Masuk"Mbak, ada apa? Kok dari tadi melamun?"Suara Mbak Yati membuyarkan pikiran Sarah. Tangannya yang sejak tadi sibuk memotong wortel berhenti di tengah gerakan. Ia tersadar bahwa beberapa menit terakhir dirinya hanya menatap sayuran di atas talenan tanpa benar-benar memperhatikannya.Sarah segera menggeleng. "Gak ada apa-apa kok, Mbak."Mencoba fokus, dan kembali menunduk mengambil pisau, berusaha melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Namun, gerakannya tidak lagi setenang tadi. Jemarinya bahkan sempat berhenti beberapa kali karena pikirannya kembali kepada percakapan Rafael dan Widya di lorong.Meskipun cukup dekat dengan Mbak Yati, ia tetap memilih menyimpan semuanya sendiri. Bukan karena tidak percaya, tetapi karena ia takut perempuan yang selama ini selalu membelanya sebagai sesama pembantu justru akan memandangnya berbeda setelah mengetahui masalah tersebut.Namun, raut wajah Yati jelas menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya.
Sarah menggigit bibir bawahnya, kemudian buru-buru melepaskannya ketika sadar dirinya semakin gugup. Pikirannya mulai kacau membayangkan bagaimana Widya memandangnya sekarang. Seorang pembantu yang pergi bersama suaminya ke hotel. Apa pun penjelasannya, dari luar semuanya memang terlihat buruk. Sarah menundukkan kepala. Kedua tangannya kini saling menggenggam erat. Jika saja Widya tahu bahwa keberadaan mereka di hotel itu bukan sesuatu yang ia rencanakan. Bahkan Sarah sendiri tidak pernah benar-benar memahami apa yang sedang direncanakan keluarga Adijaya dan hanya mengikuti. Tapi sekarang, justru dirinya yang harus menanggung akibatnya. "Jaga omonganmu!" Bentakan Rafael membuat Sarah tersentak. Bahu perempuan itu naik karena kaget bahkan sempat menutup mulut dengan telapak tangan ketika jantungnya berdegup begitu keras. "Aku lihat buktinya!" Suara Widya kembali terdengar. Sarah memejamkan mata. Air matanya mulai menggenang. Ia buru-buru mengusap sudut matanya, lalu menari
"Pak, tolong jangan masuk dulu." ia sedikit berteriak. "Iya," jawaban Rafael terdengar begitu singkat. Namun, sebelum langkah pria itu benar-benar menjauh, Sarah mendengar Rafael berkata pelan. "Saya benar-benar minta maaf. Sarah." suaranya sarat akan rasa bersalah. Setelah itu terdengar langkah kaki yang perlahan menghilang di lorong. Sarah masih berdiri di tempatnya. Ia menatap pintu yang kini tertutup rapat, kemudian menundukkan kepala. Entah kenapa, kejadian sederhana itu justru membuat perasaan Sarah semakin tidak tenang. Ia tahu Rafael tidak sengaja dan tak perlu ada yang di besar-besarkan. Namun, setelah semua percakapan mereka hari ini, setelah pria tersebut mengungkapkan perasaannya dan setelah orang tua Rafael bahkan mengatakan bahwa mereka merestui hubungan keduanya, Sarah tidak bisa menganggap kejadian ini sebagai sesuatu yang sepele. "Kenapa hidupku jadi serumit ini." Sarah menghembuskan napas panjang. Dari balik pintu, suara Rafael terdengar lagi. "Sarah,
"Kamu istirahat saja dulu." Adijaya membuka suara setelah melihat Sarah yang masih tampak gelisah. Namun, perempuan itu justru menggeleng cepat. "Maaf, Pak. Pekerjaan saya masih banyak. Saya gak enak dengan yang lain." Sarah langsung teringat pada Mbak Yati dan para pekerja lain. Bagaimana kalau mereka melihat dirinya justru beristirahat ketika pekerjaan masih menumpuk? Pasti akan muncul pertanyaan. Terlebih setelah kejadian hari ini, Sarah sendiri sudah merasa tidak nyaman menerima perlakuan khusus dari keluarga Adijaya. "Tidak apa-apa, Sarah. Ini kami yang perintah." Nada Anisa terdengar lembut, tetapi bagi Sarah kalimat itu justru membuatnya tidak punya alasan lagi untuk menolak. Ia kembali bungkam. Bagaimanapun, dirinya hanyalah seorang pembantu di rumah ini. Ia tidak memiliki banyak suara untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan. Ketika orang-orang yang menjadi atasannya sudah memberikan perintah, Sarah hanya bisa mengangguk dan menurut. "Baik, Bu." Pada
"Sayang, Tante pergi ke kamar dulu ya, ganti baju?" Sarah menunduk menatap Salsabila yang masih berdiri di hadapannya. Gadis kecil itu memang tidak banyak bertanya, tetapi dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa Salsabila tahu orang tuanya bertengkar lagi seperti biasanya. Beberapa detik kemudian, Salsabila mengangguk pelan. Senyum tipis muncul di wajahnya. "Nanti, temani aku ya, Tante," pintanya. Sarah segera mengangguk. "Iya, Tante temani." Setidaknya, permintaan sederhana dari Salsabila sedikit membuat pikirannya teralihkan. Sarah kemudian berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya. Namun, semakin jauh dari ruang tengah, langkahnya justru terasa semakin berat. Pikirannya kembali kepada kejadian tadi. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah ini. Bahkan juga tidak tahu bagaimana sikap Widya kepadanya nanti. Yang paling membuat Sarah takut adalah kemungkinan perempuan itu benar-benar murka dan menganggap dirinya sebagai akan menambah sebab permasalahan rumah tangga me
"Kalian pergi berdua di hotel." Keringat dingin mulai terasa di pelipis Sarah. Ia membuka mulut, hendak menjelaskan bahwa semua tidak seperti yang dipikirkan Widya. Namun, Rafael lebih dulu menjawab dengan nada tenang. "Menuduh tanpa bukti, itu sama saja fitnah." Namun, jawaban Rafael justru membuatnya terkenal. Ia tidak menyangka Rafael akan menjawab seperti itu, seolah sedang menutupi apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, meski memang bukan sesuatu yang lebih, tapi dugaan Widya itu memang benar adanya, mereka benar hanya berdua pergi ke hotel. Widya justru tersenyum miring, senyum yang mampu membuat dada Sarah seperti di remas oleh banyak tangan. "Bela saja, tutupi saja semuanya!" Meski nadanya tidak begitu kerasa, kalimat itu penuh penekanan. Tatapannya kemudian beralih tajam kepada Sarah. Perempuan itu langsung menggeleng cepat, merasa harus segera meluruskan kesalahpahaman tersebut, bahwa dugaan itu tidak semuanya benar. Namun sebelum Sarah sempat berkata apa-







