Short
Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara

Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara

By:  AntoniaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
19Chapters
1.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Tiga tahun setelah bercerai, Avena dipaksa Cassian kembali ke dalam penjara pernikahan melalui sebuah kebakaran besar. Pria yang menggenggam pemantik api itu berkata dengan nada dingin, "Avena, gedung tua tempat tinggalmu ini dihuni 17 keluarga. Mulai dari nenek tua yang lumpuh di tempat tidur sampai bayi yang baru genap sebulan." "Kalau hari ini kamu nggak menandatangani perjanjian rujuk, detik berikutnya aku akan menyalakan drum bensin yang ditumpuk di lantai bawah. Semua nyawa yang melayang nanti, mau nggak kamu tanggung sendiri?" Demi tidak menyeret para penghuni yang tak bersalah, Avena menggenggam pena dengan erat dan menandatangani namanya di atas perjanjian rujuk itu. Setelah rujuk, Cassian memberikan semua bentuk kasih sayang yang terpikir olehnya kepada Avena. Dia mengalihkan kepemilikan tiga lantai kawasan bisnis paling strategis di Kota Helsins atas nama Avena, memborong seluruh lini produksi parfum di Prancis agar hanya melayani Avena seorang. Bahkan, perjalanan melihat aurora di Antartika yang pernah Avena sebutkan sekilas tujuh tahun lalu pun dia siapkan dengan membatalkan semua agenda rapat lintas negara. Kabar itu menyebar cepat. Semua orang mengatakan bahwa demi membuat mantan istrinya kembali, Cassian nyaris menyerahkan setengah Grup Mahendra ke kaki Avena. Itu menjadi bentuk pemanjaan paling luar biasa yang belum pernah ada di Kota Helsins dalam sepuluh tahun terakhir.

View More

Chapter 1

Bab 1

Namun, tidak seorang pun tahu bahwa semua kemewahan yang bahkan diidam-idamkan banyak orang itu, tak ada bedanya dengan sampah di mata Avena.

Perhiasan mewah yang diberikan Cassian langsung dia buang ke tempat sampah. Dalam vila yang direnovasi ulang dengan biaya miliaran demi mengikuti gaya Prancis kesukaannya, Avena membakar tirai sutra kamar utama saat Cassian sedang menghadiri rapat dewan direksi. Sepasang cangkir khusus yang diukir dengan nama mereka berdua juga dia banting hingga berkeping-keping tepat di depan kepala pelayan.

Hari itu, Cassian pulang kerja. Baru saja melangkah masuk, dia melihat tas edisi terbatas yang baru dihadiahkannya kemarin sudah digunting hingga hancur dan dilempar begitu saja di depan pintu. Amarah yang dia pendam selama tiga bulan akhirnya meledak sepenuhnya. Dia menerjang maju dan mencengkeram pergelangan tangan Avena. Ruas-ruas jarinya memutih karena menggenggam terlalu kuat.

"Avena! Sebenarnya apa lagi yang harus kulakukan supaya kamu mau memaafkanku? Katakan! Asal kamu bilang, apa pun akan kulakukan!"

Namun, Avena tidak berkata apa-apa. Ekspresinya tampak begitu tenang dan datar.

Padahal Cassian masih ingat, tiga tahun lalu dia bukan seperti ini.

Tiga tahun lalu, Avena adalah kepala negosiator wanita termuda di negeri ini. Suaranya mampu membuat para penjahat paling brutal meletakkan senjata, mampu membujuk orang yang sudah berdiri di tepi atap gedung untuk kembali melangkah mundur.

Suaranya adalah senjata paling tajam yang dia miliki, sekaligus pelindung paling lembut baginya.

Namun sekarang, Avena hampir tidak pernah berbicara.

Dokter mengatakan bahwa dia mengalami afasia akibat gangguan stres pascatrauma. Bukan karena tidak bisa berbicara, melainkan karena tidak ingin berbicara. Dan trauma itu berasal dari kematian putri mereka tiga tahun lalu.

Di altar penghormatan di tengah ruang tamu, terpajang foto mendiang putri mereka, Nina. Gadis kecil itu baru berusia tiga tahun. Rambutnya dikepang dua. Saat tersenyum, muncul dua lesung pipi tipis di wajahnya. Penampilannya begitu manis bagaikan permen susu stroberi kesukaan anak itu.

Wajah Cassian seketika pucat pasi.

Peristiwa tiga tahun lalu bagaikan duri beracun yang terus tertancap di antara mereka.

Hingga kini, Avena masih mengingat dengan jelas kejadian hari itu.

Tahun itu, cinta pertama Cassian, Selina, baru kembali dari luar negeri. Baru saja mendarat, dia diculik oleh musuh-musuhnya. Sementara Nina yang dibawa Cassian untuk ikut menjemput di bandara ikut terseret menjadi sandera.

Gudang terbengkalai itu dipenuhi teriakan histeris para penculik dan tangisan ketakutan Selina.

Nina dipeluk erat oleh Selina. Anak berusia tiga tahun itu bahkan belum mengerti apa arti bahaya. Dia hanya membelalakkan mata sambil berbisik pelan, "Mama ... Nina takut ...."

Saat itu, Avena ikut menangani kasus tersebut sebagai negosiator.

Di tengah upaya keras menyelesaikan situasi, para penculik memaksa Cassian memilih satu di antara dua orang, Selina atau Nina.

Cassian memilih Selina.

Dia berkata, "Kondisi tubuh Selina lemah, dia nggak akan sanggup bertahan. Nina masih kecil, para penculik nggak mungkin menyakiti anak kecil. Avena, kamu harus mengerti. Ini pilihan yang paling tepat."

Namun, tepat ketika tim pasukan khusus mendobrak masuk dan berhasil menangkap para penculik, Selina malah mendorong Nina di tengah kekacauan.

Anak berusia tiga tahun itu terjatuh dari lantai tiga. Dia bahkan tidak sempat mengucapkan kata-kata terakhir kepada Avena.

Semua orang mengatakan Selina terlalu panik hingga kehilangan kendali, sehingga kematian Nina hanyalah akibat kelalaian.

Cassian bahkan menandatangani sendiri surat perdamaian. Dia menyatakan kepada publik bahwa Selina mengidap gangguan mental bawaan. Selina hanya dikirim ke rumah sakit jiwa di pinggiran kota dan dirawat di sana selama tiga tahun. Selama itu pula, Cassian bahkan tidak pernah mengucapkan sepatah kata kasar kepadanya.

"Semuanya sudah berlalu, Avena."

Suara Cassian bergetar. Dia mengulurkan tangan hendak menyentuh wajah Avena, tetapi Avena memalingkan kepala dan menghindarinya.

"Aku tahu kamu menyalahkanku. Tapi dia sudah menerima konsekuensi atas perbuatannya. Nanti kita masih bisa punya anak lagi. Aku berjanji, mulai sekarang apa pun akan kuturuti. Ya?"

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Di layar muncul nama "Selina".

Cassian segera mengangkat telepon itu. Seketika ekspresinya berubah. Begitu panggilan berakhir, dia meraih jasnya dan bergegas menuju pintu. Langkahnya penuh kegelisahan.

"Hari ini Selina keluar dari rumah sakit. Kondisi mentalnya masih belum stabil. Aku harus jemput dia. Nanti malam aku bawakan bakpao isi kepiting favoritmu."

Pintu vila menutup dengan suara keras.

Di ruang tamu yang luas itu, hanya Avena seorang diri yang tersisa.

Sesampainya di ambang pintu, Cassian sempat menoleh ke arah Avena. Bibirnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya dia hanya berbalik dan pergi.

Begitu pintu tertutup, Avena berjalan ke depan foto mendiang Nina. Dia berlutut, lalu menyandarkan dahinya pada bingkai foto yang dingin.

Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah nomor terenkripsi, lalu mengirim pesan.

[ Selina sudah keluar. Jalankan rencana seperti semula. Hapus seluruh data kependudukan dan identitas atas namaku dan dia. Berapa lama? ]

Dua detik kemudian, balasan datang.

[ Paling cepat tujuh hari. ]

Avena mengangkat pandangannya ke arah foto Nina di altar penghormatan. Dadanya seketika terasa sesak.

Tepat tujuh hari lagi adalah hari peringatan tiga tahun kepergian Nina.

[ Baik. ]

Itulah balasan terakhir yang dia kirim sebelum menghapus seluruh riwayat percakapan.

Ujung jarinya membelai lembut lesung pipi kecil di foto putrinya. Tatapannya sedingin es.

"Tujuh hari lagi, Mama akan bawa kamu pergi. Mama akan balaskan dendammu. Setelah itu, kita nggak akan pernah kembali lagi."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

fazaa
fazaa
izin promosi ya kak,yang suka cerita tema kerajaan boleh mampir ya judulny " Rahasia Malam Sultan " ~~
2026-07-26 14:35:53
0
0
M--G
M--G
sedih banget..
2026-07-25 21:56:03
0
0
Endricho Kurniawan
Endricho Kurniawan
ga jelass nih cerita alurnya mau kemana
2026-07-26 23:11:00
0
0
19 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status