Share

Bab 136

Author: D.N.A
last update Petsa ng paglalathala: 2026-11-07 11:14:24

"Jaga ucapanmu, Kaelan!" pekik Ratna dengan napas tercekat, kedua tangannya gemetar menahan amarah yang meluap ke ubun-ubun. "Kamu tidak berhak menginjak-injak harga diriku di rumah ini!"

​"Harga diri?" Kael tertawa pendek, nada suaranya begitu rendah dan tajam hingga menusuk ke ulu hati.

Pria itu menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di dada seraya memandang Ratna dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan jijik.

"Sejak kapan wanita perebut suami orang punya harga diri? Kau lupa
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Main Belakang   Bab 137

    Aira menarik tirai sedikit lebih lebar, berusaha mengenali pria itu. Posturnya memang tinggi dan tegap, sekilas mirip Kael dari belakang. Namun, jaket denim usang dan potongan rambutnya yang cepak sama sekali bukan gaya Kaelan.​"Kael tidak mungkin pulang secepat ini," gumam Aira cemas, dadanya mulai bergemuruh gelisah.​Teringat pesan tegas Kael sebelum berangkat, jemari Aira refleks meraih gagang pintu dan memastikan kuncinya terpasang rapat dua kali putaran.​Tiba-tiba, pria di depan pagar itu membalikkan badannya. Wajahnya berkulit gelap dengan bekas luka gores di pelipis kiri. Matanya yang tajam langsung menyapu jendela ruang tamu, tepat ke celah tirai tempat Aira berdiri mengintip.​Aira tersentak mundur, melepaskan kain tirai hingga tertutup kembali. Napasnya tercekat di tenggorokan.​Ketukan di pagar terdengar lagi, kali ini lebih keras dan teratur.​"Permisi! Nona Aira!" seru suara pria itu dari balik pagar, nada bicaranya berat, tegas, dan sama sekali bukan logat warga desa

  • Main Belakang   Bab 136

    "Jaga ucapanmu, Kaelan!" pekik Ratna dengan napas tercekat, kedua tangannya gemetar menahan amarah yang meluap ke ubun-ubun. "Kamu tidak berhak menginjak-injak harga diriku di rumah ini!"​"Harga diri?" Kael tertawa pendek, nada suaranya begitu rendah dan tajam hingga menusuk ke ulu hati. Pria itu menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di dada seraya memandang Ratna dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan jijik. "Sejak kapan wanita perebut suami orang punya harga diri? Kau lupa bagaimana caramu merangkak masuk ke kamar pria tua itu saat ibuku masih sah menjadi nyonya di rumah ini?"​Wajah Ratna memucat pasi, warna merah di pipinya seketika sirna ditelan rasa malu yang membakar. Matanya nanar melirik suaminya yang terbatuk-batuk payah di kursi roda.​"Mas ... lihat kelakuan anak harammu ini!" adu Ratna serak, suaranya melengking mencari pembelaan. "Dia sengaja menghina aku di depanmu! Usir dia, Mas! Usir!"​"Diam, Ratna!" desis Mahendra dengan suara parau yang tersengal

  • Main Belakang   Bab 135

    Rumah megah bergaya Eropa itu menjadi hal pertama yang Kael lihat saat turun dari mobil, sudah hampir lima tahun dia tidak pulang ke tempat ini. Perasaannya mendadak buruk, rumah ini selalu menyimpan hal menyakitkan bagi dirinya."Selamat pagi, Tuan muda," sapa salah satu penjaga gerbang. Mereka menunduk penuh hormat pada Kaelan.Kael melirik penjaga itu dengan tak minat. "Aku bukan raja, tidak perlu menunduk seperti itu." Masih sama, pria itu selalu enggan di perlakuan berlebihan. Lagipula untuk apa, hanya sekedar nama besar yang terlalu banyak memakan korban demi kekuasaan.Kael melangkah melintasi lorong marmer bertiang pilar tinggi yang dingin, langkah sepatunya beradu mantap dengan lantai mengilap. Aroma lilin aromaterapi vanila dan kayu cendana yang menyengat langsung menyambut indra penciumannya, aroma kepalsuan yang sejak dulu memuakkan baginya.​"Anda datang tepat waktu, Tuan Muda," sebuah suara berat menyapa dari ujung lorong.

  • Main Belakang   Bab 134

    "Kamu mau ke mana sudah rapi?" tanya Aira seraya melangkah keluar dari kamar, mengamati Kael yang tengah mengancingkan kemeja hitam lengan panjangnya di depan cermin ruang tamu. Rambut pria itu tersisir rapi ke belakang, memancarkan kembali aura dingin seorang pewaris klan terpandang.​Kael tidak langsung menoleh. Jemarinya sibuk merapikan kerah kemeja, memastikan tidak ada lipatan yang berantakan.​"Ada urusan mendesak di luar," sahut Kael datar, pantulan matanya di cermin menatap Aira yang berdiri memeluk botol susu bayi.​"Urusan apa?" cecar Aira melangkah mendekat, rasa cemas seketika merayap di dadanya. "Ini ada hubungannya dengan kedatangan Pak RT tadi pagi?"​Kael berbalik, menatap Aira lurus-lurus. "Masalah surat kependudukan dan laporan Pak RT sudah dibereskan orang-orangku dua jam lalu."​"Lalu kamu mau ke mana?" suara Aira meninggi tipis, matanya menyipit curiga. "Jangan ada yang kau sembunyikan dariku lagi, Kael. Kita sudah sejauh ini."​Kael menghela napas pendek seraya m

  • Main Belakang   Bab 133

    Keesokan paginya, embun dingin khas Subang masih menempel pekat di pucuk dedaunan pohon mangga. Aira baru saja selesai menyeduh teh hangat di dapur ketika suara ketukan bertubi-tubi di pagar depan memecah ketenangan fajar.​"Mas Kael! Neng Aira! Assalamualaikum!" seru suara wanita paruh baya yang melengking kencang dari luar.​Kael yang tengah membersihkan teras depan seketika menoleh dengan dahi berkerut dalam. Sapu lidi di tangannya diturunkan perlahan. Dari balik gerbang besi, sosok Bu Teti berdiri berkacak pinggang mengenakan kerudung bergo hijau toska, didampingi Rina yang pagi-pagi begini sudah berdandan mencolok dengan lipstik merah muda dan bedak tebal.​"Biar aku yang buka," gumam Kael pelan saat melihat Aira melangkah keluar dengan raut cemas dari pintu ruang tamu.​Kael melangkah mendekati pagar dan menarik grendelnya. "Waalaikumsalam. Ada apa pagi-pagi begini, Bu Teti?"​"Aduh, Mas Kael! Maaf pisan ya ganggu pagi-pagi," ceroco

  • Main Belakang   Bab 132

    Kael meletakkan gelas kosongnya ke atas meja dispenser dengan denting pelan yang terdengar tegas. Ia berbalik, menatap Aira yang duduk di kursi dengan pandangan menyelidik.​"Karena dia menyodorkan peta lewat ponsel," sahut Kael tanpa jeda, suaranya terdengar begitu datar dan meyakinkan. "Udara di luar mulai dingin, dan aku tidak suka bicara sambil berdiri di pinggir jalan jadi tontonan tetangga."​Aira menyipitkan mata, raut curiga belum sepenuhnya sirna dari wajah tirusnya. "Hanya melihat peta sampai lima belas menit lebih?"​"Pria tua itu agak rabun dan banyak tanya," timpal Kael seraya melangkah mendekat, lalu menarik kursi di hadapan Aira. "Dia orang Jakarta yang mau mencari vila keluarganya di lereng atas, tapi sinyal GPS-nya mati. Sudah cukup interogasinya, Nyonya Pratama?"​Mendengar panggilan itu, dengusan napas pelan lolos dari bibir Aira. Ketegangannya sedikit mencair, meski keningnya masih berkerut halus.​"Bukan bermaksud men

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status