เข้าสู่ระบบMoran mengganti pakaiannya dengan baju pengantin. Entah dari mana datangnya gaun pengantin itu, tetapi Moran sungguh tak punya pilihan lagi selain melaksanakan dekrit.
Seharusnya pernikahan bisa dibicarakan pelan-pelan. Hanya saja Song Jingren ini benar-benar menguji kesabarannya.
Dengan dibantu oleh beberapa pelayan dan Xi Bao yang sudah kembali dari pasar Moran merias dirinya di kamarnya. Namun, tatapannya kosong ke arah cermin rias.
“Nona, saya tidak percaya anda yang menikah dengan Jenderal Song,” ucap Xi Bao memecahkan lamunan Moran. Meski Xi Bao tahu Moran sebelumnya tergila-gila pada Song Jingren, tapi tiba-tiba ia tak bisa membayangkan nasib Moran ketika hidup bersama lelaki itu.
Moran membuang napas panjang sebelum menggunakan kertas merah di bibirnya. Raut wajahnya jauh lebih tenang daripada Xi Bao. “Mau bagaimana lagi? Keluarga Yang terancam aku juga tidak bisa diam saja.”
Ya … Moran sudah pernah mati sekali. Tidak ingin mati untuk kedua kalinya.
“Tapi, Tuan Besar sudah mendaftarkan nama Nona Pertama, kalau pemerintah sampai tahu yang menikah anda bukankah ini akan menjadi masalah?”
Belum sempat Moran menanggapi derit pintu dibuka terdengar keras. Yang Tianyu datang membawa sebuah gulungan kertas.
“Aku sudah mengatasinya,” sahut Yang Tian.
Moran segera menoleh. Ketika mengangkat wajah, Moran memperhatikan wajah ayahnya yang terlihat ragu.
“Moran, ayah sudah mengirim surat pada Tuan Shen, Petugas Catatan Sipil Kekaisaran. Beliau akan mengurus seluruh dokumen pernikahanmu dengan Jenderal Song Jingren,” ujar sang ayah lagi.
“Apa Tuan Shen sudah setuju?”
“Dia setuju dan mengganti dokumen namamu, tapi ….” Yang Tianyu menggantung kalimatnya.
Moran mengernyitkan keningnya. “Ada apa, Ayah?”
Beberapa detik kemudian Yang Tianyu menaruh gulungan kertas yang dibawanya ke meja rias putrinya. “Sebaiknya kamu baca sendiri saja.”
Moran segera membuka gulungan kertas itu.
Ketika membaca kalimat yang tertera di sana Moran menatap sang ayah dengan tatapan penuh tanya. “Apa maksudnya ini? Aku harus membalas budi Tuan Shen?”
Yang Tianyu mengangguk. “Setelah menikah, dua hari kemudian dia akan mengurus orang untuk menjemputmu di kediaman Song. Pergi dan temuilah dia.”
“Bukankah ini sama aja aku dimanfaatkan menjadi kaki tangannya?” Moran menggulung kembali kertas dan mengembalikannya kepada Yang Tian.
“Moran, hanya ini satu-satunya cara supaya kita bisa melangsungkan pernikahan,” jawab yang Tianyu sepelan mungkin. “Kalau kamu tetap keras kepala juga dengan nama Shuyan, kamu juga akan membuat masalah lain. Keluarga kita bisa dihukum penggal karena penyalahgunaan identitas dan menipu Maharani.”
Moran memejamkan matanya sejenak. Dia mencengkeram gulungan kertas itu dengan erat dan mengembalikannya ke pangkuan.
Dengan berat hati ia berkata, “Aku akan menemuinya besok.”
Meski terdengar terpaksa, tetapi kalimat itu cukup membuat Yang Tianyu merasa lega.
***
Di kediaman Song.
Song Jingren sibuk mengelap pedangnya yang berkilau tajam. Ia masih mengenakan jubah hitam panjang dengan motif naga perak yang menjalar dari bahu hingga ujung lengan. Di sudut ruangan, baju pengantin pria masih tergantung di sebuah manekin.
Menurut perhitungannya, keluarga Yang pasti sedang kacau. Nona pertama yang akan dijadikan pengantin mungkin sudah ketakutan setengah mati.
“Jenderal, nona pertama keluarga Yang kabur!” lapor Jin Lin, tangan kanan Song Jingren, suaranya tenang namun mata serius menatap sang Jenderal.
Sudut bibir Song Jingren terangkat tipis. Tepat seperti yang dia harapkan.
“Artinya tandu yang kukirimkan segera kembali,” balasnya santai.
“Tandu sudah kembali, tapi…” Jin Lin menggantung kalimatnya, membuat Song Jingren segera menoleh.
“Kenapa?”
“Tuan Yang Tianyu mengirim putri keduanya untuk menikah dengan Anda, Yang Moran.”
“Yang Moran?” Song Jingren mengeja setiap suku kata, nada suaranya penuh tanda tanya.
Jin Lin mengangguk. “Kabarnya, Yang Moran sendiri yang menyanggupi pernikahan ini.”
Alis Song Jingren bertaut rapat. Maharani memang tak menyebut secara spesifik siapa dari keluarga Yang yang harus menjadi istrinya—hanya mengatakan, “Putri keluarga Yang.”
“Seluruh Jinyu sudah tahu siapa Jenderal. Sebelumnya banyak wanita mencoba menjadi istri Anda, tapi mereka memilih mundur bahkan sebelum tiba di kediaman.” Jin Lin menatap sang Jenderal dengan hati-hati. Namun, eskpresi Song Jingren tidak berubah sama sekali.
“Sekarang Yang Moran ini justru datang menggantikan kakaknya dengan sukarela. Bukankah itu seperti menceburkan dirinya sendiri ke dalam kandang harimau?” imbuh Jin Lin seraya menggaruk tengkuknya.
Namun, Song Jingren hanya berdiri dan mendekat ke arah baju pengantin berwarna merah menyala itu. Lalu, berujar dingin, “Antarkan dia ke kamar pengantin.”
“Jenderal ingin…,” Jin Lin mencoba menebak, tapi Song Jingren sudah lebih dulu menarik pedangnya dan dengan satu gerakan, baju pengantin berwarna merah itu telah terbelah menjadi dua.
Seketika jakun Jin Lin bergerak naik turun.
“Kembali ke Biro!” titah Song Jingren seraya memasukkan kembali bilah pedang pada sarungnya.
“Jenderal, tapi upacara adatnya—”
“Tidak perlu upacara adat. Lagipula, sudah resmi menjadi suami istri.”
Song Jingren mungkin tidak menganggap penting pernikahan itu. Moran juga demikian.
Hanya saja Moran sudah hampir delapan jam penuh menanti kehadiran Song Jingren. Dari matahari tenggelam perlahan hingga malam yang mulai menggigilkan tulang, sosok laki-laki itu tak juga menampakkan batang hidungnya.
Jin Lin sempat mengatakan bahwa Song Jingren mendapat tugas mendadak di Biro Keamanan Internal. Karena itu, ia tak bisa hadir dalam upacara adat pernikahan.
Tapi alasan itu bukankah terdengar mengada-ada?
Jika memang sibuk, kenapa pernikahan ini harus dilangsungkan hari ini juga?
"Lelaki macam apa yang bahkan enggan menghadiri pernikahan sendiri?!" gerutunya dalam hati, berkali-kali.
Marah, malu, dan kecewa bercampur dalam dada Moran. Ia berdiri di depan cermin tinggi, menatap wajahnya sendiri yang masih dipenuhi riasan halus dan rambut yang disanggul anggun dengan tusuk konde permata.
Satu per satu, ia lepas hiasan rambut itu dengan gerakan asal. Dengan napas berat, Moran mengganti gaun pengantinnya dengan pakaian tidur. Kamar pengantin ini terlihat dingin, terlalu jauh berbeda dengan kamarnya.
Tak ada yang istimewa di tempat ini, hanya ada lilin-lilin kecil nyalanya mulai meredup dan lukisan peta wilayah yang membentang lebar di kamar itu.
Lalu tiba-tiba… Suara langkah berat terdengar dari arah lorong. Derap kaki itu pelan, tetapi mantap dan membuat Moran waspada.
"Siapa di sana?"Dengan cepat, Moran menoleh ke arah pintu yang kini terbuka.
Seorang pria berdiri tegap di sana. Seragam Jenderal Biro Keamanan Internal masih melekat di badannya. "Ka-kamu ... Song Jingren?"“Song Jingren?” Sumpit dan mangkok kecil di tangan Moran hampir saja terlepas dari genggaman. Ia benar-benar tidak menyangka pria itu akan menampakkan batang hidungnya di kediaman ini.Di sisi lain, Tuan Besar Yang sudah lebih dulu pucat. Ia langsung berdiri dari kursinya, bahkan sumpitnya masih tergenggam di tangan. Kepalanya menunduk dalam.“Jenderal Song… maafkan ucapan istriku tadi,” katanya tergesa. “Kami sama sekali tidak bermaksud menyinggungmu.”Nyonya Yang ikut berdiri. Wanita itu bahkan tidak berani menatap menantunya. Kepalanya ikut menunduk.Moran yang melihat itu lantas meletakkan alat makannya di meja dan bangkit berdiri. Sudut bibirnya terangkat ringan sama halnya dengan tangan yang begitu saja melingkar di lengan Song Jingren. “Jingren, Ibu hanya bertanya kenapa kamu tidak bisa hadir bersamaku, tidak memiliki maksud lain.” Moran sebenarnya sudah bersiap menghadapi amarah, tetapi Song Jingren justru membalas senyum meski hanya sesaat sebelum menoleh pada mertuanya. “A
Jin Lin mengangguk cepat dan segera menyusul keluar. Ia tahu benar, begitu Song Jingren memutuskan sesuatu, bahkan langit pun tidak akan mampu menahannya.Pada akhirnya, ia hanya bisa merapal doa dalam hati, berharap tidak akan terjadi keributan lagi di antara pengantin baru itu.***Asap tebal mengepul di dapur kediaman Keluarga Yang. Api di atas wajan menyala liar, membuat Tuan dan Nyonya Besar Yang saling pandang dengan wajah tegang.Mereka hampir yakin Moran akan mengulang bencana terakhirnya. Namun ketika hidangan akhirnya tersaji di meja, keduanya justru terdiam.Daging sapi tampak lembut. Sayurannya tertata rapi. Aromanya bahkan… menggoda. Yang paling mengejutkan? Tidak ada yang terbakar. Semua barang kembali seperti semula di tempatnya.“Moran… sejak kapan kamu bisa memasak seperti ini?” Nyonya Yang terkesiap, matanya tak lepas dari hidangan di meja makan.“Baru sehari di rumah Jenderal Song, kau langsung hebat dalam memasak?” Yang Tianyu ikut menimpali, nadanya setengah tida
Moran menyesap sedikit teh Longjing sebelum meletakkan kembali cangkirnya. Ancaman seperti ini terlalu langsung. Di zamannya dulu, orang-orang akan membungkusnya dengan senyuman.“Tuan Shen bercanda? Masalah pernikahan kemarin adalah urusan kita berdua. Tidak ada kaitannya dengan ayah.”Kekehan tawa Tuan Shen terdengar renyah di ruangan itu. “Moran… Kau menikah dengan Song Jingren. Menurutmu para pejabat lain masih akan menganggap Keluarga Yang netral?” Tuan Shen menatapnya, suaranya tetap datar. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Song Jingren memang belum menyatakan sikap politiknya. Tapi ia dekat dengan Pangeran Kedua. Apa itu masih belum cukup jelas?”Sepasang mata Moran nyaris berputar malas, meski ekspresinya tetap tertahan. Gadis itu membuang napas panjang.“Aku memang tidak mengerti politik istana,” ujarnya ringan. “Tapi sekalipun Song Jingren adalah suamiku, aku juga tidak bisa mengubah pendapatnya.”Tuan Shen akhirnya mendengus, seolah kehabisan kesabaran. “Kalau begit
Moran menatap pantulan wajahnya di cermin perunggu beberapa saat. Jemarinya merapikan ujung anting di telinga sebelum akhirnya ia menoleh pada Xi Bao.“Tidak apa-apa,” ujarnya tenang. “Jingren adalah pejabat militer. Banyak urusan di Biro Keamanan Internal. Ayah dan Ibu pasti bisa memakluminya.”Xi Bao terdiam sejenak. Ia lalu perlahan mengangguk, meskipun keraguan di wajahnya belum sepenuhnya hilang. “Kalau begitu… biarkan saya menyiapkan kereta,” katanya akhirnya.***Paviliun Sepuluh Ribu Tamu.Bangunan bertingkat tiga itu berdiri megah di tepi Jalan Qingyun, salah satu jalan paling ramai di kota. Meski matahari baru saja naik, ruang makan di dalamnya telah dipenuhi para tamu. Pedagang, pengelana, hingga para cendekiawan duduk memenuhi meja-meja kayu. Sementara para pelayan lalu-lalang membawa nampan berisi teko teh dan hidangan panas.Ketika Moran melangkah masuk, gelombang keramaian itu seolah menyambutnya dari segala arah. Aroma makanan, denting mangkuk porselen, dan suara tawa
Malam itu akhirnya berlalu tanpa kejadian lain yang mengkhawatirkan. Entah bagaimana caranya, hidangan yang Moran siapkan ternyata cukup mengejutkan para penghuni rumah.Bahkan Wen Ruyue yang biasanya cukup pemilih dalam urusan makanan tampak mengangguk beberapa kali sepanjang makan malam. Sementara Song Guoting, yang sejak awal tidak banyak berbicara, akhirnya menghabiskan satu mangkuk nasi hingga bersih. Sikap diamnya saja sudah cukup menjadi jawaban bahwa ia merasa puas.Walau malam itu juga Moran dan Jingren harus bersandiwara sebagai sepasang suami istri yang sesungguhnya.***Keesokan paginya, langit baru saja memucat ketika halaman kediaman Song Jingren kembali sibuk. Song Guoting harus berangkat lebih awal untuk kembali ke perbatasan. Urusan militer tidak pernah memberi banyak waktu untuk beristirahat.Namun Wen Ruyue tidak ikut pergi bersamanya. Ia memutuskan tinggal di kediaman itu selama beberapa hari lagi, sekalian menunggu Song Jingwen, putri bungsunya, pulang dari Akadem
Gadis yang kini telah resmi menjadi istri Song Jingren itu menoleh kepada Jin Lin yang baru saja kembali mengganti air untuk kesekian kalinya. Sementara itu, Song Jingren hanya duduk diam di tepi dipan. Sesekali tangannya mencengkeram sisi ranjang dengan kuat, seolah menahan gelombang rasa sakit yang datang silih berganti.“Nyonya, tetapi Jenderal tadi sudah meminum sup penghenti pendarahan,” jawab Jin Lin. Wajahnya pun tidak luput dari bayang-bayang kekhawatiran. “Saya tidak mungkin membuatnya lagi.”“Sup herbal itu terlalu lambat efeknya.” Moran mengerutkan kening. “Di mana tabib? Kenapa dia belum sampai juga? Jika terus seperti ini, dia akan mati kehabisan darah!”Ia segera menekan kain bersih pada luka cambukan yang terbuka di punggung Song Jingren. Kedua tangannya menekan sekuat mungkin, tetapi darah masih merembes keluar, perlahan membasahi kain yang baru saja diganti.Usahanya hampir tidak memberi hasil.Jin Lin terdiam sejenak sebelum berkata pelan, “Tabib sedang dipanggil dari
"Kenapa? Berharap pria lain yang datang ke sini?" sindir pria itu dengan nada datar. Moran mengatupkan bibirnya. Sejenak merutuki kebodohannya. Memangnya siapa lagi kalau bukan Song Jingren? Hanya dia yang bisa datang ke kamar ini. Juga pedang ganda di pinggang sudah memperjelas identitasnya.Diam-
Daftar belanja masih tergenggam di tangan Moran. Kertas itu sudah kusut oleh keringat. Tanpa berpikir lebih lama, ia menyodorkannya kepada Xi Bao.“Kau beli sisanya. Aku pulang dulu,” ucapnya cepat.“Nona tapi anda—”Xi Bao belum sempat bertanya ketika Moran sudah berbalik dan berlari.Langkah wani
Tanpa Moran tahu di malam yang sama itu tersiar kabar bajak laut menyerang pelabuhan selatan ibu kota. Dalam gelapnya malam, satuan elit Kekaisaran, Biro Keamanan Internal, bergerak cepat. Saat matahari terbit, dermaga telah berubah menjadi lautan darah. Di bawah komando Song Jingren, jenderal mud
Moran spontan mengangkat kedua tangan. Pergelangan tangannya sedikit bergetar, tetapi ia memaksa sudut bibirnya terangkat kaku.“Tu… tuan Pendekar, sepertinya ada salah paham di antara kita. Bisakah kita duduk dan bicara baik-baik? Aku akan menuangkan teh untukmu.”Angin malam berhembus tipis, meng







