Share

Bab 2

Author: Hes
Saat fajar hampir menyingsing, Reza pun kembali.

Dia tidak sendirian.

Keira mengenakan mantel milik Reza, tangan kanan wanita itu ditopang dalam telapak tangannya, dengan sudut mata yang tampak memerah.

Aku berdiri di tepi meja makan, memasukkan beberapa dokumen yang sudah ditandatangani ke dalam amplop kertas cokelat.

Reza melihatku, alisnya langsung berkerut.

"Kau tidak tidur semalaman?"

Keira mundur sedikit ke belakang tubuh Reza, suaranya begitu pelan hingga gemetar.

"Kak Nara, maaf, aku tidak tahu kau ada di sini ...."

Di jari manis tangan kirinya, terpasang cincin pernikahanku.

Cincin itu dibayar dari uang yang Reza kumpulkan delapan tahun lalu, dari bayaran sebagai figuran di lokasi syuting yang hanya empat ratus ribu sehari.

Di bagian dalam cincin itu juga terukir sebuah kalimat dengan tulisan yang tampak miring dan tidak rapi.

[Hanya N.]

Dulu Reza berkata, begitu punya uang nanti, dia pasti akan menggantinya dengan cincin yang lebih bagus untukku.

Kemudian dia benar-benar menjadi kaya, tetapi melupakannya.

Aku menatap cincin itu, tak berkata apa-apa.

Reza mengikuti arah pandangku, seolah baru teringat akan hal itu.

Dia menjelaskan dengan sangat ringan.

"Cincin itu tersangkut terlalu dalam, kata dokter untuk sementara tidak bisa dipotong, dia akan memakainya beberapa hari saja."

Aku mengangguk.

"Cocok."

Air mata Keira tiba-tiba jatuh.

"Kak Nara, jangan salah paham. Hubunganku dengan Reza tidak seperti yang kau pikirkan, dia cuma merasa berhutang padaku dan ingin menebusnya."

Setelah berkata begitu, dia terlihat seperti terkejut, lalu dengan lembut menarik ujung lengan baju Reza.

"Reza, lebih baik aku pergi saja, aku tidak mau membuat Kak Nara sedih."

Wajah Reza sedikit muram, lalu berkata.

"Tanganmu masih bengkak, mau ke mana?"

Setelah itu, dia menatapku dan memberi perintah.

"Nara, rapikan kamar tamu. Biarkan dia menginap selama dua hari."

Jari-jariku langsung terhenti sejenak.

"Kamar tamu penuh dengan barang-barangku."

"Kalau begitu, pindahkan dulu ke ruang kerja."

Dia mengatakannya dengan begitu santai.

Sama seperti berkali-kali di masa lalu saat dia memintaku mengorbankan waktu istirahatku, menyerahkan namaku dalam kredit naskah, dan menyerahkan hak statusku untuk diperkenalkan secara resmi.

Tiba-tiba aku tersenyum kecil.

"Reza, apa kau tahu apa saja yang ada di ruang kerja itu?"

Dia terdiam sejenak.

Aku menjawabkan untuknya.

"Di sana ada rekaman audisi drama pertamamu, lebih dari tiga ratus email klarifikasi yang kutuliskan untuk membantumu, dan salinan kontrak yang kudapatkan saat kau diboikot dulu."

Keira menggigit bibir dan berkata dengan suara pelan.

"Kak Nara, jangan bicara seperti itu, seolah-olah semua yang Reza dapatkan hari ini sepenuhnya berkatmu."

Akhirnya, aku menatap wanita itu.

"Lalu, apa itu berkatmu?"

Ruang tamu seketika menjadi hening.

Tatapan Reza akhirnya menjadi dingin.

"Cukup."

Dia menarik Keira dan melindungi wanita itu di belakang tubuhnya.

Gerakannya sangat lembut, tetapi terasa lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan.

"Nara, kondisinya sedang tidak sehat, dia tidak sanggup mendengar ucapanmu yang seperti itu."

Aku menunduk dan melanjutkan menutup amplop.

"Kenapa? Apa di rumah Aktor Terbaik, orang tidak boleh mengatakan kebenaran?"

Reza menahan amarahnya.

"Keira sedang tidak sehat, jangan provokasi dia."

"Dia sedang tidak sehat, jadi boleh memakai cincinku, tidur di kamar tamuku, dan merebut suamiku?"

Suaraku tidak keras, tetapi cukup membuat sedikit rasa bersalah melintas di sorot mata Reza.

Keira tiba-tiba memegang dada, napasnya menjadi cepat dan terengah-engah, lalu berkata dengan putus-putus.

"Reza, aku agak sesak napas ...."

Wajah Reza langsung berubah, lalu segera memeluknya.

Saat melewati sampingku, dia berhenti sejenak, suaranya begitu dingin tanpa emosi.

"Nara, kalau terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan memaafkanmu."

Pintu ditutup dengan keras.

Aku berdiri di tempat yang sama cukup lama, baru kemudian membungkuk mengambil selembar hasil pemeriksaan milik Keira yang jatuh ke lantai.

Di kolom diagnosis tertulis:

[Gangguan kecemasan ringan.]

Detik berikutnya, pintu kembali terbuka.

Reza kembali.

Aku mengira dia melihat selembar kertas itu.

Namun, dia hanya melangkah cepat ke ruang kerja, lalu membawa keluar sebuah kotak kayu tua.

Ekspresi wajahku akhirnya benar-benar berubah.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 11

    Pada hari putusan perceraian kami dikeluarkan, salju turun sangat lebat di Nordavia.Bima mengirimkan berkas elektronik itu kepadaku.Aku membacanya cukup lama.[Hubungan pernikahan Nara Maheswari dan Reza Mahardika telah resmi diputuskan.]Hanya satu baris singkat.Delapan tahun masa mudaku seolah dipaku menjadi sebuah arsip lama yang telah disahkan dengan cap resmi.Malam itu, Reza mengirimkan surel terakhir kepadaku.Tanpa sapaan, juga tanpa nama pengirim.[Nara, hari ini aku pergi ke teater tempat ibumu dulu pernah tampil.][Aku duduk di barisan paling belakang dan menonton sebuah drama biasa sampai selesai.][Saat pertunjukan usai, tiba-tiba aku teringat kau pernah berkata bahwa setiap kali ibumu memberi salam penutup, beliau selalu melihat ke sisi kiri kursi penonton terlebih dahulu, karena saat kecil kau selalu duduk di sana menunggunya.][Dulu aku tidak pernah mendengarkannya dengan serius.][Maafkan aku.][Aku sudah menemukan anting itu.][Keira meninggalkannya di ruang rias,

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 10

    Setelah kembali, Reza mengumumkan bahwa dia akan menghentikan sementara aktivitasnya.Saat cuitan itu diposting, seluruh dunia maya pun menjadi heboh.[Karena alasan pribadi, saya akan menghentikan sementara semua kegiatan di dunia hiburan.]Ada yang mengecamnya sebagai orang yang terlalu terpaku pada asmara.Ada pula yang prihatin melihat kondisinya yang kurang baik.Ada juga yang mulai menggali lebih dalam siaran langsung tersebut.Tidak lama kemudian, semua hal tentang diriku yang dulu, seperti menulis pernyataan klarifikasi, menanggung denda pelanggaran kontraknya, dan menjual peninggalan berharga ibuku demi membiayai kelas aktingnya, perlahan-lahan terungkap.Akun rahasia milik Keira juga terungkap.Dia pernah mengunggah sebuah postingan pada tengah malam.[Selama buat dia masih merasa berhutang budi padaku, dia tidak akan pernah benar-benar menjadi milik orang lain.]Kolom komentar pun sepenuhnya berbalik drastis.Manajer Reza pernah meneleponku.Dia berkata. "Nara, kondisi Reza

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 9

    Reza tidak menanggapinya.Dia menatap beberapa kata itu, seolah sedang menatap sesuatu yang mematikan."Aku tidak akan menandatanganinya."Aku meletakkan dokumen itu di tangga batu di samping."Kalau begitu, kita akan lewat jalur hukum.""Nara."Dia tiba-tiba mendongak, matanya penuh dengan urat-urat merah."Delapan tahun kita bersama, apa kau mau membuangnya begitu saja?"Aku menatapnya."Bukan aku yang membuangnya."Aku lanjut berkata. "Kaulah yang sudah membuangnya sedikit demi sedikit."Reza menggeleng, lalu menyangkal."Aku hanya terlalu sibuk.""Sibuk sampai lupa ulang tahunku?""Sibuk sampai membiarkan orang lain memakai cincinku?""Sibuk sampai menggunakan barang warisan ibuku untuk membangun citra orang lain?""Sibuk sampai membuatku menyangkal pernikahan delapan tahun kita di depan umum?"Setiap pertanyaan yang kulontarkan membuat wajahnya semakin pucat.Akhirnya, dia hampir tak mampu berdiri tegak.Aku tak ingin melihatnya lagi.Saat aku berbalik hendak pergi, tiba-tiba dia

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 8

    Dia terpaku di tempat. Angin meniup kue di tangannya hingga salah satu sisinya menjadi miring."Nara, aku tahu aku salah."Selama delapan tahun ini, untuk pertama kalinya aku mendengar dia mengakui kesalahannya.Namun, hatiku sama sekali tidak tergugah.Dia melangkah maju dengan tergesa-gesa."Cincinnya sudah kuambil kembali. Selendangnya juga sudah kukirim. Antingnya ... anting itu akan kutemukan. Soal Keira akan kuselesaikan. Aku bisa mengumumkan hubungan kita. Aku bisa mengumumkannya sekarang juga."Dia mengeluarkan ponsel, jari-jarinya kaku karena kedinginan, tetapi tetap membuka aplikasi sosial medianya."Aku akan mengunggahnya sekarang. Nara, sekarang juga akan kuberitahu semua orang bahwa kau adalah istriku."Aku menahan ponselnya.Secercah harapan muncul di sorot mata Reza."Kau tidak ingin aku mengunggahnya?" "Bukan."Aku lanjut berkata. "Sudah tidak perlu lagi."Wajahnya seketika bertambah pucat.Aku mengembalikan ponselnya."Lihat Reza, bahkan sampai sekarang kau masih bel

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 7

    Keesokan paginya, Bima mengirimkan selendang itu ke Nordavia.Saat paket itu dibuka, aku terdiam cukup lama.Kain berwarna putih bulan itu telah dicuci hingga kusut, dan benang merah di sudutnya yang dulu dijahit miring oleh tangan ibuku, kini putus.Bekas putusannya masih sangat baru.Seolah seseorang menariknya dengan tergesa-gesa.Bersama paket itu juga dikirimkan kotak kayu lama tersebut.Di dalamnya ada satu anting yang hilang.Aku menatap tempat yang kini kosong itu, mataku terasa sangat perih.Sepasang anting itu adalah benda yang dikenakan ibuku sebelum terakhir kali tampil di panggung.Kemudian, demi membiayai Reza belajar akting, aku menjual sebagian besar peninggalan ibuku dan hanya menyisakan sepasang anting ini.Sekarang hanya tersisa satu.Aku mengirim pesan kepada Bima. [Yang satu lagi di mana?]Sepuluh menit kemudian, dia membalas. [Pihak Pak Reza bilang kalau Bu Keira tidak sengaja menghilangkannya saat proses rekaman dan saat ini sedang dicari.]Aku menatap baris pe

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 6

    "Nomor yang Anda tuju tidak aktif."Reza berdiri terpaku di ruang kerja, tak bergerak selama beberapa saat.Kemudian, pengacaraku yang bernama Bima memberitahuku bahwa malam itu dia menelepon nomorku sebanyak dua puluh tujuh kali.Dari awalnya hanya bersikap dingin, lalu membanting ponsel, hingga akhirnya berjongkok di depan meja kerja sambil membolak-balik berkas yang kutinggalkan satu per satu.Di laci ruang kerjanya terdapat dokumen serah terima pekerjaan yang telah kususun dengan rapi.Jadwalnya selama enam bulan ke depan, hal-hal yang harus dihindari oleh mitra kerja, sifat beberapa sutradara, potensi risiko terbaru dari komunitas penggemar, hingga hal-hal sensitif yang tidak boleh disentuh terkait pihak sponsor, semuanya telah kutulis dengan rinci.Bahkan hotel mana yang bisa menyiapkan bubur lebih awal karena lambungnya bermasalah pun kutuliskan dengan sangat jelas.Hanya saja, aku tidak meninggalkan satu kalimat pun untuknya.Saat membuka hingga bagian paling akhir, Reza baru m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status