Home / Rumah Tangga / Madu Adalah Maut / Bab 17. Rencana Licik

Share

Bab 17. Rencana Licik

last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-09 08:29:07

Nabila mengangguk pelan. "Iya. Dia menikahi perempuan itu dengan alasan aku tidak bisa memberinya anak laki-laki. Dan dengan teganya, dia membawa wanita itu untuk tinggal satu atap denganku," jawab Nabila dengan suara yang bergetar namun sarat akan ketegaran. "Aku membiarkan mereka menginjak-injak harga diriku di rumah yang kubangun dengan keringatku sendiri."

Urat-urat di leher Dennis menonjol. Pria yang biasanya selalu tampil tenang dan penuh perhitungan itu kini terlihat seperti singa yang t
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Madu Adalah Maut    Bab 47. Hadiah Kecil

    "Pisau itu bisa mengiris jarimu kalau pandanganmu terus kosong seperti itu, Nabila." Suara yang berat dan tenang itu menghentikan gerakan tangan Nabila seketika. Nabila mengerjapkan mata, seolah baru saja ditarik kembali ke dunia nyata. Ia menatap talenan di depannya, di mana sayuran yang ia potong sudah hancur tak beraturan, mencerminkan betapa kacaunya isi kepalanya saat ini.Jam di dinding dapur utama hotel telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Para koki dan staf dapur lainnya sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Namun Nabila bersikeras untuk tinggal lebih lama, mencari pelarian dari sunyinya malam yang sering kali memancing memori buruk tentang tangisan Rania dan Aisyah yang kembali berputar di kepalanya.Ia merindukan mereka, sangat rindu. Biasanya, setelah adzan isya tiba, emosinya selalu diuji saat mengajari Aisyah mengaji dan mengerjakan PR, tapi sekarang? Semua terasa sunyi. Dennis melangkah masuk ke dalam area dapur yang sepi itu. Pria itu sudah menanggalkan jas mahalny

  • Madu Adalah Maut    Bab 46. Hampir Mati

    "M-Mas Arga..."Ponsel di genggaman Keisya merosot jatuh ke atas kasur tipis. Wajah wanita muda itu seketika memucat. Ia langsung mematikan sambungan telefon. Namun, kepanikan itu hanya berlangsung selama beberapa detik. Keisya yang sejak awal sudah muak dengan keadaan, tiba-tiba membusungkan dada. Ia menepis rasa takutnya dan mengangkat dagu tinggi-tinggi, menatap tajam ke arah pria yang mematung di ambang pintu. Pikirnya, kenapa ia harus takut? Pria itu sudah tidak punya apa-apa sekarang, kalau dia marah ya sudah. Ia tidak peduli! "Iya! Terus kenapa kalau iya, hah?!" jerit Keisya lantang, menantang nyalang mata Arga yang memerah. "Aku muak sama kamu, Arga! Aku gak sudi membesarkan anak dari laki-laki gembel yang udah gak punya apa-apa! Anak ini cuma bakal jadi beban hidupku. Lebih baik aku gugurkan saja daripada harus punya beban hidup! Aku mau cari laki-laki kaya lain! Yang lebih kaya dari kamu sebelumnya!" Mendengar itu, amarah Arga langsung naik ke atas ubun-ubunnya. Ia yang

  • Madu Adalah Maut    Bab 45. Mencari Om-om Baru

    1 jam kemudian, Arga dan Keisya berdiri di depan sebuah pintu kamar kost yang terbuka, kamar itu berukuran tiga kali tiga meter yang pengap. Dindingnya lembap, catnya mengelupas, dan hanya ada sebuah kipas angin kecil yang berdebu di sudut ruangan serta kasur tipis yang berbau apek.Begitu pintu kamar terbuka, Keisya langsung menutup hidungnya, nyaris muntah mencium aroma kapur barus murahan yang bercampur dengan bau selokan dari luar jendela."Aku gak sudi tidur di sini!" jerit Keisya histeris. Ia menendang koper di dekatnya dengan kasar. "Tempat ini lebih mirip kandang hewan daripada kamar manusia!"Arga meletakkan koper-kopernya dengan napas terengah-engah. Kemeja mahalnya sudah basah oleh keringat. Ia menatap kamar sempit itu dengan dada yang sesak. Bayangan kamar utamanya yang luas, ber-AC sentral, dan kasur empuk berlapis sutra berkelebat di benaknya, menyiksanya tanpa ampun."Tolong sabar sedikit, Sya. Hanya untuk beberapa hari," bujuk Arga dengan suara serak, mencoba menenang

  • Madu Adalah Maut    44. Beda Istri Beda Rezeki

    "Mau kemana kita sekarang, hah? Ke kolong jembatan?!" ucap Keisya dengan nada melengking membelah udara panas di depan gerbang rumah mewah yang kini telah disegel rapat oleh pihak bank. Ia sama sekali tidak mempedulikan tatapan beberapa orang dan satpam komplek yang menonton pengusiran mereka dari kejauhan dengan tatapan mencemooh.Arga mengusap wajahnya yang kuyu dengan kasar. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. "Kecilkan suaramu, Keisya! Malu dilihat orang! Kita cari taksi sekarang, kita cari tempat tinggal sementara.""Malu?!" Keisya tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan keputusasaan dan amarah yang meledak-ledak. "Kamu masih punya urat malu setelah semua barang disita dan kita diusir kayak anjing begini?! Aku gak teriak-teriak juga kita udah dilihat orang dan jadi bahan tontonan, Arga! Dan tadi kamu bilang apa? Cari taksi? Memang uang tunai di dompetmu sisa berapa, hah?! Cukup emang buat bayar taksi dan sewa apartemen?!"Arga merogoh saku celananya dengan tangan berget

  • Madu Adalah Maut    Bab 43. Karma Datang Tepat Waktu

    "Ayolah, Keisya. Aku mohon," ucap Arga. Ia memeluk kaki Keisya."Kamu ini bener-bener gila ya?! Aku bilang aku tidak mau hidup miskin, Arga! Minggir!" Keisya memberontak kasar, berusaha melepaskan kakinya dari pelukan Arga. Namun pria itu memeluknya semakin erat, tak sudi melepaskan satu-satunya hal yang tersisa dalam hidupnya."Sya, dengarkan aku dulu! Dengarkan aku!" Arga mendongak dengan wajah bersimbah air mata dan raut penuh keputusasaan. Otaknya berputar cepat mencari celah untuk menahan wanita ini. Ia lalu beranjak dari posisinya dan kembali berdiri dengan tegak. "Kamu mau pergi ke mana, hah? Kembali ke orang tuamu? Ke kos-kosan sempitmu yang dulu? Kalau kamu pergi dariku sekarang, kamu akan sama miskinnya!"Keisya terdiam sejenak, namun wajahnya masih memerah padam menahan amarah."Dan yang lebih penting, Keisya..." Arga menelan ludah, suaranya dipelankan menjadi bisikan yang menghasut, "Coba kamu pikirkan Nabila."Mendengar nama istri sah disebut, tubuh Keisya seketika menega

  • Madu Adalah Maut    Bab 42. Istri Siri Minta Cerai

    "Hah? Apa? Kamu gila, Dennis?!"Nabila menatap pria di hadapannya dengan sepasang mata membulat sempurna. Ia sampai mundur selangkah, nyaris menabrak meja kerja karena saking terkejutnya mendengar ucapan pria itu.Dennis tersenyum hangat. Ia melangkah maju dengan santai, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celananya, sementara tangan yang lain terulur mengelus lembut lengan Nabila. "Aku tidak gila, Nabila. Aku sangat waras dan serius," jawab Dennis dengan suaranya yang tenang. "Restoran itu, rumah mewahnya, dan semua aset yang dulu kamu bangun dengan keringatmu sendiri ... aku akan memerintahkan tim hukum dan keuanganku untuk membelinya saat bank melelangnya nanti. Dan setelah itu, aku akan membalikkan semuanya menjadi atas nama lagi." "Tapi ... tapi itu nilainya puluhan miliar, Dennis!" Nabila menggeleng kuat-kuat. "Enggak. Aku sudah berhutang harga diri padamu hari ini, tolong jangan buat aku berhutang harta yang tak mungkin bisa aku lunasi! Dari mana aku bisa mengembalikan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status