MasukNur Humairah tidak tahu jika perempuan yang dibawa pulang oleh sang suami adalah calon madunya. Sejak kedatangan Laila, Nur mulai merasakan ada sesuatu yang berubah dari Hanif. Hanif terpaksa membawa Laila pulang ke rumah mereka. Dia sudah berjanji kepada almarhum suami Laila untuk menikahi dan menjaganya. Hanif berencana mendekatkan Nur dengan Laila terlebih dahulu sebelum dia berani menceritakan apa yang terjadi. Hingga pada suatu hari, Nur mengetahui Hanif akan menikahi Laila. Dia sama sekali tidak terima dan menyuruh Hanif memilih. Hanif memilih tetap mempertahankan Nur dan akan menikahi Laila. Nur akhirnya minta berpisah dan pulang ke rumah orang tuanya. Hatinya sangat hancur telah dikhianati oleh Hanif. Apalagi mengetahui Laila hamil disaat dia belum hamil setelah tujuh tahun menikah.
Lihat lebih banyakNur Humairah baru saja selesai mandi dan mengambil wudhu. Perempuan yang biasa dipanggil dengan Nur ini menatap sang suami yang masih tertidur di atas kasur.
Nur berjalan mendekat ke arah Hanif, suaminya. Dia menutup tangan menggunakan mukena yang sudah ada di tubuhnya. Supaya kulit tangannya tidak bersentuhan dengan Hanif. Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Sebentar lagi akan memasuki waktu salat Subuh. Nur dan Hanif biasa melakukan salat bersama di waktu Subuh dan Magrib atau saat mereka berada di dalam rumah saat memasuki waktu salat. "Mas, bangun Mas," ujar Nur menepuk selimut yang membungkus tubuh Hanif. Hanif tidak merespon. Dia masih terlelap dalam tidurnya. Kemarin dia banyak kerjaan dan tidur cukup telat. Sehingga tubuhnya membutuhkan banyak istirahat. "Mas bangun. Ini sudah mau subuh. Nanti kita telat salat Subuh," panggil Nur untuk kedua kalinya. Nur dengan setia membangunkan Hanif dengan lembut. Saat Hanif membalikkan badan, dia segera berdiri. Takut kalau air wudhunya batal kena tangan Hanif. Hanif mulai terjaga. Dia melihat ke arah sang istri yang berdiri di tepi kasur dalam keadaan sudah rapi. "Jam berapa sekarang?" tanya Hanif sambil bangun. Hanif masih berat membuka mata. Dia menguap kecil ketika angin ingin keluar dari mulutnya. Ciri khas orang bangun tidur atau mau tidur. "Sekarang sudah jam 4 pagi Mas," sahut Nur. "Apa? Jam 4 pagi," ucap Hanif terkejut. Hanif biasa bangun pagi setengah empat. Matanya reflek melihat ke arah jam dinding. Bukannya dia tidak percaya dengan jawaban Nur, tapi dia lebih tidak mempercayai diri sendiri bisa telat bangun. "Iya, Mas. Ayo Mas, cepat ke kamar mandi. Nanti kita telat salat Subuh," suruh Nur. "Sebentar ya, Mas mau mandi dulu," jawab Nur. "Baik, sana Mas mandi dulu," ujar Nur mengambil handuk untuk sang suaminya. Nur menyerahkan handuk kepada Hanif yang sudah berdiri dari atas tempat tidur. Hanif menerima handuk itu dengan cepat. Kemudian dia masuk ke kamar mandi. Hanif secepat mungkin mandi. Setelah itu dia berpakaian rapi untuk menghadap sang pencipta. Mereka segera salat berjamaah di atas sajadah yang telah disiapkan oleh Nur. Hanif dan Nur salat Subuh dengan sangat khusyuk. "Assalaamu alaikum wa rahmatullah." "Assalaamu alaikum wa rahmatullah," sahut Nur dari belakang dengan suara kecil. Setelah selesai salat, Hanif dan Nur sama-sama memanjatkan doa untuk kesehatan, rezeki dan juga perlindungan dari Allah. Sebagai makhluk Allah, harus mensyukuri apa yang sudah diberikan. "Ya Allah, tahun ini adalah tahun ketujuh hamba menikah dengan Mas Hanif ya Allah. Jika Engkau berkenan, tolong berikan kami anak ya Allah. Hamba sangat ingin seorang anak hadir dalam pernikahan kami," doa Nur sambil meneteskan air mata. Hanif menyudahi doanya. Dalam dia dia ikut mendengar doa yang dipanjatkan oleh istrinya. Memang benar, usia pernikahan mereka sudah memasuki 7 tahun, tapi mereka belum diberikan momongan. Setiap sang istri melihat anak kecil, hati Hanif jadi terluka. Dia tahu kalau sang istri sangat menginginkan kehadiran anak dalam pernikahan mereka. Apalagi ditambah beberapa cibiran dari tetangga yang selalu menyindir istrinya tidak bisa hamil. Setiap bertemu kenalan pasti ditanyakan kapan punya anak. Mereka berdua hanya bisa tersenyum. Rezeki, jodoh dan maut semua sudah Allah atur dengan sebaik mungkin. Jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada yang bisa menghentikannya. Saat ini Allah masih berkata belum saatnya untuk mereka mempunyai anak. Mereka yakin kalau rencana Allah lebih bagus daripada apa yang mereka inginkan selama ini. Setiap orang mempunyai cobaan tersendiri. Dan untuk cobaan mereka adalah belum ada nya seorang anak. "Nur," panggil Hanif dengan lembut. Hanif melengkungkan senyuman ke arah Nur. Dia ingin Nur tahu kalau mereka akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu ditakutkan selama mereka tidak berbuat salah. "Mas," sahut Nur dengan sedih. "Nur, kamu tidak perlu bersedih. Jika Allah sudah mengizinkan, suatu saat kita pasti akan mempunyai anak," bujuk Hanif. "Tapi kapan Mas. Kapan kita akan mempunyai anak. Nur capek Mas, Nur capek ditanyain anak terus. Nur juga ingin mempunyai anak Mas," sahut Nur mengeluarkan emosi yang sudah ditahan selama ini. "Nur, apakah kamu meragukan apa yang terbaik untuk kita dari Allah?" tanya Hanif dengan ramah. Hanif tidak mau melukai hati istri. Tapi dia tidak bisa membiarkan istrinya berpikir yang negatif. Semua itu bisa mempengaruhi hati. Jika hati sudah kotor, maka semua kebenaran akan menjadi salah. "Bukan seperti itu Mas. Nur merasa bukan wanita yang sempurna," sahut Nur bersalah dengan ucapannya tadi. "Bagi Mas, Nur adalah perempuan yang paling sempurna di kehidupan Mas selain ibu Mas. Kalian berdua adalah perempuan yang hebat. Perempuan sholeha yang diberikan Allah. Kamu jangan berkecil hati ya," bujuk Hanif. "Apa Mas tidak ingin mempunyai anak?" "Mas juga sangat ingin mempunyai anak. Tapi bagi Mas, apa yang sudah Allah berikan sekarang sudah lebih dari cukup. Mas dengan ikhlas menerima apapun yang telah ditetapkan oleh Allah. Mas selalu percaya sama Allah." Nur terdiam mendengar jawaban dari Hanif. Hatinya masih saja gundah. "Apa Mas akan meninggalkan Nur kalau Nur masih tidak bisa hamil?" tanya Nur dengan takut-takut. "Tidak, Mas tidak akan pernah meninggalkan kamu apapun yang terjadi. Mas mencintai kamu apa adanya. Kita menikah bukan karena ingin memiliki anak saja, tapi Mas menikah dengan kamu karena kamu apa adanya. Anak adalah berkah tambahan yang Allah berikan untuk sebuah pernikahan." "Coba Mas ngomong itu ke telinga tetangga. Nur dicap perempuan yang tidak subur," kata Nur memajukan bibirnya. Nur sebaliknya dengan mulut tetangga. Mulut tetangga tidak ada bedanya dengan mercon. Suka meletus kalau ada sambaran api sedikit. Apalagi kalau masalah menggunjing orang, jangan ditanyakan lagi. Dari pagi sampai pagi tidak akan bosan. "Nur, dengarkan Mas. Besok kamu pergilah periksa ke dokter kandungan atau mau menunggu Mas pulang dari menjenguk kawan Mas?" tawar Hanif. Hari ini adalah hari minggu. Jadi Hanif sengaja menyarankan Nur pergi pemeriksaan pada hari senin. "Tidak perlu Mas. Mas pergi saja. Nur bisa pergi sendiri. Mas bisa pergi menjenguk teman Mas yang sedang berada rumah sakit," cegah Nur. Hanif sudah minta izin kepada Nur beberapa hari yang lalu untuk pergi ke rumah sakit diluar kota. Dia ingin menjaga Arif, sahabat sekaligus orang yang sangat penting baginya. "Kalau kamu tidak berani pergi sendirian, kamu boleh ajak ibu," saran Hanif. "Tidak apa Mas. Nur bisa pergi sendiri. Apa boleh setelah Mas pergi nanti, Nur izin ke rumah ibu," pinta Nur. "Boleh, kamu boleh pergi ke tempat ibu. Mas mengizinkan kamu pergi kemana saja asal kamu menjaga diri kamu dengan baik." "Terima kasih Mas." "Ayo kita bersiap-siap. Sebentar lagi Mas harus segera berangkat," ujar Hanif. Bersambung …."Nur, Mas tahu anak ini adalah anak yang kita tunggu selama bertahun-tahun. Tapi Mas tidak mau kehilangan kamu gara-gara anak ini. Lebih baik kita gugurkan saja anak ini dan menganggap rahim kamu. Kesehatan kamu lebih penting untuk sekarang. Kita sudah mempunyai Yusuf dan Rauzah," kata Hanif dengan sesak. Hanif menangis dalam diam. Takut jika suatu saat Nur akan meninggalkannya dengan penyakit itu. Dia belum siap kehilangan Nur. Jauh di dalam lubuk hatinya, Nur adalah wanita yang sangat dicintainya. Bahkan melebihi Laila. Bukan karena Hanif tidak mencintai Laila, lantaran Nur lah yang telah menemaninya dari mereka nol. Jadi ada posisi khusus di hati Hanif untuk Nur yang tidak bisa digantikan dan disentuh oleh orang lain. Termasuk anak-anaknya. *** Nur baru tersadar setelah satu jam kemudian. Saat dia terbangun, perutnya sudah mulai sedikit lebih enak dibandingkan sebelum dia pingsan. Di samping Nur, Hanif sama sekali tidak meninggalkan Nut satu senti pun. Untuk ke kamar mandi s
"Nur tidak argh …." Nur kembali berteriak kesakitan. Perutnya kembali berdenyut lebih sakit dari tadi. Kali ini sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya. Sampai dia jatuh pingsan tidak sadarkan diri. "Nur! Nu!" seru Hanif. "Bunda! Bunda!" teriak Yusuf dengan suara keras sambil menangis. Yusuf sedih melihat sang Bunda jatuh pingsan. "Bunda!" Rauzah juga tidak kalah histeris dari Yusuf. Ada rasa bersalah karena dia tadi yang memeluk Bunda dengan erat. "Bunda, maapin Lau. Lau janji ndak akan natal lagi. Bangun Bunda," sambung Rauzah dengan isak tangisan. "Tidak apa-apa sayang. Itu bukan salah kamu. Bunda memang dari tadi sudah tidak enak badan," bujuk Laila menenangkan Rauzah. "Mas tolong bawa Kak Nur ke rumah sakit. Biar anak-anak Laila yang jaga," suruh Laila beralih ke Hanif. "Iya." Hanif segera mengangkat tubuh Nu menuju ke mobil. Di belakang, Laila yang menggendong Rauzah dan Yusuf mengikuti Hanif. Hanif membawa masuk Nur ke dalam mobil dibantu Pak Yuda yang merupakan
"Iya Dok, saya mengerti. Dokter sudah menjelaskan semuanya kemarin.""Baiklah, jika itu keputusan kalian. Saya akan memberikan obat-obatan agar bisa menekan sel kanker. Jadi usahakan agar Ibu tetap rutin untuk minum obat ini," ujar Dokter dengan pasrah. Tidak bisa memaksa pasien. Pasien bisa memilih sendiri bagaimana kesanggupan mereka. Itu diluar tanggung jawabnya."Baik Dok. Tapi seberapa pengaruhnya obat ini untuk calon anak saya?""Sudah saya bilang kemarin, kalau Ibu minum obat ini, maka anak Ibu bisa lahir dengan cacat. Ibu tidak bisa tidak memilih satu dari ketiga prosedur itu sekaligus. Jika Ibu tidak mau pembedahan, setidaknya Ibu harus minum obat ini untuk memperlambat sel kanker.""Baik Dok, terima kasih," ujar Nur dengan tenang. "Jangan lupa setiap minggu Ibu harus melakukan cek rutin, ya," kata Dokter memperingati."Iya Dok."***Nur keluar dari ruangan Dokter setelah menerima obat yang harus diminum. Begitu dia tiba di dekat tong sampah, dia membuang semua obat-obat itu
"Tumben kamu manja sama Bunda," timpal Laila meneruskan acara memasaknya "Apa Rauzah sudah tidak sayang lagi sama Ayah," ujar Hanif merubah raut wajah sesedih mungkin untuk menarik perhatian Rauzah. Rauzah paling tidak suka dia sedih. Rauzah melirik ke arah Hanif untuk memeriksa raut wajah sang Ayah yang kesepian ditinggal olehnya. Tapi hanya sebentar saja, dia kembali menenggelamkan wajahnya di perut Nur. 'Apa Rauzah bisa merasakan kalau aku sedang hamil. Biasanya anak kecil lebih sensitif. Mereka bisa merasakan ada bayi di dalam kandungan untuk menjadi temannya. Tidak, aku harus menjauhkan Rauzah untuk sementara. Aku tidak mau membuat Mas Hanif dan Laila curiga,' batin Nur mulai panik dengan keanehan Rauzah yang lebih lengket kepadanya daripada Hanif. "Sayang, main sama Ayah dulu ya. Ibu dan Bunda harus masak," bujuk Hanif setelah menghela nafas dengan keanehan Rauzah. "Ndak mau," tolak Rauzah lagi. "Kalau Rauzah ganggu Bunda dan Ibu terus, nanti jangan nangis kalau kamu kel












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.