Share

Bab 43

Author: D.N.A
last update publish date: 2026-09-19 16:23:10

Setiap teguk cairan keemasan itu mengalir mulus melewati kerongkongan Devan. Pria itu menenggaknya tenang tanpa curiga sedikit pun, mengira itu hanyalah sampanye biasa pereda dahaga.

​Melihat gelas itu tandas, Clara menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Ekor matanya sempat melirik Rian, memberi isyarat rahasia bahwa rencana mereka berjalan mulus.

Namun, rahang Rian justru mengeras kaku. Kilat cemburu menyala terang di manik matanya; ia mendadak tak rela membayangkan Clara, wanita yang dia ci
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Main Belakang   Bab 45

    "Hmmpptt ..." Aira memukul dada Devan sekuat tenaga saat ciuman pria itu begitu dalam dan membuatnya hampir tenggelam. "Ini salah, tidak seharusnya kita melakukan hal ini," bisik Aira mengingatkan, "ingatlah pada tujuan awal kita datang kemari." "Aku tidak peduli," bisik Devan serak, memutus keraguan yang sempat menggantung di antara mereka.​Pria itu kembali menunduk, tak membiarkan Aira membangun jarak sedikit pun. Kali ini pagutannya tidak lagi terburu-buru, melainkan lambat, dalam, dan menuntut balasan.Setiap penolakan yang sempat terlintas di benak Aira perlahan menguap, tergilas oleh dominasi Devan yang kian membakar. ​Aira mencengkeram kain kemeja di punggung Devan saat tubuh liat pria itu menindihnya kian rapat di atas ranjang. Desah napas berat keduanya saling beradu di keheningan kamar 303 yang temaram, menenggelamkan sisa peringatan moral yang sempat Aira suarakan.​"Tatap aku, Aira," desis Devan parau di sela napasnya yang memburu, jemarinya menyelusup ke sela helai r

  • Main Belakang   Bab 44

    "Ko bisa kamu kehilangan dia?" tanya Rian tidak percaya. Dia menatap Clara yang sibuk mondar mandir di depan pintu kamar suitenya."Aku juga tidak tahu, Rian!" sembur Clara frustrasi, suaranya naik satu oktaf seraya meremas clutch di tangannya dengan geram. Riasan wajahnya yang tadi tampak sempurna kini mulai berantakan akibat keringat dingin yang mengucur di pelipis.​"Tadi di lift dia masih bersamaku," lanjut Clara cepat, napasnya memburu tak beraturan. "Tapi pas pintu terbuka di lantai lima, aku kebelet buang air." ​Rian memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri, menatap Clara dengan pandangan menyalahkan. "Kamu gila, Clara. Dosis obat itu tinggi, kan? Kalau dia sampai kolaps di lorong hotel atau pingsan di depan banyak orang, rencana kita hancur total!"​"Bukan kolaps yang kutakutkan, Rian!" desis Clara tajam, melangkah mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Rian. Sorot matanya dipenuhi kilat kecurigaan yang membara. "Pria dalam pengaruh obat sepe

  • Main Belakang   Bab 43

    Setiap teguk cairan keemasan itu mengalir mulus melewati kerongkongan Devan. Pria itu menenggaknya tenang tanpa curiga sedikit pun, mengira itu hanyalah sampanye biasa pereda dahaga.​Melihat gelas itu tandas, Clara menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Ekor matanya sempat melirik Rian, memberi isyarat rahasia bahwa rencana mereka berjalan mulus. Namun, rahang Rian justru mengeras kaku. Kilat cemburu menyala terang di manik matanya; ia mendadak tak rela membayangkan Clara, wanita yang dia cintai, akan dijamah habis oleh Devan malam ini.​"Sampanye yang nikmat," ujar Devan dingin seraya meletakkan gelas kosong itu kembali ke meja. Ia melonggarkan sedikit dasi kupu-kupunya, merasakan sengatan hangat yang mendadak merayap aneh di balik kerah kemejanya.​"Tentu saja, Mas. Itu sampanye pilihan khusus untukmu," sahut Clara manis, jemarinya berani merayap naik ke dada bidang Devan, merasakan detak jantung suaminya yang mulai berpacu lebih cepat.​Rian berdehem keras, menyela sebelum sentu

  • Main Belakang   Bab 42

    "Mas, kalau aku tidak mengangkat telpon, itu tandanya sudah tidur. Hari ini cape sekali. Badanku lelah." Sederet kalimat itu Rian baca dengan perasaan lega, setidaknya dia tidak sibuk memantau keadaan Aira. Rian menghela napas panjang, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku tuksedo abu-abunya dengan senyum puas. "Baguslah. Jadi malam ini aku bisa fokus mendekati para investor tanpa perlu mengkhawatirkan wanita kampungan itu," gumamnya dalam hati.​Dengan langkah percaya diri dan dagu sedikit terangkat, Rian mengambil segelas sampanye dari nampan pelayan yang melintas, lalu berjalan mantap menghampiri Devan dan Clara yang tengah berdiri di dekat area meja bundar VIP.​"Selamat malam, Pak Devan, Clara," sapa Rian dengan nada ramah yang dibuat seformal mungkin di depan umum.​Clara menoleh, sorot matanya sempat memancarkan kepuasan rahasia saat melihat Rian sudah hadir tepat waktu. Ia membalas sapaan itu dengan senyuman anggun nan terkontrol. "Selamat malam, Rian. Senang melihatmu

  • Main Belakang   Bab 41

    "Pakaianku mana, Aira?" tanya Rian dengan handuk yang melilit pinggangnya. Pria itu terlihat segar dengan rambut basah yang masih meneteskan air. "Ini Mas." Aira menyerahkan satu stel tuxedo abu-abu pada pria yang selama dua tahun ini dia nikahi. Pria yang ia anggap rumah untuk pulang dan berteduh.Rian mengambil pakaian itu dengan cepat, lalu memakainya begitu saja. Aira melangkah maju mendekat, gerakannya begitu anggun dan tenang. Sebelum Rian sempat meraih dasi kupu-kupu yang tergeletak di atas ranjang, jemari lentik Aira sudah lebih dulu mengambilnya.​"Biar aku bantu rapikan, Mas," bisik Aira dengan senyum lembut yang meneduhkan.​Rian tertegun sesaat, lalu membiarkan istrinya berdiri tepat di depannya. Aroma sabun vanila bercampur wangi melati dari tubuh Aira menyapa indra penciumannya.​Jemari dingin Aira mulai mengancingkan kemeja putih Rian satu per satu dari bawah. Bukannya bergerak cepat seperti biasanya, kuku-kuku terawat wanita itu sengaja menelusuri garis kancing, sese

  • Main Belakang   Bab 40

    "Mas, kamu baru pulang?" Suara lembut Aira menyambut Rian tepat saat pria itu melangkah masuk melewati pintu utama rumah mereka. Jarum jam di dinding ruang tengah sudah menunjukkan pukul delapan malam.​Rian tersentak pelan, refleks merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut sebelum menatap sang istri yang tengah berdiri di dekat meja makan. Aira mengenakan daster rumahan sederhana, rambutnya diikat rapi ke belakang, dan senyum manis yang hangat terpatri di wajahnya, terlihat begitu polos dan penurut, persis seperti bayangan istri idaman yang selalu bisa ia manipulasi.​"Iya, tadi lembur sebentar di kantor," sahut Rian berusaha terdengar santai, menepis sisa aroma parfum Clara yang sempat ia khawatirkan masih menempel di bajunya. Ia melangkah mendekat, memperhatikan Aira yang tengah menata piring. "Kamu sendiri ... sudah lama pulang dari rumah Maya?"​"Belum terlalu lama, Mas. Sekitar satu jam lalu," jawab Aira tenang, gerakannya begitu luwes saat menyendokkan nasi putih hangat ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status