Se connecter"Mas, kamu nggak apa-apa?" tanya Clara panik melihat kondisi suaminya.Devan memang terlihat mengenaskan dengan pakaian basah, dan terlihat berantakan. Bahkan pria itu kesulitan menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri."Aku ..." BRAK!Tubuh Devan terhempas ke lantai begitu saja. Pria itu pingsan dan membuat Clara menjerit panik di buatnya. Dengan tergesa Clara berlutut dan memangku kepala Devan dengan air mata yang mulai menggenang."Mas, kamu kenapa?" jerit Clara panik. "Rendy bantu saya!" Rendy bergegas maju dengan langkah cepat, memasang raut cemas yang terkendali meski batinnya menghela napas panjang melihat kelihaian bosnya bersandiwara, atau mungkin memang efek racun obat sialan itu benar-benar menguras tenaganya hingga batas akhir."Pak Devan!" seru Rendy seraya berlutut di sisi lain tubuh Devan. Tangannya memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan sang atasan dengan sigap. "Napasnya berat, Nyonya. Efek kelelahan dan mungkin tekanan darahnya drop drastis.""Bawa ke rumah sak
Mata Clara menyapu sekitar kamar, tidak ada orang di dalam kamar. Hanya kasur yang terlihat berantakan. Wanita itu mendengus, dan menatap Rendy dengan sinis. "Mana, tidak ada siapapun di kamar ini! Kamu bilang suamiku sedang ada urusan bisnis!" Rendy melangkah masuk dengan tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh nada tinggi Clara. Pria itu menyapukan pandangannya sekilas ke arah ranjang berantakan dan pintu kaca balkon yang sedikit terbuka, membiarkan angin malam meniup gorden tipis ke dalam kamar."Saya mengatakan beliau sedang ada urusan penting, Nyonya, bukan berjanji beliau akan duduk diam menunggu kedatangan Anda," sahut Rendy datar.Clara mendengus keras, melangkah cepat menuju meja rias lalu menyentuh gelas kristal yang sudah kosong di atas nakas. "Jangan membodohiku, Rendy! Devan terkena obat itu, mustahil dia bisa pergi begitu saja tanpa bantuan seseorang!"Rian yang menyusul masuk perlahan mengedarkan pandangan cemas. Ma
"Hmmpptt ..." Aira memukul dada Devan sekuat tenaga saat ciuman pria itu begitu dalam dan membuatnya hampir tenggelam. "Ini salah, tidak seharusnya kita melakukan hal ini," bisik Aira mengingatkan, "ingatlah pada tujuan awal kita datang kemari." "Aku tidak peduli," bisik Devan serak, memutus keraguan yang sempat menggantung di antara mereka.Pria itu kembali menunduk, tak membiarkan Aira membangun jarak sedikit pun. Kali ini pagutannya tidak lagi terburu-buru, melainkan lambat, dalam, dan menuntut balasan.Setiap penolakan yang sempat terlintas di benak Aira perlahan menguap, tergilas oleh dominasi Devan yang kian membakar. Aira mencengkeram kain kemeja di punggung Devan saat tubuh liat pria itu menindihnya kian rapat di atas ranjang. Desah napas berat keduanya saling beradu di keheningan kamar 303 yang temaram, menenggelamkan sisa peringatan moral yang sempat Aira suarakan."Tatap aku, Aira," desis Devan parau di sela napasnya yang memburu, jemarinya menyelusup ke sela helai r
"Ko bisa kamu kehilangan dia?" tanya Rian tidak percaya. Dia menatap Clara yang sibuk mondar mandir di depan pintu kamar suitenya."Aku juga tidak tahu, Rian!" sembur Clara frustrasi, suaranya naik satu oktaf seraya meremas clutch di tangannya dengan geram. Riasan wajahnya yang tadi tampak sempurna kini mulai berantakan akibat keringat dingin yang mengucur di pelipis."Tadi di lift dia masih bersamaku," lanjut Clara cepat, napasnya memburu tak beraturan. "Tapi pas pintu terbuka di lantai lima, aku kebelet buang air." Rian memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri, menatap Clara dengan pandangan menyalahkan. "Kamu gila, Clara. Dosis obat itu tinggi, kan? Kalau dia sampai kolaps di lorong hotel atau pingsan di depan banyak orang, rencana kita hancur total!""Bukan kolaps yang kutakutkan, Rian!" desis Clara tajam, melangkah mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Rian. Sorot matanya dipenuhi kilat kecurigaan yang membara. "Pria dalam pengaruh obat sepe
Setiap teguk cairan keemasan itu mengalir mulus melewati kerongkongan Devan. Pria itu menenggaknya tenang tanpa curiga sedikit pun, mengira itu hanyalah sampanye biasa pereda dahaga.Melihat gelas itu tandas, Clara menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Ekor matanya sempat melirik Rian, memberi isyarat rahasia bahwa rencana mereka berjalan mulus. Namun, rahang Rian justru mengeras kaku. Kilat cemburu menyala terang di manik matanya; ia mendadak tak rela membayangkan Clara, wanita yang dia cintai, akan dijamah habis oleh Devan malam ini."Sampanye yang nikmat," ujar Devan dingin seraya meletakkan gelas kosong itu kembali ke meja. Ia melonggarkan sedikit dasi kupu-kupunya, merasakan sengatan hangat yang mendadak merayap aneh di balik kerah kemejanya."Tentu saja, Mas. Itu sampanye pilihan khusus untukmu," sahut Clara manis, jemarinya berani merayap naik ke dada bidang Devan, merasakan detak jantung suaminya yang mulai berpacu lebih cepat.Rian berdehem keras, menyela sebelum sentu
"Mas, kalau aku tidak mengangkat telpon, itu tandanya sudah tidur. Hari ini cape sekali. Badanku lelah." Sederet kalimat itu Rian baca dengan perasaan lega, setidaknya dia tidak sibuk memantau keadaan Aira. Rian menghela napas panjang, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku tuksedo abu-abunya dengan senyum puas. "Baguslah. Jadi malam ini aku bisa fokus mendekati para investor tanpa perlu mengkhawatirkan wanita kampungan itu," gumamnya dalam hati.Dengan langkah percaya diri dan dagu sedikit terangkat, Rian mengambil segelas sampanye dari nampan pelayan yang melintas, lalu berjalan mantap menghampiri Devan dan Clara yang tengah berdiri di dekat area meja bundar VIP."Selamat malam, Pak Devan, Clara," sapa Rian dengan nada ramah yang dibuat seformal mungkin di depan umum.Clara menoleh, sorot matanya sempat memancarkan kepuasan rahasia saat melihat Rian sudah hadir tepat waktu. Ia membalas sapaan itu dengan senyuman anggun nan terkontrol. "Selamat malam, Rian. Senang melihatmu







