Mag-log in
Pada hari putusan perceraian kami dikeluarkan, salju turun sangat lebat di Nordavia.Bima mengirimkan berkas elektronik itu kepadaku.Aku membacanya cukup lama.[Hubungan pernikahan Nara Maheswari dan Reza Mahardika telah resmi diputuskan.]Hanya satu baris singkat.Delapan tahun masa mudaku seolah dipaku menjadi sebuah arsip lama yang telah disahkan dengan cap resmi.Malam itu, Reza mengirimkan surel terakhir kepadaku.Tanpa sapaan, juga tanpa nama pengirim.[Nara, hari ini aku pergi ke teater tempat ibumu dulu pernah tampil.][Aku duduk di barisan paling belakang dan menonton sebuah drama biasa sampai selesai.][Saat pertunjukan usai, tiba-tiba aku teringat kau pernah berkata bahwa setiap kali ibumu memberi salam penutup, beliau selalu melihat ke sisi kiri kursi penonton terlebih dahulu, karena saat kecil kau selalu duduk di sana menunggunya.][Dulu aku tidak pernah mendengarkannya dengan serius.][Maafkan aku.][Aku sudah menemukan anting itu.][Keira meninggalkannya di ruang rias,
Setelah kembali, Reza mengumumkan bahwa dia akan menghentikan sementara aktivitasnya.Saat cuitan itu diposting, seluruh dunia maya pun menjadi heboh.[Karena alasan pribadi, saya akan menghentikan sementara semua kegiatan di dunia hiburan.]Ada yang mengecamnya sebagai orang yang terlalu terpaku pada asmara.Ada pula yang prihatin melihat kondisinya yang kurang baik.Ada juga yang mulai menggali lebih dalam siaran langsung tersebut.Tidak lama kemudian, semua hal tentang diriku yang dulu, seperti menulis pernyataan klarifikasi, menanggung denda pelanggaran kontraknya, dan menjual peninggalan berharga ibuku demi membiayai kelas aktingnya, perlahan-lahan terungkap.Akun rahasia milik Keira juga terungkap.Dia pernah mengunggah sebuah postingan pada tengah malam.[Selama buat dia masih merasa berhutang budi padaku, dia tidak akan pernah benar-benar menjadi milik orang lain.]Kolom komentar pun sepenuhnya berbalik drastis.Manajer Reza pernah meneleponku.Dia berkata. "Nara, kondisi Reza
Reza tidak menanggapinya.Dia menatap beberapa kata itu, seolah sedang menatap sesuatu yang mematikan."Aku tidak akan menandatanganinya."Aku meletakkan dokumen itu di tangga batu di samping."Kalau begitu, kita akan lewat jalur hukum.""Nara."Dia tiba-tiba mendongak, matanya penuh dengan urat-urat merah."Delapan tahun kita bersama, apa kau mau membuangnya begitu saja?"Aku menatapnya."Bukan aku yang membuangnya."Aku lanjut berkata. "Kaulah yang sudah membuangnya sedikit demi sedikit."Reza menggeleng, lalu menyangkal."Aku hanya terlalu sibuk.""Sibuk sampai lupa ulang tahunku?""Sibuk sampai membiarkan orang lain memakai cincinku?""Sibuk sampai menggunakan barang warisan ibuku untuk membangun citra orang lain?""Sibuk sampai membuatku menyangkal pernikahan delapan tahun kita di depan umum?"Setiap pertanyaan yang kulontarkan membuat wajahnya semakin pucat.Akhirnya, dia hampir tak mampu berdiri tegak.Aku tak ingin melihatnya lagi.Saat aku berbalik hendak pergi, tiba-tiba dia
Dia terpaku di tempat. Angin meniup kue di tangannya hingga salah satu sisinya menjadi miring."Nara, aku tahu aku salah."Selama delapan tahun ini, untuk pertama kalinya aku mendengar dia mengakui kesalahannya.Namun, hatiku sama sekali tidak tergugah.Dia melangkah maju dengan tergesa-gesa."Cincinnya sudah kuambil kembali. Selendangnya juga sudah kukirim. Antingnya ... anting itu akan kutemukan. Soal Keira akan kuselesaikan. Aku bisa mengumumkan hubungan kita. Aku bisa mengumumkannya sekarang juga."Dia mengeluarkan ponsel, jari-jarinya kaku karena kedinginan, tetapi tetap membuka aplikasi sosial medianya."Aku akan mengunggahnya sekarang. Nara, sekarang juga akan kuberitahu semua orang bahwa kau adalah istriku."Aku menahan ponselnya.Secercah harapan muncul di sorot mata Reza."Kau tidak ingin aku mengunggahnya?" "Bukan."Aku lanjut berkata. "Sudah tidak perlu lagi."Wajahnya seketika bertambah pucat.Aku mengembalikan ponselnya."Lihat Reza, bahkan sampai sekarang kau masih bel
Keesokan paginya, Bima mengirimkan selendang itu ke Nordavia.Saat paket itu dibuka, aku terdiam cukup lama.Kain berwarna putih bulan itu telah dicuci hingga kusut, dan benang merah di sudutnya yang dulu dijahit miring oleh tangan ibuku, kini putus.Bekas putusannya masih sangat baru.Seolah seseorang menariknya dengan tergesa-gesa.Bersama paket itu juga dikirimkan kotak kayu lama tersebut.Di dalamnya ada satu anting yang hilang.Aku menatap tempat yang kini kosong itu, mataku terasa sangat perih.Sepasang anting itu adalah benda yang dikenakan ibuku sebelum terakhir kali tampil di panggung.Kemudian, demi membiayai Reza belajar akting, aku menjual sebagian besar peninggalan ibuku dan hanya menyisakan sepasang anting ini.Sekarang hanya tersisa satu.Aku mengirim pesan kepada Bima. [Yang satu lagi di mana?]Sepuluh menit kemudian, dia membalas. [Pihak Pak Reza bilang kalau Bu Keira tidak sengaja menghilangkannya saat proses rekaman dan saat ini sedang dicari.]Aku menatap baris pe
"Nomor yang Anda tuju tidak aktif."Reza berdiri terpaku di ruang kerja, tak bergerak selama beberapa saat.Kemudian, pengacaraku yang bernama Bima memberitahuku bahwa malam itu dia menelepon nomorku sebanyak dua puluh tujuh kali.Dari awalnya hanya bersikap dingin, lalu membanting ponsel, hingga akhirnya berjongkok di depan meja kerja sambil membolak-balik berkas yang kutinggalkan satu per satu.Di laci ruang kerjanya terdapat dokumen serah terima pekerjaan yang telah kususun dengan rapi.Jadwalnya selama enam bulan ke depan, hal-hal yang harus dihindari oleh mitra kerja, sifat beberapa sutradara, potensi risiko terbaru dari komunitas penggemar, hingga hal-hal sensitif yang tidak boleh disentuh terkait pihak sponsor, semuanya telah kutulis dengan rinci.Bahkan hotel mana yang bisa menyiapkan bubur lebih awal karena lambungnya bermasalah pun kutuliskan dengan sangat jelas.Hanya saja, aku tidak meninggalkan satu kalimat pun untuknya.Saat membuka hingga bagian paling akhir, Reza baru m







