Home / Romansa / Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa. / 176. Meminta bantuan Rafael

Share

176. Meminta bantuan Rafael

last update publish date: 2026-10-19 13:03:24
Widya kembali menatap Sarah. Ketika dua pembantu itu hanya bisa menunduk. Kali ini, kemarahannya seolah akan membabi buta.

"Memang hebat kamu, Sarah. Baru berapa lama bekerja di sini, tapi sudah berhasil membuat Rafael membawamu pergi berdua ke hotel!" kalimat itu mampu membuat Sarah merasa seluruh darah di wajahnya seakan surut.

Dari ekor matanya, Sarah bisa melihat keterkejutan di wajah Mbak Yati. Ia tak tahu, mungkin perempuan itu akan menilainya sebagai wanita yang buruk.

"Bu," lirihn
Kirrun kiyyun

Hallo, maaf jarang update. Kalau kalian suka dan menunggu cerita ini tolong komen ya .

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Umi Handayani
lanjut ka saya rasa Sarah tidak salah dia hanya ingin bekerja u beli obat bapaknya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    177. Tolong jangan mendekat!

    Kini, Sarah menatap Mbak Yati dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Perempuan yang selama ini cukup dekat dengannya itu juga hanya diam, seolah sedang berusaha memahami sesuatu yang baru saja didengarnya. Namun, justru keheningan tersebut membuat Sarah semakin gelisah. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Mbak Yati, apakah perempuan itu masih memercayainya atau mulai menganggap tuduhan Widya sebagai sesuatu yang benar.Sarah melangkah satu langkah, berniat menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Akan tetapi, sebelum sempat membuka mulut, suara Mbak Yati lebih dulu terdengar dan membuat dadanya terasa diremas."Saya mau ambili pakaian dulu."Tanpa menunggu jawaban, Mbak Yati segera berbalik dan meninggalkan dapur. Langkahnya cukup cepat, seolah tidak ingin mendengar penjelasan apa pun dari Sarah. Perempuan itu bahkan tidak memberikan kesempatan kepada Sarah untuk mengatakan bahwa semua tuduhan Widya tidak seperti yang dibayangkan.Sarah hanya berdiri mematung, mengikuti kepergian Mbak

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    176. Meminta bantuan Rafael

    Widya kembali menatap Sarah. Ketika dua pembantu itu hanya bisa menunduk. Kali ini, kemarahannya seolah akan membabi buta. "Memang hebat kamu, Sarah. Baru berapa lama bekerja di sini, tapi sudah berhasil membuat Rafael membawamu pergi berdua ke hotel!" kalimat itu mampu membuat Sarah merasa seluruh darah di wajahnya seakan surut. Dari ekor matanya, Sarah bisa melihat keterkejutan di wajah Mbak Yati. Ia tak tahu, mungkin perempuan itu akan menilainya sebagai wanita yang buruk. "Bu," lirihnya hendak menjelaskan semuanya, tapi kata-katanya berhenti, mengalahkan rasa takutnya. "Jangan panggil saya begitu seolah-olah kamu tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan!" Widya menunjuk ke arah Sarah dengan tangan gemetar menahan amarah. "Saya melihat kalian datang bersama! Kamu pikir saya sebodoh itu sampai tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi?" Kepala wanita itu menggeleng berkali-kali. "Saya bisa menjelaskan, Bu. Sungguh, semuanya tidak seperti yang Ibu pikirkan." "Menjelas

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    175. Sarah, ternyata kamu?

    "Mbak, ada apa? Kok dari tadi melamun?"Suara Mbak Yati membuyarkan pikiran Sarah. Tangannya yang sejak tadi sibuk memotong wortel berhenti di tengah gerakan. Ia tersadar bahwa beberapa menit terakhir dirinya hanya menatap sayuran di atas talenan tanpa benar-benar memperhatikannya.Sarah segera menggeleng. "Gak ada apa-apa kok, Mbak."Mencoba fokus, dan kembali menunduk mengambil pisau, berusaha melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Namun, gerakannya tidak lagi setenang tadi. Jemarinya bahkan sempat berhenti beberapa kali karena pikirannya kembali kepada percakapan Rafael dan Widya di lorong.Meskipun cukup dekat dengan Mbak Yati, ia tetap memilih menyimpan semuanya sendiri. Bukan karena tidak percaya, tetapi karena ia takut perempuan yang selama ini selalu membelanya sebagai sesama pembantu justru akan memandangnya berbeda setelah mengetahui masalah tersebut.Namun, raut wajah Yati jelas menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya.

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    174. Dasar perebut lelaki orang!

    Sarah menggigit bibir bawahnya, kemudian buru-buru melepaskannya ketika sadar dirinya semakin gugup. Pikirannya mulai kacau membayangkan bagaimana Widya memandangnya sekarang. Seorang pembantu yang pergi bersama suaminya ke hotel. Apa pun penjelasannya, dari luar semuanya memang terlihat buruk. Sarah menundukkan kepala. Kedua tangannya kini saling menggenggam erat. Jika saja Widya tahu bahwa keberadaan mereka di hotel itu bukan sesuatu yang ia rencanakan. Bahkan Sarah sendiri tidak pernah benar-benar memahami apa yang sedang direncanakan keluarga Adijaya dan hanya mengikuti. Tapi sekarang, justru dirinya yang harus menanggung akibatnya. "Jaga omonganmu!" Bentakan Rafael membuat Sarah tersentak. Bahu perempuan itu naik karena kaget bahkan sempat menutup mulut dengan telapak tangan ketika jantungnya berdegup begitu keras. "Aku lihat buktinya!" Suara Widya kembali terdengar. Sarah memejamkan mata. Air matanya mulai menggenang. Ia buru-buru mengusap sudut matanya, lalu menari

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    173. Pak..Tolong jangan!

    "Pak, tolong jangan masuk dulu." ia sedikit berteriak. "Iya," jawaban Rafael terdengar begitu singkat. Namun, sebelum langkah pria itu benar-benar menjauh, Sarah mendengar Rafael berkata pelan. "Saya benar-benar minta maaf. Sarah." suaranya sarat akan rasa bersalah. Setelah itu terdengar langkah kaki yang perlahan menghilang di lorong. Sarah masih berdiri di tempatnya. Ia menatap pintu yang kini tertutup rapat, kemudian menundukkan kepala. Entah kenapa, kejadian sederhana itu justru membuat perasaan Sarah semakin tidak tenang. Ia tahu Rafael tidak sengaja dan tak perlu ada yang di besar-besarkan. Namun, setelah semua percakapan mereka hari ini, setelah pria tersebut mengungkapkan perasaannya dan setelah orang tua Rafael bahkan mengatakan bahwa mereka merestui hubungan keduanya, Sarah tidak bisa menganggap kejadian ini sebagai sesuatu yang sepele. "Kenapa hidupku jadi serumit ini." Sarah menghembuskan napas panjang. Dari balik pintu, suara Rafael terdengar lagi. "Sarah,

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    172. Aaakhhhh, bapak ngapain?

    "Kamu istirahat saja dulu." Adijaya membuka suara setelah melihat Sarah yang masih tampak gelisah. Namun, perempuan itu justru menggeleng cepat. "Maaf, Pak. Pekerjaan saya masih banyak. Saya gak enak dengan yang lain." Sarah langsung teringat pada Mbak Yati dan para pekerja lain. Bagaimana kalau mereka melihat dirinya justru beristirahat ketika pekerjaan masih menumpuk? Pasti akan muncul pertanyaan. Terlebih setelah kejadian hari ini, Sarah sendiri sudah merasa tidak nyaman menerima perlakuan khusus dari keluarga Adijaya. "Tidak apa-apa, Sarah. Ini kami yang perintah." Nada Anisa terdengar lembut, tetapi bagi Sarah kalimat itu justru membuatnya tidak punya alasan lagi untuk menolak. Ia kembali bungkam. Bagaimanapun, dirinya hanyalah seorang pembantu di rumah ini. Ia tidak memiliki banyak suara untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan. Ketika orang-orang yang menjadi atasannya sudah memberikan perintah, Sarah hanya bisa mengangguk dan menurut. "Baik, Bu." Pada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status