“FINA!” seruku hampir berteriak, selaras dengan rasa panas menjalar sampai ke kuping. “Fin ... sumpah gue malu banget sekarang ...,” bisikku yang bisa didengar oleh Rayhan.Fina menghela napas panjang. “Yaudah lah, enjoy aja kali. Anggep ini hadiah dari gue, sama Mas Dimas, ingat ponakna gue harus jadi!” ujar Fina dengan suara yang jelas-jelas menggoda.Aku memejamkan mata sejenak, sekaligus mengulum senyum agar tak semakin malu di depan Rayhan. “Astaga, Fin ... lo keterlaluan banget!” aku langsung menutup wajah dengan tanganku, sementara di sampingku Rayhan sudah tertawa pelan, jelas mendengar semua isi pembicaraan itu. “Dasar gila, Fin! Gue matiin nih teleponnya!”“Dah sana, good luck, Kay!” ujarnya sebelum aku benar-benar menekan tombol end call.“Aduh ... gawat ...,” gumamku tak sadar menggigit bibir jari-jariku, gugup.Begitu panggilan berakhir, aku langsung me
“Udah lah mending aku masuk mobil aja,” putusku mengibaskan tangan menjauhi Rayhan dan segera masuk ke dalam mobil. Padahal sebenarnya, aku nggak mau kalo Rayhan sampe tau aku salah tingkah.Mobil berlalu meninggalkan tempat yang penuh kenangan ini, membelah jalanan sore yang mulai rame ole para pengguna jalan yang baru pulang dari aktivitasnya. Sementara di dalam mobil, keadaan sunyi menyelimuti kami ... baik aku dan Rayhan ngak ada yang memulai pembicaraan, karena aku lebih fokus untuk menjaga debaran jantungku biar nggak semakin keras.“Kay ...,” panggil Rayhan yang membuatku menoleh. “Aku mau lanjutin obrolan kita yang tadi sempet kepotong.”Aku menyipitkan mata ke arahnya, menatap wajahnya yang fokus dengan jalanan di depannya. “Obrolan ... yang tadi?” tanyaku menahan rasa gugup.Dia mengangguk pelan, tanpa menoleh ke arahku.“Iya. Yang sempet diganggu sama Dimas. Harusnya sekarang nggak ada yang m
Tubuhku langsung menegang begitu mendengar suaranya, aku buru-buru mendongakkan kepalaku. Dan di depanku, hanya berjarak beberapa langkah, berdiri sosok Rayhan dengan gagahnya, sementara tatapannya tertuju penuh ke arahku.Aku terbelalak tak percaya jika pria itu masih berada di tempat ini. “R-Rayhan?” ucapku terbata.Ia mengangkat sebelah alisnya, “Ngapain jongkok di situ?” tanyanya dengan santai, tapi nada suaranya seakan tengah menahan tawa melihat tingkahku. Kepalanya menole ke kanan dan kiri, seolah tengah mencari sesuatu. “Mereka ninggalin kamu?”Aku menelan ludah kasar, kemudian menghela napas berat. “Iya, kayaknya ... kayak sengaja banget,” ujarku mencoba menyembunyikan getar dalam suaraku, tapi percuma.Rayhan mendengus pelan, lalu menyelipkan kedua tangannya ke saku celana. “Mereka emang udah niat banget nge setu up dari awal. Kita berdua emang dijebak sampe di titik nggak bisa ngelawan.”Aku menatapnya penuh tanda tanya. “Maksudnya ...?”
“Nggak lucu, Dim.”Dimas terkekeh pelan, lalu terdengar tepukan tangan, sekali. “Ayo, Kay, sebentar aja. Nanti kamu bisa balik lagi ke sini kok kalo masih kangen, nggak bakal ilang juga Ayangmu itu.”Aku mengintip dari sela-sela jariku, lalu mulai membuk tangan dan menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahku yang panas. Dalam hati, aku tahu Rayhan pasti masih nyimpen kalimat yang belum sempat keluar tadi. Dan aku ... degup jantungku belum mau tenang.“Saya nggak bakal acc semua cuti yang kamu ajukan,” ancam Rayhan terdengar menyeramkan.“ADUH ... jangan dong, Bos. Nanti Baby Pitha bisa ngamuk-ngamuk, bisa nggak dapet jatah saya,” jawab Dimas terdengar memelas.“Makanya yang sopan sama BOS,” jawab Rayhan menekan kata ‘bos.’“Siap. Ayo, Kay. Daripada riwayat hidupku lebih hancur.”“Oh ... i-iya, Mas,”
“Emang kamu belum sadar juga?” tanya Rayhan lagi.Aku mengangkat sebelah alisku, berusaha mencai jawaban dari pertanyaanku yang dijawab dengan pertanyaan juga olehnya. “Pertemuan ini ... kayaknya emang sengaja direncanain sama mereka, ya?” tanyaku mencoba menebak arah pembicaraan.Ia tertawa sinis, kemudian rautnya kembali berubah menjadi datar. “Bukan ‘kayak’ lagi, Kay,” jawabnya datar. “Emang sengaja.”Mulutku sedikit terbuka, ternyata ini bukan cuma perasaanku aja. “Apa ... maksudnya?” tanyaku pelan, nyaris berbisik.Rayhan mengangkat dagunya, lalu menatapku lekat-lekat. “Ya kita berdua sama-sama dijebak.”Deg!Kata-kata itu seakan menamparku habis-habisan, membuat napasku tercekat. Seolah baru sekarang aku sadar, ada benang merah yang nggak kelihatan ... ta
“Kamu kalo hah heh terus, aku cium lagi!” jawabnya terkesan mengancam.Aku sontak menggeser dudukku, menjauhinya, “Sumpah! Takut banget!” ujarku bergidik ngeri.Ia terkekeh pelan, seolah aku tengah bercanda dengan ucapanku barusan. “Takut kenapa sih?”Aku menahan napas sejenak, lalu menatapnya datar. “Rayhan ... kita kan udah bukan suami istri kontrak lagi. Jadi, ya ... jangan gitu-gitu lagi!” ucapku sambil menepuk mengibaskan tanganku, berusaha mempercayai apa yang kukatakan, padahal aslinya, aku berharap kalimat itu nggak pernah keluar dari bibirku.Rayhan menatapku dengan senyum miring. “Kata siapa kita bukan suami istri, Kay?” tanyanya sambil mencondongkan badan sedikit ke arahku, dan membuat jantungku berdegup kencang.Aku mengerjap cepat, lalu kembali terdiam, tetapi bibirku serasa kaku. “Eh ... maksudmu ... maksudmu gimana?” ujarku tergagap. Aku kebingungan sendiri, rasa