Share

Bab 4

Author: Mumu Mooi
last update publish date: 2026-04-16 12:58:56

Aluna terpaksa pulang sendiri ke rumahnya karena ternyata Ragil benar-benar meninggalkannya. Dirga sempat menawarkan untuk mengantarnya pulang dengan menggunakan motor matic kesayangannya.

“Nggak perlu, Kak. Aku pulang naik taksi saja. Aku juga sudah memesannya tadi,” tolak Aluna.

Tak lama taksi pesanannya tiba. Aluna masuk setelah berpamitan pada Dirga.

Selama perjalanan, Aluna terus menatap ke arah samping, memperhatikan jalanan yang terang oleh lampu-lampu penerangan. Pikirannya masih dipenuhi bayangan kejadian tadi, bagaimana Ragil tetap memaksanya untuk berhubungan dengan Dirga. Dan yang lebih menyakitkan, Ragil tanpa ragu membuka aibnya di hadapan orang lain.

Ini bukan keinginannya. Sampai hari ini, Aluna bahkan tidak tahu siapa yang telah melakukan hal itu padanya. Yang ia ingat, malam itu saat menghadiri acara promnite di sebuah hotel yang diselenggarakan oleh sekolahnya, ia terbangun di tengah malam dalam keadaan berantakan.

Gaun beserta pakaian dalamnya berserakan di lantai kamar hotel. Bahkan, bagian paling intim tubuhnya terasa sakit dan kebas. Saat itu, Aluna tahu… sesuatu telah terjadi padanya. Seseorang telah melakukan hal buruk. Tetapi… siapa?

Aluna memilih menyimpan semua itu rapat-rapat dari papanya. Ia terlalu takut menghadapi kemarahan sang papa yang sangat menjunjung tinggi adat ketimuran. Dan akibat dari keputusannya untuk tidak jujur, hingga kini Aluna tidak pernah tahu siapa pria yang telah merenggut sesuatu yang begitu berharga darinya.

Orang itu pergi, meninggalkannya seorang diri di kamar hotel. Hanya secarik kertas yang tertinggal, dengan tulisan tangan yang masih teringat jelas di benaknya.

‘Maaf, aku terpaksa melakukannya. Mereka merencanakan hal jahat padamu. Seorang preman telah mereka siapkan untukmu, dan nantinya mereka akan menyebarkan foto dan video kalian di sekolah.’

Kertas itu masih tersimpan rapi di dalam dompet lamanya, yang berjajar di lemari kaca penyimpanan tas miliknya. Hanya itu satu-satunya bukti yang ia miliki tentang malam kelam tersebut.

Aluna pernah menceritakan semua itu kepada Ragil, jauh sebelum mereka menikah. Saat itu, Ragil tidak mempermasalahkannya. Ia menerima Aluna dengan seolah tanpa cela, bahkan meminta wanita itu melupakan masa lalu dan mengisinya dengan kenangan manis bersamanya.

Namun hari ini… pria itu justru membuka kembali luka yang selama ini berusaha Aluna kubur dalam-dalam.

Rasa sakit yang kini ia rasakan begitu dalam, bahkan lebih menyakitkan daripada permintaan Ragil tentang anak. Air mata yang sempat mengering kembali jatuh, membasahi pipinya. Riasannya kian berantakan, memperjelas betapa hancurnya perasaan Aluna saat ini.

Sepanjang perjalanan, Aluna tenggelam dalam pikirannya sendiri. Lampu-lampu jalan yang terang tak lagi mampu menarik perhatiannya. Ia hanya diam, memeluk dirinya sendiri, sesekali mengusap air mata yang terus mengalir tanpa henti.

“Bu… Bu?”

Suara sopir taksi itu membuat Aluna tersentak. Ia mengangkat wajahnya, sedikit bingung.

“Kita sudah sampai, Bu,” ujar pria paruh baya itu dengan sopan.

Aluna mengedarkan pandangannya. Benar saja, mobil sudah berhenti tepat di depan rumahnya. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan perjalanan itu berakhir.

“Oh… iya, Pak. Maaf,” ucapnya pelan.

Setelah membayar ongkos, Aluna turun dari taksi dan melangkah menuju rumah. Suasana begitu sepi. Ia sudah bisa menebak, asisten rumah tangganya pasti sudah masuk ke kamar mereka di bagian belakang.

Tanpa menyalakan banyak lampu, Aluna langsung berjalan menuju kamar. Pintu dibuka perlahan, namun tidak ada siapa pun di dalam. Ragil tidak ada, dan Aluna tidak peduli. Ia terlalu lelah untuk memikirkan ke mana suaminya pergi.

Dengan gerakan lambat, Aluna mengganti pakaiannya, lalu berjalan ke kamar mandi. Ia menatap bayangannya di cermin. Tampak wajah yang sembab, mata merah, dan riasan yang sudah hancur.

Tanpa berkata apa pun, Aluna membuka keran air dan mulai membersihkan wajahnya, seolah ingin menghapus semua jejak luka yang terasa semakin nyata malam ini.

Siap dengan urusannya di kamar mandi, Aluna keluar dan memilih untuk langsung berbaring di ranjang. Untuk malam ini ia akan melewatkan ritual perawatan wajah dan tubuhnya. Dirinya terlalu lelah jika harus duduk di depan meja riasnya.

Aluna mulai menutup matanya, berharap kantuk segera datang agar ia bisa mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Namun tak berapa lama Aluna mendengar pintu kamarnya terbuka. Dari aroma parfum yang tercium, Aluna tahu jika yang masuk adalah Ragil. Ia tidak membuka matanya dan terus berpura-pura telah terlelap. Malam ini rasanya ia sudah tidak mempunyai energi lagi untuk berbicara dengan suaminya itu. Terserah jika ingin marah, Aluna tidak mempedulikannya.

Namun ternyata yang terjadi tidak sesuai apa yang dikira. Paginya Ragil kembali bersikap biasa seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Ucapan selamat pagi dan juga ciuman kening yang sudah menjadi rutinitas tetap dilakukan pria itu.

“Kamu rencana hari ini kemana?” tanyanya saat mereka sedang sarapan.

“Tidak kemana-mana,” jawab Aluna datar.

Biasanya Ragil akan marah jika Aluna berbicara dengan nada datar seperti ini, namun kembali hari ini Ragil berbeda. Senyuman hangat tetap saja tidak luntur dari bibir pria itu yang mengundang tanya di kepala Aluna.

“Kamu nggak marah, Mas?” tanya Aluna pada akhirnya.

Ragil menoleh ke arah istrinya yang tengah duduk di seberangnya itu dengan dahi yang mengernyit.

“Marah kenapa?”

“Masalah tadi malam,” jawab Aluna singkat.

“Ngapain aku marah,” jawab Ragil dengan wajah santai tanpa beban. “Lebih baik kita lupakan.”

Tidak ada kata maaf karena telah menyinggung masa lalunya membuat Aluna sedikit merasa kesal.

“Masalahku kenapa sampai kamu bicarakan juga, Mas. Aku tahu kamu marah. Tapi apa harus—”

“Cukup, Lun! Aku sudah bilang untuk lupakan, ya sudah lupakan.” Nada bicara Ragil mulai naik saat Aluna menyinggung masalah itu. “Lagian kamu nggak perlu khawatir. Dirga orangnya nggak suka ngomong sana-sini.”

Kembali Aluna menarik napas dalam. Lagi-lagi Ragil menyepelekan kegelisahan hati dan perasaannya. Dan untuk kesekian kalinya, Aluna memaafkan dan memaklumi.

“Ya sudah, aku berangkat ke kantor dulu ya, Sayang. Ada final rapat untuk acara ulang tahun perusahaan besok. Walau Papa nggak bisa datang, tapi aku harus tetap memberikan yang terbaik untuk perusahaan.” Ragil berdiri lalu kemudian melangkah menuju pintu depan diikuti oleh Aluna di sampingnya.

“Kamu juga harus bersiap untuk besok. Make up yang cantik, karena aku mau pamer ke orang-orang betapa cantiknya istriku ini,” sambungnya sambil mengecup kening Aluna.

Aluna mengangguk pelan tanpa bersuara.

Ragil berjalan menuju mobilnya yang sudah disiapkan oleh supirnya. Ia masuk ke bagian kemudi, lalu mengarahkan mobilnya ke jalan besar, menjauhi rumahnya.

Aluna masih tetap berdiri di ambang pintu, melihat kepergian suaminya dengan perasaan yang campur aduk. Sekali lagi, Aluna harus memendam sendiri perasaannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 82

    “Keluar kalau kamu datang ke sini cuma mau bikin kepala aku pusing dan merusak fokus kerjaku saja, lebih baik kamu pulang sekarang juga!”Aluna membelalakan matanya yang kini sudah basah oleh air mata yang luruh tanpa bisa dibendung lagi. Rasa syok, malu, dan sakit hati yang teramat pekat bercampur menjadi satu, menghantam fisiknya hingga terasa lemas.Dengan gerakan kasar dan jemari yang gemetar hebat, Aluna menyambar tas jinjingnya di atas meja. Tanpa mempedulikan tas bekal sarapan yang dibawanya tadi kini teronggok mengenaskan di tengah meja, Aluna langsung membalikkan tubuhnya. Dengan setengah berlari ia keluar dari ruangan suaminya itu, menutup pintu dengan bantingan keras tanpa mempedulikan Adi—sang sekretaris baru yang terkejut melihat dirinya keluar dalam kondisi sekacau itu.Aluna menekan kasar dan berulang kali tombol lift eksekutif di ujung lorong, berharap pintu logam itu segera terbuka."Ayo terbuka... cepat..." bisiknya panik dengan napas memburu.Ting.Pintu lift terbuk

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 81

    “Kamu siapa?”Mendengar suara lembut dari Aluna, pria yang semula sedang berpaku menatap layar laptop di atas meja sekretaris itu segera berdiri tegak. Ia merapikan jasnya sejenak, lalu mengangguk hormat dengan sangat sopan kepada Aluna.“Saya Adi, Bu. Sekretaris Pak Ragil yang baru mulai hari ini,” jawabnya dengan senyuman profesional.“Sekretaris baru?” tanya Aluna lagi guna memastikan, seolah ingin meyakinkan pendengarannya sendiri bahwa ia tidak sedang salah dengar.“Betul, Bu. Saya pindahan dari divisi operasional lantai bawah,” jawab Adi ramah.Seketika itu juga segaris senyum tipis terlukis indah di wajah cantik Aluna. Dadanya yang sejak beberapa hari lalu terasa sesak akibat kecurigaan kini mendadak terasa lapang.Dirinya sama sekali tidak menyangka ternyata suaminya itu benar-benar membuktikan ucapannya yang dikatakan di atas ranjang malam itu. Aluna bahkan merasa tidak perlu lagi melaksanakan rencana rumitnya tentang penyelidikan antara suaminya dan juga Anggun.Dengan bukti

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 80

    Sepanjang hari, Aluna sama sekali tidak menghantui suaminya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut seputar janji memo pemindahan Anggun. Kali ini ia sengaja memilih untuk diam. Ia hanya ingin melihat dan menguji bagaimana keseriusan Ragil dalam memenuhi janji manis yang diucapkan pria itu di atas ranjang semalam.Namun harapan tinggi yang sempat disusun Aluna ternyata tidak selalu tersampaikan dengan indah. Nyatanya, realitas kembali menamparnya dengan keras.Ragil bersikap biasa saja sepanjang hari, seolah-olah tidak pernah ada janji yang harus ia tepati hari itu. Pria itu tidak mengirim pesan berisikan laporan jika janjinya telah ia tunaikan. Bahkan malam ini pria itu pulang sangat terlambat, melampaui batas wajar hingga membuat Aluna yang kelelahan menanti akhirnya tertidur duluan di atas sofa kamar.“Kamu tidur duluan saja malam ini. Aku masih harus lembur di kantor karena ada berkas proyek yang harus diselesaikan.”Barisan kata dalam pesan singkat yang dikirim oleh Ragil seki

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 79

    Aluna yang berencana akan ke kantor untuk memastikan tentang posisi Anggun harus membatalkannya. Efek tidak tidur tadi malam baru ia rasakan di pagi hari, hingga akhirnya ia tertidur dan tidak mengetahui kapan ayahnya berangkat ke bandara. Selain melewatkan kepergian sang ayah, Aluna juga melewatkan sarapannya.ART yang mengantarkan makanannya tadi pagi terpaksa kembali turun membawa sarapannya sebab Aluna yang tak kunjung membuka pintu. Akibatnya kini perut Aluna memberontak, meminta untuk segera diisi.Sebelum turun ke lantai bawah, Aluna segera membersihkan dirinya yang belum sempat ia lakukan tadi. Hanya dengan waktu setengah jam Aluna akhirnya keluar dari kamar.“Mbak…” panggil Aluna pada ART nya dengan sedikit berteriak.“Iya, Non.” Dengan setengah berlari, seorang pekerja wanita yang berumur empat puluh tahunan menghampiri Aluna.“Mau makan dong,” pinta Aluna.“Baik, Non. Tunggu sebentar, ya. Makan siangnya sebentar lagi siap.” ART itu membalikkan tubuhnya, namun baru beberapa

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 78

    “Kalian dari mana?”Aluna dan Pak Beni yang baru saja menginjakkan kaki di dalam rumah selepas menikmati jalan-jalan pagi seketika menghentikan langkah. Mereka langsung disambut oleh pertanyaan dari Ragil, yang ternyata sudah duduk santai di ruang makan dan baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Pria itu menatap keduanya dengan tatapan menilai yang sulit diartikan.“Aku tadi ikut Ayah jalan-jalan pagi keliling kompleks, Mas. Menghirup udara segar,” jawab Aluna sembari melangkah mendekat, lalu mendudukkan diri di kursi kosong tepat di samping suaminya.Napasnya sedikit memburu akibat aktivitas fisik tadi. Ia meraih sebuah gelas kaca kosong di atas meja, mengisinya dengan air putih dari teko kaca, lalu meminumnya dengan cepat hingga tandas tak bersisa untuk membasahi tenggorokannya yang kering.Ragil menurunkan cangkir kopinya perlahan, matanya beralih meneliti penampilan Aluna dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Kamu tidak lelah? Kondisi kandunganmu kan masih sangat muda, Luna. Har

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 77

    Paginya Aluna turun ke lantai bawah dengan langkah gontai. Setelah melihat nama Anggun yang menghubungi suaminya di waktu yang tidak wajar, mata Aluna tidak bisa kembali terpejam hingga matahari terbit. Sebelum Ragil terbangun, Aluna memutuskan untuk lebih dulu turun setelah menyiapkan pakaian kerja Ragil. Aluna juga sudah memutuskan untuk pura-pura tidak tahu dan akan bersikap biasa sampai mendapatkan jawaban yang pasti.Aluna duduk di ruang tengah, memainkan ponselnya. Ia membuka aplikasi OTT, menonton serial drama yang diadaptasi dari novel. Aluna berusaha mengalihkan kegelisahan di hatinya, demi bayi yang dikandungnya ini.Entah bagaimana nasib pernikahannya dengan Ragil nantinya, wanita ini akan tetap fokus dengan kehamilan nya. Aluna ingat dengan kata-kata Dirga kemarin.“Kamu sudah lupa bagaimana bahagianya kamu saat mendengar detak jantung bayi itu pertama kali kemarin saat pemeriksaan dokter? Kamu lupa bagaimana perjuanganmu menahan semua mual demi mempertahankan dia?”Kalima

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 50

    Hembusan napas berat dari Ragil terdengar begitu kentara di dalam ruangan yang sunyi itu. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.“Nggak perlu repot-repot, Lun. Tadi di ruang rapat sudah disediakan snack berat, aku sudah agak kenyang,” ujar Ragil dengan nada suara yang terkesan enggan.Uca

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 49

    Aluna tersentak di tempatnya berdiri. Suara pintu yang tertutup dengan keras itu seolah meremukkan sisa-sisa gairah yang sempat membakar tubuhnya beberapa saat lalu. Ruang kerja yang megah ini mendadak terasa begitu dingin dan asing. Rasa bersalah, malu, dan cemburu bercampur aduk menjadi gumpalan

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 46

    Aluna turun dari mobil setelah pintunya dibukakan oleh seorang petugas keamanan yang berjaga di depan gedung. Ia tersenyum ramah dan mengucapkan terima kasih sebelum berjalan berdampingan dengan Pak Beni menuju pintu utama.Gedung kantor pusat itu menjulang tinggi dengan fasad kaca yang memantulkan

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 45

    “Aku ikut ke kantor ya, Yah,” pinta Aluna sambil menatap sang ayah dengan mata berbinar penuh harap.Pak Beni mengalihkan pandangannya yang semula ke arah halaman rumah kini menatap ke arah Aluna. Dahi pria itu berkerut tipis menatap putri tunggalnya.“Mau ngapain kamu ke kantor? Hari ini Ayah sama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status