LOGINDi dalam tidurnya Aluna merasa ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya, seseorang dengan aroma parfum yang tidak asing namun tidak tahu siapa pemiliknya. Tak lama ia merasa goyangan di atas ranjang, seperti dinaiki oleh seseorang. Aluna yang tidur terlentang merasakan sebuah tangan yang besar membelai wajahnya.
Belaian itu terasa begitu lembut dan pelan yang membuat Aluna gelisah. Tak lama Aluna merasakan sentuhan basah di wajahnya. Mulanya berawal dari pipi, lalu kemudian bergeser ke bibirnya. Ciumannya begitu lembut dan membangkitkan sesuatu dari dalam diri Aluna. “Mimpi gila,” pikir Aluna. Kecupan basah itu kini mulai turun ke bawah secara perlahan dan berhenti di lehernya. Kegelian dan kenikmatan menghampiri Aluna detik itu juga. Aluna yang berpikir jika ini hanyalah ‘mimpi kotor’ begitu menikmati adegan demi adegan yang dialaminya. Sentuhan lembut di kulitnya pun kian membuat Aluna meremang. Mimpi ini terasa begitu nyata. Ingin rasanya Aluna bangun dari tidurnya ini. Tetapi terjadi peperangan batinnya. Di satu sisi dirinya tahu jika mimpi bersama pria lain ini salah. Namun disisi lain Aluna menikmati mimpi ini, yang bahkan jauh lebih nikmat dibandingkan saat ia melakukannya bersama Ragil. Ragil terbiasa bermain cepat, tidak sabaran bahkan sering membuat Aluna kesakitan karena organ intimnya belum siap menerima milik Ragil. Namun di mimpinya kali ini, Aluna merasakan begitu rileks dan sudah mulai basah pada bagian bawahnya. Padahal ini baru permulaan saja. “Gila.” Aluna mengangkat kepalanya, mendongak ke atas saat bibir itu kini bergeser ke daerah tulang selangkanya. Gelanyar aneh membuat Aluna mengeluarkan erangan kecil dari mulutnya. Aluna tiba-tiba merasakan hawa dingin dari AC menyentuh kulit tubuhnya. Ia ingat jika tadi sebelum tidur telah membuka gaunnya dan hanya menyisakan pakaian dalam saja. Lalu… apakah secara tidak sadar dirinya menyingkap selimut, berharap mendapatkan sentuhan lebih dari pria yang ada dalam mimpinya? Aluna merutuki dirinya. “Ini benar-benar gila. Bisa-bisanya aku berharap ini nyata. Aku bahkan membuka selimutku.” Kenikmatan yang dirasakan Aluna tidak berhenti disana. Bibir basah itu kini telah berpindah lagi menciumi pundaknya. Tak hanya itu, tangan besar yang semula membelai pipinya, kini juga mulai berpindah menyentuh lengannya lalu kemudian ke arah perut Aluna. Gerakannya yang lembut dan memutar membuat tubuh Aluna menggelinjang disertai suara erangan yang semakin intens keluar dari bibirnya. Aluna ingin segera terbangun dari mimpi ini. Walaupun nikmat, tapi Aluna sadar ini salah. Namun ternyata… logikanya kalah dengan hatinya. Aluna yang tidak pernah merasakan kenikmatan seperti ini dari suaminya ingin merasakan nikmatnya bercinta yang sesungguhnya walau hanya dalam mimpi. “Sekali saja. Maafkan aku,” batinnya. Tangan besar yang sebelumnya membelai perutnya itu kemudian naik ke atas secara perlahan hingga akhirnya tiba di gundukan yang menjadi salah satu titik sensitif Aluna. Aluna semakin meracau dan semakin menginginkan lebih. Dalam hatinya ia mengagumi pria itu. Kenikmatan yang selama ini hanya ada dalam bayangannya saja akhirnya ia bisa rasakan. Sekali lagi hanya dalam mimpi, namun cukup membuat Aluna puas. Ingin rasanya Aluna mengetahui siapa sosok itu. Saat ini pandangannya hanya gelap dan hitam. “Mungkin aku juga sedang tutup mata di dalam mimpi itu.” Akhirnya dengan susah payah membuka matanya. Dan saat matanya terbuka, ia cukup terkejut saat matanya menangkap sosok pria yang sangat ia kenali tengah memandang lekat ke arahnya. “Kak Dirga…” panggil Aluna lirih. “Maafkan aku, Al,” jawab Dirga. Suaranya parau seakan tengah menahan sesuatu. Aluna sempat bingung, kenapa pria ini bisa masuk ke dalam mimpinya. Atau mungkin karena pembicaraan lalu tentang kerja sama antara suaminya dengan Dirga yang membuat Aluna secara tidak sadar mengundang Dirga untuk masuk ke alam bawah sadarnya. “Al, maafkan aku. Aku sudah tidak tahan. Seseorang memberikan sesuatu ke minumanku,” ucap Dirga lirih. Aluna tidak bisa menanggapinya sebab tangan Dirga yang begitu lihai memainkan titik-titik sensitif di tubuhnya. Belum lagi bibir pria itu yang terus mengecup tubuhnya. Wanita ini hanya bisa terus meracau sambil meliuk-liukkan tubuhnya. Aluna yang berpikir jika ini adalah mimpi malah semakin menekan kepala Dirga untuk menyesap buah dadanya yang entah sejak kapan sudah terbuka dari pembungkusnya. Mereka semakin menggila di dalam kamar mewah hotel itu. “Cepatlah. Aku sudah tidak tahan lagi,” desak Aluna. Hingga akhirnya peristiwa itu terjadi. Suara desahan Aluna terdengar nyaring di ruangan itu, menggantikan suara pendingin ruangan yang sebelumnya terdengar jelas. Tidak hanya Aluna, suara Dirga pun ikut mengisi. Pria itu terus menggumamkan permintaan maaf pada Aluna dan juga kata-kata pujian untuk wanita itu. Aluna semakin gila saat Dirga menghujamnya begitu dalam, hingga membuatnya sempat berpikir sesaat. “Kenapa ini terasa sangat nyata?”“Bu Aluna…”Aluna menoleh, lalu mengernyitkan dahinya saat melihat sosok wanita yang kini berdiri tepat di samping mejanya. Wanita itu berpenampilan rapi dengan celana kain gelap dan kemeja formal berwarna merah muda khas pakaian kerja kantoran.Wajah wanita itu terasa sangat tidak asing bagi Aluna, tetapi dalam kondisi pikirannya yang sedang kacau, ia sama sekali tidak bisa mengingat siapa namanya.“Maaf, siapa, ya?” tanya Aluna ragu sembari mengusap pelan sisa air mata di sudut matanya.“Saya Citra, Bu. Asisten Manajer Keuangan di perusahaan keluarga Bu Aluna,” jawabnya. Wanita itu memperkenalkan diri dengan nada suara yang teramat sopan dan segan.“Oh…” Aluna mengangguk lambat, sambil mencoba mengingat staff di divisi keuangan.“Maaf sebelumnya, Bu. Boleh saya ikut bergabung duduk di sini bersama Bu Aluna?” tanya Citra lagi.Nada suaranya terdengar sangat ragu-ragu dan canggung. Ia tahu betul tindakan mendadaknya ini mungkin terkesan kurang ajar atau lancang. Namun rahasia besar yan
Aluna mengemudikan mobilnya tanpa arah. Untuk pulang ke rumah pun rasanya enggan, karena pikirannya saat ini masih kusut. Akhirnya ia memilih untuk terus berjalan mengendarai mobil putih kesayangan itu membelah jalanan kota Jakarta, walau dirinya sendiri sama sekali tidak punya tujuan yang pasti.Di telinganya suara bentakan keras dari Ragil dan untaian kalimat provokasi beracun dari Anggun masih saja berdenging kencang, seolah-olah kedua orang itu sedang berdiri tepat di sampingnya. Hal ini terus-menerus menyiksa batinnya.“Dia pantas, Luna! Aku yang lebih tahu dia seperti apa! Aku yang tahu kemampuan dia!”“Pak Ragil benar-benar pria yang sangat menepati ucapannya jika menyangkut kenyamanan saya…”“Aku yakin kalian berdua punya hubungan istimewa. Kamu tidak mungkin membelanya segila itu jika dia hanya sebatas sekretaris biasa!” Aluna bermonolog lirih dengan suaranya tercekat di tenggorokan.Kedua tangan Aluna menggenggam erat setir mobil hingga buku-buku jarinya memutih. Wajah canti
“Keluar kalau kamu datang ke sini cuma mau bikin kepala aku pusing dan merusak fokus kerjaku saja, lebih baik kamu pulang sekarang juga!”Aluna membelalakan matanya yang kini sudah basah oleh air mata yang luruh tanpa bisa dibendung lagi. Rasa syok, malu, dan sakit hati yang teramat pekat bercampur menjadi satu, menghantam fisiknya hingga terasa lemas.Dengan gerakan kasar dan jemari yang gemetar hebat, Aluna menyambar tas jinjingnya di atas meja. Tanpa mempedulikan tas bekal sarapan yang dibawanya tadi kini teronggok mengenaskan di tengah meja, Aluna langsung membalikkan tubuhnya. Dengan setengah berlari ia keluar dari ruangan suaminya itu, menutup pintu dengan bantingan keras tanpa mempedulikan Adi—sang sekretaris baru yang terkejut melihat dirinya keluar dalam kondisi sekacau itu.Aluna menekan kasar dan berulang kali tombol lift eksekutif di ujung lorong, berharap pintu logam itu segera terbuka."Ayo terbuka... cepat..." bisiknya panik dengan napas memburu.Ting.Pintu lift terbuk
“Kamu siapa?”Mendengar suara lembut dari Aluna, pria yang semula sedang berpaku menatap layar laptop di atas meja sekretaris itu segera berdiri tegak. Ia merapikan jasnya sejenak, lalu mengangguk hormat dengan sangat sopan kepada Aluna.“Saya Adi, Bu. Sekretaris Pak Ragil yang baru mulai hari ini,” jawabnya dengan senyuman profesional.“Sekretaris baru?” tanya Aluna lagi guna memastikan, seolah ingin meyakinkan pendengarannya sendiri bahwa ia tidak sedang salah dengar.“Betul, Bu. Saya pindahan dari divisi operasional lantai bawah,” jawab Adi ramah.Seketika itu juga segaris senyum tipis terlukis indah di wajah cantik Aluna. Dadanya yang sejak beberapa hari lalu terasa sesak akibat kecurigaan kini mendadak terasa lapang.Dirinya sama sekali tidak menyangka ternyata suaminya itu benar-benar membuktikan ucapannya yang dikatakan di atas ranjang malam itu. Aluna bahkan merasa tidak perlu lagi melaksanakan rencana rumitnya tentang penyelidikan antara suaminya dan juga Anggun.Dengan bukti
Sepanjang hari, Aluna sama sekali tidak menghantui suaminya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut seputar janji memo pemindahan Anggun. Kali ini ia sengaja memilih untuk diam. Ia hanya ingin melihat dan menguji bagaimana keseriusan Ragil dalam memenuhi janji manis yang diucapkan pria itu di atas ranjang semalam.Namun harapan tinggi yang sempat disusun Aluna ternyata tidak selalu tersampaikan dengan indah. Nyatanya, realitas kembali menamparnya dengan keras.Ragil bersikap biasa saja sepanjang hari, seolah-olah tidak pernah ada janji yang harus ia tepati hari itu. Pria itu tidak mengirim pesan berisikan laporan jika janjinya telah ia tunaikan. Bahkan malam ini pria itu pulang sangat terlambat, melampaui batas wajar hingga membuat Aluna yang kelelahan menanti akhirnya tertidur duluan di atas sofa kamar.“Kamu tidur duluan saja malam ini. Aku masih harus lembur di kantor karena ada berkas proyek yang harus diselesaikan.”Barisan kata dalam pesan singkat yang dikirim oleh Ragil seki
Aluna yang berencana akan ke kantor untuk memastikan tentang posisi Anggun harus membatalkannya. Efek tidak tidur tadi malam baru ia rasakan di pagi hari, hingga akhirnya ia tertidur dan tidak mengetahui kapan ayahnya berangkat ke bandara. Selain melewatkan kepergian sang ayah, Aluna juga melewatkan sarapannya.ART yang mengantarkan makanannya tadi pagi terpaksa kembali turun membawa sarapannya sebab Aluna yang tak kunjung membuka pintu. Akibatnya kini perut Aluna memberontak, meminta untuk segera diisi.Sebelum turun ke lantai bawah, Aluna segera membersihkan dirinya yang belum sempat ia lakukan tadi. Hanya dengan waktu setengah jam Aluna akhirnya keluar dari kamar.“Mbak…” panggil Aluna pada ART nya dengan sedikit berteriak.“Iya, Non.” Dengan setengah berlari, seorang pekerja wanita yang berumur empat puluh tahunan menghampiri Aluna.“Mau makan dong,” pinta Aluna.“Baik, Non. Tunggu sebentar, ya. Makan siangnya sebentar lagi siap.” ART itu membalikkan tubuhnya, namun baru beberapa
Wajah Ragil tampak begitu kusut. Setelan kemeja kerja mahalnya sudah berantakan dengan kancing atas yang terbuka, sedangkan dasinya pun sudah terlepas dan tergeletak sembarangan di lantai dekat ranjang. Pria itu tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah.Aluna yang masih berdiri memat
Aluna berjalan gontai di trotoar, di bawah terik matahari siang yang membakar kulit. Ia seolah mengabaikan rasa panas yang menyengat karena isi dadanya jauh lebih bergemuruh hebat akibat peristiwa menyakitkan di kantor Ragil beberapa saat lalu. Bentakan sang suami hingga rentetan kata provokasi dan
Langkah kaki Aluna yang dibalut sepatu ber-hak rendah terdengar berketuk teratur di atas lantai marmer lobi yang mengkilap. Sesaat sebelum dirinya tiba di depan lift eksekutif yang akan membawanya ke lantai teratas, Aluna memilih untuk membelokkan arah langkahnya menuju meja resepsionis yang meling
“Mbak, ini tolong dilanjutkan, ya. Tinggal tunggu sampai airnya sedikit menyusut dan matang saja, kok. Saya mau mandi dan bersiap-siap dulu di atas.”“Baik, Non Luna. Serahkan saja pada saya,” sahut sang ART sembari mengangguk patuh.Aluna bergegas melangkah naik ke lantai atas setelah menitipkan k







