Share

Chapter 9 | Hadiah Pernikahan

last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-28 19:33:40

"Kenapa? Berharap pria lain yang datang ke sini?" sindir pria itu dengan nada datar. 

Moran mengatupkan bibirnya. Sejenak merutuki kebodohannya. Memangnya siapa lagi kalau bukan Song Jingren? Hanya dia yang bisa datang ke kamar ini. Juga pedang ganda di pinggang sudah memperjelas identitasnya.

Diam-diam Moran menghela napas lega. Setidaknya bukan pembunuh bayaran yang datang. 

“Kenapa kau ke sini?” Moran memandangnya dengan tatapan skeptis.

Dengan wajah yang teramat datar, laki-laki itu membalas, “Kalau tidak, aku akan dicap suami yang tidak niat menikah.” 

Moran mencibir. “Setidaknya kau sadar apa yang kau lakukan!”

Song Jingren menatapnya datar. “Kalau kau berharap pernikahan ini menyenangkan, kau salah orang.”

Pria itu melangkah masuk tanpa izin, lalu menutup pintu di belakangnya dengan satu gerakan ringan. Tatapannya menyapu kamar, lalu berhenti pada Moran yang sudah berganti pakaian. 

Suasana di kamar mendadak terasa lebih sempit. Lilin-lilin kecil di sudut ruangan berkedip tertiup angin entah dari mana, bayangan Song Jingren memanjang di dinding seperti siluet gelap yang sudah membayanginya sejak awal pernikahan ini.

Song Jingren menurunkan pedangnya, meletakkannya di meja kecil, lalu menoleh lagi ke arah Moran. 

"Kau boleh menggunakan semua ruangan di kediaman ini, kecuali ruangan pribadiku yang ada di seberang kamar ini!" Song Jingren mengarahkan telunjuknya tepat pada ruangan yang dibangun bersebrangan dengan kamar itu. Moran sempat melihatnya saat ia masuk ke dalam kamar ini tadi. 

Detik berikutnya Song Jingren melemparkan gulungan kertas ke ranjang Moran. “Berikan cap jarimu di sini!”

Moran meraih gulungan kertas itu. Dahinya spontan berkerut. “Apa ini?”

"Surat perjanjian. Sekaligus aturan yang harus kau patuhi sebagai Nyonya Jenderal," balas lelaki itu tanpa menoleh. 

Lantas, Moran memindai kalimat-kalimat yang tertera pada kertas dalam gulungan kertas itu. Banyak aturan resmi sebagai Nyonya Jenderal yang harus Moran lakukan. Setelah memahaminya, gadis itu mendongakkan kepala menatap Song Jingren. 

"Aturan Nyonya Jenderal ini akan kuingat. Aku juga akan mengurus kediaman dan menjaga nama keluarga Song."

Song Jingren mengangguk sebagai persetujuan. Orang itu masih menyandarkan tubuhnya, tapi pandangannya belum mengendur.

"Cukup lakukan apa yang tertulis di situ. Kau tidak perlu mengurusku, dan aku juga tidak akan mencampuri urusan pribadimu." Song Jingren berhenti sejenak.

“Jika kau melanggar aturan itu, jangan harap kau masih bisa tinggal di kediaman ini.”

“Kalau begitu aku akan berusaha tidak membuatmu repot.” Moran hanya mengangkat bahunya santai. Lalu menunjuk tulisan di paling bawah. “Tapi apa maksudnya tiga bulan ini?”

“Jika tidak ada masalah, tiga bulan lagi kita bercerai secara resmi.”

Moran terdiam beberapa saat. “Bercerai juga harus memerlukan persetujuan Maharani. Kau yakin Maharani akan mengabulkan—”

“Aku punya cara sendiri.” Song Jingren masih bersedekap dan mengamati Moran. Sejak tadi tidak ada raut wajah lain yang ia tunjukkan selain datar.

“Baiklah. Lagipula pernikahan ini bukan pilihanku, juga bukan pilihanmu,” ucap Moran akhirnya, ia mengangkat dagu. “Tapi aku juga punya syarat.”

Alis Song Jingren berkerut samar. “Katakan.”

“Keluarga Yang sekarang adalah keluargamu juga,” ujar Moran seraya menggulung kembali kertas di tangannya. “Ku harap kau bisa menjamin keselamatan mereka, juga jangan laporkan kakakku soal masalah pernikahan ini pada Maharani.”

Song Jingren mengangguk. Setidaknya permintaan itu bisa diupayakan. 

“Satu lagi. Aku tidak seperti putri bangsawan yang mengejar gelar gadis berbakat di Ibu Kota. Aku lebih suka memasak dan berencana membuka usaha. Kuharap kau bukan pria yang berpikiran sempit.”

Song Jingren sedikit menyipitkan mata. Sebelum pernikahan ini diputuskan oleh istana, ia sudah meminta orang menyelidiki keluarga Yang. Termasuk putri kedua mereka yang konon terkenal manja dan suka membuat onar.

Seorang wanita yang seharusnya keras kepala, emosional, dan mudah tersulut amarah.

Namun perempuan yang baru saja berdiri di hadapannya ini sama sekali tidak terlihat seperti itu.

Bahkan ketika Song Jingren melemparkan surat perjanjian itu, Moran menyetujuinya dengan mudah lalu menegosiasikan syaratnya sendiri. Tidak ada emosi, bahkan tidak ada usaha mempertahankan statusnya sebagai nyonya jenderal.

Sikap seperti itu… sama sekali tidak cocok dengan reputasi Moran yang ia dengar selama ini. Entah sejak kapan, Moran dari keluarga Yang tampak jauh lebih… berbeda dari laporan yang ia terima.

Song Jingren menatap Moran beberapa saat. “Lakukan sesukamu. Selama tidak mempermalukan keluarga Song.”

Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Song Jingren menghela napas pendek. 

“Mulai sekarang kau adalah istriku. Besok, biasakan diri dengan rutinitas Nyonya Jenderal.”

Lalu lelaki itu mengambil pedangnya dan berjalan menjauh menuju ruang pribadinya di seberang kamar. Tak ada ucapan selamat malam. Tak ada malam pertama. 

Dan sebaiknya memang tak mengharapkan apapun darinya.

***

Malam itu akhirnya tetap berlalu, entah Moran siap menghadapinya atau tidak. Ia memilih untuk tidak memikirkan apapun lagi. Terlalu banyak hal mengejutkan yang terjadi dalam satu hari, dan kepalanya terasa penuh.

Tidur adalah satu-satunya pelarian yang ia miliki. Setidaknya, dalam gelap tanpa mimpi, waktu akan bergerak lebih cepat.

Hingga akhirnya ...

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu membuyarkan mimpi indah Moran. Ia tergeragap bangun. Napasnya masih berat oleh sisa kantuk ketika ia menoleh ke sekeliling kamar.

Moran baru menyadari tak ada siapa pun di dalam ruangan itu.

Ketukan kembali terdengar. Moran segera menyingkap selimut, bangkit, lalu membuka pintu. 

Di hadapannya berdiri Xi Bao dengan wajah kusut dan kantung mata yang tebal.

“Xi Bao, jam berapa ini? Kenapa kau ke kamarku?” tanya Moran sambil mengucek matanya yang masih berair.

“Baru memasuki waktu Yin,” jawab Xi Bao.

“Waktu Yin?” Moran mendesah panjang. “Itu bahkan belum pukul tiga pagi. Apa semua orang di rumah ini tidak butuh tidur?”

“Nyonya, para pelayan tidak berani membangunkan Anda, jadi saya yang datang. Mereka bilang akan ada apel pagi.”

“Apel pagi?” Moran mengerutkan kening. “Bukannya hanya prajurit yang melakukannya?”

Xi Bao mengangguk kecil, lalu menguap sebelum menjawab, “Jenderal Song Jingren membuat banyak aturan di rumah ini. Salah satunya apel pagi untuk semua penghuni kediaman. Tidak terkecuali Nyonya.”

Moran menatapnya tak percaya, dahi berlipat-lipat. “Sebelumnya mereka pernah melakukannya?”

Xi Bao menggeleng pelan. “Peraturan itu baru ditetapkan setelah Jenderal menikah dengan Nyonya.”

“Apa?!” Mata Moran hampir meloncat keluar. Jadi ini maksudnya “rutinitas istri Jenderal” yang dia sebut semalam? 

Dengan gemas, Moran mengusap wajahnya kasar. “Song Jingren ini benar-benar!”

Moran turun dari ranjang tetapi Xi Bao menahannya. Gadis itu menarik lengan sang majikan ke sudut ruangan. Seraya menyerahkan satu kotak kayu ia berkata dengan suara lirih. “Nyonya, penjaga kediaman bilang semalam ada seorang kurir pengantar barang yang datang, katanya hadiah pernikahan untuk Nyonya.”

Moran memandang kotak itu dengan kerutan dahi. “Hadiah ini … dari siapa?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 28 | Si Tuan Muda Liu

    “Song Jingren?” Sumpit dan mangkok kecil di tangan Moran hampir saja terlepas dari genggaman. Ia benar-benar tidak menyangka pria itu akan menampakkan batang hidungnya di kediaman ini.Di sisi lain, Tuan Besar Yang sudah lebih dulu pucat. Ia langsung berdiri dari kursinya, bahkan sumpitnya masih tergenggam di tangan. Kepalanya menunduk dalam.“Jenderal Song… maafkan ucapan istriku tadi,” katanya tergesa. “Kami sama sekali tidak bermaksud menyinggungmu.”Nyonya Yang ikut berdiri. Wanita itu bahkan tidak berani menatap menantunya. Kepalanya ikut menunduk.Moran yang melihat itu lantas meletakkan alat makannya di meja dan bangkit berdiri. Sudut bibirnya terangkat ringan sama halnya dengan tangan yang begitu saja melingkar di lengan Song Jingren. “Jingren, Ibu hanya bertanya kenapa kamu tidak bisa hadir bersamaku, tidak memiliki maksud lain.” Moran sebenarnya sudah bersiap menghadapi amarah, tetapi Song Jingren justru membalas senyum meski hanya sesaat sebelum menoleh pada mertuanya. “A

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 27 | Kehebatan Moran

    Jin Lin mengangguk cepat dan segera menyusul keluar. Ia tahu benar, begitu Song Jingren memutuskan sesuatu, bahkan langit pun tidak akan mampu menahannya.Pada akhirnya, ia hanya bisa merapal doa dalam hati, berharap tidak akan terjadi keributan lagi di antara pengantin baru itu.***Asap tebal mengepul di dapur kediaman Keluarga Yang. Api di atas wajan menyala liar, membuat Tuan dan Nyonya Besar Yang saling pandang dengan wajah tegang.Mereka hampir yakin Moran akan mengulang bencana terakhirnya. Namun ketika hidangan akhirnya tersaji di meja, keduanya justru terdiam.Daging sapi tampak lembut. Sayurannya tertata rapi. Aromanya bahkan… menggoda. Yang paling mengejutkan? Tidak ada yang terbakar. Semua barang kembali seperti semula di tempatnya.“Moran… sejak kapan kamu bisa memasak seperti ini?” Nyonya Yang terkesiap, matanya tak lepas dari hidangan di meja makan.“Baru sehari di rumah Jenderal Song, kau langsung hebat dalam memasak?” Yang Tianyu ikut menimpali, nadanya setengah tida

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 26 | Mencapai Kesepakatan

    Moran menyesap sedikit teh Longjing sebelum meletakkan kembali cangkirnya. Ancaman seperti ini terlalu langsung. Di zamannya dulu, orang-orang akan membungkusnya dengan senyuman.“Tuan Shen bercanda? Masalah pernikahan kemarin adalah urusan kita berdua. Tidak ada kaitannya dengan ayah.”Kekehan tawa Tuan Shen terdengar renyah di ruangan itu. “Moran… Kau menikah dengan Song Jingren. Menurutmu para pejabat lain masih akan menganggap Keluarga Yang netral?” Tuan Shen menatapnya, suaranya tetap datar. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Song Jingren memang belum menyatakan sikap politiknya. Tapi ia dekat dengan Pangeran Kedua. Apa itu masih belum cukup jelas?”Sepasang mata Moran nyaris berputar malas, meski ekspresinya tetap tertahan. Gadis itu membuang napas panjang.“Aku memang tidak mengerti politik istana,” ujarnya ringan. “Tapi sekalipun Song Jingren adalah suamiku, aku juga tidak bisa mengubah pendapatnya.”Tuan Shen akhirnya mendengus, seolah kehabisan kesabaran. “Kalau begit

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 25 | Paviliun Seribu Tamu

    Moran menatap pantulan wajahnya di cermin perunggu beberapa saat. Jemarinya merapikan ujung anting di telinga sebelum akhirnya ia menoleh pada Xi Bao.“Tidak apa-apa,” ujarnya tenang. “Jingren adalah pejabat militer. Banyak urusan di Biro Keamanan Internal. Ayah dan Ibu pasti bisa memakluminya.”Xi Bao terdiam sejenak. Ia lalu perlahan mengangguk, meskipun keraguan di wajahnya belum sepenuhnya hilang. “Kalau begitu… biarkan saya menyiapkan kereta,” katanya akhirnya.***Paviliun Sepuluh Ribu Tamu.Bangunan bertingkat tiga itu berdiri megah di tepi Jalan Qingyun, salah satu jalan paling ramai di kota. Meski matahari baru saja naik, ruang makan di dalamnya telah dipenuhi para tamu. Pedagang, pengelana, hingga para cendekiawan duduk memenuhi meja-meja kayu. Sementara para pelayan lalu-lalang membawa nampan berisi teko teh dan hidangan panas.Ketika Moran melangkah masuk, gelombang keramaian itu seolah menyambutnya dari segala arah. Aroma makanan, denting mangkuk porselen, dan suara tawa

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 24 | Gosip Para Pelayan

    Malam itu akhirnya berlalu tanpa kejadian lain yang mengkhawatirkan. Entah bagaimana caranya, hidangan yang Moran siapkan ternyata cukup mengejutkan para penghuni rumah.Bahkan Wen Ruyue yang biasanya cukup pemilih dalam urusan makanan tampak mengangguk beberapa kali sepanjang makan malam. Sementara Song Guoting, yang sejak awal tidak banyak berbicara, akhirnya menghabiskan satu mangkuk nasi hingga bersih. Sikap diamnya saja sudah cukup menjadi jawaban bahwa ia merasa puas.Walau malam itu juga Moran dan Jingren harus bersandiwara sebagai sepasang suami istri yang sesungguhnya.***Keesokan paginya, langit baru saja memucat ketika halaman kediaman Song Jingren kembali sibuk. Song Guoting harus berangkat lebih awal untuk kembali ke perbatasan. Urusan militer tidak pernah memberi banyak waktu untuk beristirahat.Namun Wen Ruyue tidak ikut pergi bersamanya. Ia memutuskan tinggal di kediaman itu selama beberapa hari lagi, sekalian menunggu Song Jingwen, putri bungsunya, pulang dari Akadem

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 23 | Tetap Awasi Dia

    Gadis yang kini telah resmi menjadi istri Song Jingren itu menoleh kepada Jin Lin yang baru saja kembali mengganti air untuk kesekian kalinya. Sementara itu, Song Jingren hanya duduk diam di tepi dipan. Sesekali tangannya mencengkeram sisi ranjang dengan kuat, seolah menahan gelombang rasa sakit yang datang silih berganti.“Nyonya, tetapi Jenderal tadi sudah meminum sup penghenti pendarahan,” jawab Jin Lin. Wajahnya pun tidak luput dari bayang-bayang kekhawatiran. “Saya tidak mungkin membuatnya lagi.”“Sup herbal itu terlalu lambat efeknya.” Moran mengerutkan kening. “Di mana tabib? Kenapa dia belum sampai juga? Jika terus seperti ini, dia akan mati kehabisan darah!”Ia segera menekan kain bersih pada luka cambukan yang terbuka di punggung Song Jingren. Kedua tangannya menekan sekuat mungkin, tetapi darah masih merembes keluar, perlahan membasahi kain yang baru saja diganti.Usahanya hampir tidak memberi hasil.Jin Lin terdiam sejenak sebelum berkata pelan, “Tabib sedang dipanggil dari

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 22 | Sedang Diawasi

    Moran segera meninggalkan aula leluhur dan berjalan menuju kamarnya. Jaraknya tidak jauh, hanya beberapa langkah melewati koridor yang sunyi. Lentera yang tergantung di bawah atap bergoyang perlahan tertiup angin sore. Bayangan mereka memanjang di lantai batu.Di belakangnya, Jin Lin berjalan beber

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 12 | Pengirim Hadiah Tanpa Nama

    Moran meletakkan kayu penggulung setelah memipihkan adonan terakhir. Ia menepuk-nepukkan kedua tangannya untuk menghilangkan sisa tepung yang menempel di telapak dan jemarinya. Butiran tepung beterbangan tipis di udara sebelum perlahan jatuh ke meja kayu yang sudah penuh taburan putih.“Hadiah itu

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 11 | Diabaikan Para Pelayan

    Kalimat itu dikatakan dengan penuh penekanan. Akan tetapi Song Jingren lebih dulu menarik pedangnya sebelum Moran sempat menyanggah. Hanya perlu hitungan detik, pria itu memutar pergelangan tangannya lalu menarik kembali senjatanya. Ia mengembalikan pedang kepada Jin Lin dan pergi melewati Moran be

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 10 | Hari Pertama sebagai Nyonya Jenderal

    Xi Bao melirik sekitar. “Pengantar barang tidak menyebutkan nama pengirimnya hanya bilang dari sepupu jauh dari Nanhe,” ujar Xi Bao merendahkan suaranya semakin pelan. “Tapi Nona tidak punya kerabat dari Nanhe. Mungkinkah ini dari Nona Shuyan?”Moran tidak langsung menjawab. Tatapannya turun pada k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status