Daftar belanja masih tergenggam di tangan Moran. Kertas itu sudah kusut oleh keringat. Tanpa berpikir lebih lama, ia menyodorkannya kepada Xi Bao.“Kau beli sisanya. Aku pulang dulu,” ucapnya cepat.“Nona tapi anda—”Xi Bao belum sempat bertanya ketika Moran sudah berbalik dan berlari.Langkah wanita itu tergesa membelah jalanan pasar yang semakin padat. Ia tidak tahu apakah takdir benar-benar bisa diubah, tetapi ia harus memastikan semuanya dengan mata kepala sendiri.Orang-orang saling bersenggolan, suara tawar-menawar bercampur dengan teriakan pedagang yang memanggil pembeli. Moran hampir menabrak seorang anak kecil yang berlari melintas, lalu segera meminta maaf sebelum menyewa sebuah kereta kuda.***Tiba di kediaman keluarga Yang, Moran melihat dua pelayan berdiri di sisi pintu dengan wajah tegang. “Nona, Tuan Besar menunggu di ruang tengah,” kata salah satu diantara mereka. Moran mengangguk dan segera melesat ke tempat itu.Begitu melewati ambang ruang tengah, aroma obat-obat
Read more