Share

Bab 3

Author: Hes
"Kau mau bawa itu untuk apa?"

Itu adalah kotak kostum pertunjukan peninggalan ibuku.

Di dalamnya ada selendang yang dia kenakan pada pertunjukan terakhirnya, juga anting-anting yang menjadi satu-satunya benda yang masih kusimpan setelah menjual perhiasan-perhiasan lainnya.

Reza menghindar tanganku.

"Keira malam ini harus merekam video untuk menenangkan para penggemarnya. Kondisi emosinya sedang buruk, jadi dia membutuhkan sesuatu yang memiliki nilai cerita sebagai latar."

Aku menatapnya tak percaya.

"Ini peninggalan ibuku."

"Hanya dipinjam sebentar."

"Reza."

Suaraku bergetar.

"Kau sudah memberikan cincinku padanya, sekarang bahkan barang ibuku pun mau kau ambil untuk membuatnya terlihat menyedihkan?"

Ekspresi wajahnya juga berubah dingin.

"Nara, apa kau harus bicara sekasar itu?"

"Aku yang bicara kasar, atau tindakanmu yang sudah keterlaluan?"

Dia terdiam selama dua detik, lalu tiba-tiba tersenyum.

"Malam ini aku baru saja mendapatkan penghargaan Aktor Terbaik. Semua orang sedang memperhatikanku. Kalau Keira sampai hancur, media akan menulis bahwa aku orang yang tidak tahu berterima kasih. Kau sudah bersamaku selama delapan tahun, seharusnya tahu sekarang bukanlah waktunya untuk membuat keributan."

Aku menatapnya, dan dia pun menatapku.

Lalu dia berkata perlahan, kata demi kata.

"Nara, tolong bantu aku untuk terakhir kalinya, ya."

Ternyata dia masih ingat cara memohon padaku.

Hanya saja, entah sejak kapan, setiap kali dia merendahkan dirinya di hadapanku, itu selalu demi memintaku mengalah untuk orang lain.

Aku melepaskan genggaman tanganku.

Sebelum pergi sambil membawa kotak kayu itu, Reza menoleh padaku.

"Setelah masa-masa sibuk ini selesai, aku akan menemanimu merayakan ulang tahun."

Aku tersenyum kecil.

"Ulang tahunku sudah lewat tiga bulan yang lalu."

Langkahnya terhenti sejenak, tetapi dia tidak menoleh.

Pukul sepuluh pagi, aku dipanggil oleh manajer ke studio.

Begitu masuk ruang rias, aku langsung melihat Keira duduk di depan cermin, mengenakan selendang berwarna putih bulan itu.

Riasannya sangat tipis, tetapi sudut matanya sengaja dibuat tampak kemerahan.

Saat melihatku, dia mengangkat tangan menyentuh selendang itu dan berkata pelan.

"Kak Nara, kainnya benar-benar bagus. Reza bilang ini barang lama, aku kira awalnya ini barang tidak berharga."

Aku tidak melihatnya, hanya menatap Reza.

Dia sedang membolak-balik susunan acara wawancara.

Di mata orang luar, Reza Sang Aktor Terbaik selalu terlihat sopan dan lembut.

Bahkan saat melakukan hal yang paling kejam sekalipun, dia tetap terlihat seperti sedang membereskan masalah demi semua orang.

"Kembalikan selendang itu padaku."

Reza mengangkat pandangannya.

"Akan kukembalikan setelah rekaman ini selesai."

"Kembalikan sekarang."

Dia menutup susunan acara, berjalan ke hadapanku, lalu merendahkan suaranya.

"Nara, jangan membuat keributan."

Aku tersenyum.

"Meminta kembali warisan ibuku sendiri disebut membuat masalah?"

Reza menatapku selama beberapa detik, lalu tiba-tiba mengulurkan tangannya dan merapikan kerah bajuku.

Pada saat itu, aku hampir kembali melihat sosok pemuda delapan tahun lalu yang selalu membungkuskan mantel untukku.

Namun, kelembutannya hanya berhenti di ujung jari.

"Dulu, kau itu paling tahu batasan."

Aku memalingkan kepala.

Ujung jarinya menyentuh udara kosong, dan akhirnya muncul sedikit ketidakpuasan di sorot matanya.

"Aku tahu apa yang membuatmu marah. Soal cincin itu, soal Keira, soal tren tadi malam, semuanya membuatmu merasa diperlakukan tidak adil."

Dia berhenti sejenak, lalu melunakkan nada suaranya.

"Tapi malam ini tidak boleh kacau. Setelah siaran langsung selesai, aku akan membawamu pulang dan membujukmu dengan sabar."

Seandainya aku tidak mendengar percakapan di ruang istirahat itu.

Seandainya aku tidak melihatnya memasangkan cincin itu ke tangan Keira.

Mungkin saat ini, aku benar-benar akan memercayainya.

Aku menarik sudut bibirku, tersenyum dengan ekspresi yang bahkan lebih menyedihkan daripada menangis.

"Bagaimana kau akan membujukku?"

Reza tersenyum tipis dan menjawab.

"Apa pun yang kau inginkan, aku akan setuju."

Aku menatap matanya, lalu membalas.

"Aku ingin kau sekarang juga mengumumkan kalau aku adalah istrimu."

Senyum tipis di wajahnya seketika menghilang.

Keira di sampingnya berdehem pelan.

Reza terdiam sejenak, tetapi nadanya tetap tenang.

"Nara, jangan gunakan kata-kata seperti ini untuk mengujiku."

"Menguji?"

"Bukannya kau hanya ingin mendengar aku mengatakan kalau tidak bisa hidup tanpamu?"

Dia menunduk menatapku, tatapannya begitu dalam seolah mampu menarik seseorang kembali ke masa lalu.

"Aku akui, selama delapan tahun ini tidak ada seorang pun yang lebih penting darimu. Tapi mengumumkannya ke publik bukanlah hal kecil, satu langkah bisa memengaruhi semuanya."

"Kau sudah dewasa, jangan seperti gadis kecil yang meminta status hanya untuk membuktikan cinta."

Tenggorokanku terasa seperti tersumbat.

Delapan tahun.

Berkali-kali dia berkata untuk menunggu sedikit lagi, dan berkali-kali pula aku menyembunyikan diriku dalam bayang-bayang.

Aku tidak pernah meminta apa pun.

Sekarang ketika aku meminta pengakuan sebagai istri, aku malah dianggap tidak pengertian.

Pintu ruang rias terbuka.

Seorang staf mengintip masuk.

"Pak Reza, siaran langsung akan dimulai dalam sepuluh menit."

Reza mengangguk, lalu kembali melihat ke arahku.

"Nanti kau awasi alur acara di belakang panggung, jangan sampai ada masalah di lokasi."

Aku tetap tak bergerak.

Dia mengerutkan kening.

"Nara."

Aku berkata pelan.

"Aku tidak akan melakukannya lagi."

Begitu kata itu terucap, semua orang di ruangan itu terdiam.

Reza seolah mendengar lelucon.

"Apa katamu?"

"Aku tidak akan lagi menjadi humasmu, tidak akan menjadi asistenmu, dan tidak akan menjadi orang yang selalu berada di belakangmu."

Sebersit rasa puas melintas di sorot mata Keira, namun dengan cepat matanya kembali memerah.

"Reza, sudahlah. Kak Nara sedang tidak nyaman, aku bisa menjelaskannya sendiri."

Reza tidak melihatnya, hanya menatapku dengan tatapan kosong.

Setelah terdiam beberapa saat, dia tertawa pelan.

"Nara, trik jual mahal yang kau gunakan malam ini agak berlebihan."

Aku terdiam.

Ternyata perpisahan yang akhirnya berani kuucapkan, di matanya hanyalah taktik untuk mencari perhatian.

Namun, dia sudah berbalik, dan menyerahkan peti kayuku ke staf.

"Bersiap untuk siaran langsung."

Lalu, dia menoleh dan memberi perintah kepada manajernya.

"Cabut kartu akses anggota Nara. Malam ini emosinya sedang tidak stabil, jangan biarkan dia mendekati ruang kontrol."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 11

    Pada hari putusan perceraian kami dikeluarkan, salju turun sangat lebat di Nordavia.Bima mengirimkan berkas elektronik itu kepadaku.Aku membacanya cukup lama.[Hubungan pernikahan Nara Maheswari dan Reza Mahardika telah resmi diputuskan.]Hanya satu baris singkat.Delapan tahun masa mudaku seolah dipaku menjadi sebuah arsip lama yang telah disahkan dengan cap resmi.Malam itu, Reza mengirimkan surel terakhir kepadaku.Tanpa sapaan, juga tanpa nama pengirim.[Nara, hari ini aku pergi ke teater tempat ibumu dulu pernah tampil.][Aku duduk di barisan paling belakang dan menonton sebuah drama biasa sampai selesai.][Saat pertunjukan usai, tiba-tiba aku teringat kau pernah berkata bahwa setiap kali ibumu memberi salam penutup, beliau selalu melihat ke sisi kiri kursi penonton terlebih dahulu, karena saat kecil kau selalu duduk di sana menunggunya.][Dulu aku tidak pernah mendengarkannya dengan serius.][Maafkan aku.][Aku sudah menemukan anting itu.][Keira meninggalkannya di ruang rias,

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 10

    Setelah kembali, Reza mengumumkan bahwa dia akan menghentikan sementara aktivitasnya.Saat cuitan itu diposting, seluruh dunia maya pun menjadi heboh.[Karena alasan pribadi, saya akan menghentikan sementara semua kegiatan di dunia hiburan.]Ada yang mengecamnya sebagai orang yang terlalu terpaku pada asmara.Ada pula yang prihatin melihat kondisinya yang kurang baik.Ada juga yang mulai menggali lebih dalam siaran langsung tersebut.Tidak lama kemudian, semua hal tentang diriku yang dulu, seperti menulis pernyataan klarifikasi, menanggung denda pelanggaran kontraknya, dan menjual peninggalan berharga ibuku demi membiayai kelas aktingnya, perlahan-lahan terungkap.Akun rahasia milik Keira juga terungkap.Dia pernah mengunggah sebuah postingan pada tengah malam.[Selama buat dia masih merasa berhutang budi padaku, dia tidak akan pernah benar-benar menjadi milik orang lain.]Kolom komentar pun sepenuhnya berbalik drastis.Manajer Reza pernah meneleponku.Dia berkata. "Nara, kondisi Reza

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 9

    Reza tidak menanggapinya.Dia menatap beberapa kata itu, seolah sedang menatap sesuatu yang mematikan."Aku tidak akan menandatanganinya."Aku meletakkan dokumen itu di tangga batu di samping."Kalau begitu, kita akan lewat jalur hukum.""Nara."Dia tiba-tiba mendongak, matanya penuh dengan urat-urat merah."Delapan tahun kita bersama, apa kau mau membuangnya begitu saja?"Aku menatapnya."Bukan aku yang membuangnya."Aku lanjut berkata. "Kaulah yang sudah membuangnya sedikit demi sedikit."Reza menggeleng, lalu menyangkal."Aku hanya terlalu sibuk.""Sibuk sampai lupa ulang tahunku?""Sibuk sampai membiarkan orang lain memakai cincinku?""Sibuk sampai menggunakan barang warisan ibuku untuk membangun citra orang lain?""Sibuk sampai membuatku menyangkal pernikahan delapan tahun kita di depan umum?"Setiap pertanyaan yang kulontarkan membuat wajahnya semakin pucat.Akhirnya, dia hampir tak mampu berdiri tegak.Aku tak ingin melihatnya lagi.Saat aku berbalik hendak pergi, tiba-tiba dia

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 8

    Dia terpaku di tempat. Angin meniup kue di tangannya hingga salah satu sisinya menjadi miring."Nara, aku tahu aku salah."Selama delapan tahun ini, untuk pertama kalinya aku mendengar dia mengakui kesalahannya.Namun, hatiku sama sekali tidak tergugah.Dia melangkah maju dengan tergesa-gesa."Cincinnya sudah kuambil kembali. Selendangnya juga sudah kukirim. Antingnya ... anting itu akan kutemukan. Soal Keira akan kuselesaikan. Aku bisa mengumumkan hubungan kita. Aku bisa mengumumkannya sekarang juga."Dia mengeluarkan ponsel, jari-jarinya kaku karena kedinginan, tetapi tetap membuka aplikasi sosial medianya."Aku akan mengunggahnya sekarang. Nara, sekarang juga akan kuberitahu semua orang bahwa kau adalah istriku."Aku menahan ponselnya.Secercah harapan muncul di sorot mata Reza."Kau tidak ingin aku mengunggahnya?" "Bukan."Aku lanjut berkata. "Sudah tidak perlu lagi."Wajahnya seketika bertambah pucat.Aku mengembalikan ponselnya."Lihat Reza, bahkan sampai sekarang kau masih bel

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 7

    Keesokan paginya, Bima mengirimkan selendang itu ke Nordavia.Saat paket itu dibuka, aku terdiam cukup lama.Kain berwarna putih bulan itu telah dicuci hingga kusut, dan benang merah di sudutnya yang dulu dijahit miring oleh tangan ibuku, kini putus.Bekas putusannya masih sangat baru.Seolah seseorang menariknya dengan tergesa-gesa.Bersama paket itu juga dikirimkan kotak kayu lama tersebut.Di dalamnya ada satu anting yang hilang.Aku menatap tempat yang kini kosong itu, mataku terasa sangat perih.Sepasang anting itu adalah benda yang dikenakan ibuku sebelum terakhir kali tampil di panggung.Kemudian, demi membiayai Reza belajar akting, aku menjual sebagian besar peninggalan ibuku dan hanya menyisakan sepasang anting ini.Sekarang hanya tersisa satu.Aku mengirim pesan kepada Bima. [Yang satu lagi di mana?]Sepuluh menit kemudian, dia membalas. [Pihak Pak Reza bilang kalau Bu Keira tidak sengaja menghilangkannya saat proses rekaman dan saat ini sedang dicari.]Aku menatap baris pe

  • Maaf N atau Hanya N   Bab 6

    "Nomor yang Anda tuju tidak aktif."Reza berdiri terpaku di ruang kerja, tak bergerak selama beberapa saat.Kemudian, pengacaraku yang bernama Bima memberitahuku bahwa malam itu dia menelepon nomorku sebanyak dua puluh tujuh kali.Dari awalnya hanya bersikap dingin, lalu membanting ponsel, hingga akhirnya berjongkok di depan meja kerja sambil membolak-balik berkas yang kutinggalkan satu per satu.Di laci ruang kerjanya terdapat dokumen serah terima pekerjaan yang telah kususun dengan rapi.Jadwalnya selama enam bulan ke depan, hal-hal yang harus dihindari oleh mitra kerja, sifat beberapa sutradara, potensi risiko terbaru dari komunitas penggemar, hingga hal-hal sensitif yang tidak boleh disentuh terkait pihak sponsor, semuanya telah kutulis dengan rinci.Bahkan hotel mana yang bisa menyiapkan bubur lebih awal karena lambungnya bermasalah pun kutuliskan dengan sangat jelas.Hanya saja, aku tidak meninggalkan satu kalimat pun untuknya.Saat membuka hingga bagian paling akhir, Reza baru m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status