LOGINDimas diam, kepalanya menolah noleh songong. "Huft. Astagfirullah... " gumam Zahra sembari mengusap kepalanya yang tiba-tiba serasa mengepul. "Ibuk... Maaf kalau perkataan Zahra tadi menyinggung hati ibuk, itu tidak benar sama sekali. Maksud Zahra, Zahra cuma kasihan ibuk kalau kecapean. Tadi pagi sampai Siang ibu udah keluar, ini jalan lagi, bahkan sampai larut. Maksud Zahra, ibu itu istirahat duluuu gitu, bukaaan... Bukan maksud Zahra melarang ibuk datang kesini, itu tidak benar.""Yaaa, dia kan lagi butterfly era ya!!! Nggak mau di ganggu kali dia, ya bu? Kita mah... Sudah terlupakan.""Cukup!!! Udah deh mas. Kamu tuh!!! Iiih!!! Udah deh, aku tuh lagi capek!!! Pusing!!! Kamu jangan bikin tambah runyam!!!""Ya ya ya. Ya aku juga nggak akan kesini kalau kamu tadi nggak abaikan panggilan aku, Neng. Kita kesini mau bahas sesuatu yang penting."Zahra tampak mengatur nafas, sedang berusaha mengatur gemuruh hatinya yang saat ini ingin meledak-ledak, tapi tidak mungkin dikeluarkan di dep
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Zahwa sudah mulai mengantuk, kepalanya bersandar di bahu Zahra, sementara Rayyan masih terjaga, menatap jalanan kota dari balik kaca mobil. Lampu-lampu neon berkelip, menemani perjalanan pulang mereka.“Za… itu kayaknya di depan… ada mobil. Mobil siapa?” tanya Zean sambil memperlambat laju kendaraannya.Zahra mengerjap, menoleh ke arah yang dimaksud. “Hah? Aku nggak tahu ya, Zean. Kayaknya aku nggak ada janji dengan siapa pun hari ini.”Mobil Zean akhirnya berhenti tepat di depan rumah Zahra. Dan di sanalah, di bawah cahaya lampu jalanan yang temaram, tampak sosok yang tak asing lagi bagi Zahra. Seorang wanita paruh baya dengan wajah tegas, bersama seorang pria muda dan seorang gadis.Zahra tertegun, jantungnya berdegup kencang. “Ibuk…?” gumamnya lirih.Ya, Bu Sukma. Mantan mertuanya. Dan di sampingnya, Dimas—mantan suami Zahra. Juga Dinda, adik perempuan Dimas.“Loh… kok, Buk? Ibu kok ada di sini? Sudah lama nunggu? Maaf, Zahra tadi…” Zahra belum
“Ih, dasar!” Zahra mencubit lengannya pelan. Zean pura-pura kesakitan, lebay banget sampai hampir jatuh dari kursi.“Za, aaaauuuuhhh.... kamu serius banget nyakitin aku. Apa gini cara calon Istrinya nyiksa suaminya? Belum jadi suamii loh ini” katanya sambil meringis tapi matanya jelas bercanda.Zahra ketawa, meski air matanya belum benar-benar kering. Tawanya pecah tapi masih getir. “Kamu tuh ya, bikin aku kesel tapi juga bahagia.”Zean langsung menggenggam tangan Zahra lagi, kali ini lebih mantap. Senyumnya mereda, jadi lebih lembut. “Itu tujuan aku. Biar kamu tahu, kalau kamu nggak akan pernah lagi nangis sendirian. Aku ada, Za. Aku beneran ada.”"Wait... Ini... Sungguh dari tadi agak mengganggu, Zean. Penasaran. Tapi... Ini, serius kamu sewa 1 cafe buat ginian doang?""Ahahahaha. Enggak, Zahra... Aku nggak sewa loh ini.""Hah, maksudnya?""Astaga... Ini cafe aku, Za. Lupa??? Perasaan dulu waktu SMA kamu juga sering kesini sama temen-temen kamu.""Ya Ampuuun. Aku lupa. Pantes, rasan
Sampai di Café Aurora, suasana terasa aneh. Parkiran sepi. Lampu-lampu redup.“Rayyan… bener ini cafenya?” Zahra ragu.“Iya kok, Bun. Papa Zean bilang jelas banget.”“Tapi kok sepi ya…”Mereka turun. Zahra menggandeng Zahwa sambil melangkah pelan. Tapi begitu pintu café dibuka, cling. lampu-lampu gantung menyala hangat. Dekorasi elegan dengan bunga putih, lilin di setiap meja, dan di ujung sana… sebuah meja panjang dihias romantis, lengkap dengan buket mawar.Di samping meja itu, Zean berdiri. Rapi dengan setelan hitam, tersenyum hangat. Saat melihat mereka, ia langsung menarik kursi dan memberi isyarat duduk.“Ya Allah…” Zahra menutup mulutnya, separuh tertawa, separuh kaget. “Zean… ini apa-apaan, sih? Aneh banget. Absurd!”Zean hanya tersenyum. “Duduk dulu, Za.”Dengan kikuk, Zahra duduk. Pandangannya masih berkeliling, belum bisa percaya. Anak-anak sudah menempati kursi di sampingnya, berbisik-bisik penuh semangat.Lalu, dari pintu belakang, muncul seorang wanita elegan membawa nam
[Dimas? Ada apa? Ada masalah kah? ][Enggak, enggak. Ya udahlah biarin. Gimana? Ada apa? Maaf ya, kerjaan aku belum kelar nih, aduuuh] ucap Zahra sembari mengusap kepalanya. Sementara Zean malah terkekeh. [Ya ampun Zahra... Kamu tuh. Udahlah, santai... Kayak kerja ikut kolonial Belanda aja. Enggak, aku telfon kamu bukan buat nanyain soal kerjaan kok. Cuma... Eum... Coba deh, keluar sebentar.][Hah?. Ngapain ? ][Sebentar]Zahra pun nurut. Ia berdiri lalu berjalan ke arah pintu. Perlahan, ia membuka pintu dan... [Za... Ini... Apaan?] Zahra kaget, melihat sebuah kotak berukuran lumayan besar tergeletak di depan pintu rumahnya. Di atas kotak. Itu, tertulis 'for Zahra' pengirim Zean. [Hehe. Buka aja. Untuk kamu...][Untuk aku? Zean??? Halooo??? Halooo!!! ]Panggilan itu terputus tiba-tiba. Zahra sempat terdiam, menatap layar ponselnya yang kini gelap.“Dia tuh... bisa-bisanya matiin sepihak. Hhh...” gumamnya, tapi ujung bibirnya tak sadar sedikit mengulas senyum. Entah kenapa, percakap
Mobil berhenti perlahan di depan rumah Zahra, di kompleks perumahan yang mulai teduh oleh bayang-bayang pepohonan. Sinar matahari siang yang hangat masih menyelinap di sela-sela dedaunan, memberi kesan damai dan nyaman.Zean segera turun dan bergegas membukakan pintu mobil."Ayo, sudah sampai," ucapnya lembut.Zahwa dan Rayyan melompat turun lebih dulu, disusul Zahra yang membawa tas kecil dan beberapa perlengkapan anak-anak. Zean menutup pintu dan sempat membantu menurunkan satu kantong plastik dari bagasi, berisi hasil jepretan cetak foto dari acara sekolah tadi."Maaf ya, aku nggak bisa lama-lama," ujar Zean setelah memastikan semua barang sudah turun. Ia berdiri berhadapan dengan Zahra, menahan sebentar sinar matahari yang menerpa wajahnya dengan tangan. "Tiba-tiba banget tadi ditelepon kantor, katanya ada meeting dadakan. Jadi aku harus langsung meluncur."Zahra tersenyum, mengangguk santai. "Nggak apa-apa. Hati-hati ya, semoga meetingnya lancar.""Aamiin. Terima kasih sudah izin







