공유

Bab 6

작가: Mumu Mooi
last update 게시일: 2026-04-16 21:15:31

Di dalam tidurnya Aluna merasa ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya, seseorang dengan aroma parfum yang tidak asing namun tidak tahu siapa pemiliknya. Tak lama ia merasa goyangan di atas ranjang, seperti dinaiki oleh seseorang. Aluna yang tidur terlentang merasakan sebuah tangan yang besar membelai wajahnya.

Belaian itu terasa begitu lembut dan pelan yang membuat Aluna gelisah. Tak lama Aluna merasakan sentuhan basah di wajahnya. Mulanya berawal dari pipi, lalu kemudian bergeser ke bibirnya. Ciumannya begitu lembut dan membangkitkan sesuatu dari dalam diri Aluna.

“Mimpi gila,” pikir Aluna.

Kecupan basah itu kini mulai turun ke bawah secara perlahan dan berhenti di lehernya. Kegelian dan kenikmatan menghampiri Aluna detik itu juga. Aluna yang berpikir jika ini hanyalah ‘mimpi kotor’ begitu menikmati adegan demi adegan yang dialaminya. Sentuhan lembut di kulitnya pun kian membuat Aluna meremang. Mimpi ini terasa begitu nyata.

Ingin rasanya Aluna bangun dari tidurnya ini. Tetapi terjadi peperangan batinnya. Di satu sisi dirinya tahu jika mimpi bersama pria lain ini salah. Namun disisi lain Aluna menikmati mimpi ini, yang bahkan jauh lebih nikmat dibandingkan saat ia melakukannya bersama Ragil.

Ragil terbiasa bermain cepat, tidak sabaran bahkan sering membuat Aluna kesakitan karena organ intimnya belum siap menerima milik Ragil. Namun di mimpinya kali ini, Aluna merasakan begitu rileks dan sudah mulai basah pada bagian bawahnya. Padahal ini baru permulaan saja.

“Gila.”

Aluna mengangkat kepalanya, mendongak ke atas saat bibir itu kini bergeser ke daerah tulang selangkanya. Gelanyar aneh membuat Aluna mengeluarkan erangan kecil dari mulutnya.

Aluna tiba-tiba merasakan hawa dingin dari AC menyentuh kulit tubuhnya. Ia ingat jika tadi sebelum tidur telah membuka gaunnya dan hanya menyisakan pakaian dalam saja. Lalu… apakah secara tidak sadar dirinya menyingkap selimut, berharap mendapatkan sentuhan lebih dari pria yang ada dalam mimpinya?

Aluna merutuki dirinya. “Ini benar-benar gila. Bisa-bisanya aku berharap ini nyata. Aku bahkan membuka selimutku.”

Kenikmatan yang dirasakan Aluna tidak berhenti disana. Bibir basah itu kini telah berpindah lagi menciumi pundaknya. Tak hanya itu, tangan besar yang semula membelai pipinya, kini juga mulai berpindah menyentuh lengannya lalu kemudian ke arah perut Aluna.

Gerakannya yang lembut dan memutar membuat tubuh Aluna menggelinjang disertai suara erangan yang semakin intens keluar dari bibirnya.

Aluna ingin segera terbangun dari mimpi ini. Walaupun nikmat, tapi Aluna sadar ini salah. Namun ternyata… logikanya kalah dengan hatinya. Aluna yang tidak pernah merasakan kenikmatan seperti ini dari suaminya ingin merasakan nikmatnya bercinta yang sesungguhnya walau hanya dalam mimpi.

“Sekali saja. Maafkan aku,” batinnya.

Tangan besar yang sebelumnya membelai perutnya itu kemudian naik ke atas secara perlahan hingga akhirnya tiba di gundukan yang menjadi salah satu titik sensitif Aluna. Aluna semakin meracau dan semakin menginginkan lebih.

Dalam hatinya ia mengagumi pria itu. Kenikmatan yang selama ini hanya ada dalam bayangannya saja akhirnya ia bisa rasakan. Sekali lagi hanya dalam mimpi, namun cukup membuat Aluna puas.

Ingin rasanya Aluna mengetahui siapa sosok itu. Saat ini pandangannya hanya gelap dan hitam.

“Mungkin aku juga sedang tutup mata di dalam mimpi itu.”

Akhirnya dengan susah payah membuka matanya. Dan saat matanya terbuka, ia cukup terkejut saat matanya menangkap sosok pria yang sangat ia kenali tengah memandang lekat ke arahnya.

“Kak Dirga…” panggil Aluna lirih.

“Maafkan aku, Al,” jawab Dirga. Suaranya parau seakan tengah menahan sesuatu.

Aluna sempat bingung, kenapa pria ini bisa masuk ke dalam mimpinya. Atau mungkin karena pembicaraan lalu tentang kerja sama antara suaminya dengan Dirga yang membuat Aluna secara tidak sadar mengundang Dirga untuk masuk ke alam bawah sadarnya.

“Al, maafkan aku. Aku sudah tidak tahan. Seseorang memberikan sesuatu ke minumanku,” ucap Dirga lirih.

Aluna tidak bisa menanggapinya sebab tangan Dirga yang begitu lihai memainkan titik-titik sensitif di tubuhnya. Belum lagi bibir pria itu yang terus mengecup tubuhnya. Wanita ini hanya bisa terus meracau sambil meliuk-liukkan tubuhnya.

Aluna yang berpikir jika ini adalah mimpi malah semakin menekan kepala Dirga untuk menyesap buah dadanya yang entah sejak kapan sudah terbuka dari pembungkusnya. Mereka semakin menggila di dalam kamar mewah hotel itu.

“Cepatlah. Aku sudah tidak tahan lagi,” desak Aluna.

Hingga akhirnya peristiwa itu terjadi.

Suara desahan Aluna terdengar nyaring di ruangan itu, menggantikan suara pendingin ruangan yang sebelumnya terdengar jelas. Tidak hanya Aluna, suara Dirga pun ikut mengisi. Pria itu terus menggumamkan permintaan maaf pada Aluna dan juga kata-kata pujian untuk wanita itu.

Aluna semakin gila saat Dirga menghujamnya begitu dalam, hingga membuatnya sempat berpikir sesaat.

“Kenapa ini terasa sangat nyata?”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Raska Aufa
Gila Aluna menikmatinya juga. Wkwkwk.... mata dan pikiran sy ternoda....
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 116

    “Aluna baru pulang dari rumah sakit, dan… dia keguguran.”Bak tersambar petir, tubuh Dirga menegang saat mendengar ucapan Pak Beni. Tubuhnya ia majukan ke depan, memastikan pendengarannya tidak salah.“Maaf, Pak. Sepertinya saya ada salah dengar tadi,” katanya dengan raut wajah yang bingung.“Tidak! Apa yang barusan kamu dengar itu nyata. Aluna keguguran,” kata Pak Beni dengan nada berat.Kepala Dirga mendadak terasa berat, tubuhnya limbung hingga bersandar pada sandaran sofa. Napasnya memburu, terasa sesak dan mencekik di tenggorokan. Seluruh dunianya seakan runtuh dalam sekejap mata. Kenyataan pahit ini terlalu mendadak, menghantam pertahanan dirinya hingga hancur berkeping-keping. Calon buah hati yang selama ini ia nantikan, kini telah tiada sebelum sempat ia timang.“Nggak… nggak mungkin,” bisik Dirga dengan suara bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.Dirga segera menegakkan tubuhnya kembali. Rasa syok yang tadinya melumpuhkan, kini berubah menjadi keputusasaan y

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 115

    “Laki-laki, Tuan. Katanya namanya Dirga”Aluna menegang seketika saat mendengar nama yang disebut oleh Tini.“Ngapain dia kesini?” bisik Aluna dengan gelisah.Dengan gerakan takut wanita itu melirik ke arah sang ayah, memperhatikan perubahan wajah pria tua itu yang kini tengah menegang.“Suruh dia tunggu di bawah!”“Yah…” cicit Aluna.“Kamu tunggu di kamar!” Nada suara Pak Beni terdengar tidak ingin dibantah, hingga membuat Aluna tidak berani untuk membantah.Pria tua itu melangkah keluar dari kamar Aluna, lalu turun ke lantai bawah dengan langkah tegas. Setiap pijakannya di anak tangga terdengar menggema, memecah keheningan rumah.Dirga langsung berdiri begitu melihat Pak Beni berjalan mendekat.“Siang, Pak,” sapanya, berusaha tetap tenang. Tidak ada raut gugup yang ia tunjukkan, meskipun detak jantungnya kini berpacu cepat karena tidak menyangka Pak Beni berada di rumah.“Siang. Silakan duduk,” balas Pak Beni datar.Dirga kembali duduk setelah pria tua itu mengambil posisi di hadapa

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 114

    Aluna kini sudah pulang ke rumah setelah dirinya memaksa untuk pulang setelah satu malam harus menginap di rumah sakit. Ragil masih tidak diperbolehkan untuk melihat dirinya maupun mendekatinya.“Jangan pernah biarkan pria itu masuk ke dalam rumah ini!” kata Aluna pada seluruh pekerja yang ada di rumah ayahnya itu.Seluruh pekerja, mulai dari asisten rumah tangga hingga para satpam hanya bisa mengangguk patuh. Namun setelah Aluna pergi, bisik-bisik mereka mulai terdengar.“Ada apa ya, kira-kira?”“Sepertinya mereka lagi berantem hebat.”“Tapi terakhir Non Aluna pulang itu mukanya udah kusut banget. Kayak habis nangis.”“Apa Tuan Ragil selingkuh, ya? Karena kepikiran terus syok, makanya Non Aluna jadi keguguran.”“Bodoh banget Tuan Ragil, spek bidadari seperti Non Aluna dibuang gitu aja. Nyari apaan lagi di luar.”Desas-desus itu hanya terus berkembang di rumah tanpa Aluna ingin ikut di dalamnya. Wanita itu hanya larut dalam rasa kehilangannya. Bahkan ponselnya pun turut ia matikan, me

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 113

    “Ini gimana, pakai nelpon segala,” gumam Ragil panik. Ia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, menyugar rambutnya kasar. Ia tiba-tiba bingung harus bagaimana menjelaskan kondisi Aluna pada sang mertua.“Ah udahlah, nanti aja,” putusnya lalu melanjutkan langkahnya ke bagian administrasi untuk mengurus kamar perawatan Aluna.Tiba di bagian pengurusan kamar, ponsel miliknya kembali berdering dan kembali nama sang mertua muncul pada layar.“Ini ngapain masih nelpon lagi sih,” gerutu pria itu.Ponsel yang terus berdering itu membuat dirinya semakin panik hingga susah fokus.“Tanda tangan saja kalau tidak, Pak. Biar untuk data-data Ibu nanti saya yang isi,” ucap petugas yang menyadari kepanikan Ragil. Petugas itu tentu saja mengira jika kondisi Ragil saat ini diakibatkan karena sang istri yang tengah berada di IGD.Tanpa menjawab, Ragil mengikuti instruksi sang petugas.“Terima kasih,” ucapnya. Pria itu kemudian langsung beranjak dari meja petugas, berjalan kembali ke arah IGD.Namun

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 112

    Suara derap langkah kaki menggema di lorong rumah sakit. Langkah itu berhenti tepat di depan Mbak Sri yang sedang menundukkan kepala.“Mbak, di mana Aluna?”Suara pria yang penuh kepanikan itu terdengar jelas di telinga Mbak Sri. Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya yang sembab, menatap Ragil dengan raut gelisah.“Tuan… Non Aluna masih di dalam. Masih ditangani sama dokter,” jelasnya dengan suara bergetar.Ragil menatap ke arah pintu ruang IGD yang tertutup rapat. Ia menyugar kasar rambutnya ke belakang. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya, berbaur dengan perasaan bersalah yang begitu besar.“Semoga kamu enggak apa-apa, Lun,” bisiknya dalam hati.Detik berganti menit, suasana lorong terasa makin mencekam bagi Ragil. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu, mengabaikan tatapan iba dari Mbak Sri. Setiap tarikan napasnya terasa berat, dipenuhi bayang-bayang ketakutan akan hal terburuk.Klek.Suara engsel pintu terbuka memecah keheningan. Seorang dokter wanita paruh baya melangka

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 111

    Matahari sudah condong ke barat saat Dirga tiba di kediaman Aluna. Ia sengaja menunda perjalanan pulang demi membiarkan gemuruh di dada wanita itu mereda. Aluna turun perlahan dari boncengan. Wajah sembabnya tak mampu menyembunyikan kesedihan, sementara sisa tangis masih sesekali terdengar dari napasnya yang berat.“Terima kasih, Kak,” katanya pelan saat baru saja turun dan langsung berdiri di depan Dirga.“Sama-sama, Al. Kamu udah oke?” tanya pria itu yang masih mengkhawatirkan wanita yang dicintainya itu.Wanita itu menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar.“Bohong kalau aku bilang baik-baik aja, Kak,” katanya pelan.“Aku masuk dulu, Kak. Terima kasih karena sudah mau mengantarku pulang,” tambahnya dengan senyum yang dipaksakan.Tanpa menunggu jawaban dari Dirga, wanita itu langsung membalikkan tubuhnya. Ia mulai melangkah naik ke atas teras, lalu masuk ke dalam rumah setelah mendorong pelan pintu besar bercat putih itu.Dirga masih belum beranjak dari tempatnya, memandang

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 2

    Malam itu Aluna sedang duduk di depan meja rias yang ada di kamarnya, melakukan perawatan tubuh dan wajah yang sudah menjadi rutinitasnya sebelum tidur. Ini ia lakukan demi menjaga tubuh dan wajahnya tetap menarik di mata suaminya. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Ragil belum j

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 1

    “Tugas kamu sederhana aja, Ga. Aku cuma minta kamu buat istri aku hamil. Udah, gitu doang. Setelah itu lima ratus juta aku kasih ke kamu. Eh no… Hari ini aku kasih dua ratus jutanya, sisanya lagi aku kasih kalau Aluna udah hamil,” papar Ragil dengan santai.“Gila kamu ya, Gil!” amuk Dirga pelan pad

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 72

    Langkah kaki Aluna yang dibalut sepatu ber-hak rendah terdengar berketuk teratur di atas lantai marmer lobi yang mengkilap. Sesaat sebelum dirinya tiba di depan lift eksekutif yang akan membawanya ke lantai teratas, Aluna memilih untuk membelokkan arah langkahnya menuju meja resepsionis yang meling

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 5

    Malam ini merupakan malam perayaan perusahaan keluarga Aluna. Dirinya terlihat sangat cantik dan elegan dengan gaunnya yang berwarna hitam.Sambil berpegangan dengan lengan Ragil, mereka memasuki ballroom hotel yang menjadi tempat diselenggarakannya ulang tahun perusahaan. Sebelum duduk di kursi ya

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status