LOGINTerima kasih kepada para pembaca dan platform GoodNovel yang sudah bersedia membaca dan menayangkan Mahkota Darah Permaisuri Yang Terbuang. Ini adalah karya pertama saya, jadi saya paham masih banyak kekurangan. Dan kedepannya saya akan terus berusaha membuat cerita yang lebih baik lagi 🙏
Terima kasih kepada para pembaca dan platform GoodNovel yang sudah bersedia membaca dan menayangkan Mahkota Darah Permaisuri Yang Terbuang. Ini adalah karya pertama saya, jadi saya paham masih banyak kekurangan. Dan kedepannya saya akan terus berusaha membuat cerita yang lebih baik lagi 🙏
Fajar menyentuh atap Istana Naga Emas.Untuk pertama kalinya setelah malam panjang yang dipenuhi darah, seluruh ibu kota menjadi sunyi.Tidak ada genderang perang.Tidak ada teriakan prajurit.Hanya asap yang perlahan menghilang di antara bangunan istana.Shen Qingge berdiri di tangga Istana Naga Emas.Jubah permaisurinya telah robek.Rambutnya berantakan.Di pipinya masih terdapat noda darah.Namun matanya…tidak pernah setegas itu.Di belakangnya berdiri Chu Canglan.Di sisi lain, Shen Qingluo menopang Shen Yuran yang masih terluka.Dan di bawah tangga—ribuan prajurit menunggu.Tidak ada yang berbicara.Hingga Qingge mengangkat dokumen suksesi peninggalan ibunya.“Mulai hari ini…”Suaranya menggema di seluruh halaman.“…tidak ada lagi yang akan mengendalikan hidup keluarga kami melalui kebohongan.”Ia mengangkat dokumen itu tinggi-tinggi.“Xue Lian adalah pewaris sah Wangsa Yan.”“Dan darahnya mengalir dalam tubuhku.”Beberapa pejabat berlutut.Kemudian satu demi satu…DUK!Mereka
DUM!Suara ledakan mengguncang seluruh Istana Naga Emas.Lantai batu retak.Dinding bergetar.Dari celah-celah lantai muncul lorong-lorong tersembunyi yang selama ratusan tahun tidak pernah tersentuh manusia.Di balik dinding batu, tersimpan busur besar, tombak mekanis, dan rak-rak senjata perang kuno.Wajah Shen Zexian berubah.“Senjata rahasia…”Xiao Hongye tertawa.“Benar.”“Senjata yang dahulu digunakan untuk menaklukkan seluruh wilayah utara.”Shen Zexian menatapnya tajam.“Jadi selama ini kau menggunakan pasukanku untuk membuka jalan menuju tempat ini.”“Dan kau membantuku dengan sukarela.”“Kau—”“Gege!”Suara Qingge menghentikannya.Shen Zexian menoleh.Qingge sedang menatap mekanisme di dinding.Matanya bergerak cepat.Ia memperhatikan roda gigi, saluran besi, dan beberapa tuas yang tersembunyi.“Ini bukan gudang senjata.”“Apa?”“Ini jebakan.”Qingge menunjuk bagian tengah ruangan.“Senjata-senjata itu diarahkan ke satu titik.”Chu Canglan langsung memahami.“Takhta.”Qingge
“Suara itu…”Shen Qingge berdiri terpaku.Suara yang menggema dari Istana Naga Emas begitu mirip dengan suaranya sendiri hingga bulu kuduknya meremang.“Qingge!”“Jangan percaya Chu Canglan!”Para Pengawal Phoenix langsung mengangkat senjata.Namun Chu Canglan tidak bergerak.Wajahnya justru menjadi sangat dingin.“Jangan dengarkan suara itu.”Qingge menatapnya.“Kenapa?”“Karena seseorang sedang mencoba membuatmu meragukanku.”“Dan kalau yang dia katakan benar?”Chu Canglan terdiam.Qingge menatapnya tajam.“Yang Mulia.”“Selama ini kau mengatakan bahwa kau melindungiku.”“Tapi malam ini, aku mengetahui terlalu banyak kebohongan.”“Aku tidak bisa lagi menerima jawaban tanpa bukti.”Chu Canglan mengangguk perlahan.“Kalau begitu, mari kita cari buktinya bersama.”Ia mengulurkan tangan.Qingge menatapnya beberapa saat.Kemudian menggenggam tangannya.Mereka berlari menuju Istana Naga Emas.⸻Istana itu telah berubah menjadi lautan api.Para pelayan melarikan diri.Prajurit bertarung di
Lantai di bawah kaki Shen Qingge runtuh.“Qingge!”Tubuhnya terperosok ke dalam kegelapan.Namun sebelum jatuh sepenuhnya, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya.Chu Canglan.Kaisar itu berlutut di tepi jurang dengan satu tangan mencengkeram lantai batu dan tangan lainnya menahan Qingge.“Pegang tanganku!”Qingge menggertakkan gigi.“Yuran!”Adiknya masih berada dalam pelukannya.Tubuh Shen Yuran terluka parah dan darah terus mengalir dari tubuhnya.Chu Canglan mengulurkan tangan.“Serahkan dia kepadaku!”“Tidak!”“Qingge!”“Aku tidak akan melepaskannya!”Retakan menjalar semakin jauh.KRAK!Batu tempat Chu Canglan berlutut ikut pecah.Mereka bertiga hampir jatuh bersamaan.Tiba-tiba sebuah tali melilit pinggang Qingge.Salah satu Pengawal Phoenix menariknya dari atas.“Permaisuri!”Dengan susah payah, Qingge berhasil ditarik ke atas.Chu Canglan segera mengangkat Yuran dan menyerahkannya kepada dua pengawal.“Selamatkan dia!”“Ya, Yang Mulia!”Namun sebelum mereka sempat m
“YURAN!”Shen Qingge menangkap tubuh adiknya sebelum kepalanya menghantam lantai.Darah hangat membasahi kedua tangannya.Terlalu banyak.Terlalu merah.“Tabib!”“Cepat panggil tabib!”Namun sebelum seorang pun bergerak, suara tawa menggema dari ujung lorong.Xiao Hongye.“Menarik…”Ia menatap Shen Yuran dengan ekspresi penuh perhitungan.“Anak itu ternyata lebih memilih mati daripada menjadi bonekaku.”Shen Qingge mengangkat wajah.Untuk pertama kalinya malam itu, seluruh kelembutan menghilang dari matanya.“Kalau dia mati…”“…aku akan membuatmu berharap kau mati bersamanya.”Xiao Hongye tersenyum.“Ancaman yang bagus.”“Tapi kau seharusnya bertanya dulu…”“Kenapa dia memilih menusukkan pedang ke tubuhnya sendiri?”Qingge terdiam.Xiao Hongye melirik Shen Yuran.“Karena dia tahu sesuatu yang tidak kau ketahui.”“Dia tahu…”“…darah di dalam tubuhnya bukan hanya darah seorang pemberontak.”Tatapan Qingge berubah.“Apa maksudmu?”“Yuran adalah kunci.”“Kunci untuk apa?”Xiao Hongye tida
Penyelidikan Pengawal Emas Istana berlangsung secepat kilat. Bukti-bukti yang dibeberkan oleh Shen Qingge terbukti kebenarannya secara mutlak. Di kediaman Mo Yuan, ditemukan pembukuan rahasia beserta sisa racun "Napas Kematian". Kasim Li yang tidak tahan dengan siksaan di ruang bawah tanah istana a
Tiga hari berlalu seperti kedipan mata. Hari Perburuan Kerajaan yang dinantikan seluruh bangsawan Kekaisaran Jing akhirnya tiba.Gunung Barat ditutup total oleh pasukan kekaisaran. Tenda-tenda sutra kuning cerah milik Kaisar berdiri megah di kaki gunung, dikelilingi oleh panji-panji perang yang ber
Malam merayap cepat, menyelimuti ibu kota dengan kegelapan yang pekat. Di Paviliun Anggrek milik Kediaman Jenderal, Shen Qingge berdiri di dekat jendela, menatap bulan sabit yang tertutup awan tipis.Ia telah menukar jubah putihnya dengan pakaian malam berwarna hitam ringkas yang melekat pas di tub
"Nona! Nona Muda, bangun! Demi Langit, Anda bermimpi buruk lagi?"Suara cemas itu menembus kabut kegelapan yang pekat. Shen Qingge membuka matanya dengan sentakan hebat. Napasnya memburu, paru-parunya serasa tersedak udara dingin, dan dadanya naik-turun dengan ekstrem. Spontan, kedua tangannya lang







