LOGIN"Maaf, Pak. Saya benar-benar gak bisa bahas itu lagi," ucap Sarah sedikit pelan. Ia sengaja menjaga suaranya agar tetap terdengar sopan, meskipun sebenarnya ada rasa gugup yang masih mengganjal di dalam dadanya. Sarah tidak ingin percakapan itu berlanjut dan membuat keadaan di antara mereka semakin canggung. Ia hanya berharap Rafael bisa memahami batas yang sedang ia coba pertahankan. Rafael tidak langsung menjawab. Pria itu hanya berdehem pelan, lalu mengalihkan pandangan ke depan. Setelah beberapa detik, tangannya meraih kunci mobil dan menyalakan mesin. Suara mesin yang mulai menyala seolah menjadi penanda bahwa percakapan mereka benar-benar telah berakhir. Mobil tersebut kemudian perlahan meninggalkan halaman hotel milik Rafael. Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang menemani keduanya. Tidak ada lagi pembicaraan seperti sebelumnya. Sarah lebih banyak menunduk, sesekali matanya mengarah ke luar jendela untuk melihat jalan yang mereka lewati dengan pikiran yang masih terngian
"Sarah, harus berapa kali saya mengatakan kepada kamu. Semenjak ada kamu semuanya berubah."Kali ini, Rafael benar-benar nampak serius. Nada suaranya tidak lagi seperti sebelumnya. Ada ketegasan yang membuat Sarah tahu bahwa pria itu benar-benar menunggu jawaban darinya.Bahkan pria itu seakan tak sabar menunggu jawaban Sarah, padahal sebelumnya perempuan itu masih ingat betul bahwa Rafael akan siap menunggu jawaban Sarah kapanpun. Bukankah pria itu sendiri yang mengatakan bahwa Sarah tidak perlu terburu-buru?Tapi, mengapa kini majikannya mengungkapkan lagi perasaannya?Sarah bingung, benar-benar tak tahu harus bagaimana. Ia menundukkan wajah sejenak, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tidak semuanya bisa keluar begitu saja.Namun, diam saja itu berarti ia sedang membiarkan sesuatu buruk terjadi.Sarah menghembuskan napas pelan, lalu memberanikan diri menatap majikannya. Kali ini ia berusaha tidak menghindari tatapan Rafael. Bagaim
"Sarah.""Sarah.."Suara itu menyadarkan Sarah pada lamunannya. Ia terkesiap dan menatap pria yang ia kenali berdiri tepat di hadapannya. Matanya melirik ke kanan dan kiri, kepalanya menoleh ke sana kemari mencari keberadaan seseorang yang sejak tadi memenuhi pikirannya dan memacu degup jantungnya.Namun, tidak ada siapa-siapa. Hanya Rafael yang berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh tanda tanya."Pak Rafael, Bu Widya mana?""Widya?" ulang pria itu.Sarah mengangguk. Matanya masih sibuk memperhatikan sekitar, seolah berharap menemukan sosok Widya di suatu sudut ruangan."Gak ada Widya, sejak tadi saya di sini sendiri. Kamu yang kenapa melamun?"Sarah terdiam. Ah...Sekarang ia sadar. Jadi sejak tadi, semua itu hanya halusinasinya saja? Karena sebuah rasa takut yang begitu besar, membuatnya berpikir yang macam-macam dan kenyataanya Widya bahkan tak menghampirinya. Bahu yang sebelumnya menegang, luruh begitu saja. Degup jantungnya terasa stabil, napasnya tak sesesak sebelumnya. Sara
Tok..Tok..Tok..Semakin keras terdengar di indera pendengaran Sarah, semakin berdegup keras pula jantungnya. Bahkan ia sampai tak sadar menggigit jarinya. Tubuhnya masih berdiri kaku beberapa langkah dari pintu, sementara matanya terus tertuju pada daun pintu yang seolah menjadi batas antara dirinya dan masalah besar yang mungkin saja sedang menunggu di luar."Apa itu Bu Widya?" Bisiknya pelan, bayangan yang tak ingin Sarah dapatkan terlintas begitu saja.Bagaimana jika itu benar Widya saat Sarah membukakan pintu? Bagaimana jika wanita itu langsung melayangkan pukulan pada dirinya, memakinya hingga membabi buta, dan menuduhnya yang tidak-tidak?Pikiran itu membuat tengkuk Sarah terasa dingin.Ia tahu dirinya tidak melakukan apa pun. Namun, menjelaskan keadaan seperti ini tentu tidak akan semudah mengatakan bahwa ia hanya datang untuk membantu Rafael melihat-lihat hotel. Apalagi setelah semua kejadian yang terjadi sebelumnya.Kepalanya menggeleng keras, hingga suara itu menyadarkanny
"Aku gak boleh di sini!" Dan kini, Sarah pada akhirnya berjalan menuju kamar hotel, ia merasa benar-benar harus bersembunyi. Langkahnya dipercepat, tetapi tetap berusaha tidak menimbulkan suara yang bisa menarik perhatian siapa pun. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Tidak, bukan sekarang. Bahkan ini akan menjadi masalah besar, kemungkinan kalau sampai Widya melihatnya detik itu juga ia pulang kampung tanpa membawa pesangon. Pikiran itu saja sudah cukup membuat Sarah semakin panik. Ia tidak sanggup membayangkan wajah Widya jika mengetahui dirinya berada di hotel yang sama dengan Rafael. Apa pun penjelasannya nanti, rasanya tidak akan mudah diterima. Apalagi Sarah sendiri masih belum benar-benar memahami alasan Rafael membawanya ke tempat ini. Tangannya menutup pintu, lalu memegang dadanya yang berdebar begitu kencang. Begitu pintu tertutup rapat, Sarah langsung menyandarkan punggungnya di sana. Ia memejamkan mata sejenak. Benar-benar taku
Aneh, bagi Sarah ini benar-benar aneh. Majikannya itu tiba-tiba datang memberikan dress, mengajaknya ke hotel, hampir menciumnya, mendekapnya dan yang lebih parah mengutarakan isi hatinya bahwa pria itu menyukai Sarah. Semuanya bagi perempuan tersebut sangat mengejutkan, dan Sarah tidak siap. Sejak beberapa menit terakhir, kepalanya terasa penuh. Terlalu banyak kejadian yang datang bersamaan sampai Sarah sendiri tidak tahu harus memikirkan yang mana lebih dulu. Ia bahkan masih bisa merasakan sisa gugup dari percakapan mereka sebelumnya. Sikap yang majikannya berikan, terlalu berlebihan baginya. Ia tahu hanya seorang pembantu, tapi bagi Sarah itu tetap tidak wajar, sentuhan fisik yang Rafael lakukan mengusik harga dirinya. Selama ini Sarah selalu berusaha menjaga batas antara dirinya sebagai pembantu dan Rafael sebagai majikan. Ia tahu posisinya, dan ia tidak pernah berniat melewati batas itu. Namun, justru Rafael yang perlahan membuat batas tersebut terasa semakin kabur. Dan sekara







