Share

Kenangan Saat Hujan

Author: Nona Lee
last update Last Updated: 2025-08-14 01:45:32

Sepanjang perjalanan menuju lokasi meeting, Rey beberapa kali meliriknya dari sudut mata. Setiap kali Marlina menyadarinya dan menoleh, Rey langsung mengalihkan pandangan pura-pura melihat ke luar jendela.

Saat tiba di lobi hotel tempat pertemuan, Rey berjalan sedikit lebih cepat, lalu tiba-tiba berhenti dan berbalik.

"Pegang ini." Lelaki itu menyodorkan jasnya pada Marlina.

"Kenapa..."

"Karena kau terlihat kedinginan," potong Rey singkat, lalu melangkah lagi tanpa menoleh.

Marlina hanya bisa memandang punggungnya sambil menahan senyum kecil. Dia tahu, alasan Rey mengajaknya hari ini mungkin hanyalah cari-cari cara untuk bisa dekat. Tapi lelaki itu terlalu pintar menyamarkannya dengan sikap dingin dan kata-kata singkat.

Yang Marlina tidak tahu, di dalam kepala Rey hanya ada satu pikiran. Kalau dia tidak menemukannya di kantor hari ini, Rey bisa gila. Pertemuan dengan klien selesai lebih cepat dari perkiraan. Rey dan Marlina berjalan keluar hotel, tapi begitu pintu otomatis terbuka, suara deras hujan menyambut mereka.

"Hebat," gumam Marlina sambil menghela napas. "Payung tertinggal di kantor.

Rey meliriknya sebentar, lalu menatap langit yang tengah menangis. Nampak senyum kecil terpancar di wajah tampannya, dia senang bisa terjebak di sini, dengan wanita itu. Mereka berdua berdiri di bawah atap hotel, memperhatikan hujan yang seakan tidak berniat berhenti.

"Kalau mau, kita tunggu sebentar," kata Marlina, mencoba terdengar santai. Padahal di kepalanya, hujan ini entah kenapa mengingatkannya pada malam itu. Malam ketika Rey memeluknya di mobil, napasnya berat, dan bibirnya nyaris menyentuhnya.

Rey, di sisi lain, sedang berpikir sama sekali tidak profesional. Tetesan air hujan di kaca, udara dingin, dan Marlina di sebelahnya. Menghadirkan gambaran yang seharusnya tidak dia pikirkan di tengah jam kerja.

"Tuan, kenapa diam saja?" tanya Marlina.

Rey mengerjap, lalu menoleh dengan ekspresi datarnya. "Sedang memikirkan… strategi bisnis."

Dalam hati, dia memaki dirinya sendiri. Strategi bisnis apanya? Yang ada strategi mencium kaku di bawah hujan. Membawamu lari ke apartemennya. Lalu...

Marlina menahan tawa, melihat tingkah aneh lelaki itu. Menyadari Rey memandangnya sedikit lebih lama dari biasanya. Hatinya mulai berdebar. Dia ingin lepas dari situasi menegangkan ini.

"Mau berlari ke parkiran?"

"Boleh," jawab Rey cepat. "Tapi kau harus masuk di bawah jas ini."

Sebelum Marlina sempat protes, Rey sudah menarik jasnya, melingkarkannya di atas kepala mereka berdua.

Saat mereka berlari menembus hujan, jarak di antara mereka terlalu dekat. Begitu sampai di mobil, Marlina tertawa kecil, napasnya masih memburu. Namun tawa itu berhenti ketika menyadari Rey masih menatapnya. Basah, berantakan, dan entah kenapa semakin tampan.

Rey membuka mulut, nyaris mengatakan sesuatu.

Tapi dia malah menoleh cepat, masuk ke mobil, dan berkata datar, "Cepat masuk. Kita bisa masuk angin."

Marlina menutup pintu mobil sambil tersenyum kecil. Baik dia maupun Rey tahu, hujan barusan membawa mereka kembali pada ingatan yang sama. Hanya saja, keduanya terlalu jaim untuk mengakuinya.

Perjalanan pulang dari meeting berjalan lancar, sampai mobil Rey tiba-tiba mengeluarkan bunyi aneh dan berhenti begitu saja di pinggir jalan.

"Apa-apaan ini?" gumam Rey, memutar kunci kontak lagi, tapi mesin hanya berdecit pelan.

Marlina melirik keluar jendela, lalu berkata pelan, "Hmm.. ini dekat rumahku. Kalau mau, kita tunggu hujan reda di sana sambil nelpon bengkel."

Rey sempat diam beberapa detik, mempertimbangkan. "Baik. Tapi aku ikut ke dalam, bukan menunggu di mobil."

Hujan masih deras saat mereka sampai di rumah Marlina. Wanita itu buru-buru mengambil handuk untuk Rey, tapi lelaki itu malah mengulurkan tangannya dan berkata, "Kau juga basah. Kemarilah."

Sebelum Marlina sempat menolak, Rey sudah mengacak-acak rambutnya dengan handuk, membuatnya terkejut.

"Tuan Rey! Biarkan aku melakukannya sendiri..." seru Marlina sambil mundur, pipinya memanas.

Rey hanya mengangkat alis, lalu duduk santai di sofa, memandangi ruang tamu yang sederhana tapi hangat. "Buatkan teh. Biar aku menunggu di sini."

Marlina menggerutu pelan, tapi menuruti. Saat dia kembali dengan dua cangkir teh, Rey meraih cangkirnya, dan jari mereka bersentuhan. Sekejap, keduanya terdiam, saling menatap.

Itulah momen yang benar-benar sial, karena bel rumah tiba-tiba berbunyi.

Marlina bergegas membuka pintu. "Firda?!" serunya kaget.

Sahabatnya itu berdiri dengan payung basah, menatap masuk ke dalam rumah, lalu melihat Rey duduk di sofa sambil memegang handuk di pangkuannya.

"Ehh?" Firda memicingkan mata, bibirnya terangkat nakal. "Apa aku mengganggu kalian?"

Marlina langsung panik. "Bukan, bukan! Mobil Tuan Rey mogok, dia cuma ikut menduh."

Firda melangkah masuk tanpa diminta, menatap mereka bergantian dengan tatapan menyelidik. "Mogok, hujan deras, masuk rumah… lalu duduk berdua di ruang tamu? Hmm, mencurigakan."

Rey, yang biasanya selalu jaim, malah menyandarkan punggung dan berkata tenang, "Kebetulan saja. Tapi kau boleh berpikir apa pun."

Nada suaranya terlalu santai, seakan sengaja memancing Firda untuk salah paham. Marlina memutar bola matanya. Dalam hati, ia tahu satu hal. Setelah ini, Firda pasti akan menginterogasinya habis-habisan.

Firda mengangkat alis tinggi-tinggi. "Oke, kalau begitu aku ikut duduk di sini. Siapa tahu aku dapat tontonan menarik."

Marlina memukul bahu sahabatnya, "Firda!"

Tapi sahabatnya itu sudah duduk, menyilangkan kaki, memperhatikan mereka seperti penonton bioskop. Setiap kali Rey mengambil teh, Firda memerhatikan tatapan singkatnya pada Marlina. Setiap kali Marlina berdiri mengambil sesuatu, Rey selalu mengikuti gerakannya. Dia merasa ada sesuatu yang janggal dari kedua orang ini.

Hujan di luar semakin deras Di dalam, Firda mulai menyusun skenario liar di kepalanya. Kalau ini drama, hujan akan reda, mereka akan saling pandang, lalu melakukan sesuatu yang seru.

Marlina yang menyadari tatapan sahabatnya, menunduk cepat, pura-pura sibuk mengaduk teh. Tapi jantungnya berdegup lebih kencang dari suara hujan.

Firda tersenyum nakal. Dia tidak tahu pasti apa yang terjadi antara sahabatnya dan bos dingin itu. Tapi satu yang jelas, Rey tidak bersikap biasa pada Marlina. Lelaki yang sangat sulit di dekati oleh siapapun itu, nampak akrab dengan sahabtanya.

Hujan di luar mulai berkurang menjadi rintik-rintik. Suasana di ruang tamu Marlina tetap hangat dan sedikit canggung. Firda duduk menyender santai di sofa, menatap Rey seperti wartawan yang sedang mewawancarai narasumber penting.

"Jadi, Tuan Rey…" katanya sambil memutar sendok di dalam cangkir, "Anda sering mampir ke rumah pegawai seperti ini?"

Rey, yang tengah menyeruput teh, menoleh santai. "Tidak pernah." Tatapannya beralih ke Marlina, menahan senyum. "Ini pertama kali."

Firda mengangkat alis, matanya berbinar-binar. "Oh! Pertama kali, ya? Lalu kenapa mau?"

Rey menaruh cangkirnya di meja, lalu bersandar. "Karena mobil mogok." Dia berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Dan karena yang menawari tempat berteduh itu, Marlina."

Marlina yang sejak tadi mencoba pura-pura fokus pada layar ponselnya, langsung melotot kecil. "Iya karena tidak mungkin membiarkan Tuan di luar sendirian."

Rey seakan menikmati kegelisahan wanita itu. Dia cukup menyukai cara Firda bertindak. Wanita itu mendukung rencananya.

"Kalau boleh jujur, saya jarang lihat anda setileks ini, Tuan Rey. Biasanya di kantor, anda sangat dingin dan jarang sekali bicara."

Firda dan Rey saling menatap dengan senyuman kecil di wajah mereka. Sementara Marlina, gelisah setengah mati karena tingkah sahabatnya. Kenapa dia harus terjebak pada situasi seperti ini?

"Jadi Tuan rey, sepertinya anda sangat nyaman dekat dengan sekertaris anda. Bukankah begitu?" goda Firda pada atasannya.

Rey menanggapi dengan santai, "Iya. Mungkin begitu..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Itu, Bos! [Hasrat Yang Tak Terpadamkan]   Hapus Namanya Di Hatimu

    Suara hujan di luar perlahan mereda, namun ketegangan di dalam ruang kecil itu justru semakin mengental. Setelah mendesak Marlina dengan pertanyaan yang membuatnya penasaran, wanita itu masih saja diam.Setelah memgenakan kembali pakaian, dia duduk kembali di sofa. Menyandarkan kepala sebentar, menatap langit-langit kusam kontrakan Marlina seolah sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak bisa da jelaskan.Marlina hanya duduk di ujung sofa, merapikan rambutnya yang kusut, menyembunyikan rasa kacau yang masih tersisa dari cumbu Rey sebelumnya. Ia tidak berani menatap. Tidak setelah apa yang baru saja terjadi.Rey menghela napas pelan, lalu berkata tanpa menoleh,"Jadi… dia mantan pacarmu? Benar, kan?"Pertanyaan itu membuat Marlina menegang. Dia menoleh cepat, alisnya mengkerut.Kenapa lelaki itu menanyakannya?Mengapa dia seolah ingin tahu kenapa Marlina terlihat begitu hancur ketika bertemu David?Marlina mengangkat dagunya. Suaranya dingin, namun getarnya tak bisa dia sembunyikan."

  • Malam Itu, Bos! [Hasrat Yang Tak Terpadamkan]   Sentuhan Tak Terduga

    Sepuluh menit yang dijanjikan Rey seharusnya sudah lewat. Tapi Rey masih duduk di sofa kecil rumah Marlina, memegang gelas teh yang sudah lama mendingin. Dia bahkan tidak lagi meminum isinya, dia hanya menggenggamnya untuk memberi alasan agar tetap tinggal. Marlina duduk di sisi lain sofa, cukup jauh untuk dianggap aman, namun cukup dekat untuk membuat keduanya saling mendengar detak napas masing-masing.Dia berusaha menjaga jarak, berusaha bersikap wajar. Namun jantungnya terasa tidak stabil setiap Rey menggerakkan tangannya atau mengalihkan pandangan. Sunyi mulai mengisi ruangan itu dengan berat. Rey mengusap pelipisnya pelan, seolah mencoba menyusun kata-kata. Namun yang keluar hanya gumaman rendah, "Marlina…" Wanita itu menoleh. "Iya, Tuan?" Ucapan itu tak sempat selesai. Rey tiba-tiba mendekat, memiringkan tubuhnya, lalu jari jemarinya menyentuh sisi wajah Marlina. Sangat pelan, hampir ragu-ragu. Sentuhan itu membuat Marlina terdiam kaku. Rey sendiri tampak seperti tidak t

  • Malam Itu, Bos! [Hasrat Yang Tak Terpadamkan]   Apa Kau Baik-Baik Saja?

    Marlina menutup pintu rumahnya pelan, berharap Rey benar-benar pergi seperti yang dia katakan. Namun tak sampai dua menit, langkah kakinya terhenti.Mobil Rey masih tetap di tempat, lampunya belum menyala, dan mesinnya pun belum dinyalakan.Rey berdiri bersandar di pintu mobil, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, memandangi teras rumah Marlina seolah sedang menimbang sesuatu.Marlina membuka pintu kembali. "Tuan Rey…? Kenapa belum pulang?"Rey menoleh pelan. Suaranya datar, namun ada ketegangan halus yang tak bisa disembunyikan. "Aku baru ingat. Ada… hal yang harus kutanyakan padamu."Marlina mengerutkan kening. "Apa itu tentang pekerjaan? Ini sudah malam."Rey mendekat. Langkahnya mantap, tapi gerakannya seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu yang lebih dari sekadar urusan kerja."Tidak," jawabnya akhirnya.Marlina menelan ludah. "Lalu… apa?"Rey menatap mata Marlina lama, terlalu lama, sampai wanita itu merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat."Kau… tidak apa-

  • Malam Itu, Bos! [Hasrat Yang Tak Terpadamkan]   Perubahan Sikap

    Langit sore menampakkan semburat jingga lembut ketika Marlina berjalan keluar dari gedung kantor. Udara mulai sejuk, dan embusan angin sore mengibaskan rambutnya yang terurai rapi. Dia baru saja menyelesaikan tumpukan laporan yang diminta Rey. Bos yang belakangan ini, entah kenapa, semakin sulit ditebak. Di satu sisi, Rey tetaplah Rey yang dingin, berwibawa, dan nyaris tak pernah menurunkan nada bicara meski pada pegawai senior sekalipun. Namun entah sejak kapan, Marlina merasa lelaki itu menjadi berbeda, gerutama setiap kali mereka hanya berdua.Seperti siang tadi. Ketika Rey tanpa alasan menatapnya terlalu lama, seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan, tapi tak pernah benar-benar diucapkan. Sorot matanya penuh dengan hasrat, dan Marlina tahu itu. Dan sekarang, saat Marlina baru hendak melangkah keluar, suara berat itu kembali memanggil dari belakang. "Sekretaris Marlina." Wanita itu berhenti, lalu menoleh. Rey berjalan mendekat, dengan jas kerja masih terpakai rapi di tubuh tega

  • Malam Itu, Bos! [Hasrat Yang Tak Terpadamkan]   Godaan Sang Bos

    "Jangan gugup... jangan gugup! Ayo kendalikan dirimu, Marlina." Suasana kantor sore itu terasa tenang, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang mendesis lembut. Marlina melangkah pelan sembari membawa map berisi hasil rapat siang tadi. Setiap langkahnya terasa berhati-hati, seolah dia sedang memasuki wilayah yang berbahaya. Ruangan itu hening, hanya suara jarum jam berdetak pelan di dinding. Marlina berdiri di depan meja kerja Rey, membawa map berisi laporan hasil rapat siang tadi. Rambutnya yang dikuncir separuh tampak berantakan karena angin luar, membuat beberapa helai jatuh di pipinya. "Ini hasil rapatnya, Tuan Rey," ucap Marlina pelan, mencoba menjaga nada suaranya tetap profesional. Namun tangannya sedikit bergetar ketika dia menyerahkan berkas itu, mengingat jelas apa yang terjadi antara mereka di hotel siang tadi. Rey, yang sedari tadi menatap layar laptop, akhirnya menegakkan tubuhnya. Tatapan matanya naik perlahan, berhenti tepat di wajah Marlina. Senyum tipis

  • Malam Itu, Bos! [Hasrat Yang Tak Terpadamkan]   Tatapan Yang Tak Biasa

    "Astaga... rasanya sakit sekali."Cermin besar di kamar hotel itu memantulkan bayangan Marlina. Wajahnya masih memerah, rambutnya berantakan, dan napasnya belum sepenuhnya tenang. Dia merapikan kancing blusnya satu per satu dengan tangan gemetar, berusaha menghapus jejak yang tersisa dari sesuatu yang seharusnya tidak terjadi lagi. Ada bagian darinya yang terus berdenyut menahan sakit, karena permainan brutal sang atasan tadi. Dia hanya bisa menghela nafas pelan, berpura-pura tidak merasakan apapun. Di belakangnya, Rey masih duduk di tepi ranjang, kemejanya setengah terbuka. Tatapan matanya tidak lepas dari bayangan Marlina di cermin. Ada sesuatu di sana, bukan sekadar keinginan, tapi semacam rasa yang menekan dadanya dengan berat.Dia baru menyadari, betapa dalamnya perasaan yang mulai tumbuh. Selama ini dia mengira hanya sekadar tertarik. Tapi setiap gerak kecil Marlina, setiap tatapannya yang gugup, selalu membuat Rey kehilangan kendali. Perlahan Rey berdiri, langkahnya mendeka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status