Beranda / Rumah Tangga / Madu Di Kamar Tamu / Bab 26. Prasangka Bapak

Share

Bab 26. Prasangka Bapak

last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-15 16:30:53

"Laila, Kakak kan kakak kamu. Mulai sekarang, Ibu dan Bapaknya Kak Nur juga Bapak dan Ibu kamu. Kamu jangan sedih," ujar Nur menghapus air mata Laila.

Laila kaget, dia tidak tahu kapan air matanya turun.

"Haha, maaf. Tidak apa-apa Kak Nur," kata Laila berusaha tertawa menutupi tangisannya.

'Uh, kenapa air mata aku tidak mau berhenti,' batin Laila panik.

"Kamu tidak perlu menutupinya. Kita adalah keluarga," hibur Nur agar Laila tidak tertawa lagi.

Nur tidak suka melihat Laila yang berusaha seka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 50

    Laila berjalan ke arah dapur. Baru satu langkah dia balik lagi. "Yusuf, boleh Ibu minta tolong?" "Apa Bu?" tanya Yusuf berhenti bermain. "Itu, tadi Ibu lupa menurunkan buah dari mobil. Ibu baru ingat sekarang." "Biarlah Rau yang ambil. Kak Yusuf yang jaga Zain," sahut Rauzah segera berdiri. "Baiklah, jangan lupa tutup pintu mobil setelah dibuka." "Iya Bu." Rauzah dengan semangat lari ke luar untuk mengambil buah. Sebelum Laila pulang, dia sempat berhenti sebentar untuk beli buah untuk kudapan di sore hari. Laila segera pergi ke dapur untuk mengambil minuman dan cemilan lainnya. Sekalian menyiapkan pisau dan piring untuk mengupas buah. *** Rauzah dengan semangat membuka pintu bagian belakang. Di sana biasanya diletakkan belanjaan. Dia mengeluarkan satu kantong buah yang dibeli oleh Laila. Ketika mau menutup pintu kembali, mata Rauzah tertuju pada robot yang diberikan oleh Dika kepada Zain. Robot yang lupa diambil gara-gara kedatangan Lisa. Rauzah meletakkan buah di luar mo

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 49. Rebutan Mainan

    "Bu!" seru Rauzah memasuki rumah. Rauzah baru pulang dari sekolah dijemput Pak Yuda. Begitu sampai di rumah langsung mencari keberadaan Laila. Saat matanya menemukan sosok yang asing, dia mendekat ke arah Zain dan Lisa yang juga menatapnya. "Kamu siapa?" tanya Rauzah tanpa basa basi. "Aku Lisa. Kamu siapa?" tanya Lisa balik. "Lica, ni Kak Lau, Kakanya Jen," sahut Zain memperkenalkan Rauzah. "Zain punya Kakak ya?" "Iya, ada dua. Ada Kak Yucuf juga." "Kamu ngapain ke sini?" tanya Rauzah yang merasa terabaikan oleh mereka berdua. "Mau jenguk Zain." "Rauzah, kamu sudah pulang," ujar Laila menghampiri mereka. Laila meninggalkan dapur mendengar suara Rauzah. Di dapur dilanjutkan oleh Bibi. "Ibu!" "Kamu ganti baju dulu ya. Ibu sedang memasak," suruh Laila. "Baiklah Bu," sahut Rauzah. Rauzah melirik lagi ke arah Lisa sebelum pergi ke dalam kamarnya. "Kalian main dulu ya. Ibu lanjut masak." "Oke Tante." *** Kali ini Lisa ikut makan siang bersama Laila, Zain, Yusuf dan Rauzah

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 48

    *** Begitu bel berbunyi, Lisa dengan cepat mengemas barang-barang miliknya. Semuanya dimasukan dengan sembarang. Asal masuk saja. "Bu, sudah bel," kata Lisa tidak sabaran. "Anak-anak, sekarang sudah waktunya pulang." "Hore!" seru anak-anak sudah bisa pulang. Lisa segera menghampiri Bu Guru yang berada di depan kelas yang sedang salim dengan anak-anak lain. "Bu, di mana rumahnya Zain. Ayo tulis di sini," ujar Lisa menyerahkan satu lembar kertas kepada Ibu Guru. Ibu Guru membuka handphone mencari data tentang Zain. Setelah ditemukan, dia menuliskan alamat rumah Zain. "Ibu antar ke depan ya. Ibu mau pastikan biar kamu tidak nekat pergi sendiri," ujar Bu Guru setelah selesai menuliskan alamat. "Lisa tidak akan pergi sendiri Bu," sahut Lisa. "Ibu Guru kurang percaya sama Lisa. Tadi saja nekat pergi." Lisa mengurutkan bibirnya. Tadi sama sekarang kan sudah beda. *** Zain dan Laila sudah tiba di rumah. Laila memarkirkan mobil di bagasi. Lalu turun duluan untuk membuka pintu untu

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 47. Rumah Sendiri

    Laila sudah selesai mengambil obat milik Zain. Lalu dia langsung menuju ke ruangan milik Dika. Setelah beberapa saat berjalan mencari ruangan Dika, dia menemukan ruang Dika. Suara Dika dan Zain bisa terdengar sampai arah luar. Dengan segera tangannya membuka pintu ruangan. Laila senang melihat Zain yang sudah tertawa gembira bersama dengan Dika. Dari tadi pagi Zain hanya terlihat lesu. Beda dengan sekarang. "Bu, Ibu udah datang," ujar Zain menyadari kehadiran Laila. Zain turun dari sofa dan menuju ke arah Laila yang berada di depan. "Ibu sudah selesai. Ayo kita pulang," ajak Laila. Laila suka melihat Zain sudah senang lagi. Tapi Zain harus segera beristirahat agar cepat sembuh. Jadi terpaksa mengajak Zain untuk segera pulang. "Zain mau pulang sekarang," ujar Dika dengan sedih. "Zain harus segera pulang untuk istirahat agar cepat sembuh," sahut Laila dengan lembut. "Baiklah," jawab Dika tidak semangat lagi. "Dika, Dika juga harus istirahat. Kalian kan sudah main tadi," ujar M

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 46

    ***Pada keesokan paginya, sakit perut masih terasa. Jadi pada hari itu Zain tidak pergi ke sekolah. Laila kembali membawa Zain ke rumah sakit.Setelah melakukan konsultasi dengan Dokter, Zain disarankan untuk beberapa hari kemudian makan makanan yang lunak dan tidak berat. Biar kinerja perutnya tidak berat. Agar proses pemulihan pencernaan bisa berjalan dengan normal kembali."Zain!" panggil Dika dari kejauhan dengan suara besar.Dika langsung menghampiri Zain yang baru keluar dari ruangan Dokter. Dia sangat senang melihat Zain lagi. Sudah berhari-hari menunggu Zain kembali ke rumah sakit."Kamu dari mana aja. Aku lama menunggu kamu disini," ujar Dika dengan nafas memburu."Dika, kamu jangan ganggu temanmu," tegur Mama Dika ikut mengejar Dika."Lihat, teman kamu lagi pucat," sambungnya lagi."Kamu sakit apa? Apa sakit parah?" tanya Dika ingin tahu."Zain hanya sakit perut saja," sahut Laila karena Zain hanya diam saja. Zain terlihat sangat lesu dan kurang bersemangat sejak tadi pagi

  • Madu Di Kamar Tamu   S2 Bab 45. Mainan Baru

    Zain baru terbangun pada sore hari. Keadaan perutnya masih terasa sakit. Laila sudah memberikan obat satu kali yang telah diresepkan oleh Dokter. Setelah Hanif membelikan obat, Laila membangunkan Zain dan menyuruh Zain untuk minum obat. Beri setelah itu Zain tidur lagi."Sayang kamu sudah bangun," ujar Laila membuka pintu kamar Zain. "Bu," ucap Zain ingin bangun. Tapi ujung-ujungnya dia hanya bisa meringkuk, ketika bergerak perut terasa terlilit. "Zain masih sakit. Tiduran saja," suruh Laila duduk di atas kasur di samping Zain."Jen ndak apa-apa," ujar Zain bohong. "Mana mungkin kamu tidak apa-apa sayang. Perut kamu masih sakit kan? Tidak perlu bohong di depan Ibu," tegur Laila.Zain mengganggu kepala sebagai jawaban masih sakit."Sudah Ayah bilang kamu tidak boleh jajan sembarangan. Masih saja tidak dengar," ujar Hanif ikut masuk ke dalam kamar Zain."Mas!" seru Laila tidak suka dengan perkataan Hanif yang bisa membuat Zain terpuruk."Lagian, darimana kamu bisa beli jajan seperti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status