Home / Rumah Tangga / Madu Suamiku / Maaf, Aku pergi Mas...

Share

Maaf, Aku pergi Mas...

Author: Aisyah Ahmad
last update Last Updated: 2025-10-06 00:03:38

Satu minggu berlalu, surat panggilan sidang kedua juga sudah berada di tangan. Tapi sampai detik ini pun, Dimas masih belum bekerja. Bagaimana mungkin dia akan mengambil hak asuh anak anak, sedangkan posisinya saja tidak bekerja. Ia duduk di teras sembari memandangi surat yang di layangkan oleh kantor pengadilan tersebut. Ia tak menyangka inilah akhir dari hubungannya dengan Zahra. Wanita yang pernah ia perjuangkan sepuluh tahun yang lalu dari tangan sahabatnya.

"Le, kamu nggak ndang mandi? Sudah jam delapan lho. Sidangnya jam berapa?"

"Ck. Buk, Dimas harus berangkat ya ? Dimas rasanya dah ndak sanggup. Sesek dada Dimas."

"Le, segala sesuatu yang kita lakukan itu pasti ada konsekwensinya. Ya ini buah dari apa yang kamu lakukan juga. Kamu ya harus terima. Mau datang atau tidak itu terserah kamu. Tapi kalau kamu tidak datang, prosesnya juga akan semakin cepat."

"Hiks, buk." Ini pertama kalinya Dimas menangis. Tampaknya hatinya kian hari kian rapuh, teringat dengan segala salahnya.

"Wes,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dewi Kurniasih
Terima kasih up nya kak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Madu Suamiku   Akad yang tertunda

    Langit Malang Jum'at pagi itu sedikit di hiasi dengan awan hitam yang menggantung disisi barat. Di teras itu, Zahra sedang berdiri sembari memandang cemas ke arah jalanan. Matanya tak luput dari beberapa motor dan mobil yang lewat begitu saja tanpa henti."Ck. Ya Allah... mana nih mereka, kenapa belum datang sampai jam segini" ucapnya cemas. Beberapa kali ia juga menengok mesin waktu yang menggantung di atas dinding teras. Meskipun teras itu di hiasi dengan dekorasi pernikahan, tapi masih terlihat jelas, Jarum jam panjang yang terus berputar melewati angka sepuluh."Gimana Sayang, belum datang juga ?" tanya Zean mendekat."Belum Mas, aduuuh... gimana ya mas, udah mau dimulai ya akadnya ? Aduh... ini mana sih Mas Dimas ?! Semalam janjinya pagi mau di antar tepat waktu, tapi sampai jam segini kenapa mereka belum sampai sini sih," Zahra semakin panik. Apalagi melihat jarum jam yang terus berputar dan seorang penghulu sudah duduk di kursi yang disediakan. Para saksi dan para tamu juga sud

  • Madu Suamiku   Anithing For You

    Zahra sempat menunduk, pura-pura fokus sama tas di pangkuannya, tapi sudut bibirnya tersenyum kecil. Zean sempat melirik sebentar ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan.“Papa Zean, nanti kalau aku udah bisa coding, aku bikin aplikasi buat Bunda deh. Biar Bunda bisa pesan kopi dari rumah, terus langsung nyampe ke meja,” Rayyan mulai berimajinasi.“Wah, mantap! Kalau gitu aku jadi user pertama aplikasimu, Ray,” sahut Zean. “Tapi jangan lupa… bikin fitur promo khusus buat aku ya.”Rayyan cengar-cengir. “Siap, Papa Zean! Kamu nanti dapet diskon seratus persen.”Zahra spontan menoleh. “lho, jangan gitu dong. Kalau semua gratis, siapa yang bayar aplikasinya?”Rayyan garuk-garuk kepala. “Hehe… iya juga ya. Ya udah Papa Zean bayar separo aja deh.”“Deal!” Zean menepuk setir sambil ketawa.Zahra hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu tersenyum tipis. Sesekali matanya melirik Zean, tapi buru-buru dialihkan lagi begitu tatapan mereka hampir beradu.Mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah

  • Madu Suamiku   Moment Akward

    Sambungan pun terputus. Zahra meletakkan ponselnya di meja samping ranjang, lalu merebahkan diri. Matanya masih basah, tapi kali ini bukan karena amarah atau sedih—melainkan karena hangat. Rasa takut yang tadi membebani hatinya seakan mencair, diganti dengan rasa tenang. Ia menarik selimut, menutup mata, membiarkan lelahnya hilang bersama malam yang kian hening.______Malam berganti pagi. Langit sudah mulai terang ketika Zahra terlonjak dari tidurnya.“Ya ampun!” serunya, panik melihat jam dinding. Jarum sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.Perutnya masih terasa tidak nyaman—datang bulan membuat tubuhnya lebih lemah dari biasanya. Tapi tak ada waktu untuk mengeluh. Ia langsung melompat ke dapur.“Bunda, aku udah mandi loh!” Zahwa berlari ke meja makan sambil setengah mengenakan dasi sekolah.“Iya, iya, bentar ya sayang. Sarapannya hampir jadi. Aduh…” Zahra sibuk menggoreng telur sambil menyiapkan roti di toaster.Rayyan muncul dengan wajah santai, kaos oblong dan celana pendek.“B

  • Madu Suamiku   Panggilan Manis

    Jam sudah menunjuk lewat sebelas malam.Di luar, jalanan kompleks tampak lengang. Lampu-lampu jalan sesekali berkelip, dihampiri serangga malam yang berputar-putar di sekitarnya. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah lembap sisa hujan beberapa jam tadi. Suasana begitu sunyi, hanya sesekali terdengar suara motor yang melintas jauh di jalan besar.Zahra menutup pintu dengan perlahan, seolah takut suara denting kunci mengusik ketenangan malam. Hatinya masih terasa berat, sisa perdebatan barusan membuat dadanya sesak. Ada rasa lega karena tamunya akhirnya pulang, tapi juga gelisah yang menempel di pikirannya.Ia melangkah masuk ke kamar. Lampu kamar menyala temaram, hanya cahaya kuning hangat dari meja kecil di sisi ranjang. Zahra menjatuhkan tubuhnya ke ujung ranjang, lalu menarik napas panjang. Pikirannya penuh, tapi justru hening di sekitarnya membuatnya semakin mendengar degup jantungnya sendiri.Belum sempat menenangkan diri, layar ponselnya menyala. Panggilan masuk video call dar

  • Madu Suamiku   Perdebatan

    Dimas diam, kepalanya menolah noleh songong. "Huft. Astagfirullah... " gumam Zahra sembari mengusap kepalanya yang tiba-tiba serasa mengepul. "Ibuk... Maaf kalau perkataan Zahra tadi menyinggung hati ibuk, itu tidak benar sama sekali. Maksud Zahra, Zahra cuma kasihan ibuk kalau kecapean. Tadi pagi sampai Siang ibu udah keluar, ini jalan lagi, bahkan sampai larut. Maksud Zahra, ibu itu istirahat duluuu gitu, bukaaan... Bukan maksud Zahra melarang ibuk datang kesini, itu tidak benar.""Yaaa, dia kan lagi butterfly era ya!!! Nggak mau di ganggu kali dia, ya bu? Kita mah... Sudah terlupakan.""Cukup!!! Udah deh mas. Kamu tuh!!! Iiih!!! Udah deh, aku tuh lagi capek!!! Pusing!!! Kamu jangan bikin tambah runyam!!!""Ya ya ya. Ya aku juga nggak akan kesini kalau kamu tadi nggak abaikan panggilan aku, Neng. Kita kesini mau bahas sesuatu yang penting."Zahra tampak mengatur nafas, sedang berusaha mengatur gemuruh hatinya yang saat ini ingin meledak-ledak, tapi tidak mungkin dikeluarkan di dep

  • Madu Suamiku   Tuduhan apalagi, Ini ???

    Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Zahwa sudah mulai mengantuk, kepalanya bersandar di bahu Zahra, sementara Rayyan masih terjaga, menatap jalanan kota dari balik kaca mobil. Lampu-lampu neon berkelip, menemani perjalanan pulang mereka.“Za… itu kayaknya di depan… ada mobil. Mobil siapa?” tanya Zean sambil memperlambat laju kendaraannya.Zahra mengerjap, menoleh ke arah yang dimaksud. “Hah? Aku nggak tahu ya, Zean. Kayaknya aku nggak ada janji dengan siapa pun hari ini.”Mobil Zean akhirnya berhenti tepat di depan rumah Zahra. Dan di sanalah, di bawah cahaya lampu jalanan yang temaram, tampak sosok yang tak asing lagi bagi Zahra. Seorang wanita paruh baya dengan wajah tegas, bersama seorang pria muda dan seorang gadis.Zahra tertegun, jantungnya berdegup kencang. “Ibuk…?” gumamnya lirih.Ya, Bu Sukma. Mantan mertuanya. Dan di sampingnya, Dimas—mantan suami Zahra. Juga Dinda, adik perempuan Dimas.“Loh… kok, Buk? Ibu kok ada di sini? Sudah lama nunggu? Maaf, Zahra tadi…” Zahra belum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status