Share

Bab 74

Author: Mumu Mooi
last update publish date: 2026-06-22 21:47:40

Aluna berjalan gontai di trotoar, di bawah terik matahari siang yang membakar kulit. Ia seolah mengabaikan rasa panas yang menyengat karena isi dadanya jauh lebih bergemuruh hebat akibat peristiwa menyakitkan di kantor Ragil beberapa saat lalu. Bentakan sang suami hingga rentetan kata provokasi dan sindiran tajam dari Anggun terus berdenging berulang kali di kepalanya seperti kaset rusak yang menyiksa batin.

Di tengah langkahnya yang tertatih, tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti mendadak tep
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 77

    Paginya Aluna turun ke lantai bawah dengan langkah gontai. Setelah melihat nama Anggun yang menghubungi suaminya di waktu yang tidak wajar, mata Aluna tidak bisa kembali terpejam hingga matahari terbit. Sebelum Ragil terbangun, Aluna memutuskan untuk lebih dulu turun setelah menyiapkan pakaian kerja Ragil. Aluna juga sudah memutuskan untuk pura-pura tidak tahu dan akan bersikap biasa sampai mendapatkan jawaban yang pasti.Aluna duduk di ruang tengah, memainkan ponselnya. Ia membuka aplikasi OTT, menonton serial drama yang diadaptasi dari novel. Aluna berusaha mengalihkan kegelisahan di hatinya, demi bayi yang dikandungnya ini.Entah bagaimana nasib pernikahannya dengan Ragil nantinya, wanita ini akan tetap fokus dengan kehamilan nya. Aluna ingat dengan kata-kata Dirga kemarin.“Kamu sudah lupa bagaimana bahagianya kamu saat mendengar detak jantung bayi itu pertama kali kemarin saat pemeriksaan dokter? Kamu lupa bagaimana perjuanganmu menahan semua mual demi mempertahankan dia?”Kalima

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 76

    Aluna membuka matanya yang terasa berat. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya sebelum tersadar sepenuhnya adalah langit-langit kamar yang temaram, dan dirinya dirinya berada di dalam dekapan erat Ragil. Pria itu masih terlelap pulas dalam kondisi belum berpakaian, menyisakan sisa-sisa kehangatan dari pergulatan intim yang mereka lalui beberapa jam lalu.Dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati, Aluna berusaha melepaskan diri dari kungkungan lengan kekar Ragil. Kandung kemihnya terasa penuh, mendesaknya untuk segera buang air kecil. Ragil sempat melenguh pelan dan bergerak sedikit akibat pergeseran tubuh Aluna, namun sedetik kemudian pria itu hanya memutar arah tidurnya hingga kini posisi tubuhnya memunggungi Aluna.Aluna bergegas melangkah menuju kamar mandi, menutup pintunya rapat-rapat tanpa menimbulkan suara. Setelah menyelesaikan hajatnya, ia berdiri di bawah guyuran air hangat untuk sekalian membersihkan sisa-sisa percintaan mereka sore tadi. Rasa lelah fi

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 75

    Wajah Ragil tampak begitu kusut. Setelan kemeja kerja mahalnya sudah berantakan dengan kancing atas yang terbuka, sedangkan dasinya pun sudah terlepas dan tergeletak sembarangan di lantai dekat ranjang. Pria itu tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah.Aluna yang masih berdiri mematung dengan sepasang mata membelalak sempurna di ambang pintu. Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi ketika Ragil melangkah lebar dan langsung memeluk erat tubuhnya. Ragil mendekap Aluna begitu kencang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri, seolah-olah dirinya sedang ketakutan yang akan kehilangan wanita itu dari hidupnya.“Mas…” lirih Aluna. Kedua tangannya menggantung kaku di udara dan tampak ragu untuk membalas dekapan tersebut.“Kamu dari mana saja? Aku sudah menunggu kamu di sini dari tadi, Luna,” bisik Ragil dengan suara yang serak dan bergetar tepat di telinga Aluna.Dahi Aluna mengernyit di balik dekapan hangat pria itu. Ia benar-benar tidak habis pikir melihat peruba

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 74

    Aluna berjalan gontai di trotoar, di bawah terik matahari siang yang membakar kulit. Ia seolah mengabaikan rasa panas yang menyengat karena isi dadanya jauh lebih bergemuruh hebat akibat peristiwa menyakitkan di kantor Ragil beberapa saat lalu. Bentakan sang suami hingga rentetan kata provokasi dan sindiran tajam dari Anggun terus berdenging berulang kali di kepalanya seperti kaset rusak yang menyiksa batin.Di tengah langkahnya yang tertatih, tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti mendadak tepat di sampingnya yang membuat wanita itu tersentak kecil. Ketika pengendara itu membuka kaca helm hitamnya, barulah Aluna menyadari jika pria itu adalah pria yang sangat dikenalnya.“Al? Kamu kenapa? Ngapain siang-siang begini jalan kaki di trotoar? Ini lagi panas banget, Al. Nggak baik untuk kondisi kamu,” tanya Dirga beruntun dengan nada suara yang dipenuhi rasa panik sekaligus heran melihat kondisi kacau wanita di hadapannya.Aluna tidak langsung menjawab. Sepasang matanya mendadak berkaca-ka

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 73

    “Ini sudah hampir satu minggu, Mas. Bagaimana kelanjutannya? Kenapa sampai hari ini Anggun belum juga dipindahkan dari posisi sekretaris kamu?”“Bisa tidak, kita tidak usah membahas ini dulu?!”Ragil meletakkan sendoknya cukup keras ke atas piring porselen hingga menyebabkan bunyi denting yang nyaring dan memekakkan telinga. Suara yang tiba-tiba menggelegar di dalam keheningan ruangan itu seketika membuat Aluna terlonjak kaget. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, dan tangannya yang semula berada di atas pangkuan refleks mencengkeram kain gaun hamilnya sendiri.Badan wanita itu sempat gemetar halus. Ada kilat trauma yang merayap di dadanya, karena lagi-lagi dirinya harus melihat wajah Ragil yang mulai mengeras dengan urat-urat di sekitar rahang yang mengetat menahan amarah yang siap meledak. Namun sekuat tenaga Aluna menahan rasa takut itu jauh-jauh.Ia memaksa kedua matanya untuk tetap terbuka dan menatap lurus ke depan. Aluna sudah memutuskan di dalam hatinya bahwa dirinya tida

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 72

    Langkah kaki Aluna yang dibalut sepatu ber-hak rendah terdengar berketuk teratur di atas lantai marmer lobi yang mengkilap. Sesaat sebelum dirinya tiba di depan lift eksekutif yang akan membawanya ke lantai teratas, Aluna memilih untuk membelokkan arah langkahnya menuju meja resepsionis yang melingkar megah di tengah lobi utama gedung.Dua orang petugas resepsionis yang sedang sibuk menyortir dokumen seketika mendongak. Begitu menyadari siapa sosok wanita hamil bergaun putih gading yang sedang berjalan ke arah mereka, senyum profesional mereka langsung berubah menjadi senyum yang sangat ramah.“Siang, Bu Aluna,” sapa salah satu resepsionis wanita dengan sopan.Aluna membalas sapaan itu dengan sebuah senyuman manis yang sangat hangat. “Siang, Mbak. Saya mau bertanya, apakah tadi ada kurir yang mengantarkan makanan pesanan atas nama saya ke sini?”Resepsionis itu mengangguk dengan cepat. “Oh, ada, Bu. Baru saja sekitar sepuluh menit yang lalu tiba. Sebentar ya, Bu, saya ambilkan dulu.”

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 71

    “Mbak, ini tolong dilanjutkan, ya. Tinggal tunggu sampai airnya sedikit menyusut dan matang saja, kok. Saya mau mandi dan bersiap-siap dulu di atas.”“Baik, Non Luna. Serahkan saja pada saya,” sahut sang ART sembari mengangguk patuh.Aluna bergegas melangkah naik ke lantai atas setelah menitipkan k

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 70

    Mendengar nama yang disebut oleh Aluna membuat Dirga mengernyitkan dahinya beberapa saat. Lipatan tipis muncul di antara kedua alisnya, menandakan bahwa otak pria itu sedang menggali sesuatu dari ingatannya. Rasanya nama itu memang tidak asing di telinganya. Ada ingatan familiar yang melintas, teta

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 69

    “Setelah ini kamu mau ke mana?” tanya Dirga ramah. Pertanyaannya ini memecah keheningan di antara mereka saat kaki mereka baru saja melangkah keluar dari pintu kayu putih ruang pemeriksaan dokter kandungan.Aluna menghentikan langkahnya sejenak, menatap kosong ke arah koridor rumah sakit yang mulai

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 68

    “Kalau nanti di dalam ruangan dokter bertanya Kak Dirga itu siapa, Kakak mau jawab apa? Dokter kan juga sudah tahu kalau Kak Dirga bukan suamiku.” Aluna melipat tangan dan merasa argumennya kali ini tidak akan bisa dibantah.Dirga terdiam sesaat, memandangi wajah ketus Aluna yang justru terlihat me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status