MasukSetelah Om Krisna berpamitan untuk kembali ke hotelnya, suasana di dalam rumah aman itu mendadak menjadi sangat sunyi. Althea masih terduduk di sofa panjang, menyandarkan kepalanya yang terasa pening ke sandaran kulit yang dingin. Lelah fisik dan batin benar-benar terasa menumpuk malam ini. Kael sempat menghilang ke area dapur belakang selama beberapa saat. Ketika ia kembali, aroma harum nasi goreng mentega yang gurih langsung memenuhi ruangan. Kael berjalan mendekat sambil membawa sebuah nampan berisi sepiring makanan hangat dan segelas air putih. "Makan dulu, Thea," ucap Kael, meletakkan nampan itu di atas meja kopi di depan Althea. Althea membuka matanya perlahan, menatap makanan itu dengan pandangan lesu. "Aku tidak lapar, El. Perutku masih terasa agak mual sejak dari pengadilan tadi." Kael tidak langsung menyerah. Ia mengambil piring tersebut, lalu duduk di sofa tunggal yang berada tepat di sebelah Althea, memotong jarak di antara mereka namun tetap memberikan ruang yang sopa
Malam harinya, rumah dua lantai di pinggiran Jakarta itu tampak sunyi namun dijaga ketat oleh tim Bayu. Di ruang tengah, Kael, Althea, dan Om Krisna kembali duduk bersama Damar untuk mematangkan persiapan sidang berikutnya. Damar tampak jauh lebih tenang dibanding saat pertama kali diselamatkan dulu, meski sisa-sisa trauma di wajahnya belum sepenuhnya hilang. Di atas meja, beberapa berkas dokumen dan laptop dalam posisi terbuka. "Semua poin yang pernah kamu jelaskan saat interogasi waktu itu sudah dirangkum oleh tim hukum kita, Damar," buka Kael, memecah keheningan dengan suara rendahnya yang tegas. "Malam ini kita hanya perlu memastikan tidak ada satu pun detail yang meleset untuk kesaksianmu minggu depan." Damar mengangguk pelan, melirik berkas di depan Kael. "Saya paham, Pak Kael. Saya sudah siap. Semua yang saya katakan sebelumnya tentang bagaimana Zayyan memaksa saya membuat akun fiktif itu... tidak ada yang berubah. Saya pegang kata-kata saya." Althea menatap Damar denga
Perjalanan dari pengadilan dialihkan menuju pemakaman mewah di kawasan Jakarta Selatan. Setelah melewati gerbang beringin yang rindang, mobil berhenti di dekat sebuah area rumput hijau yang terawat rapi. Di sana, dua batu nisan marmer hitam berdiri berdampingan di bawah teduhnya pohon kamboja. Althea melangkah lebih dulu, membawa sebaskat bunga segar. Langkahnya yang tadi lemas saat di koridor pengadilan, kini mendadak memiliki sisa kekuatan. Ia bersimpuh di antara kedua makam itu, menyentuh permukaan marmer yang terasa dingin. Kael dan Om Krisna berdiri beberapa langkah di belakangnya, memberikan ruang dan waktu bagi Althea untuk berbicara dengan dunianya yang telah runtuh. Althea mengusap sisa air mata di pipinya, lalu mulai menaburkan bunga perlahan. "Papa... Mama..." Suara Althea tercekat pada kata pertama. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan gemuruh di dadanya. "Thea datang lagi hari ini." Hening sejenak. Angin siang berembus pelan, menggugurkan beberapa helai daun
Mereka melangkah menyusuri koridor belakang pengadilan yang sepi dan dingin. Langkah kaki Althea terasa sangat berat, seolah seluruh sisa tenaganya sudah terkuras habis di dalam ruang sidang tadi. Suara gemuruh dari kerumunan wartawan di luar gedung masih terdengar lamat-lamat, menambah rasa sesak di dadanya. Althea tiba-tiba menghentikan langkahnya di dekat jendela besar yang menghadap ke area parkir dalam. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding beton, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya gemetar ringan. "Thea," panggil Kael dengan nada yang sangat lembut. Ia ikut berhenti dan berdiri di depan Althea, memberikan ruang aman bagi wanita itu tanpa berniat menyentuhnya demi menjaga batasan status hukumnya. Althea menurunkan tangannya, menatap Kael dengan mata yang berkaca-kaca karena kelelahan emosional yang teramat sangat. "El... aku benar-benar lelah," bisik Althea, suaranya terdengar parau dan bergetar hebat. "Aku ingin semua ini cepat selesai. Aku ingin surat
Setelah Hakim Ketua melangkah keluar, suasana ruang sidang langsung mencair menjadi kegaduhan. Beberapa petugas kejaksaan segera bergerak mendekati Zayyan untuk memasang kembali borgol di tangannya sebelum membawanya kembali ke sel tahanan sementara. Saat Zayyan berdiri, ia sengaja memperlambat gerakannya. Januar yang berada di sampingnya mencoba berbisik dengan panik. "Zayyan, kita harus bicara dengan ibumu, Bu Inara. Jika Damar benar-benar bersaksi minggu depan, posisi kita bisa hancur total!" Zayyan tidak memedulikan ucapan Januar. Tatapannya kembali beralih pada Althea dan Kael yang baru saja berdiri dari kursi mereka. Dengan langkah yang tertahan oleh petugas, Zayyan sengaja berjalan melewati meja pelapor. "Menuntutku atas penggelapan dana?" Zayyan terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat sinis saat menatap Althea. "Jangan lupa, Althea... di atas kertas, kamu itu masih istri sahku. Semua aset yang kamu sebut milik ayahmu itu, sebagian masih terikat atas namaku sebagai suamimu
Mendengar tuduhan itu, Om Krisna yang duduk di barisan depan tidak bisa lagi menahan diri. Pria paruh baya itu berdiri dari kursinya dengan wajah yang memerah karena amarah yang membara. "Konspirasi apa yang kamu maksud, Pengacara?" suara Om Krisna menggelegar, memotong ucapan Januar tanpa ampun. "Saya sendiri yang memimpin komite audit internal setelah menerima laporan dari Ibu Ratna! Segala bentuk manipulasi yang dilakukan Zayyan sudah kami verifikasi dengan bukti valid!” Om Krisna melangkah satu tindakan ke depan, menunjuk langsung ke arah Zayyan dengan jari yang bergetar karena emosi yang tertahan. "Zayyan! Kamu adalah keponakan tiri saya, tapi kelakuanmu tidak lebih dari seorang pencuri yang tidak tahu diuntung! Kamu menghancurkan kepercayaan mendiang ayah Althea yang sudah menganggapmu seperti keluarga sendiri! Kamu menguras harta perusahaan untuk mendanai gaya hidupmu yang menyimpang dan bisnis gelapmu di luar sana!" Zayyan perlahan memutar kepalanya, menatap Om Krisna dengan
Kael menggiring Althea dengan gerakan yang sangat terukur, memutar arah menuju lift yang mengarah ke parkir bawah tanah. Selama perjalanan singkat itu, Kael terus memastikan posisi tubuhnya berada di antara Althea dan pintu keluar utama, seolah ia adalah perisai hidup yang tidak akan membiarkan
Cahaya matahari pagi masuk ke kamar vila melalui celah tirai, namun Althea masih meringkuk di bawah selimut. Pikirannya masih kacau. Rasa jijik dan cemas setelah apa yang Zayyan lakukan padanya—terutama soal alat kontrasepsi paksa itu—membuatnya merasa tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri. Kael su
Althea menarik napas panjang, mencoba menekan gemetar di suaranya. Ia menatap Kael, lalu perlahan menurunkan tangannya dari perut ke samping tubuhnya."Aku merasa... kotor, El," bisik Althea dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Zayyan memasang IUD di rahimku tanpa aku tahu saat aku di rumah sakit
Ketenangan di perbukitan Sentul akhirnya kembali menyambut mereka saat mobil jip Kael memasuki halaman vila. Waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi, menjelang fajar. Setelah malam yang begitu melelahkan dan penuh ketegangan di Jakarta Utara, suasana sunyi di vila ini menjadi obat yang sangat dibu







