로그인Pandangan mata Wilya yang terlihat tenang itu, seperti menusuk Noah. Untung saja pandangan mata Wilya beralih saat ada dering telpon rumah. Wilya berjalan mendekati tempat telpon rumah yang juga terhubung ke telpon yang ada didalam kamar mereka. "Halo," jawab Wilya sementara Noah mengambil napas dalam-dalam. Ternyata telpon itu berasal dari Mamanya, saat ini Wilya sedang tersenyum lebar dan berbicara panjang lebar dengan Mamanya. Salah satu alasan Noah menikahi Wilya dan tidak mencari Gilsha adalah wanita yang sudah melahirkannya itu. Seruni tidak menyukai pekerjaan Gilsha, dan Noah juga saat itu tengah dibakar api cemburu melihat banyaknya Pria yang dekat dengan Gislah juga sering dia mendengar berita kalau Gilsha memiliki seorang kekasih.
Selama Wilya dan Mamanya berbicara panjang lebar, Noah memilih untuk pergi ke ruang kerjanya yang berada di lantai bawah rumah. Hari yang sudah malam membuat keadaan rumah itu terasa sepi. Baru Noah duduk di kursi kerja, bunyi dari benda hitam dalam saku celananya membuat Noah melihat pesan singkat yang masuk ke gawainya itu.
[Noah sedang apa? boleh aku tahu kenapa kau pergi? maaf jika kau terganggu dengan kehadiranku, aku akan menghindarimu sebisa ku.]
Noah berdecak membacanya, aneh sekali. Seharusnya dia merasa lega, tapi kenapa sekarang dia merasa kesal. Benarkah dia masih begitu mencintai Gilsha? Sementara saat ini Wilya yang sudah selesai bertukar kabar dengan ibu mertuanya itu, tanpa sengaja melihat dompet Noah terletak begitu saja diatas tempat tidur. Wilya mengambilnya, dan dia bermaksud ingin mencari keberadaan Noah. Dompet berwarna coklat itu iseng dibuka Wilya, sehingga dia tersenyum kala melihat foto Noah, dia bermaksud ingin mengambil foto itu dan mengganti dengan foto pernikahan mereka. Bergegas Wilya mengambil foto Noah tadi dari dalam slip dompet, sebuah foto lagi ternyata ada dibelakang foto Noah tadi. Wilya tidak percaya melihatnya, itu adalah foto seorang wanita yang Wilya tahu siapa. Seorang wanita yang di perkenalkan sebagai teman Noah, foto berukuran kecil itu tidak hanya satu namun di belakangnya ada beberapa lembar lagi. Satu yang membuat Wilya terbakar api cemburu, meski itu hanya masa lalu.
Noah_ pria yang berstatus suaminya saat ini, dalam foto tersebut mencium mesra hidung Gilsha. Kenapa Noah masih menyimpan foto-foto ini? jika memang mereka dulunya adalah sepasang kekasih, bukan berarti setelah menikah Noah pantas menyimpan semua yang Wilya genggam erat saat ini.
Wilya geram, hatinya sakit. Noah menyimpan rahasia hatinya selama ini? Apakah masih banyak lagi rahasia yang tidak ingin suaminya itu katakan padanya. Dia meletakkan kembali semua foto-foto tersebut, rapi seperti semula dia menemukannya. Niat untuk memasang foto pernikahannya sudah dia batalkan, ingin mencari Noah juga rasanya sangat malas.
Dia butuh berbaring sambil meredakan perih hatinya. Pikiran Wilya menerawang jauh, semua kebahagiaan yang dia dan Noah lalui selama ini, memang begitu di idamkan oleh semua pasangan yang sudah menikah. Bahkan meski banyak orang yang bertanya, mengapa Wilya belum hamil juga? Noah selalu bisa diandalkan untuk menjadi tameng dirinya. Hanya saja, Wilya tidak merasa di cintai oleh Noah, dia merasa ada yang asing saat Noah menatapnya atau ketika mereka bersama. Air mata Wilya jatuh tanpa ia sadari, dan ia dihantarkan tidur oleh lelah yang hatinya rasakan saat ini.
***
Pagi yang masih sama untuk Noah, Wilya telat bangun dan wanita itu menyiapkan semua keperluannya dengan terburu-buru. Noah sebenarnya tidak menyukai hal ini dari Wilya, tapi mau bagaimana lagi. Dia mengetahui hal ini setelah menikah, bagi dia yang selalu hidup teratur Wilya membuat rencananya berantakan. Seperti ingin minum teh atau kopi di pagi hari dengan nyaman, hal itu jarang sekali dia dapatkan. Ditambah lagi pagi ini Wilya tidak menjawab ketika dia bertanya dimana letak tas kerjanya, wanita itu hanya diam sambil memberikan apa yang ia cari.
"Aku pergi," kata Noah menghentikan langkah kaki Wilya yang ingin mendekat sambil membawakan teh jahe buatannya. Noah terus pergi tanpa perduli kalau Wilya terlihat berbeda pagi ini, ada sedih yang wanita itu simpan sejak semalam. Ketika deru mesin mobil Noah sudah semakin menjauh, Wilya menghembuskan napas lelah. Suara mbok Tuti yang memanggilnya memaksa Wilya untuk tersenyum. "Mbok saya tidak enak badan, ingin berbaring di kamar. Boleh bantu saya membereskan semua sarapan ini? dan tolong untuk makan malam nanti, mbok beli saja ya." Melihat wajah Wilya yang tidak bersemangat asisten rumah tangganya itu memaklumi. Dia melihat roti selai, beserta buah yang sudah ada dimeja makan dan tidak tersentuh sama sekali oleh tuan dan nyonya dirumah itu.
Sementara di sebuah ruang kerja, Noah tersenyum melihat laporan produksi yang terus meningkat. Dia mendengar langkah kaki beberapa orang diluar ruangannya, jendela kaca itu memperlihatkan Gilsha bersama managernya beriringan, mungkin menuju ke ruangan anak buahnya. Noah melihat Gilsha yang menatap ke arah ruang kerjanya tersebut, kemudian wanita itu memalingkan lagi wajahnya.Gilsha tidak tahu kalau dia melihat semua itu, karena kaca ruangan tersebut tidak bisa memperlihatkan bagian didalam ruangan Noah.
Noah kembali mencoba untuk fokus pada pekerjaannya lagi, hingga suara Tito menghentikannya. "Masuk," kata Noah mempersilakan Tito masuk diiringi Aldi sekretarisnya.
"Ada apa?" tanya Noah menatap Tito, karyawannya yang mengurus pemotretan serta konsep iklan di perusahaan.
"Pak Noah, maaf kita harus mencari model lain menggantikan Nona Gilsha." Mendengar itu Noah langsung melebarkan matanya.
"Ada apa ini? Bukankah dia sudah sehat?"
"Saya tidak tahu alasannya Pak, tapi dia dan managernya barusan saja datang ingin membatalkan kontrak kerjasama. Dia juga meminta surat denda atas pembatalan kontrak," jawab Tito lagi dengan raut wajah cemas.
"Aldi apa Gilsha sudah sedari tadi pergi?"
"Dia dan managernya baru saja pergi Pak, tidak lama sebelum kami ke ruangan Anda." Mendengar jawaban Aldi, Noah langsung bergerak cepat untuk mengejar Gilsha. Tidak, dia tidak ingin pesan yang Gilsha kirimkan semalam benar terjadi. Dia tidak ingin wanita itu menjauh darinya lagi, astaga dia benar-benar bimbang. Bagaimana bisa perasaan serta logikanya berubah-ubah seperti ini.
"Gilsha," panggil Noah tepat saat wanita itu keluar dari pintu utama perusahaan yang Noah pimpin. Pria itu tidak lagi perduli dengan pandangan karyawan yang ada disana, entah nanti mereka semua akan berbicara apa tentang dia dan Gilsha.
"Noah, ada apa?" tanya Gilsha terlihat sangat santai, senyumnya juga masih sama.
"Bisa kita berbicara sebentar?" Gilsha yang mendengar hal itu melirik kearah Lina, sebagai Manager Lina juga tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Gilsha sampai ingin membatalkan kerja sama. Bahkan dia rela membayar denda. Noah yang tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Gilsha akhirnya menarik tangan Gilsha untuk ikut dengannya menuju tempat parkir.
Bersambung....
Jakarta 1997...Rumah kediaman keluarga Oliver malam ini cukup ramai dari biasanya, karena ada beberapa keluarga dan sahabat dekat orang tua Noah yang datang. Acara makan malam bersama ini memang sengaja di lakukan, karena beberapa hari lagi Noel dan Indah akan kembali ke Sydney untuk waktu yang lama. Kemajuan perusahaan juga salah satu penyebab acara makan malam itu diadakan. Meja makan persegi panjang yang penuh dengan hidangan lezat tersebut tidak membuat Noah untuk berselera menyentuh piringnya. Wilya yang ada disebelah suaminya itu tahu jelas apa penyebabnya. Tadi, Gilsha mengirimkan pesan kalau wanita itu akan pergi berlibur, dan setelah itu ponsel Gilsha tidak dapat dihubungi. Noah menjadi tidak konsentrasi setelahnya. Padahal seharusnya Gilsha juga ikut menghadiri acara makan malam ini, tapi wanita itu memilih untuk absen."Noah, sebagai paman mu aku ingin bertanya sesuatu." Seorang Pria dengan setelan jas mahal menatap lurus k
Ini adalah hari ke tiga Gilsha berada di Phuket, dia sama sekali tidak menanggapi Wilya. Noah memilih untuk tidur bersamanya, dan menyewakan vila satu lagi untuk Wilya. Disana, Wilya seorang diri dan Gilsha tidak perduli apa yang wanita itu lakukan. Namun, bukan berarti dia sudah bisa bermesraan dengan Noah, Gilsha masih sangat marah kepada pria itu. Dan hari ini, dia akan menjalankan niatnya. Yaitu, bertanya kepada Noah siapa yang akan pria itu pertahankan.Noah sedang melihat pesan yang mungkin berisikan pekerjaan pria itu. Karena wajah Noah terlihat snagat serius dan seperti berpikir, duduk di balkon kamar mereka yang menghadap ke pantai. "Noah apa kau masih sibuk?" tanya Gilsha yang tidak langsung dijawab oleh pria itu. Setelah beberapa saat Noah meletakkan ponselnya, kemudian dia tersenyum menatap Gilsha."Kau sudah tidak marah lagi?""Aku bukan hanya marah Noah, tapi juga kecewa kepadamu.""L
Satu bulan sudah berlalu, Wilya kembali kepada rutinitas awalnya yang selalu menunggu Noah kembali. Tidak ada yang mengerti jalan pikiran Wilya yang mau bertahan meski tidak dianggap oleh Noah. Bahkan semenjak mereka kembali dari Thailand, Noah belum pernah lagi menginap dirumah itu. Wilya bagaikan pajangan usang, sangat buruk nasibnya. Belakangan ini juga dia sering merasa tidak enak badan dan juga mual. Wilya tahu itu semua karena beban pikiran tentang biduk rumah tangganya. Wilya rasanya sangat geram kepada Gilsha, wanita itu bahkan mendapatkan hadiah saham perusahaan dari ayah dan ibu mertuanya karena mengandung anak dari Noah.Wilya kembali mual, dari ruang tamu dia berlari menuju kamar mandi yang dekat dari sana. Saat ini tidak ada siapa-siapa dirumah, karena asisten rumah tangga mereka sedang cuti pulang kampung dari semalam sehingga Wilya hanya seorang diri. Supir juga sekarang lebih sering diminta Noah untuk berjaga dirumah madunya yang tidak la
Seorang pemuda melihat mobil Fortuner putih yang masuk ke pekarangan rumah milik wanita yang sudah sejak lama dia cintai, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Wanita itu percaya, jika dia masih menjadi istri dari pria lain yang tidak lagi mengingat dirinya. Pria yang belasan tahun sudah membiarkan wanita itu seorang diri.Di tempat lain, Gilsha yang duduk di kursi roda tersenyum melihat orang yang datang mengunjunginya. "Kau kembali Melodi?" tanya Gilsha lalu dia memutar kursi roda tersebut agar bisa berhadapan dengan wanita muda yang menatapnya penuh kebencian."Ya, aku ingin menyelesaikan pekerjaanku. Jika Anda tidak keberatan, apakah boleh saya bertanya mengenai kehidupan pribadi anda Ibu Gilsha Alyne?""Gilsha Alyne Oliver, itulah nama lengkap ku setelah menikah secara diam-diam dengan ayahmu." Melodi menghembuskan napasnya lelah, dia heran mengapa wanita seperti Gilsha, yang cantik pintar dan memiliki ke-populeran mau menjadi wanita ke-dua dalam rumah tangga ayah dan ibunya."B
Hamil, sebuah hal baru yang Gilsha jalani. Noah dan kedua orang tuanya memang sangat bahagia, sementara Wilya merasa semakin tersisih. Kehamilan Gilsha tentu membuat Noah jaranng menemuinya, tidak ada lagi perhatian Noah seperti dulu. Wilya lebih sering menghabiskan malam seorang diri, atau terkadang bersama Riska sahabatnya."Gilsha, jangan berolahraga dulu sayang." Noah menghentikan istrinya itu yang sudah terlihat memakai pakaian olahraga setelah keluar dari dalam kamar mandi. Gilsha menghembuskan napasnya lelah, dia mengusap perutnya yang memang belum terlihat membuncit.Noah mendekat kepada Gilsha, mencium bibir istrinya itu lalu mencium perut Gilsha. Usia kandungan Gilsha sudah masuk dua belas minggu, mual dan pusing masih dia rasakan meski tidak berlebihan lagi seperti sebelumnya. Jadwalnya di dunia keartisan dan model juga sudah tidak ada lagi, semua sudah selesai di dua bulan kemarin. Sesuai janjinya kepada Indah, dia akan menjadi istri Noah seutuhnya. Melayani Noah sebagai
Dua bulan berlalu...Cahaya matahari pagi masuk menyinari seluruh bagian rumah Gilsha. Lina datang kali ini bersama dengan seorang pegawai bank. Satu bulan yang lalu Gilsha memang sudah tidak lagi menerima tawaran di dunia hiburan, tapi bukan berarti Gilsha berhenti untuk mencari pundi-pundi dari jerih payahnya. Dia suadh berbicara dengan Lina ingin membuka usaha, sehingga pendapatannya yang sisanya tak begitu banyak itu bisa dia gunakan untuk memulai bisnis baru. Gilsha memilih untuk menekuni investasi di bidang wisata, dia juga berniat untuk membeli tanah di Bali untuk dia buka tempat makan atau yang lainnya.Hal ini sudah Gilsha bicarakan dengan Noah, pria itu setuju dan akan membantu jika Gilsha membutuhkan bantuan dana darinya. Namun, terbiasa mandiri Gilsha tidak ingin memakai uang yang Noah. Dia hanya akan memakai jatah bulanan yang Noah berikan kepadanya, itu saja sudah cukup untuk Gilsha.Ketika Lina datang, Gilsha masih sibuk di ruang olahraga. Melambaikan tangan kepada Lina
Lina menarik lengan Gilsha, menatap tajam netra coklat terang yang wanita itu miliki. "Apa kau gila? Kau menarik lenganku sangat kuat.""Kau yang sudah gila! Kau merebut suami orang? Kau selama ini sengaja menggodanya bukan?" Gilsha diam saja, kepalanya terasa mau pecah saat ini. "Gilsha jika kau m
Satu Minggu berlalu...Lina dan bagian promosi sedang berdiskusi dengan Noah di ruangannya. Beberapa foto Gilsha yang menawan dapat Noah lihat. Wanita itu memang sungguh cantik, Gilsha juga dia dengar baru saja melakukan kegiatan amal untuk membantu anak-anak jalanan dan juga yatim piatu. Hal itu d
Malam tiba, Wilya tidak habis pikir karena Noah belum juga kembali ke rumah. Dia dengan hati yang terluka menanti kedatangan suaminya. Tepat pukul dua belas malam, deru mesin mobil Noah memasuki pekarangan rumah. Wilya memilih duduk di tempat tidur sambil berpura-pura membaca buku.Pintu kamar terb
"Jangan dilanjutkan Noah," kata Gilsha masih berusaha tidak terbawa gairahnya yang sudah memuncak. Dari ruang makan Noah menggendong tubuhnya untuk masuk ke dalam kamar. Noah memang sudah melihat semua yang ada pada diri Gilsha, membuainya lembut. Hanya saja tidak sampai kepada tahap yang lebih, No







