LOGINAluna terpaksa pulang sendiri ke rumahnya karena ternyata Ragil benar-benar meninggalkannya. Dirga sempat menawarkan untuk mengantarnya pulang dengan menggunakan motor matic kesayangannya.
“Nggak perlu, Kak. Aku pulang naik taksi saja. Aku juga sudah memesannya tadi,” tolak Aluna. Tak lama taksi pesanannya tiba. Aluna masuk setelah berpamitan pada Dirga. Selama perjalanan, Aluna terus menatap ke arah samping, memperhatikan jalanan yang terang oleh lampu-lampu penerangan. Pikirannya masih dipenuhi bayangan kejadian tadi, bagaimana Ragil tetap memaksanya untuk berhubungan dengan Dirga. Dan yang lebih menyakitkan, Ragil tanpa ragu membuka aibnya di hadapan orang lain. Ini bukan keinginannya. Sampai hari ini, Aluna bahkan tidak tahu siapa yang telah melakukan hal itu padanya. Yang ia ingat, malam itu saat menghadiri acara promnite di sebuah hotel yang diselenggarakan oleh sekolahnya, ia terbangun di tengah malam dalam keadaan berantakan. Gaun beserta pakaian dalamnya berserakan di lantai kamar hotel. Bahkan, bagian paling intim tubuhnya terasa sakit dan kebas. Saat itu, Aluna tahu… sesuatu telah terjadi padanya. Seseorang telah melakukan hal buruk. Tetapi… siapa? Aluna memilih menyimpan semua itu rapat-rapat dari papanya. Ia terlalu takut menghadapi kemarahan sang papa yang sangat menjunjung tinggi adat ketimuran. Dan akibat dari keputusannya untuk tidak jujur, hingga kini Aluna tidak pernah tahu siapa pria yang telah merenggut sesuatu yang begitu berharga darinya. Orang itu pergi, meninggalkannya seorang diri di kamar hotel. Hanya secarik kertas yang tertinggal, dengan tulisan tangan yang masih teringat jelas di benaknya. ‘Maaf, aku terpaksa melakukannya. Mereka merencanakan hal jahat padamu. Seorang preman telah mereka siapkan untukmu, dan nantinya mereka akan menyebarkan foto dan video kalian di sekolah.’ Kertas itu masih tersimpan rapi di dalam dompet lamanya, yang berjajar di lemari kaca penyimpanan tas miliknya. Hanya itu satu-satunya bukti yang ia miliki tentang malam kelam tersebut. Aluna pernah menceritakan semua itu kepada Ragil, jauh sebelum mereka menikah. Saat itu, Ragil tidak mempermasalahkannya. Ia menerima Aluna dengan seolah tanpa cela, bahkan meminta wanita itu melupakan masa lalu dan mengisinya dengan kenangan manis bersamanya. Namun hari ini… pria itu justru membuka kembali luka yang selama ini berusaha Aluna kubur dalam-dalam. Rasa sakit yang kini ia rasakan begitu dalam, bahkan lebih menyakitkan daripada permintaan Ragil tentang anak. Air mata yang sempat mengering kembali jatuh, membasahi pipinya. Riasannya kian berantakan, memperjelas betapa hancurnya perasaan Aluna saat ini. Sepanjang perjalanan, Aluna tenggelam dalam pikirannya sendiri. Lampu-lampu jalan yang terang tak lagi mampu menarik perhatiannya. Ia hanya diam, memeluk dirinya sendiri, sesekali mengusap air mata yang terus mengalir tanpa henti. “Bu… Bu?” Suara sopir taksi itu membuat Aluna tersentak. Ia mengangkat wajahnya, sedikit bingung. “Kita sudah sampai, Bu,” ujar pria paruh baya itu dengan sopan. Aluna mengedarkan pandangannya. Benar saja, mobil sudah berhenti tepat di depan rumahnya. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan perjalanan itu berakhir. “Oh… iya, Pak. Maaf,” ucapnya pelan. Setelah membayar ongkos, Aluna turun dari taksi dan melangkah menuju rumah. Suasana begitu sepi. Ia sudah bisa menebak, asisten rumah tangganya pasti sudah masuk ke kamar mereka di bagian belakang. Tanpa menyalakan banyak lampu, Aluna langsung berjalan menuju kamar. Pintu dibuka perlahan, namun tidak ada siapa pun di dalam. Ragil tidak ada, dan Aluna tidak peduli. Ia terlalu lelah untuk memikirkan ke mana suaminya pergi. Dengan gerakan lambat, Aluna mengganti pakaiannya, lalu berjalan ke kamar mandi. Ia menatap bayangannya di cermin. Tampak wajah yang sembab, mata merah, dan riasan yang sudah hancur. Tanpa berkata apa pun, Aluna membuka keran air dan mulai membersihkan wajahnya, seolah ingin menghapus semua jejak luka yang terasa semakin nyata malam ini. Siap dengan urusannya di kamar mandi, Aluna keluar dan memilih untuk langsung berbaring di ranjang. Untuk malam ini ia akan melewatkan ritual perawatan wajah dan tubuhnya. Dirinya terlalu lelah jika harus duduk di depan meja riasnya. Aluna mulai menutup matanya, berharap kantuk segera datang agar ia bisa mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Namun tak berapa lama Aluna mendengar pintu kamarnya terbuka. Dari aroma parfum yang tercium, Aluna tahu jika yang masuk adalah Ragil. Ia tidak membuka matanya dan terus berpura-pura telah terlelap. Malam ini rasanya ia sudah tidak mempunyai energi lagi untuk berbicara dengan suaminya itu. Terserah jika ingin marah, Aluna tidak mempedulikannya. Namun ternyata yang terjadi tidak sesuai apa yang dikira. Paginya Ragil kembali bersikap biasa seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Ucapan selamat pagi dan juga ciuman kening yang sudah menjadi rutinitas tetap dilakukan pria itu. “Kamu rencana hari ini kemana?” tanyanya saat mereka sedang sarapan. “Tidak kemana-mana,” jawab Aluna datar. Biasanya Ragil akan marah jika Aluna berbicara dengan nada datar seperti ini, namun kembali hari ini Ragil berbeda. Senyuman hangat tetap saja tidak luntur dari bibir pria itu yang mengundang tanya di kepala Aluna. “Kamu nggak marah, Mas?” tanya Aluna pada akhirnya. Ragil menoleh ke arah istrinya yang tengah duduk di seberangnya itu dengan dahi yang mengernyit. “Marah kenapa?” “Masalah tadi malam,” jawab Aluna singkat. “Ngapain aku marah,” jawab Ragil dengan wajah santai tanpa beban. “Lebih baik kita lupakan.” Tidak ada kata maaf karena telah menyinggung masa lalunya membuat Aluna sedikit merasa kesal. “Masalahku kenapa sampai kamu bicarakan juga, Mas. Aku tahu kamu marah. Tapi apa harus—” “Cukup, Lun! Aku sudah bilang untuk lupakan, ya sudah lupakan.” Nada bicara Ragil mulai naik saat Aluna menyinggung masalah itu. “Lagian kamu nggak perlu khawatir. Dirga orangnya nggak suka ngomong sana-sini.” Kembali Aluna menarik napas dalam. Lagi-lagi Ragil menyepelekan kegelisahan hati dan perasaannya. Dan untuk kesekian kalinya, Aluna memaafkan dan memaklumi. “Ya sudah, aku berangkat ke kantor dulu ya, Sayang. Ada final rapat untuk acara ulang tahun perusahaan besok. Walau Papa nggak bisa datang, tapi aku harus tetap memberikan yang terbaik untuk perusahaan.” Ragil berdiri lalu kemudian melangkah menuju pintu depan diikuti oleh Aluna di sampingnya. “Kamu juga harus bersiap untuk besok. Make up yang cantik, karena aku mau pamer ke orang-orang betapa cantiknya istriku ini,” sambungnya sambil mengecup kening Aluna. Aluna mengangguk pelan tanpa bersuara. Ragil berjalan menuju mobilnya yang sudah disiapkan oleh supirnya. Ia masuk ke bagian kemudi, lalu mengarahkan mobilnya ke jalan besar, menjauhi rumahnya. Aluna masih tetap berdiri di ambang pintu, melihat kepergian suaminya dengan perasaan yang campur aduk. Sekali lagi, Aluna harus memendam sendiri perasaannya.“Aluna baru pulang dari rumah sakit, dan… dia keguguran.”Bak tersambar petir, tubuh Dirga menegang saat mendengar ucapan Pak Beni. Tubuhnya ia majukan ke depan, memastikan pendengarannya tidak salah.“Maaf, Pak. Sepertinya saya ada salah dengar tadi,” katanya dengan raut wajah yang bingung.“Tidak! Apa yang barusan kamu dengar itu nyata. Aluna keguguran,” kata Pak Beni dengan nada berat.Kepala Dirga mendadak terasa berat, tubuhnya limbung hingga bersandar pada sandaran sofa. Napasnya memburu, terasa sesak dan mencekik di tenggorokan. Seluruh dunianya seakan runtuh dalam sekejap mata. Kenyataan pahit ini terlalu mendadak, menghantam pertahanan dirinya hingga hancur berkeping-keping. Calon buah hati yang selama ini ia nantikan, kini telah tiada sebelum sempat ia timang.“Nggak… nggak mungkin,” bisik Dirga dengan suara bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.Dirga segera menegakkan tubuhnya kembali. Rasa syok yang tadinya melumpuhkan, kini berubah menjadi keputusasaan y
“Laki-laki, Tuan. Katanya namanya Dirga”Aluna menegang seketika saat mendengar nama yang disebut oleh Tini.“Ngapain dia kesini?” bisik Aluna dengan gelisah.Dengan gerakan takut wanita itu melirik ke arah sang ayah, memperhatikan perubahan wajah pria tua itu yang kini tengah menegang.“Suruh dia tunggu di bawah!”“Yah…” cicit Aluna.“Kamu tunggu di kamar!” Nada suara Pak Beni terdengar tidak ingin dibantah, hingga membuat Aluna tidak berani untuk membantah.Pria tua itu melangkah keluar dari kamar Aluna, lalu turun ke lantai bawah dengan langkah tegas. Setiap pijakannya di anak tangga terdengar menggema, memecah keheningan rumah.Dirga langsung berdiri begitu melihat Pak Beni berjalan mendekat.“Siang, Pak,” sapanya, berusaha tetap tenang. Tidak ada raut gugup yang ia tunjukkan, meskipun detak jantungnya kini berpacu cepat karena tidak menyangka Pak Beni berada di rumah.“Siang. Silakan duduk,” balas Pak Beni datar.Dirga kembali duduk setelah pria tua itu mengambil posisi di hadapa
Aluna kini sudah pulang ke rumah setelah dirinya memaksa untuk pulang setelah satu malam harus menginap di rumah sakit. Ragil masih tidak diperbolehkan untuk melihat dirinya maupun mendekatinya.“Jangan pernah biarkan pria itu masuk ke dalam rumah ini!” kata Aluna pada seluruh pekerja yang ada di rumah ayahnya itu.Seluruh pekerja, mulai dari asisten rumah tangga hingga para satpam hanya bisa mengangguk patuh. Namun setelah Aluna pergi, bisik-bisik mereka mulai terdengar.“Ada apa ya, kira-kira?”“Sepertinya mereka lagi berantem hebat.”“Tapi terakhir Non Aluna pulang itu mukanya udah kusut banget. Kayak habis nangis.”“Apa Tuan Ragil selingkuh, ya? Karena kepikiran terus syok, makanya Non Aluna jadi keguguran.”“Bodoh banget Tuan Ragil, spek bidadari seperti Non Aluna dibuang gitu aja. Nyari apaan lagi di luar.”Desas-desus itu hanya terus berkembang di rumah tanpa Aluna ingin ikut di dalamnya. Wanita itu hanya larut dalam rasa kehilangannya. Bahkan ponselnya pun turut ia matikan, me
“Ini gimana, pakai nelpon segala,” gumam Ragil panik. Ia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, menyugar rambutnya kasar. Ia tiba-tiba bingung harus bagaimana menjelaskan kondisi Aluna pada sang mertua.“Ah udahlah, nanti aja,” putusnya lalu melanjutkan langkahnya ke bagian administrasi untuk mengurus kamar perawatan Aluna.Tiba di bagian pengurusan kamar, ponsel miliknya kembali berdering dan kembali nama sang mertua muncul pada layar.“Ini ngapain masih nelpon lagi sih,” gerutu pria itu.Ponsel yang terus berdering itu membuat dirinya semakin panik hingga susah fokus.“Tanda tangan saja kalau tidak, Pak. Biar untuk data-data Ibu nanti saya yang isi,” ucap petugas yang menyadari kepanikan Ragil. Petugas itu tentu saja mengira jika kondisi Ragil saat ini diakibatkan karena sang istri yang tengah berada di IGD.Tanpa menjawab, Ragil mengikuti instruksi sang petugas.“Terima kasih,” ucapnya. Pria itu kemudian langsung beranjak dari meja petugas, berjalan kembali ke arah IGD.Namun
Suara derap langkah kaki menggema di lorong rumah sakit. Langkah itu berhenti tepat di depan Mbak Sri yang sedang menundukkan kepala.“Mbak, di mana Aluna?”Suara pria yang penuh kepanikan itu terdengar jelas di telinga Mbak Sri. Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya yang sembab, menatap Ragil dengan raut gelisah.“Tuan… Non Aluna masih di dalam. Masih ditangani sama dokter,” jelasnya dengan suara bergetar.Ragil menatap ke arah pintu ruang IGD yang tertutup rapat. Ia menyugar kasar rambutnya ke belakang. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya, berbaur dengan perasaan bersalah yang begitu besar.“Semoga kamu enggak apa-apa, Lun,” bisiknya dalam hati.Detik berganti menit, suasana lorong terasa makin mencekam bagi Ragil. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu, mengabaikan tatapan iba dari Mbak Sri. Setiap tarikan napasnya terasa berat, dipenuhi bayang-bayang ketakutan akan hal terburuk.Klek.Suara engsel pintu terbuka memecah keheningan. Seorang dokter wanita paruh baya melangka
Matahari sudah condong ke barat saat Dirga tiba di kediaman Aluna. Ia sengaja menunda perjalanan pulang demi membiarkan gemuruh di dada wanita itu mereda. Aluna turun perlahan dari boncengan. Wajah sembabnya tak mampu menyembunyikan kesedihan, sementara sisa tangis masih sesekali terdengar dari napasnya yang berat.“Terima kasih, Kak,” katanya pelan saat baru saja turun dan langsung berdiri di depan Dirga.“Sama-sama, Al. Kamu udah oke?” tanya pria itu yang masih mengkhawatirkan wanita yang dicintainya itu.Wanita itu menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar.“Bohong kalau aku bilang baik-baik aja, Kak,” katanya pelan.“Aku masuk dulu, Kak. Terima kasih karena sudah mau mengantarku pulang,” tambahnya dengan senyum yang dipaksakan.Tanpa menunggu jawaban dari Dirga, wanita itu langsung membalikkan tubuhnya. Ia mulai melangkah naik ke atas teras, lalu masuk ke dalam rumah setelah mendorong pelan pintu besar bercat putih itu.Dirga masih belum beranjak dari tempatnya, memandang
Ragil terus saja memaksa Aluna untuk ikut dengannya malam itu untuk menjumpai Dirga di sebuah restoran. Ragil bahkan harus menjemput istrinya ke rumah sebab Aluna yang terus saja menolak. Dan disinilah mereka, di sebuah ruangan private dengan berbagai macam hidangan telah tersedia di atas meja. Ke
Malam itu Aluna sedang duduk di depan meja rias yang ada di kamarnya, melakukan perawatan tubuh dan wajah yang sudah menjadi rutinitasnya sebelum tidur. Ini ia lakukan demi menjaga tubuh dan wajahnya tetap menarik di mata suaminya. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Ragil belum j
Di dalam tidurnya Aluna merasa ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya, seseorang dengan aroma parfum yang tidak asing namun tidak tahu siapa pemiliknya. Tak lama ia merasa goyangan di atas ranjang, seperti dinaiki oleh seseorang. Aluna yang tidur terlentang merasakan sebuah tangan yang besar me
Malam ini merupakan malam perayaan perusahaan keluarga Aluna. Dirinya terlihat sangat cantik dan elegan dengan gaunnya yang berwarna hitam.Sambil berpegangan dengan lengan Ragil, mereka memasuki ballroom hotel yang menjadi tempat diselenggarakannya ulang tahun perusahaan. Sebelum duduk di kursi ya







