Share

Persaingan yang mengakar

Author: Oyamanda
last update publish date: 2026-10-04 17:03:45

Sera melipat kedua tangannya di depan dada sambil memperhatikan tangan waiters yang meletakkan teh paper mint pesanannya ke atas meja dan ice americano pesanan Jeny.

Setelah waiters itu selesai dan beranjak dari meja mereka, Sera bergeming dengan meletakkan kedua lengannya ke atas meja.

"Apa semua dewan guru menyetujui rekomendasi Danira?" Tanya Sera dengan mata yang tak terlalu antusias.

"Mmm... Kaya nya gak terlalu. Mereka cuma bingung, Danira yang selama ini kelihatan benci sama kamu kenapa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Satu nama dengan sejuta kejutan

    Masa sekarangSuasana ruang rapat di Yayasan Pendidikan Prima Nusantara terasa tegang dengan perdebatan sengit antara Danira dan Sera yang duduk saling berhadapan. Peserta yang lain tampak tegang menyaksikan perseteruan keduanya yang tak kunjung menemui titik terang dari perdebatan panjang itu.Manaf, selaku pemilik yayasan akhirnya membuang nafas dengan kasar dengan kening berlipat yang perlahan mengendur. Ia menatap Danira dan Sera bergantian, dengan tajam, teliti, namun berakhir dengan senyuman lembut khas lelaki tua berusia enam puluh lima tahun."Jadi apa hasil dari perdebatan ini?" Bola mata Manaf bergerak menatap Danira dan Sera bergantian. "Kalian masih seperti anak kuliah yang sedang adu pendapat dalam tugas presentasi." Manaf menghela nafas kasar.Ekspresi tegang dari Danira dan Sera perlahan mengendur, keduanya tampak mulai meregangkan tubuh dengan gerakan kecil sembari mencari posisi tenang untuk duduknya. Senyuman kembali terukir di sudut bibir Manaf yang menampakkan k

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Persaingan yang mengakar

    Sera melipat kedua tangannya di depan dada sambil memperhatikan tangan waiters yang meletakkan teh paper mint pesanannya ke atas meja dan ice americano pesanan Jeny.Setelah waiters itu selesai dan beranjak dari meja mereka, Sera bergeming dengan meletakkan kedua lengannya ke atas meja."Apa semua dewan guru menyetujui rekomendasi Danira?" Tanya Sera dengan mata yang tak terlalu antusias."Mmm... Kaya nya gak terlalu. Mereka cuma bingung, Danira yang selama ini kelihatan benci sama kamu kenapa mendadak merekomendasikan nama kamu, bukan namanya sendiri yang begitu antusias sama jabatan itu."Sera menghela nafas yang di akhiri dengan senyum kecil di sudut bibirnya, "itu rencana yang sempurna.""Maksud kamu?" Tanya Jeny sembari mengaduk ice americano nya sesaat sebelum ia menyeduhnya."Jabatan kepala sekolah di yayasan kita gak boleh lebih dari lima tahun. Kalau aku menjabat kepala sekolah sekarang, lima tahun ke depan aku harus pensiun di usia muda atau turun jabatan kembali jadi guru b

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Kenangan yang membekas

    Sera tampak lihai menarikan jemarinya di atas senar gitar sambil bernyanyi dengan suara merdunya. Sontak hal itu menarik perhatian seisi kelas, tak terkecuali Desta yang baru masuk.Melihat Desta masuk, Sera menghentikan lagunya."Hai pacar..." Sapa Sera dengan senyum cerah khasnya.Kini semua perhatian tertuju pada Desta, menjadikan dia seperti tersangka dalam sebuah teka-teki besar."Pacar?" Tanya Sadam yang duduk di samping Sera, "sejak kapan?" Sadam bergeming dari posisinya."Kemarin kami baru jadian." Sera meletakkan gitarnya dan beranjak dari duduknya mendekati Desta yang masih berdiri mematung di depan kelas. Sera kembali merangkul kan tangannya ke lengan Desta. "Kami pacaran. Jadi, aku harap buat semua cewek yang ada di kelas ini jangan ganggu Desta ya. Dia milik Sera, dan Sera milik Desta," ucapnya seolah sedang mengumumkan hal keramat."Serius Ra?" Tanya lelaki yang berdiri di sebelah Sadam.Sera mengangguk. "Sengaja aku umumkan, biar gak ada lagi yang mengira aku jomblo."

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Bunga lily dan ceritanya

    "Cuma buku itu yang kamu bawa?" Tanya Desta dengan mata setengah melotot.Mata Sera mengikuti arah tatapan Desta, ia mengangguk sambil membuka lebar tasnya yang memperlihatkan alat make-up yang lengkap seolah itu memang tas make-up."Kamu mau kuliah atau..." Kening Desta mengernyit."Aku lebih suka lihat wajah aku yang tetap cantik daripada nilai A di kertas ujian." Sera tersenyum penuh percaya diri.Desta menutup mulutnya dengan tangannya ketika tawa tak mampu ia bendung saat melihat wajah Sera yang polos ketika mengucapkan kalimat itu."Apa itu lucu?" Senyum Sera lenyap berganti wajah kesal."Gak, bukan gitu, cuma agak aneh." Jawab Desta yang terlihat berusaha menghentikan tawanya."Kamu suka cewek aneh gak?" Sera kembali menopangkan wajah ke tangannya.Desta menghela nafas. "Yang normal aja kadang ribet, apalagi yang aneh." Senyum Desta tampak menyindir."Tapi yang aneh kan lucu tau..." Sera masih berusaha menggoda."Beda antara aneh dan lucu." Desta mulai membuka buku di hadapanny

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Kenangan yang melintas

    "Danira, akhirnya kamu kembali."Danira mengangkat dagu. "Kamu terganggu?""Apa ada alasan yang membuatku harus merasa terganggu?" Sera balik bertanya dengan raut wajah tenang.Sepatu hak tinggi Danira beradu dengan lantai ketika ia berjalan mendekat. Jarak mereka tinggal beberapa sentimeter. Mata keduanya saling menatap, dingin dan tajam.Danira tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana."Apa kamu masih mengincar posisi ketua yayasan?"Sera mempertahankan wajah tenangnya, meski jemarinya perlahan mengepal di sisi tubuh. Kedatangan Danira bukan kebetulan. Danira tidak pernah muncul tanpa membawa sesuatu yang ingin direbutnya."Dari awal kamu tau aku gak pernah menginginkan jabatan itu." Jawab Sera dengan wajah ramah.Senyum Danira menghilang."Ternyata kamu masih naif ya. Pantas saja sampai sekarang pun kamu belum bisa move on dari lelaki itu."Sera menatapnya tajam. Untuk pertama kalinya pagi itu, pikirannya tidak lagi dipenuhi Raja."Apa maksudmu?"Danira mendekatkan waja

  • Maaf, Tapi Hatiku Sudah Memilih Dia   Setelah peristiwa itu...

    Setalah cukup lama membiarkan Raja melayangkan ciumannya, Sera mengumpulkan seluruh tenaganya untuk melepaskan cengkraman lelaki itu dari tubuhnya.Beberapa kali mencoba ia gagal sampai yang terakhir kali dengan rasa amarah yang memuncak ia berhasil mendorong dada Raja hingga pria itu terhuyung mundur."Dasar kurang ajar! Kamu kira aku ini apa sembarangan kamu cium!" ketus Sera. Wajahnya dipenuhi kemarahan, sementara keterkejutan masih jelas terlihat di matanya.Raja menatapnya dengan wajah muram. Tatapan tajam Sera tidak membuatnya mundur, tetapi juga tidak membuatnya berani mendekat lagi."Aku suka sama Mbak Sera."Kening Sera berkerut, dengan sorot mata penuh emosi ia menampar wajah Raja hingga lelaki itu memegangi pipinya karna merasa pedih."Suka? Baru tadi siang kita kenal dan ngobrol, lalu kamu langsung bilang suka? Kamu kira aku perempuan kesepian yang haus kasih sayang?" tanyanya dengan nada meninggi."Sejak pertama kali melihat Mbak Sera, aku langsung—""Cukup!" Sera memoton

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status