. Dalam benaknya, ia tahu Yin Zhen jelas menyadari ada banyak orang di rumah itu. Pria itu hanya ingin mengambil peluitnya tanpa perlu memperpanjang urusan. Song Jingren pun bertindak bukan tanpa alasan. Ia melindungi bawahannya dan menjaga wibawanya sebagai jenderal.
Moran menurunkan tangannya dari leher dan menegakkan punggungnya. “Sudahlah, kita selesaikan saja urusan yang lebih penting.”
Wanita yang kini sah menjadi Nyonya Jenderal itu menepuk-nepuk gaun hanfunya sendiri, memastikan lipatannya kembali rapi. Lalu melangkah menuju halaman samping.
“Hari ini kita harus memasak untuk dua ratus prajurit dan lima puluh orang di kediaman,” lanjutnya sambil berjalan pelan ke arah dalam. “Tolong ambilkan kuas dan kertas. Antarkan ke dapur. Aku akan mencatat bahan yang perlu dibeli.”
Xi Bao ternganga. “Nyonya sungguh ingin memasak sebanyak itu?”
Moran berhenti sejenak di ambang pintu, lalu menoleh dengan dagu terangkat. “Hari ini aku resmi menjadi Nyonya Jenderal. Tentu saja aku harus membagi kebahagiaan dengan bawahan suamiku.”
Wajah Xi Bao yang tadi mulai tenang kembali berubah panik. Ia mengejar dua langkah di belakang Moran, lalu menahan lengan bajunya dengan hati-hati.
“Nyonya, Anda ini…” Gadis pelayan itu menggeleng cepat, kepalanya hampir terantuk kusen pintu karena terlalu tergesa. “Pantas saja Jenderal menodongkan pedang dan bicara seperti itu.”
Moran mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
Xi Bao membuang napas panjang, lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dada seolah memohon agar langit memberi kesabaran. “Anda pernah memasak untuk Tuan Besar. Pada akhirnya Tuan Besar harus dirawat empat hari karena Anda memakai garam pahit yang biasa dipakai untuk merendam kaki.”
Kelopak mata Moran berkedip. “Separah itu aku membuat kesalahan?”
Anggukan Xi Bao terlihat terpaksa. “Kabar itu sudah tersebar di seluruh ibu kota. Jenderal Song juga pasti tahu.”
Moran menarik napas dan memejamkan matanya sejenak sebelum menggiring langkahnya menuju dapur. Ujung lengan bajunya terangkat sedikit saat ia menyibakkan tirai linen. Aroma kayu bakar dan sisa asap menyambutnya. Ia menatap tungku besar di tengah ruangan.
“Kamu tenang saja,” kata Moran sambil menggulung lengan hanfunya sampai ke pergelangan. “Kali ini aku akan membaca labelnya dengan benar.”
Xi Bao pasrah saja lalu bergegas mengambil kuas dan kertas seperti diperintahkan, meski wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia sudah membayangkan kekacauan yang akan terjadi di dapur hari itu.
Hanya saja kekhawatiran Xi Bao sama sekali tidak terbukti. Saat pulang dari pasar, gadis pelayan itu berhenti di ambang dapur, matanya membesar melihat Moran yang tampak tenang dan fokus.
Moran memegang adonan kecil di telapak tangannya, kemudian dengan gerakan cekatan, ia menekan dan memipihkannya menggunakan kayu penggulung. Setiap bulatan kecil berubah menjadi bentuk sempurna, rata dan seragam, seolah tangan Moran memiliki ketelitian seorang ahli.
Anehnya, dapur itu masih tampak rapi. Padahal dulu, memasak adonan satu porsi mie saja, Moran sudah bisa membuat dapur di kediaman Yang seperti kapal pecah.
Xi Bao menelan ludah, tidak menyangka Nyonya mudanya tampak menjadi orang yang berbeda.
“Kenapa masih berdiri di situ, Xi Bao? Daging itu tidak akan matang kalau terus kau bawa,” tegur Moran sambil memotong-motong adonan dengan gerakan luwes.
Xi Bao tertegun beberapa detik, kemudian perlahan melangkah mendekat, menaruh barang belanjaannya di meja kayu panjang. “Nyonya… anda membuat adonan sebanyak ini sendiri?” tanyanya dengan nada campur tak percaya dan kagum.
Daging seberat hampir dua puluh jin yang baru saja dibawa Xi Bao ia letakkan di sisi meja. Moran menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Tentu saja. Sambil menunggu daging datang, aku harus menyiapkan adonan ini. Kalau tidak, waktunya tidak akan cukup.”
“Dimana Bibi Shu dan pelayan yang lain? Mereka tidak membantu anda?” Xi Bao memandang ke sekeliling hanya ada beberapa pelayan yang membawa sprei dan sarung bantal kotor berjalan di koridor.
“Bibi Shu sedang menangani urusan lain di luar kediaman. Pelayan yang lain … mereka tiba-tiba punya kesibukan saat melihatku.” Moran mengangkat bahunya.
“Keterlaluan sekali, beraninya mereka mengabaikan Anda seperti ini!” dengkus Xi Bao, menatap adonan yang tengah Moran bentuk. “Sekarang anda sudah menjadi Nyonya, Kenapa Anda diam saja?”
Namun, Moran hanya menanggapi dengan senyum tipis, matanya tetap tertuju pada adonan. “Kalau aku meladeni mereka sekarang, roti pipih isi daging ini tidak akan matang sebelum makan siang. Lagipula di rumah ini mereka memang punya tugas sendiri-sendiri. Mereka tidak akan sempat membantuku.”
“Tapi, Nyonya—”
“Bukankah sekarang ada kamu yang membantuku, hm? Tolong bersihkan daun-daun bawang itu, ya.” Moran kembali menerbitkan senyum untuk menenangkan Xi Bao.
Xi Bao mengangguk, kemudian mengeluarkan beberapa ikat daun bawang dari kantong belanja. Tiba-tiba ia seolah teringat sesuatu dan menoleh ke arah Moran. “Nyonya… apakah Anda sudah melihat hadiah yang dikirim tadi pagi?”
“Song Jingren?” Sumpit dan mangkok kecil di tangan Moran hampir saja terlepas dari genggaman. Ia benar-benar tidak menyangka pria itu akan menampakkan batang hidungnya di kediaman ini.Di sisi lain, Tuan Besar Yang sudah lebih dulu pucat. Ia langsung berdiri dari kursinya, bahkan sumpitnya masih tergenggam di tangan. Kepalanya menunduk dalam.“Jenderal Song… maafkan ucapan istriku tadi,” katanya tergesa. “Kami sama sekali tidak bermaksud menyinggungmu.”Nyonya Yang ikut berdiri. Wanita itu bahkan tidak berani menatap menantunya. Kepalanya ikut menunduk.Moran yang melihat itu lantas meletakkan alat makannya di meja dan bangkit berdiri. Sudut bibirnya terangkat ringan sama halnya dengan tangan yang begitu saja melingkar di lengan Song Jingren. “Jingren, Ibu hanya bertanya kenapa kamu tidak bisa hadir bersamaku, tidak memiliki maksud lain.” Moran sebenarnya sudah bersiap menghadapi amarah, tetapi Song Jingren justru membalas senyum meski hanya sesaat sebelum menoleh pada mertuanya. “A
Jin Lin mengangguk cepat dan segera menyusul keluar. Ia tahu benar, begitu Song Jingren memutuskan sesuatu, bahkan langit pun tidak akan mampu menahannya.Pada akhirnya, ia hanya bisa merapal doa dalam hati, berharap tidak akan terjadi keributan lagi di antara pengantin baru itu.***Asap tebal mengepul di dapur kediaman Keluarga Yang. Api di atas wajan menyala liar, membuat Tuan dan Nyonya Besar Yang saling pandang dengan wajah tegang.Mereka hampir yakin Moran akan mengulang bencana terakhirnya. Namun ketika hidangan akhirnya tersaji di meja, keduanya justru terdiam.Daging sapi tampak lembut. Sayurannya tertata rapi. Aromanya bahkan… menggoda. Yang paling mengejutkan? Tidak ada yang terbakar. Semua barang kembali seperti semula di tempatnya.“Moran… sejak kapan kamu bisa memasak seperti ini?” Nyonya Yang terkesiap, matanya tak lepas dari hidangan di meja makan.“Baru sehari di rumah Jenderal Song, kau langsung hebat dalam memasak?” Yang Tianyu ikut menimpali, nadanya setengah tida
Moran menyesap sedikit teh Longjing sebelum meletakkan kembali cangkirnya. Ancaman seperti ini terlalu langsung. Di zamannya dulu, orang-orang akan membungkusnya dengan senyuman.“Tuan Shen bercanda? Masalah pernikahan kemarin adalah urusan kita berdua. Tidak ada kaitannya dengan ayah.”Kekehan tawa Tuan Shen terdengar renyah di ruangan itu. “Moran… Kau menikah dengan Song Jingren. Menurutmu para pejabat lain masih akan menganggap Keluarga Yang netral?” Tuan Shen menatapnya, suaranya tetap datar. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Song Jingren memang belum menyatakan sikap politiknya. Tapi ia dekat dengan Pangeran Kedua. Apa itu masih belum cukup jelas?”Sepasang mata Moran nyaris berputar malas, meski ekspresinya tetap tertahan. Gadis itu membuang napas panjang.“Aku memang tidak mengerti politik istana,” ujarnya ringan. “Tapi sekalipun Song Jingren adalah suamiku, aku juga tidak bisa mengubah pendapatnya.”Tuan Shen akhirnya mendengus, seolah kehabisan kesabaran. “Kalau begit
Moran menatap pantulan wajahnya di cermin perunggu beberapa saat. Jemarinya merapikan ujung anting di telinga sebelum akhirnya ia menoleh pada Xi Bao.“Tidak apa-apa,” ujarnya tenang. “Jingren adalah pejabat militer. Banyak urusan di Biro Keamanan Internal. Ayah dan Ibu pasti bisa memakluminya.”Xi Bao terdiam sejenak. Ia lalu perlahan mengangguk, meskipun keraguan di wajahnya belum sepenuhnya hilang. “Kalau begitu… biarkan saya menyiapkan kereta,” katanya akhirnya.***Paviliun Sepuluh Ribu Tamu.Bangunan bertingkat tiga itu berdiri megah di tepi Jalan Qingyun, salah satu jalan paling ramai di kota. Meski matahari baru saja naik, ruang makan di dalamnya telah dipenuhi para tamu. Pedagang, pengelana, hingga para cendekiawan duduk memenuhi meja-meja kayu. Sementara para pelayan lalu-lalang membawa nampan berisi teko teh dan hidangan panas.Ketika Moran melangkah masuk, gelombang keramaian itu seolah menyambutnya dari segala arah. Aroma makanan, denting mangkuk porselen, dan suara tawa
Malam itu akhirnya berlalu tanpa kejadian lain yang mengkhawatirkan. Entah bagaimana caranya, hidangan yang Moran siapkan ternyata cukup mengejutkan para penghuni rumah.Bahkan Wen Ruyue yang biasanya cukup pemilih dalam urusan makanan tampak mengangguk beberapa kali sepanjang makan malam. Sementara Song Guoting, yang sejak awal tidak banyak berbicara, akhirnya menghabiskan satu mangkuk nasi hingga bersih. Sikap diamnya saja sudah cukup menjadi jawaban bahwa ia merasa puas.Walau malam itu juga Moran dan Jingren harus bersandiwara sebagai sepasang suami istri yang sesungguhnya.***Keesokan paginya, langit baru saja memucat ketika halaman kediaman Song Jingren kembali sibuk. Song Guoting harus berangkat lebih awal untuk kembali ke perbatasan. Urusan militer tidak pernah memberi banyak waktu untuk beristirahat.Namun Wen Ruyue tidak ikut pergi bersamanya. Ia memutuskan tinggal di kediaman itu selama beberapa hari lagi, sekalian menunggu Song Jingwen, putri bungsunya, pulang dari Akadem
Gadis yang kini telah resmi menjadi istri Song Jingren itu menoleh kepada Jin Lin yang baru saja kembali mengganti air untuk kesekian kalinya. Sementara itu, Song Jingren hanya duduk diam di tepi dipan. Sesekali tangannya mencengkeram sisi ranjang dengan kuat, seolah menahan gelombang rasa sakit yang datang silih berganti.“Nyonya, tetapi Jenderal tadi sudah meminum sup penghenti pendarahan,” jawab Jin Lin. Wajahnya pun tidak luput dari bayang-bayang kekhawatiran. “Saya tidak mungkin membuatnya lagi.”“Sup herbal itu terlalu lambat efeknya.” Moran mengerutkan kening. “Di mana tabib? Kenapa dia belum sampai juga? Jika terus seperti ini, dia akan mati kehabisan darah!”Ia segera menekan kain bersih pada luka cambukan yang terbuka di punggung Song Jingren. Kedua tangannya menekan sekuat mungkin, tetapi darah masih merembes keluar, perlahan membasahi kain yang baru saja diganti.Usahanya hampir tidak memberi hasil.Jin Lin terdiam sejenak sebelum berkata pelan, “Tabib sedang dipanggil dari
Moran segera meninggalkan aula leluhur dan berjalan menuju kamarnya. Jaraknya tidak jauh, hanya beberapa langkah melewati koridor yang sunyi. Lentera yang tergantung di bawah atap bergoyang perlahan tertiup angin sore. Bayangan mereka memanjang di lantai batu.Di belakangnya, Jin Lin berjalan beber
Moran meletakkan kayu penggulung setelah memipihkan adonan terakhir. Ia menepuk-nepukkan kedua tangannya untuk menghilangkan sisa tepung yang menempel di telapak dan jemarinya. Butiran tepung beterbangan tipis di udara sebelum perlahan jatuh ke meja kayu yang sudah penuh taburan putih.“Hadiah itu
Xi Bao melirik sekitar. “Pengantar barang tidak menyebutkan nama pengirimnya hanya bilang dari sepupu jauh dari Nanhe,” ujar Xi Bao merendahkan suaranya semakin pelan. “Tapi Nona tidak punya kerabat dari Nanhe. Mungkinkah ini dari Nona Shuyan?”Moran tidak langsung menjawab. Tatapannya turun pada k
"Kenapa? Berharap pria lain yang datang ke sini?" sindir pria itu dengan nada datar. Moran mengatupkan bibirnya. Sejenak merutuki kebodohannya. Memangnya siapa lagi kalau bukan Song Jingren? Hanya dia yang bisa datang ke kamar ini. Juga pedang ganda di pinggang sudah memperjelas identitasnya.Diam-







