Mag-log inAku menahan napas, ujung bolpoin perak yang dingin kini berada di atas baris tanda tangan. Nama Axel Mardon Montevista sudah tercetak rapi di atas garis di sebelahnya.
“Waktumu habis, Keisha.” Suara Axel, meski tenang, mengandung ketidaksabaran yang menekan. Aku tidak melihat ke arahnya. Mataku terpaku pada kata-kata di halaman itu: Kewajiban Istri, Kepatuhan Mutlak, dan Pasal Pewaris. Ini bukan pernikahan; ini adalah perbudakan legal yang kusepakati demi masa depan yang tidak pasti dan anak yang belum pasti ada. Dengan satu tarikan napas kasar, aku menorehkan namaku. Keisha Auristela. Seketika, ruangan itu terasa lebih dingin. Axel mengambil dokumen itu, memeriksanya dengan teliti. Seringai tipis yang tidak menyenangkan muncul di sudut bibirnya. “Bagus. Selamat datang di penjaraku, Nyonya Montevista.” Belum sempat aku memprotes sebutan itu, ia sudah meraih pergelangan tanganku dengan kuat. “Kita tidak punya waktu. Pernikahan ini harus sah hari ini.” Satu jam kemudian, aku duduk di kursi belakang Maybach hitam. Aku tidak punya waktu untuk mengemasi barang, membersihkan apartemenku sendiri, atau bahkan menelepon sahabatku. Semuanya terjadi begitu cepat, katakanlah aku persis seperti diseret badai. Kami berhenti di depan kantor Catatan Sipil swasta yang sangat eksklusif. Di sana, sudah menunggu seorang notaris tua yang tampak kaku dan seorang pria paruh baya bersetelan mahal, yang tak lain adalah pengacara pribadi Axel, Tuan Leonard. “Kita akan melakukannya dengan cepat dan tanpa saksi tak terduga,” perintah Axel pada pengacaranya. Prosesnya dingin, cepat, dan sepenuhnya birokratis. Axel mengucapkan janji-janji yang terdengar kosong, dan aku mengulanginya dengan suara yang nyaris tak terdengar. Hanya butuh sepuluh menit bagi Keisha Auristela untuk secara resmi berubah menjadi Nyonya Axel Mardon Montevista. Sambil berjalan kembali ke mobil, Axel berbicara tanpa menoleh, suaranya kini kembali pada nada CEO yang penuh perintah. “Mulai detik ini, kau adalah istriku. Kau tidak boleh bicara tentang masa lalumu, pekerjaanmu sebagai baker, atau utang keluargamu pada siapa pun. Kau akan diberikan kartu kredit tanpa batas—gunakan untuk keperluan penampilan Nyonya Montevista. Tapi, ada satu aturan terpenting.” Aku menunggunya dengan cemas. Axel menghentikan langkah di depan Maybach, matanya yang perak menatapku dengan tatapan gelap dan posesif. “Kau adalah milikku. Setiap panggilan telepon, setiap pertemanan, setiap langkah kakimu harus atas izinku. Kau boleh hidup mewah, tapi kebebasanmu adalah milikku. Kau mengerti?” “Aku mengerti,” jawabku pahit. “Aku hanya boneka.” Axel tersenyum tipis, kali ini senyum berbahaya yang terasa lebih intim. “Boneka mainanku” ia masih menunjukkan seringai penuhnya. “Malam ini, kita akan pindah ke kediaman utama Montevista. Di sana, kita akan memulai tugas yang sebenarnya.” Kediaman utama Montevista—sebuah mansion bergaya Eropa Klasik yang dikelilingi taman luas, menjulang tinggi dan megah seperti istana. Pintu masuknya saja sudah membuatku merasa seperti semut. Begitu sampai di kamar utama yang seluas apartemenku, aku langsung terduduk di tepi ranjang berkanopi. Aku tidak sanggup lagi menahan semua emosi. Axel masuk, melepas jasnya, dan melonggarkan dasinya. Dia kini tampak lebih santai, tapi entah mengapa, lebih mengancam. “Bagian terberat akan dimulai, Keisha. Kau harus meyakinkan semua orang, terutama dewan direksi, bahwa kau adalah seorang Montevista,” katanya sambil mengambil whiskey dari bar kecil di sudut ruangan. Aku mendongak. Inilah yang kukhawatirkan dan tak kuasa kutahan untuk tidak kupertanyakan padanya. “Apa yang akan terjadi jika jika pewaris itu tidak kunjungan datang?” Axel menyesap minumannya, matanya menatapku dengan dingin. “Itu adalah salah satu pasal dalam kontrak, Nyonya Montevista. Jika dalam waktu enam bulan kau tidak hamil, kita akan mulai menjalankan Klausul B. Dan percayalah, kau tidak ingin tahu apa itu Klausul B.” Dia meletakkan gelasnya dan berjalan perlahan ke arahku. “Namun, malam ini, kita tidak membahas kontrak atau direksi,” bisiknya, suaranya rendah dan serak, membuat bulu kudukku meremang. “Malam ini, kita merayakan pernikahan kita.” Dia berdiri di hadapanku, aroma cologne dan whiskey menguar. Jemarinya yang kuat menyentuh rambutku, menarik kepalaku hingga wajah kami berdekatan. “Ada satu hal lagi yang harus kau ingat, Keisha,” bisiknya, suaranya kini mengandung hasrat yang panas dan menguasai. “Kau boleh menandatangani kontrak itu dengan bolpoin. Tapi kau harus mengukir kepemilikanku di tubuhku malam ini.”POV: Axel Mardon MontevistaEnam bulan telah berlalu sejak malam yang hampir merenggut napas dan separuh nyawaku itu. Malam di mana aku menyadari bahwa seluruh kekuasaan dan gunungan hartaku tidak ada artinya jika wanita yang menjadi pusat duniaku tidak lagi bernapas. Namun hari ini, ketakutan itu telah terkubur jauh, digantikan oleh simfoni kehidupan yang luar biasa di Mansion Montevista.Mansion ini tidak lagi memiliki sudut yang sunyi. Jika dulu rumah ini hanyalah bangunan megah yang dingin, kaku, dan hanya berisi aroma kertas dokumen serta parfum maskulin, sekarang setiap lorongnya bergema dengan tawa Alexander, Ellys, tangisan bayi, dan langkah-langkah kecil yang berkejaran. Udara di sini kini selalu berbau bedak bayi dan aroma vanila kesukaan Keisha.Sore ini, matahari terbenam dengan warna emas yang luar biasa indah di cakrawala taman belakang. Aku berdiri di beranda lantai atas, menyesap kopi hitamku sambil memerhatikan pemandangan di bawah. Sebuah pemandangan yang—bagi pri
POV: Axel Mardon MontevistaDuniaku terasa berhenti berputar. Suara denging panjang dari monitor jantung itu adalah suara paling mengerikan yang pernah kudengar seumur hidupku. Garis lurus di layar itu seolah garis akhir dari kebahagiaanku.“Isi ulang! Tiga ratus enam puluh joule! Clear!” seru dokter utama.Tubuh Keisha tersentak lagi akibat kejutan listrik itu. Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku menancap di telapak tangan, mengalirkan rasa sakit fisik untuk mengalihkan rasa sakit di dadaku yang terasa seperti diremas hingga hancur.“Ayo, Sayang... jangan menyerah. Kau bukan wanita lemah,” bisikku parau, air mata jatuh tanpa henti membasahi masker medis yang kupakai. “Pukul aku, maki aku karena aku terlalu protektif, tapi tolong... jangan tinggalkan aku.”Satu detik. Dua detik. Tiga detik terasa seperti keabadian yang menyiksa.Lalu, tiba-tiba....Pip... pip... pip...Garis lurus di monitor itu mulai membentuk gelombang kembali. Lemah, namun ada.“Detak jantung kembali
POV: Axel Mardon MontevistaDuniaku yang baru saja terang benderang oleh tangisan bayi, seketika tersedot ke dalam lubang hitam yang pekat. Genggaman tangan Keisha yang tadi begitu kuat, tiba-tiba melemas dan jatuh terkulai. Matanya yang sayu perlahan menutup, bukan karena tidur yang tenang, melainkan karena kesadarannya yang merosot tajam.“Keisha! Buka matamu! Keisha!” teriakku. Aku tidak peduli pada bayi-bayi itu untuk sesaat; fokusku hanya pada wanita yang wajahnya kini memucat seputih kertas.“Tuan Montevista, mundur! Nyonya mengalami pendarahan hebat!” seru dokter utama. Suasana yang tadi penuh haru berubah menjadi medan perang dalam hitungan detik.Aku didorong menjauh oleh para perawat. Di lantai, aku melihat cairan merah pekat mulai mengalir deras. Darah itu milik Keisha. Darah itu adalah nyawanya yang sedang tumpah keluar.“Lakukan sesuatu! Selamatkan dia! Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan meratakan tempat ini!” ancamku kalap. Aku berdiri di sudut ruangan, memegang
Aku kembali ke ruang kerja, tapi pintu sengaja kubiarkan terbuka lebar—selebar telingaku yang kini menajam seperti radar. Meskipun mataku menatap dokumen akuisisi, pikiranku berada di ruang tengah bersama Keisha. Aku tidak tenang. Wajah pucatnya dan caranya menopang pinggang tadi adalah alarm bahaya bagiku.“Rina,” panggilku padanya melalui interkom.“Ya, Tuan?”“Pastikan tim medis tidak ada yang meninggalkan posnya di sayap kanan. Dan suruh Suster Ellys melaporkan frekuensi ‘keluhan’ Nyonya setiap sepuluh menit padaku secara diam-diam. Aku tidak ingin Keisha merasa tertekan, tapi aku ingin data akurat.”“Dimengerti, Tuan.”Sekitar satu jam berlalu. Aku mencoba fokus pada rapat Zoom dengan tim legal dari firma hukum baru yang kuambil alih. Ketika tiba-tiba, terdengar Rina kembali menghubungiku—yang mana ketika kuangkat, aku mendengar rintihan tertahan dari dalam—yang membuat jantungku seolah ditarik keluar dari rongganya.Aku tidak menunggu sedetik pun. Aku melepaskan headset be
POV: Keisha MontevistaMalam ini terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Seluruh tubuhku terasa kaku, dan ada rasa pegal yang tak kunjung hilang di punggung bawahku. Aku mencoba memiringkan tubuh ke kiri, lalu ke kanan, namun tidak ada posisi yang benar-benar nyaman. Si kembar yang biasanya sangat aktif melakukan “pertandingan bola” di dalam sana, tiba-tiba menjadi sangat tenang. Gerakan mereka hanya berupa gesekan lambat yang terasa sangat berat di bagian bawah perutku.Aku tahu tanda-tanda ini. Sebagai ibu yang sudah pernah melewati proses persalinan, instingku berbisik bahwa waktu itu sudah dekat. Namun aku memilih untuk tidak dulu mengatakannya pada Axel. Aku melirik Axel yang tertidur di sampingku dengan wajah yang tampak sangat lelah. Garis-garis tegas di wajahnya sedikit mengendur saat tidur, namun tangannya tetap melingkar protektif di atas perutku—sebuah posisi yang tidak pernah berubah sejak kandungan ini membesar.Ya, qku tidak ingin memberitahunya sekarang, karena ji
POV: Axel Mardon MontevistaWaktu berjalan dengan kecepatan yang sulit kupahami. Rasanya baru kemarin aku menggendong Keisha dari dapur setelah konfrontasi malam itu, namun kini kalender sudah menunjukkan angka yang membuat jantungku berdegup lebih kencang setiap harinya. Ya, kandungan Keisha kini sudah menginjak usia delapan bulan.Bagi kehamilan tunggal, delapan bulan adalah masa penantian akhir. Namun bagi bayi kembar, ini adalah masa kritis yang tak terduga. Dokter sudah memperingatkan bahwa bayi kembar sering kali memutuskan untuk menyapa dunia lebih cepat dari jadwal seharusnya. Dan itulah yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak belakangan ini.Pagi ini, aku membantu Keisha bangkit dari ranjang—sebuah tugas yang kini memerlukan teknik khusus. Perutnya sudah sangat besar, menonjol begitu kontras dengan tubuh aslinya yang mungil. Sejujurnya, setiap aku menatap perut itu tanpa balutan kain, ada rasa ngeri yang menyusup di hatiku. Kulitnya yang tipis meregang sedemikian rupa hing







