Share

Kerinduan

Penulis: Gudet
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-18 22:24:31

"Arumi, kenapa dari tadi kamu terus memegang lehermu? Dan kenapa kamu terlihat sedikit pincang saat berjalan?" tanya Kevin dengan nada yang mulai menyelidik.

Arumi membeku sejenak. Ia sadar bahwa tubuhnya memang masih terasa sedikit pegal dan perih akibat gerakan cepat Pak Darman yang luar biasa tadi pagi.

"Oh, ini... sepertinya aku salah posisi tidur saat di perjalanan tadi, Kevin. Mobilnya kan sempat mogok dan aku harus menunggu lama di tempat yang kurang nyaman," jawab Arumi cepat dengan ala
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Menutupi Semua

    "Rapatnya selesai lebih cepat karena aku menekan mereka habis-habisan. Aku merindukanmu, jadi aku langsung pesan tiket pesawat pertama untuk pulang," kata Kevin dengan nada yang tidak biasanya, ia tampak sangat bersemangat.Malam itu, Kevin bersikap sangat berbeda. Dia yang biasanya langsung sibuk dengan urusan kantor, kali ini justru terus menempel pada Arumi. Saat Arumi hendak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Kevin mengikutinya dari belakang."Arumi, biarkan pelayan saja yang mengurus pakaian kotor itu. Sini, duduklah sebentar bersamaku," pinta Kevin sambil menarik tangan Arumi ke arah tempat tidur.Kevin merebahkan kepalanya di pangkuan Arumi, sebuah gerakan manja yang sangat jarang ia lakukan. Arumi terpaksa mengusap rambut suaminya dengan lembut, meskipun pikirannya masih tertinggal di teras rumah Pak Darman. Ia merasa sangat canggung. Hanya beberapa jam yang lalu ia bersandar di bahu pria tua di desa, dan sekarang suaminya yang sah sedang mencari perhatian di pangku

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Kembali ke Kota

    "Terima kasih untuk teh dan ceritanya, Pak. Saya merasa jauh lebih baik sekarang," kata Arumi.Pak Darman mengantar Arumi sampai ke depan pagar kayu. Tidak ada lagi pelukan yang penuh nafsu, hanya sebuah jabat tangan erat yang penuh rasa hormat. Namun, saat Arumi hendak melangkah pergi, Pak Darman membisikkan sesuatu yang membuat Arumi tertegun."Jaga diri baik-baik, Non. Akal sehat Non adalah pelindung Non, tapi hati Non adalah penunjuk jalan. Jangan biarkan orang lain memadamkan cahaya di mata Non."Arumi mengangguk, lalu berjalan perlahan menuju mobil yang sudah menunggunya. Dia merasa tenang, namun ketenangan itu sedikit terusik saat dia melihat sebuah mobil hitam misterius yang tadinya terparkir di ujung jalan kini mulai menyalakan lampu mesinnya saat mobil Arumi mulai bergerak.Arumi melangkah perlahan menuju mobil yang sudah menunggunya di bawah pohon besar. Sebelum membuka pintu, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah rumah kecil itu. Ia melihat Pak Darman masih berdiri di depa

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Obrolan yang Dalam

    Arumi tersentak kecil. Bayangan wajah Kevin yang sedang bekerja di Surabaya, bayangan statusnya sebagai Nyonya Adiwangsa, dan kenyataan bahwa kontrak pernikahan mereka sudah lama berakhir, mendadak muncul seperti pagar yang tinggi. Dia sadar bahwa sekarang mereka bukan lagi suami istri, bahkan secara rahasia sekalipun. Apa yang sedang dia lakukan ini adalah sebuah pengkhianatan yang sangat nyata."Pak... tunggu sebentar," bisik Arumi sambil memegang tangan Pak Darman yang mulai meraba ke arah atas.Pak Darman menghentikan gerakannya. Dia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Arumi dengan tatapan yang penuh tanya namun tetap sabar. "Ada apa, Non? Apa Bapak terlalu kasar?""Bukan, Pak. Bukan itu," Arumi membalikkan badan, menatap Pak Darman dengan mata yang berkaca-kaca. "Saya... saya mendadak takut. Kita sekarang bukan siapa-siapa lagi, Pak. Saya istri orang. Saya takut kalau saya kebablasan, saya tidak akan bisa kembali lagi ke hidup saya yang dulu."Arumi mencoba merapikan pakaiannya

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Gairah yang Menuntut

    Arumi masuk ke ruang ganti dan menutup pintunya. Dia mengambil ponsel rahasianya dengan tangan gemetar. Dia sangat ingin menelepon Pak Darman, hanya untuk mendengar suara parau yang menenangkan itu. Arumi meraba perut dan dadanya sendiri, merasakan sensasi panas yang tidak tersalurkan. Dia mengingat betapa nikmatnya saat Pak Darman bergerak cepat di dalam dirinya, memberikan rasa sesak yang membahagiakan."Kenapa hidupku jadi begini," bisik Arumi sambil menahan tangis.Dia merasa tersiksa. Di satu sisi dia adalah istri terhormat yang harus menjaga martabat, namun di sisi lain, dia adalah wanita yang sedang kelaparan akan cinta yang nyata. Kehidupan kota yang gemerlap ini tidak bisa memberikan kehangatan yang ia dapatkan dari pelukan seorang pria tua di pinggiran desa. Gairah yang menumpuk itu kini menjadi beban yang sangat berat bagi Arumi.Malam itu, Arumi tidur di samping Kevin yang sudah mendengkur halus. Di dalam mimpinya, dia kembali ke kamar kayu di desa. Dia merasakan tangan Pa

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Gairah yang Semakin Tinggi

    Setiap malam setelah pulang dari kantor, Kevin biasanya langsung sibuk dengan tabletnya atau menonton berita ekonomi di ruang tengah. Dia jarang bertanya tentang bagaimana perasaan Arumi, atau apa yang sedang dipikirkan istrinya. Dia merasa sudah cukup menjadi suami yang baik dengan memberikan segalanya yang bisa dibeli dengan uang."Arumi, besok kita harus hadir di pembukaan galeri seni milik Pak Surya. Pastikan kamu pakai kalung berlian yang baru aku beli ya," ujar Kevin tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya."Iya Kevin, aku sudah siapkan," jawab Arumi singkat dari balik pintu kamar mandi.Lama Arumi di kamar mandi mulai menjadi rutinitas baru. Di sana, di balik pintu yang terkunci, Arumi duduk di tepi bathtub sambil menggenggam ponsel kecil yang ia sembunyikan di dalam kotak kosmetik. Dia baru saja mengirim paket berisi ponsel serupa ke desa untuk Pak Darman lewat kurir rahasia. Arumi menunggu dengan jantung berdebar sampai sebuah pesan singkat masuk."Non, ponselnya sud

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Kerinduan

    "Arumi, kenapa dari tadi kamu terus memegang lehermu? Dan kenapa kamu terlihat sedikit pincang saat berjalan?" tanya Kevin dengan nada yang mulai menyelidik.Arumi membeku sejenak. Ia sadar bahwa tubuhnya memang masih terasa sedikit pegal dan perih akibat gerakan cepat Pak Darman yang luar biasa tadi pagi."Oh, ini... sepertinya aku salah posisi tidur saat di perjalanan tadi, Kevin. Mobilnya kan sempat mogok dan aku harus menunggu lama di tempat yang kurang nyaman," jawab Arumi cepat dengan alasan yang sudah ia siapkan.Kevin mengangguk pelan, meskipun matanya masih menatap Arumi dengan aneh. "Lain kali kalau mobil bermasalah, langsung telepon aku saja agar aku kirim helikopter. Aku tidak mau istriku harus menderita di tempat sembarangan."Malam itu, saat mereka sudah berada di kamar tidur dan Kevin mencoba untuk mendekati Arumi untuk bermesraan, Arumi segera berpura-pura mengantuk dan membelakangi Kevin. Ia merasa tidak sanggup jika harus disentuh Kevin saat ingatan tentang penyatuan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status