LOGINAtmosfir udara terasa berbeda, Noah tahu ada suatu hal yang tidak baik akan terjadi antara dia dan Gilsha jika mereka terus berdekatan seperti ini. Pikiran Noah sudah jalan kemana-mana saat dia membaringkan tubuh Gilsha. Bentuk tubuh wanita itu sudah tercetak jelas dalam balutan dress yang ia gunakan. Noah menghembuskan napas mencoba mengatur sesuatu yang memprovokasinya. "Gilsha maaf, aku harus kembali ke rumah. Aku sudah salah mengambil langkah semalam dan sore ini, aku minta maaf." Noah pergi begitu saja setelah dia mengatakan hal yang tidak ingin Gilsha dengar. Gilsha melengkungkan senyuman, menertawakan dirinya sendiri karena sudah berbuat sejauh ini dan Noah tetap tidak tergoda olehnya.
Ya, benar dia memang sengaja jatuh kedalam kolam untuk menggoda Noah menyentuh tubuhnya, dia tidak perduli jika akan dikatakan menginginkan suami orang. Memang itulah kenyataannya dan dia tidak akan berhenti sebelum Noah jatuh kedalam pelukannya. Noah memang seharusnya milik dia, buktinya pria itu masih begitu memperdulikannya. Semalam juga Noah berjanji akan membantu Gilsha melunasi hutang kepada Dika. Gilsha ingin mendapatkan kebahagiaannya sendiri, seperti yang orang lain rasakan. Dia juga ingin merasakan hal itu, memiliki pasangan yang akan menyayangi serta melindungi dirinya.
Noah pasti akan sangat sulit mengabaikannya, dia cantik dibandingkan dengan istri Noah yang tidak ada apa-apanya. Mengenai istri Noah itu, akan dia pikirkan nanti saja setelah Noah berhasil dia dapatkan. Gilsha menekan nomor Lina, dia meminta managernya itu mencarikan asisten baru yang bisa diandalkan. Tidak seperti yang dulu, tidak becus mengurus konstum dan riasannya, alhasil Gilsha harus turun tangan sendiri membuat dia sangat kewalahan. Satu lagi yang Gilsha ingin Lina kerjakan, yaitu membawa di ke salon kecantikan malam itu juga. Dia ingin melakukan perawatan wajah dan juga tubuhnya.
***
Noah menutup mata saat dia nyaris saja melakukan kesalahan, dia sangat bodoh sempat berpikir untuk memulai sebuah hubungan dengan Gilsha lagi. Di tatapnya Wilya yang sedang menyiram tanaman, istrinya itu menggunakan rok biku berwarna biru muda dengan atasan kaos polos berwarna putih, rambut hitamnya diikat dengan hiasan kain berbentuk pita. Wilya terlihat manis, meski tidak secantik Gilsha istrinya itu sudah sempurna.
Noah turun dari mobilnya, dia menyempatkan membeli oleh-oleh untuk istrinya itu. "Sayang," panggil Noah kemudian Wilya menggelengkan kepala sambil tersenyum karena Noah menunjukkan bungkusan makanan yang dia bawa.
"Kamu katanya ada urusan kerja? kenapa cepat sekali kembali, aku pikir sampai malam."
"Ya kerja ini namanya, kerja untuk menyenangkan hati istri." Wilya tertawa bahagia kemudian memeluk Noah. Satu kecupan dibibirnya diberikan Noah, membuat Wilya malu. "Ayo, kita makan sama-sama. Aku juga membelikan untuk mbok Tuti." Wilya benar-benar bahagia mendengarnya. Dia tidak tahu kalau suaminya tercinta itu nyaris saja melakukan kesalahan yang akan menghancurkan bahtera rumah tangga mereka.
Baru mereka masuk ke dalam rumah, tamu datang berkunjung. Wilya membuka pintu rumah dan langsung memeluk sahabatnya. "Riska, astaga sudah lama kita gak ketemu. Ayo masuk," ajak Wilya membuat Noah bertanya siapa yang datang. "Sayang ini sahabat ku Riska, kamu ingatkan?" tanya Wilya kepada Noah yang sudah duduk di meja makan, letak ruang tamu dan meja makan memang tidak jauh dan tidak ada pembatasnya.
"Oh..iya, tentu aku ingat. Kalau begitu ini kamu makan saja dengan Riska, aku ke kamar dulu." Wilya sebenarnya tidak enak dengan Noah, tapi mau bagaimana lagi. Riska juga sesekali datang, dia membuka makanan yang dibawa oleh Noah tadi diatas meja makan, tidak lupa Wilya juga memanggil mbok Tuti. Wanita paruh baya itu mengucapkan terima kasih, kemudian berlalu masuk kedalam kamarnya meninggalkan Wilya dengan Riska saja berdua.
"Aku senang melihat kamu dan Noah bahagia seperti ini Wil," kata Riska mengusap telapak tangan sahabatnya itu. Dia sempat khawatir karena Wilya menikah dengan Noah akibat perjodohan. Saat itu Wilya baru lulus meraih gelar Sarjana dan pamannya langsung menjodohkan Wilya dengan anak sahabatnya. Wilya sudah tidak memiliki kedua orang tua, dia yatim piatu sejak usianya masih sepuluh tahun. Riska adalah satu-satunya sahabat yang ia miliki dari SMA hingga saat ini.
"Aku juga tidak menyangka kalau rumah tangga kami akan berjalan baik-baik saja, hanya saja kadang aku merasa Noah tidak mencintaiku."
"Cinta itu bisa datang kapan saja, dan ditunjukkan dengan cara yang kadang tidak kita duga."
"Iya kamu benar, selama kami menikah aku jelas melihat kalau dia berusaha agar aku bahagia. Kadang aku jadi merasa bersalah karena tidak bisa melayani dia dengan baik." Riska mengerti maksud Wilya ini. "Kamu bagaimana? apa setelah bercerai menjadi lebih bahagia?" Wilya menuangkan minuman untuk Riska.
"Aku jauh lebih baik, meski belum sepenuhnya bisa melupakan semua rasa sakitnya." Riska dan suaminya bercerai enam bulan lalu, Wilya yang menemani semua proses Riska pada saat itu. Penyebab kandasnya rumah tangga sahabat Wilya itu tidak lain karena hadirnya orang ketiga. "Kamu harus jaga baik-baik Noah, jika dia mulai berubah sikapnya kamu harus segera menyadari dan mencari tahu, jangan sepertiku. Terlalu sibuk kerja sampai aku buta melihat perselingkuhan suamiku dengan rekan satu kantornya itu."
"Sudah...jangan di ingat lagi, nanti kamu jadi semakin tidak bisa melupakan masa-masa itu."
"Iya Wil kamu benar. Kamu tahu, setiap melihat anakku, aku jadi merasa sangat bersalah karena tidak bisa mempertahankan keluarga yang utuh untuknya." Wilya mendengarkan keluh kesah sahabatnya itu. "Oh...ya aku sampai lupa. Aku tadi sebenarnya melihat Noah dari daerah Pondok Indah, apa dia dari rumah temannya?" pertanyaan Riska ini membuat Wilya bingung. Kata Noah dia hanya pergi untuk membeli makanan saja. Namun, Wilya mencoba tetap tersenyum dengan menjawab benar kalau Noah tadi pergi mengunjungi temannya. Wilya dan Riska akhirnya berbicara panjang lebar, dengan Wilya yang menahan seribu pertanyaan untuk Noah.
Setelah Riska pamit pulang, Wilya langsung menaiki anak tangga menuju lantai atas dimana kamarnya berada. "Sayang boleh aku tanya sesuatu?" tanya Wilya dan Noah yang masih memegang ponselnya itu mengangguk.
"Apa teman kamu yang artis bernama Gilsha itu tinggal di daerah pondok indah?" tanya Wilya hati-hati.
"Ya benar, dia tinggal di sana. Ada apa?" Bukannya menjawab tetapi Wilya diam, Noah sampai bingung melihatnya.
"Kamu tadi dari rumahnya kan?" tanya Wilya langsung, tetapi tidak memperlihatkan raut wajah marah ataupun curiga.
Bersambung...
Aku menantikan komentarnya ya...😘
Jakarta 1997...Rumah kediaman keluarga Oliver malam ini cukup ramai dari biasanya, karena ada beberapa keluarga dan sahabat dekat orang tua Noah yang datang. Acara makan malam bersama ini memang sengaja di lakukan, karena beberapa hari lagi Noel dan Indah akan kembali ke Sydney untuk waktu yang lama. Kemajuan perusahaan juga salah satu penyebab acara makan malam itu diadakan. Meja makan persegi panjang yang penuh dengan hidangan lezat tersebut tidak membuat Noah untuk berselera menyentuh piringnya. Wilya yang ada disebelah suaminya itu tahu jelas apa penyebabnya. Tadi, Gilsha mengirimkan pesan kalau wanita itu akan pergi berlibur, dan setelah itu ponsel Gilsha tidak dapat dihubungi. Noah menjadi tidak konsentrasi setelahnya. Padahal seharusnya Gilsha juga ikut menghadiri acara makan malam ini, tapi wanita itu memilih untuk absen."Noah, sebagai paman mu aku ingin bertanya sesuatu." Seorang Pria dengan setelan jas mahal menatap lurus k
Ini adalah hari ke tiga Gilsha berada di Phuket, dia sama sekali tidak menanggapi Wilya. Noah memilih untuk tidur bersamanya, dan menyewakan vila satu lagi untuk Wilya. Disana, Wilya seorang diri dan Gilsha tidak perduli apa yang wanita itu lakukan. Namun, bukan berarti dia sudah bisa bermesraan dengan Noah, Gilsha masih sangat marah kepada pria itu. Dan hari ini, dia akan menjalankan niatnya. Yaitu, bertanya kepada Noah siapa yang akan pria itu pertahankan.Noah sedang melihat pesan yang mungkin berisikan pekerjaan pria itu. Karena wajah Noah terlihat snagat serius dan seperti berpikir, duduk di balkon kamar mereka yang menghadap ke pantai. "Noah apa kau masih sibuk?" tanya Gilsha yang tidak langsung dijawab oleh pria itu. Setelah beberapa saat Noah meletakkan ponselnya, kemudian dia tersenyum menatap Gilsha."Kau sudah tidak marah lagi?""Aku bukan hanya marah Noah, tapi juga kecewa kepadamu.""L
Satu bulan sudah berlalu, Wilya kembali kepada rutinitas awalnya yang selalu menunggu Noah kembali. Tidak ada yang mengerti jalan pikiran Wilya yang mau bertahan meski tidak dianggap oleh Noah. Bahkan semenjak mereka kembali dari Thailand, Noah belum pernah lagi menginap dirumah itu. Wilya bagaikan pajangan usang, sangat buruk nasibnya. Belakangan ini juga dia sering merasa tidak enak badan dan juga mual. Wilya tahu itu semua karena beban pikiran tentang biduk rumah tangganya. Wilya rasanya sangat geram kepada Gilsha, wanita itu bahkan mendapatkan hadiah saham perusahaan dari ayah dan ibu mertuanya karena mengandung anak dari Noah.Wilya kembali mual, dari ruang tamu dia berlari menuju kamar mandi yang dekat dari sana. Saat ini tidak ada siapa-siapa dirumah, karena asisten rumah tangga mereka sedang cuti pulang kampung dari semalam sehingga Wilya hanya seorang diri. Supir juga sekarang lebih sering diminta Noah untuk berjaga dirumah madunya yang tidak la
Seorang pemuda melihat mobil Fortuner putih yang masuk ke pekarangan rumah milik wanita yang sudah sejak lama dia cintai, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Wanita itu percaya, jika dia masih menjadi istri dari pria lain yang tidak lagi mengingat dirinya. Pria yang belasan tahun sudah membiarkan wanita itu seorang diri.Di tempat lain, Gilsha yang duduk di kursi roda tersenyum melihat orang yang datang mengunjunginya. "Kau kembali Melodi?" tanya Gilsha lalu dia memutar kursi roda tersebut agar bisa berhadapan dengan wanita muda yang menatapnya penuh kebencian."Ya, aku ingin menyelesaikan pekerjaanku. Jika Anda tidak keberatan, apakah boleh saya bertanya mengenai kehidupan pribadi anda Ibu Gilsha Alyne?""Gilsha Alyne Oliver, itulah nama lengkap ku setelah menikah secara diam-diam dengan ayahmu." Melodi menghembuskan napasnya lelah, dia heran mengapa wanita seperti Gilsha, yang cantik pintar dan memiliki ke-populeran mau menjadi wanita ke-dua dalam rumah tangga ayah dan ibunya."B
Hamil, sebuah hal baru yang Gilsha jalani. Noah dan kedua orang tuanya memang sangat bahagia, sementara Wilya merasa semakin tersisih. Kehamilan Gilsha tentu membuat Noah jaranng menemuinya, tidak ada lagi perhatian Noah seperti dulu. Wilya lebih sering menghabiskan malam seorang diri, atau terkadang bersama Riska sahabatnya."Gilsha, jangan berolahraga dulu sayang." Noah menghentikan istrinya itu yang sudah terlihat memakai pakaian olahraga setelah keluar dari dalam kamar mandi. Gilsha menghembuskan napasnya lelah, dia mengusap perutnya yang memang belum terlihat membuncit.Noah mendekat kepada Gilsha, mencium bibir istrinya itu lalu mencium perut Gilsha. Usia kandungan Gilsha sudah masuk dua belas minggu, mual dan pusing masih dia rasakan meski tidak berlebihan lagi seperti sebelumnya. Jadwalnya di dunia keartisan dan model juga sudah tidak ada lagi, semua sudah selesai di dua bulan kemarin. Sesuai janjinya kepada Indah, dia akan menjadi istri Noah seutuhnya. Melayani Noah sebagai
Dua bulan berlalu...Cahaya matahari pagi masuk menyinari seluruh bagian rumah Gilsha. Lina datang kali ini bersama dengan seorang pegawai bank. Satu bulan yang lalu Gilsha memang sudah tidak lagi menerima tawaran di dunia hiburan, tapi bukan berarti Gilsha berhenti untuk mencari pundi-pundi dari jerih payahnya. Dia suadh berbicara dengan Lina ingin membuka usaha, sehingga pendapatannya yang sisanya tak begitu banyak itu bisa dia gunakan untuk memulai bisnis baru. Gilsha memilih untuk menekuni investasi di bidang wisata, dia juga berniat untuk membeli tanah di Bali untuk dia buka tempat makan atau yang lainnya.Hal ini sudah Gilsha bicarakan dengan Noah, pria itu setuju dan akan membantu jika Gilsha membutuhkan bantuan dana darinya. Namun, terbiasa mandiri Gilsha tidak ingin memakai uang yang Noah. Dia hanya akan memakai jatah bulanan yang Noah berikan kepadanya, itu saja sudah cukup untuk Gilsha.Ketika Lina datang, Gilsha masih sibuk di ruang olahraga. Melambaikan tangan kepada Lina
Seorang pemuda melihat mobil Fortuner putih yang masuk ke pekarangan rumah milik wanita yang sudah sejak lama dia cintai, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Wanita itu percaya, jika dia masih menjadi istri dari pria lain yang tidak lagi mengingat dirinya. Pria yang belasan tahun sudah membiarka
Gilsha sudah bangun pagi-pagi sekali seperti biasa, bedanya bagi dia saat ini ia berada di rumah Noah. Gilsha turun ke bawah masih gelap, dia kemudian menghidupkan lampu. Mencari dimana sapu dan alat kebersihan lainnya, mungkin apa yang dia lakukan itu membuat pelayan dirumah tersebut bangun. Dia m
Cinta memang tidak salahHanya waktu dan tempatnya yang terkadang menjadikannya salah.****Selama tiga hari Wilya menata hati dan pikirannya, dia mencoba menerima segala yang terjadi. Rumah tangga yang dia kira sempurna, ternyata hanya awalan saja. Wilya belum bercerita kepada siapapun mengenai se
Pantai Kuta, Bali 1997.Gilsha menikmati deburan ombak yang menyapa telapak kakinya. Keinginan ingin bermain air disana ia urungkan karena di hatinya yang sedang menunggu seseorang.Dua hari yang lalu dia menunggu Noah untuk datang ke rumah orang tuanya di Bali, tapi pria itu tak kunjung datang. Mu







