Mag-log in"Kau benar-benar ingin melupakan kejadian malam itu? Setelah aku mengambil kesucianmu?" tanya Rey Aldebaran dengan suara baritonnya yang teramat rendah, memecah keheningan yang sempat mencekik ruangan tersebut.
Marlina Navasya menelan ludahnya kasar. Tubuh mungilnya membeku di tempat, dan rasa panas mendadak menjalar naik hingga ke puncak kepalanya. Pertanyaan yang meluncur dari bibir tajam Rey rasanya bagaikan hantaman godam yang menghancurkan seluruh pertahanan dirinya. "T-Tuan Aldebaran... tolong jaga batasan Anda!" bisik Marlina, suaranya bergetar hebat karena kombinasi rasa malu dan amarah yang membakar dada. "Saya sudah katakan, itu adalah kesalahan! Alkohol yang membuat kita--" "Jangan menyalahkan alkohol atas ketidakmampuanmu mengontrol diri, Sekretaris Navasya," potong Rey cepat, nadanya begitu dingin dan santai, seolah-olah topik yang mereka bahas tidak lebih dari sekadar laporan keuangan bulanan. Rey perlahan memajukan tubuh tegapnya, menumpukan kedua lengannya di atas meja kerja yang masif. Matanya yang tajam menyipit, mengunci sepasang netra sayu milik Marlina. "Aku hanya mencoba bersikap realistis," sambung Rey lagi, jemarinya bergerak santai membuka salah satu laci meja kerjanya. "Malam itu adalah kali pertamamu, bukan? Noda darah di atas seprai putih hotel itu sudah cukup menjelaskan semuanya. Dan aku bukanlah pria yang suka berutang atau meninggalkan masalah tanpa penyelesaian yang jelas." Pria itu mengeluarkan selembar kertas tebal berdesain elegan dari dalam laci, lalu meletakkannya tepat di tengah meja, menggesernya sedikit ke arah Marlina. Marlina memiringkan kepalanya, menatap lembaran kertas itu dengan kening berkerut. "Apa ini, Tuan?" "Cek atas namamu," jawab Rey datar tanpa mengalihkan pandangannya. "Tulis berapa saja nominal angka yang kau inginkan di sana. Hitung saja itu sebagai kompensasi atau bonus khusus agar kau tidak merasa dirugikan setelah kehilangan keperawananmu denganku." Darah Marlina rasanya mendadak berhenti mengalir. Wajah cantiknya yang tadinya merona memucat seketika. Kata-kata yang keluar dari mulut CEO arogan di hadapannya benar-benar bertindak bagaikan tamparan keras yang menampar pipinya hingga panas. Rasa sakit hati yang luar biasa dahsyat mendadak meremas dadanya hingga sesak. Pria ini... benar-benar iblis. Rey berpikir bahwa segala hal di dunia ini, termasuk kesucian, kehormatan, dan harga diri seorang wanita, bisa dinilai dan diselesaikan begitu saja dengan selembar kertas berharga. "Ganti rugi?" gumam Marlina lirih, suaranya terangkai tipis di antara keheningan ruangan. "Ya. Agar kita sama-sama lega dan bisa bekerja dengan profesional tanpa ada drama emosional di kemudian hari," sahut Rey, menyandarkan punggung tegapnya kembali ke kursi kulitnya dengan keangkuhan yang nyata. "Ambillah. Bukankah uang bisa menyembuhkan banyak hal?" Marlina mengepalkan kedua tangannya erat-erat di balik rok pensilnya hingga buku-buku jarinya memutih. Gigi-giginya berkatup kencang, menahan luapan tangis yang hampir pecah di pelupuk matanya. Ia menatap cek di atas meja itu, lalu mengalihkan pandangannya lurus ke dalam manik mata menusuk milik Rey. Dengan langkah tegas, Marlina maju dua langkah mendekati meja kerja pria itu. Ia meraih lembaran cek berharga fantastis tersebut dengan jemarinya yang gemetar. Rey menaikan sebelah alis tebalnya, sudut bibirnya terangkat samar membentuk senyuman tipis penuh kemenangan. Ia mengira wanita bertubuh 150 cm itu akhirnya menyerah pada realita dan uang. Namun, dugaan Rey meleset jauh. Sret! Sret! Sret! Di depan mata Rey sendiri, Marlina menyobek lembaran cek itu menjadi serpihan-serpihan kecil tanpa keraguan sedikit pun. Kertas-kertas putih itu melayang di udara sebelum akhirnya jatuh berserakan di atas meja kerja mahal milik sang CEO. Rey mematung seketika. Senyuman di bibirnya lenyap tanpa bekas, berganti dengan kilatan mata yang mendadak membahayakan. "Apa yang kau lakukan, Marlina?" desis Rey, suaranya berubah menjadi teramat dalam dan penuh ancaman. "Terima kasih atas penawaran murah hatimu yang teramat menghina itu, Tuan Aldebaran yang terhormat!" ucap Marlina dengan suara yang ditinggikan, menatap Rey dengan tatapan benci yang tak lagi ia tutupi. "Tapi maaf, harga diri dan kesucian saya tidak bisa dibeli dengan lembaran uang sampahmu itu!" "Marlina, jaga ucapanmu--" "Anda yang harus menjaga ucapan dan sikap Anda!" potong Marlina berani, napasnya memburu kencang menahan emosi yang meluap. "Seperti yang sudah saya katakan, malam itu hanyalah sebuah kecelakaan konyol! Anggap saja saya sedang sial karena harus menyerahkan hal paling berharga dalam hidup saya kepada pria dingin dan tak punya hati seperti Anda! Jadi simpan uang Anda, lupakan kejadian malam itu, dan jangan pernah singgung hal ini lagi di depan saya!" Ruangan bernuansa gelap itu mendadak sunyi Senyap. Udara di sekeliling mereka terasa begitu pekat dan berat. Marlina terengah-engah kecil setelah menyemburkan seluruh amarahnya, sementara Rey hanya menatapnya dalam keheningan yang sangat menyiksa. Wajah tampan sang CEO terlihat sekaku batu marmer, tidak ada amarah yang meledak, namun aura intimidasinya meningkat hingga sepuluh kali lipat. Setelah beberapa detik yang menegangkan, Rey perlahan menganggukkan kepalanya pendek. "Baiklah," ujar Rey sangat pelan, namun nadanya sarat akan penekanan mutlak. "Jika itu pilihanmu untuk berpura-pura menjadi pahlawan yang tidak butuh kompensasi, maka anggap masalah di antara kita selesai. Kau boleh keluar." "Terima kasih, Tuan. Permisi," sahut Marlina kaku. Marlina membalikkan badannya dengan cepat, melangkah lebar menuju pintu keluar tanpa mau menatap wajah pria itu lagi. Setiap tumpuan kakinya terasa amat lemas, namun ia memaksakan tubuhnya untuk tetap berdiri tegak hingga pintu kayu tebal itu tertutup rapat di belakangnya. Begitu sampai di luar ruangan, Marlina menyandarkan punggungnya pada dinding lorong yang sepi. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mengusap air mata yang akhirnya menetes membasahi pipinya. Hatinya hancur berkeping-keping. Pria itu benar-benar menganggapnya tak lebih dari sekadar kesalahan murah yang perlu dibayar agar tidak berbuntut panjang. "Lelaki sialan!" umpat Marlina kesal. "Semurahan itu aku di matanya?!"Bicaranya yang jelas, Rey!" bentak Baskoro Aldebaran, memukul meja makan berkayu jati ukiran Jepara hingga denting alat makan perak beradu nyaring. "Jangan cuma diam dan menatap ayahmu seperti itu!" Di meja makan megah berkapasitas dua belas orang yang kini hanya diisi oleh dua pria beda generasi itu, Rey Aldebaran duduk menegakkan punggungnya. Kemeja mewahnya masih melekat rapi, namun dua kancing atasnya sudah terbuka, menandakan kelelahan dan tingkat emosi yang menumpuk. "Lalu aku harus bicara apa, Ayah?" sahut Rey dingin, memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang teramat pelan dan penuh penekanan. "Bukannya Ayah menyuruhku pulang hanya untuk mendengar titah mutlak yang sudah Ayah susun sendiri?" "Ini demi ekspansi Aldebaran Group ke Eropa!" tegas Baskoro, memajukan tubuhnya. "Dewan komisaris mulai mempertanyakan fokusmu. Belakangan ini caramu memimpin terlalu impulsif. Dan tadi siang... laporan dari orang-orangku bilang kau membuat keributan di kafetaria kantor cum
"Siapa, Tuan Rey?" tanya Marlina Navasya ragu, matanya menatap cemas pada rahang kokoh Rey Aldebaran yang tampak mengeras kaku. Rey tidak langsung menjawab. Pria tegap itu mengangkat teleponnya, menempelkan benda tipis bernilai puluhan juta itu ke telinganya tanpa melepas genggaman hangat jemarinya di tangan Marlina. "Ada apa lagi?" sapa Rey dengan suara bariton rendah yang teramat dingin, seolah sedang berbicara pada musuh bebuyutannya."Begitu caramu menyapa ayahmu sendiri, Rey?" suara berat dan berwibawa dari pria paruh baya di seberang telepon bergema halus, menyiratkan kekuasaan mutlak yang tak terbantahkan. "Malam ini ada makan malam keluarga besar di kediaman utama. Kau harus pulang." "Aku sibuk," balas Rey singkat, hendak mematikan sambungan telepon tersebut. "Jangan mencoba bertindak lancang!" potong suara di seberang sana dengan nada menekan yang makin menajam. "Ini bukan sekadar makan malam biasa. Kita perlu membahas ekspansi bisnis ke Eropa dan laporan dewan komisaris
"Kalian sudah gila, ya?!" seru Marlina dengan napas memburu, menatap tajam keempat wanita yang masih mengepungnya di sudut pantri. "Mana ada hubungan apa-apa antara aku dan Tuan Rey! Kalian ini suka sekali mereka-reka cerita!" "Halah, alasan!" sahut Siska dengan nada mengejek, melipat tangan di depan dada. "Mana ada atasan yang mau-maunya menggendong sekretarisnya di atas bahu kalau cuma gara-gara urusan kantor! Jelas-jelas muka Tuan Rey tadi merah karena cemburu buta!" "Betul! Pipimu juga merah banget tuh, Marlina!" timpal Maya ikut memanas-manasi. "Ngaku saja, deh! Kalian sudah resmi pacaran, kan? Atau jangan-jangan... sudah tinggal bersama?!" Marlina merasakan darahnya mendidih seketika. "Kalian kalau bicara jangan asal, ya! Aku tidak punya hubungan spesial apa pun dengan Tuan Rey! Dan tolong, singkirkan tangan kalian dari jalaniku sekarang juga!" "Ih, ngambek, Guys!" cibir salah satu staf keuangan sambil tertawa kecil. "Tanda-tanda orang yang ketahuan menyembunyikan status nih
"Aku tidak mau lagi berpura-pura tidak dekat denganmu di kantor ini," cetus Rey Aldebaran tegas, menatap lurus sepasang mata bulat milik Marlina. Marlina Navasya yang mendengarnya seketika membelalakkan matanya kaget. "Tidak! Saya tidak mau, Tuan Rey!" "Kenapa tidak mau?" tuntut Rey, alis tebalnya bertaut rapat dengan raut wajah yang mulai mengeras. "Saya tidak mau jadi bahan gosip satu gedung ini!" sembur Marlina tajam, emosinya yang baru saja mereda mendadak tersulut kembali. "Saya tidak mau dipandang sebagai wanita gatal yang menggunakan posisinya untuk menggoda atasannya sendiri! Anda pikir enak berada di posisi saya, hm?!" Rey menatap Marlina dengan tatapan yang sangat masam. Pria tegap itu memalingkan wajahnya ke arah jendela besar, lalu bersedekap dada sembari bergumam dengan nada cemburu yang begitu kentara. "Bilang saja kau memang sengaja ingin tetap lajang di mata orang-orang kantor, kan?" celoteh Rey sinis dengan suara pelan namun sangat jelas terdengar. "Supaya kau bi
"T-Tuan Rey, tolong lepaskan tangan Nona Navasya," panggil Yoga memberanikan diri, melangkah maju satu langkah sembari menatap takut-takut pada sang CEO. "Nona Navasya tampak kesakitan, Tuan." Rey Aldebaran memutar kepalanya perlahan. Sepasang netra kelabunya yang sedingin es mengunci lurus pada staf IT muda itu dengan kilatan membunuh yang amat pekat. "Kau mau ikut campur dalam urusanku, Yoga?" tanya Rey dengan suara bariton rendah yang sanggup membekukan seluruh aliran darah orang yang mendengarnya. "Saya cuma kasihan pada Nona Navasya, Tuan—" "Mulai hari ini kau dipecat," potong Rey singkat, datar, dan tanpa keraguan sedikit pun. "Kemas barang-barangmu dari divisi IT sekarang juga dan keluar dari gedungku sebelum jam satu siang." Suara pekikan kaget dari puluhan karyawan yang menyaksikan adegan itu seketika pecah membelah keheningan kafetaria. Semua orang saling berbisik panik melihat kejamnya keputusan sang atasan. "T-Tuan Rey! Jangan gila!" teriak Marlina Navasya tidak teri
"Anda benar-benar keterlaluan, Rey!" cetus Marlina Navasya, suaranya bergetar menahan amarah yang mendadak membakar dadanya. Rey Aldebaran masih bersandar santai di bantal ranjang penthousenya, menatap wanita bertubuh mungil itu dengan alis terangkat tipis. "Keterlaluan bagaimana? Aku hanya menegaskan batasan, Marlina." "Batasan?!" pekik Marlina melompat turun dari kasur, membiarkan selimut tebal itu meluncur jatuh. "Anda mengancam akan menghancurkan karir orang lain hanya karena dia berbicara pada saya! Anda pikir Anda siapa, Rey?! Anda merasa punya kekuasaan penuh untuk mengatur hidup saya dan memperlakukan saya seperti barang milik Anda?!" "Kau memang milikku, Marlina," sahut Rey datar, nada suaranya begitu arogan tanpa penyesalan sedikit pun. Marlina tertawa hambar, matanya berkaca-kaca dipenuhi rasa kecewa dan kesal yang memuncak. Tanpa memedulikan tatapan Rey yang tertegun, Marlina meraih pakaian kerjanya yang tersangkut di kursi, lalu memakaikannya kembali ke tubuhnya denga
Sepanjang perjalanan menuju lokasi meeting, Rey beberapa kali meliriknya dari sudut mata. Setiap kali Marlina menyadarinya dan menoleh, Rey langsung mengalihkan pandangan pura-pura melihat ke luar jendela.Saat tiba di lobi hotel tempat pertemuan, Rey berjalan sedikit lebih cepat, lalu tiba-tiba be
Udara malam menusuk kulit saat mereka keluar dari restoran. Satu per satu pegawai berpamitan, sebagian memilih naik taksi, sebagian diantar temannya. Rey berjalan pelan ke arah mobilnya, lalu menoleh. "Marlina." Suara itu datar, tapi ada sesuatu yang memaksa Marlina berhenti. "Ya, Tuan Rey?""A
"Wah, lihat ini. Kenapa aku gelisah sekali." Mata lelaki tampan itu nampak gelisah. Menjaga jarak ternyata bukan hal yang mudah. Awalnya Rey pikir, mengikuti saran Marlina akan meredakan gosip. Nyatanya, itu hanya membuatnya gila. Setiap kali dia keluar dari ruangannya dan melihat Marlina terta
Saat jam makan siang, Marlina sedang duduk di meja kerjanya, memeriksa data di laptop sembari menyendok mie instan. Suara berat itu tiba-tiba terdengar di belakangnya. "Makan siang seperti itu? Tidak sehat." Marlina hampir tersedak. "Tuan Rey! Bisa tidak munculnya jangan tiba-tiba?" Rey hany







