MasukSementara itu, di sudut lain kota, suasana di dalam kantor Dirgantara Grup tampak berbanding terbalik dengan ketegangan di kafe pinggir kota tadi. Di balik kubikel kerjanya yang rapi, Zahra sedang berkutat dengan tumpukan berkas perkara perdata yang menggunung. Jemarinya bergerak lincah di atas kibor komputer, sesekali membolak-balik dokumen berlogo garuda dengan dahi sedikit berkerut, fokus sepenuhnya pada analisis hukum yang sedang ia susun."Aduh, yang statusnya sudah berubah jadi 'Nyonya Zean' ini sibuk banget, sih. Padahal kan yang punya kantor mertuanya sendiri," goda sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari balik sekat kubikel.Zahra mendongak, mendapati Maya dan srikandi divisi legal lainnya, Citra, sudah berdiri sambil membawa cangkir kopi masing-masing. Senyum jahil langsung terbit di wajah kedua temannya itu.Zahra seketika meletakkan pulpennya, wajahnya mulai memanas. "Apa sih, May, Cit. Jangan mulai deh, ini berkas buat sidang besok senin belum beres.""Halah, bilang a
Zean mencengkeram erat kemudi, matanya menatap lurus ke aspal jalanan yang seolah menyempit di depannya. Napasnya memburu, berat dan tertahan di dada.Kata-kata itu tertahan di tenggorokan, menjelma menjadi rasa sesak yang membakar. Zean menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan wajah tersenyum Zahra di depan lobi kantor tadi. Senyum yang begitu tulus, yang justru membuat rasa bersalah di dalam hatinya kian mencuat tajam."Arghhh !!! Enggak-enggak. Ini harus sudah selesai sebelum semuanya kacau! Nggak bisa. Aku nggak mau... Zahra kembali terluka."Suaranya meninggi, menggema di dalam ruang mobil yang tertutup rapat. Kilasan masa lalu, tentang air mata Zahra dan luka lama yang susah payah mereka sembuhkan, mendadak berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Zean tidak akan membiarkan sejarah kelam itu terulang. Tidak akan pernah."Agrrrhhhh. Bodoh kamu Zean! Ceroboh!"Brakk!Zean memukul setir mobilnya dengan keras. Rasa sakit di tangannya sama sekali tidak sebanding dengan
“Siap, Pa!”Meja makan yang biasanya menjadi tempat paling tenang di rumah itu, pagi ini berubah layaknya area komando. Wangi nasi goreng mentega buatan Zean beradu dengan aroma minyak telon yang masih menguar dari tubuh Zahwa.Zahra keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang sudah rapi, blus broken white dipadukan dengan celana kulot abu-abu. Rambutnya dicepol rapi, menyisakan beberapa anak rambut di tengkuknya. Meski wajahnya sudah segar, sisa-sisa kepanikan tadi tampaknya belum sepenuhnya menguap.“Kakak! Itu dasinya miring, Nak. Sini Bunda benerin,” panggil Zahra begitu melihat Rayyan berjalan malas sambil menyandang tas ranselnya yang tampak terlalu berat untuk anak kelas 1 SMP.Rayyan mendekat, membiarkan jemari bundanya bergerak cekatan membenarkan dasinya.“Bunda, Rayyan hari ini ada Melukis jam pertama. Kalau telat, disuruh lari keliling lapangan sama Pak Bambang.”“Makanya makannya dicepetin, Kak,” sahut Zean dari balik meja makan, meletakkan sepiring besar nasi gore
“Mas… bangun…”Suara Zahra terdengar lirih, nyaris seperti bisikan yang terselip di antara napas pagi. Ia sedikit mengangkat wajahnya, menatap Zean yang masih terpejam di sampingnya.“Hmm…” gumam Zean pelan, tanpa membuka mata. Tangannya justru semakin mengerat di pinggang Zahra, seolah menolak jarak sekecil apa pun.Zahra tersenyum tipis.“Udah pagi…”“Belum,” jawab Zean singkat, suaranya serak khas bangun tidur.Zahra terkekeh kecil. “Mas… itu matahari udah masuk kamar.”“Biarin.”Zahra menggeleng pelan, tapi tidak benar-benar berusaha lepas. Justru ia kembali diam di dalam pelukan itu, merasakan hangat yang sejak tadi enggan ia tinggalkan.Beberapa detik berlalu.Zean akhirnya membuka mata perlahan. Tatapannya langsung jatuh pada wajah Zahra yang masih sangat dekat.“Ngapain bangunin…” gumamnya pelan.Zahra menaikkan alis sedikit. “Ya bangun lah. Masa mau seharian di kasur?”Zean tersenyum tipis. Tangannya naik, merapikan sedikit rambut Zahra yang jatuh ke wajahnya.“Kalau sama kam
"Nduuk… ibuk njaluk ngapura yo… tenan, ibuk nyesel karo kelakuane Dimas. Ibuk kroso gagal ngedidik anak dewe. Isin ibuk karo kowe, nduk…" "Ibuk... ibuk, hei.. ampun... sudah... sudah terjadi. Lagipula kelakuan Mas Dimas itu tanggung jawabnya Mas dimas sendiri, Bu. Ibik sudah benar kok. Ibuk todak salah mendidik Mas Dimas. Kalaupun pada akhirnya Mas Dimas seperti itu, itu ya pilihannya Mas Dimas sendiri. Dia udah gede bu. Udah tua, harusnya dia tau mana yang salah dan mana yang benar.""Iyo... tapi kan,""Sssst. Sudah. Ayo, kita balik ke rumah Zahra dulu. Ibuk pasti capek kan."Dengan tulus, Zahra dan Zean menuntun Bu Sukma kembali ke rumah Zahra. Disana suasana sudah sepi dari keributan sebelumnya."Bu Nindi… nyuwun ngapunten nggih… mergo anakku, acarane dadi kaco ngene. Aku isin tenan, Bu. Nek Bu Nindi nuntut ganti rugi, nggak popo… aku siap. Mengko tak jalukno Dinda ngedol cincinku… mung iku sing isih ana.""Bu Sukma... sudah, nggak popo. Sudah terjadi juga. Yang penting kedepannya
"Sini... ikut ibuk !!!" Bu Sukma mensrik tangan Dimas dengan emosi. Seperti seorang ibu yang menarik tangan anak kecilnya karena melakukan kesalahan fatal."Apa sih! Buk ! Kemana ?" Bu sukma tidak menjawab. Bu Sukma terus menarik dengan sisa tenaganya. Walaupun mungkin Dimas bisa aja melepaskan diri. Tapi aira ibunya membuatnya tunduk. Ia terus berjalan mengikuti ibunya yang berjalan cepat.Zahra dan Zean saling pandang. Lalu mereka segera bergegas mengikuti bu Sukma dan Dimas.Sementara anak-anak di gandeng bu Nindi juga mengikiti mereka."Mau kemana sih! Buk ?""Diam kamu ! Kamu harus menerima hukuman setimpal !!!"Bu Sukma berhenti tepat di pos satpam di posko keamanan perumahan Zahra."Pak, tolong. Saya mau melaporkan ada penjahat ! Segera lapor polisi !""Ibuk ! Apa-apaan sih. Kok ibi tega ngelaporin anaknya sendiri ke polisi. Aku ini anakmu loh bu.""Lhaaa kamu saja tega kok mukuli Rayan sama Zahwa. Mereka itu yo anakmu lho.""Buuuuk, kan aku...""Hooop. Cepetan pak, lapor poli
4 tahun berlalu... "Sebentar, kak... Ya Allah... Iya iya, ini bunda udah mau selesai kok!""Ck, bunda Ih!!! Telat nanti, keburu udah mulai acaranya !" ucap Rayyan yang udah rapi dengan pakaian wisuda kelulusan SD nya. Ia terlihat tampan, mirip sekali dengan wajah bundanya dalam versi laki-laki. "
"Nisa, Din, Lupa? " jawab Zahra. "Hah? Mau ngapain lagi dia kesini sih mbak. Udah bagus-bagus hidup kita tenang tanpa kehadiran dia. Mau ngapain lagi dia kesini, Mau ngerusuh lagi? Mending mbak Zahra bawa pergi lagi aja deh,""Sssst, nggak boleh gitu. Panggilin ibuk dulu gih,""Tapi mbak... ""Ngg
Hari ini cuaca tak begitu cerah, tapi juga tak hujan. Wanita berhijab lebar itu tengah duduk di sebuah halte bus dekat di pondok pesantren. Tampaknya Ia tengah menunggu kedatangan seseorang. Sesekali ia melihat layar ponsel yang tiga bulan ini di sita oleh pihak pondok agar ia lebih fokus lagi dala
"Iya, Zahwa juga mau lah."Setelah mendapat iming-iming es krim, anak-anak baru mau ikut Ayahnya bermain."Mas, aku kasih waktu 15 menit di luar. Setelah itu balikin lagi kesini. Jangan jauh-jauh ya,""Tenang aja Za, aku ini ayah kandungnya. Nggak mungkin aku menyakiti mereka." ucap Dimas sembari m







