MasukZahra menarik napas panjang, berusaha menata hatinya yang terasa hancur berkeping-keping. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, topeng yang kali ini terasa lebih berat dari biasanya. lalu menatap Zean dengan sorot mata yang berusaha terlihat tenang."Enggak apa-apa, Mas," ucap Zahra pelan. "Mungkin cuma efek kecapekan saja, jadi tensiku drop. Bentar lagi juga sembuh dan aku semangat lagi kok, Mas jangan khawatir berlebihan ya."Zean menggeleng cepat, tatapannya justru semakin intens. "Please, Zahra... kalau kamu ada apa-apa, berbagilah sama aku. Dokter tadi sudah bilang sama aku kalau ada masalah serius kan sama rahim kamu ?"Pertanyaan itu menohok tepat di ulu hati Zahra. Ia terdiam, kaget karena Zean sudah tahu sebagian kebenarannya. Lidahnya mendadak kelu, dadanya terasa sesak seolah ada tangan yang meremas jantungnya. Zahra memalingkan wajahnya sejenak, menghalau air mata yang sudah mendesak ingin tumpah, sebelum akhirnya memberanikan diri menatap mata suaminya kembali."Mas... se
Zean memutuskan sambungan telepon sepihak. Ia menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam, membelah jalanan kota dengan kecepatan di luar batas wajar. Cengkeraman tangannya pada setir begitu erat hingga jemarinya memutih.Pikiran Zean berkecamuk hebat. Ketakutan yang sejak kemarin ia tepis, kini mewujud menjadi kenyataan di depan mata. Zahra sakit. Istrinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum.Suasana IGD siang itu tampak sibuk saat tubuh pias Zahra didorong masuk menggunakan brankar oleh petugas medis dan rekan kantornya. Tidak berselang lama, Zean tiba dengan napas tersengal-sengal. Penampilannya yang biasa rapi kini berantakan.Langkah Zean mendadak melemah saat melihat tubuh ringkih Zahra sudah terbaring di salah satu bilik asuhan dengan tirai setengah terbuka."Sayang... ini aku. Bangun, Sayang..." ratap Zean serak. Ia berlutut di samping brankar, meraih tangan dingin Zahra dan mengecupnya berkali-kali. Namun, istrinya tetap ber
Zahra tersentak. Pertanyaan lembut Zean justru terasa seperti alarm yang memintanya untuk segera menjauh. Ia tahu, satu detik saja ia lengah menatap mata suaminya, topengnya akan runtuh berkeping-keping.Dengan gerakan cepat, Zahra menarik tangannya dari genggaman Zean, lalu berbalik menuju lemari pakaian. "Nggak apa-apa, Mas. Aku cuma agak kesiangan aja ini, ada rapat penting di kantor jam sembilan nanti," sahutnya buru-buru, mengambil selembar blazer kerja dengan asal demi menghindari kontak mata.Zahra langsung melangkah cepat menuju kamar mandi di dalam kamar, mengunci pintunya sebelum Zean sempat mengeluarkan sepatah kata pun.Di luar kamar mandi, Zean berdiri mematung. Tatapannya tertuju pada pintu yang baru saja tertutup rapat itu. Dadanya bergemuruh oleh rasa ganjil yang semakin kuat. Sikap menghindar Zahra yang begitu kentara membuat instingnya berteriak bahwa ada sesuatu yang sangat besar yang sedang disembunyikan sang istri.Apa aku tanya Zulfa aja, ya? Pikir Zean sempa
Zahra menunduk, meremas jemarinya sendiri di pangkuan. Rasa sakitnya bukan lagi fisik, melainkan rasa bersalah yang teramat besar pada suaminya. Mengingat bagaimana Zean selalu memperlakukannya bak ratu, vonis ini terasa seperti hantaman yang menegaskan kekurangannya sebagai seorang istri.Zahra menarik napas panjang, mencoba menstabilkan dadanya yang bergemuruh. Ia harus pulang sebentar lagi. Ia harus mengulas senyum di depan Zean, merangkai kebohongan demi kebohongan tentang "program promil" yang sebenarnya sudah mati sebelum dimulai.Zahra menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap tas jinjingnya dengan pandangan kosong. Meratapi impiannya yang baru saja terkubur, di dalam ruangan yang awalnya ia masuki dengan penuh tawa.Zahra tidak langsung pulang. Dengan pikiran yang berkabut, ia meminta taksi daring yang ditumpanginya untuk berputar-putar tanpa arah mengelilingi sudut-sudut Malang Kota. Menatap jalanan Ijen yang rindang lewat jendela kaca, ia ber
Zulfa perlahan menjauhkan alat pemindai dari perut Zahra. Ia berbalik menatap sahabat lamanya itu, mencoba sekuat tenaga menyembunyikan badai kepanikan yang mendadak melanda benaknya, meski getaran di sudut matanya tidak bisa berbohong."Ra..." suara Zulfa tercekat di tenggorokan, terdengar begitu berat. "Kita... kita pindah duduk ke meja depan lagi, ya? Ada hal penting yang harus aku jelaskan."Zahra melangkah turun dari ranjang periksa dengan lutut yang mendadak terasa lemas. Gel bening yang tersisa di perutnya terasa sedingin es, sedingin firasat buruk yang kini mulai mencengkeram dadanya. Ia merapikan pakaiannya dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu berjalan mengekor di belakang Zulfa.Zulfa duduk kembali di kursi kebesarannya. Ia tidak langsung berbicara. Tangannya bergerak gelisah, membolak-balik rekam medis Zahra seolah mencari celah kekeliruan, sebelum akhirnya mengembuskan napas berat."Zul, jangan bikin aku takut," bisik Zahra, mencondongkan tubuhnya ke depan meja. "A
[Zul, ini aku Zahra. Makasih ya buat obrolannya tadi di cafe. Oh ya, Senin nanti kalau jadwal praktik kamu nggak padat, aku boleh main ke rumah sakit tempatmu dinas? Mau mulai tanya-tanya soal program yang aku bilang tadi, hehe. Kebetulan ada riwayat lama yang mau aku konsultasikan juga.]Sent.Zahra mengembuskan napas lega setelah menekan tombol kirim. Gawai pintarnya ia letakkan kembali ke dalam tas. Ia menoleh ke arah Zean yang fokus menyetir, lalu dengan manja menyandarkan kepalanya di bahu tegap sang suami.Zean melirik sekilas, lalu melepaskan satu tangannya dari kemudi untuk mengusap lembut puncak kepala Zahra. "Sudah selesai kirim pesannya, hmm?""Sudah, Mas. Hari Senin aku mau main ke tempat Zulfa," sahut Zahra dengan nada riang.Zean hanya tersenyum tipis, meski di dalam hati kecilnya, insting tajamnya masih menyisakan sedikit riak ganjil tentang pertemuan sore tadi. Namun demi kebahagiaan istrinya, Zean memilih untuk menggenggam jemari Zahra erat, membiarkan sisa perj
"Ah, enggak kok Zean, aku baik-baik saja. Nggak ada masalah. Tadi dia bilang mau jemput Nisa ke Bogor.""Mmm... Terus, kamu gimana? Masih... Cemburu kah? Masih Cinta? ""Zean... Namanya juga hati pernah alumni. Pernah ada dan masih di ingatan. Tapi kalau Cinta... Enggak sih. Sudah pudar seiring ber
"Apa mereka memperlakukanmu tidak baik? Sering memukulimu kah? Atau... sering mencacimu ya?" tanya Bundanya sembari melihat mata Nisa. Kemudian beralih menatap badan Nisa yang sekarang kurus, tak seperti dulu saat terakhir kali Bundanya melihatnya. Sejenak Nisa terdiam. Setelah beberapa detik dia p
"Mas ini yang pernah tolong saya waktu di godain preman itu kan? Yang antar saya dari Malang sampai terminal Bojonegoro waktu itu.""Loh, mbak ini yang??? ""Iya Mas, saya.""Ya Allah, nggak nyangka bisa ketemu lagi ya mbak, mbak mau kemana?""Mau pulang ke Bogor Mas. Mas nya mau kemana? Kok naik B
Sementara di ujung kota, rintik hujan telah membasahi jalanan perbatasan antara dua kabupaten tersebut. Seorang wanita duduk disebuah halte bus, tapi tidak sedang menunggu bus manapun. Ia hanya duduk sembari memandangi orang berlalu lalang naik dan turun bus tersebut. Dia pun tak sedang menunggu at







