Share

Bab 4

Author: Richy
Terakhir kali kami pergi ke tempat pijat, Gery pernah berkata padaku, "Sekarang di panti pijat isinya cuma 'daun kering', nggak ada gadis muda sama sekali. Aku benar-benar ingin cari yang segar satu kali saja."

Sepertinya sejak saat itu dia sudah mengincar putriku.

Pantas saja kali ini dia setuju merayakan ulang tahun Lulu di tempat karaoke, ternyata tujuannya adalah agar putriku juga ikut datang.

Melihatku menatapnya dengan tatapan tajam dan bengis, Gery justru tampak bingung.

"Morgan, jelas-
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Malam Kelam di Tempat Karaoke   Bab 7

    Seketika Gery terdiam kaku, lalu menatap Lulu dengan wajah tak percaya. Lulu tampak menyusut di sudut, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Gery melirikku dan langsung menginterogasiku, "Morgan, kamu benar-benar licik! Mana mungkin putriku menggodamu?!"Melihat Gery tidak percaya, aku menarik Lulu dan mendesaknya, "Cepat katakan, kamu yang menggodaku, ‘kan?"Lulu, seorang gadis muda yang belum pernah menghadapi situasi seperti ini, gemetar hingga bibirnya memucat dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Di tengah suasana yang mencekam itu, putriku yang berdiri di belakang tiba-tiba mengalami tekanan mental. Dia berteriak histeris dan membentakku, "Ayah! Apa yang sebenarnya terjadi antara Ayah dan Lulu?! Apa semua ini benar?!"Melihat putriku yang tampak hancur, aku tidak boleh membuatnya semakin menderita. Aku segera menariknya masuk dan membujuknya dengan lembut, "Putriku sayang, kami tadi hanya bercanda. Jangan dianggap serius."Aku menarik tangan putriku dengan paksa masuk ke da

  • Malam Kelam di Tempat Karaoke   Bab 6

    Namun, baru saja aku melangkah keluar pintu, pintu rumah sudah terbuka. Dua orang keluar dari sana satu tinggi dan satu pendek, seorang pria dan seorang wanita. Aku mengerjapkan mata untuk memastikan siapa yang datang.Ternyata Gery yang datang! Di sampingnya, berdiri putrinya, Lulu. Begitu melihatku, Gery yang tampak murka langsung mencengkeram kerah bajuku dan merangsek maju dan hendak memukulku."Bajingan, Morgan! Apa yang sudah kamu lakukan pada putriku?!"Aku menyentak tangannya hingga terlepas dan membalas dengan kemarahan yang sama besarnya. "Kamu masih berani cari gara-gara denganku? Memangnya kamu nggak sadar apa yang sudah kamu lakukan sendiri, hah?"Mendengar keributan itu, Meisya keluar dari rumah. Dia menatap kami dengan heran dan bertanya dengan hati-hati, "Paman Gery, kenapa Paman ke sini? Apa yang kalian lakukan di sini?"Melihat Meisya, Gery langsung bertanya padanya, "Kamu datang di waktu yang tepat. Ayo, katakan padaku, apa aku melakukan 'hal itu' padamu?"Meisy

  • Malam Kelam di Tempat Karaoke   Bab 5

    Sepertinya pertemanan ini harus berakhir. Jika benar begitu, aku pasti akan menjebloskan Gery ke penjara. Melihat ekspresiku yang aneh, putriku segera bertanya, "Ayah, ada apa? Wajah Ayah pucat sekali."Aku memegang bahu Meisya dan bertanya dengan cemas, "Coba kamu pikirkan baik-baik sekarang, apa ada perasaan nggak nyaman di bagian bawahmu?"Meisya merenung sejenak, lalu berkata, "Rasanya ... bagian bawahku agak pegal dan penuh. Ayah, kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Itu ‘kan sangat pribadi."Mendengar jawaban putriku, hatiku terasa dingin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku terduduk lemas di lantai. Meisya segera membantuku berdiri. "Ayah! Ayah kenapa?"Aku melambaikan tangan dengan lemas. "Putriku ... si Gery itu ... dia memerkosamu saat kamu mabuk!"Mendengar kalimat itu, Meisya menutup mulutnya karena terkejut. Dia menatapku dengan penuh kengerian. "Nggak mungkin! Paman Gery seharusnya bukan orang seperti itu. Rasanya pegal mungkin karena aku minum terlalu banyak dan in

  • Malam Kelam di Tempat Karaoke   Bab 4

    Terakhir kali kami pergi ke tempat pijat, Gery pernah berkata padaku, "Sekarang di panti pijat isinya cuma 'daun kering', nggak ada gadis muda sama sekali. Aku benar-benar ingin cari yang segar satu kali saja."Sepertinya sejak saat itu dia sudah mengincar putriku. Pantas saja kali ini dia setuju merayakan ulang tahun Lulu di tempat karaoke, ternyata tujuannya adalah agar putriku juga ikut datang. Melihatku menatapnya dengan tatapan tajam dan bengis, Gery justru tampak bingung."Morgan, jelas-jelas kamu yang menyentuh putriku, kenapa malah menatapku begitu?"Aku ingin sekali menumpahkan segalanya saat itu juga. Namun, aku berpikir kembali, putriku dan Lulu ada di sini. Jika aku membongkar semuanya terlalu terang-terangan, semua orang akan menanggung malu. Aku terpaksa menelan amarah itu dan berkata pada Gery, "Bukan apa-apa. Acara ulang tahun hari ini sampai di sini saja. Aku dan Meisya pulang duluan."Gery menatapku dengan amarah yang meluap. Saat aku hendak pergi, dia bahkan sem

  • Malam Kelam di Tempat Karaoke   Bab 3

    Sambil berbicara, satu tangannya dengan mahir membuka resleting celanaku. Dia langsung menyelinap masuk! Genggaman tangan kecilnya yang lembut, membuat seluruh kerangka tubuhku terasa lemas. Aku tidak lagi berniat menyelamatkan putriku, mataku hanya tertuju pada Lulu.Dia memegang "milikku" dan membimbingku duduk kembali ke sofa. Aku hanya bisa pasrah membiarkannya bermain. Dia berlutut di sampingku, mengeluarkan alat itu dari celanaku. Sambil menatapku, dia berkata, "Sebenarnya aku sudah lama ingin mencoba ini. Hari ini akhirnya ada kesempatan melakukannya."Setelah berkata demikian, dia segera menundukkan kepalanya dan membuka mulut kecilnya yang semerah ceri.Seketika, bagian bawah tubuhku merasakan sensasi yang hangat, ketat, dan basah. Benar-benar terbungkus dengan rapat. Harus diakui, meski Lulu masih muda, "keahliannya" benar-benar hebat. Darahku seolah mendidih dan mengalir deras ke seluruh tubuh. Kakiku gemetar tak terkendali, posisiku berubah-ubah antara terbuka dan

  • Malam Kelam di Tempat Karaoke   Bab 2

    Aku menoleh menatap Lulu dan bertanya pelan, "Bagian mana yang ingin Paman garuk?" Lulu menunjuk roknya dengan malu-malu, matanya menatapku dengan sayu. "Tolong garuk bagian bawahku, tapi jangan sampai Ayah lihat."Sambil bicara, dia dengan sengaja membuka kedua kakinya. Sepertinya dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Gery, posisiku saat ini sangat pas untuk menghalangi pandangan. Aku mulai menyentuh kakinya, putih dan licin, teksturnya sangat nyaman. Lulu menggigit bibirnya dengan tegang, wajahnya terlihat sangat menggoda sekaligus polos.Awalnya aku merasa sedikit bersalah. Bagaimanapun juga, aku melihat Lulu tumbuh besar sejak kecil, sudah seperti putriku sendiri. Namun, setelah melihat Gery meraba putriku, rasa bersalah itu hilang tak berbekas. Digantikan oleh kegembiraan yang luar biasa.Tanganku menyelinap ke balik roknya, dan aku terkejut bukan main. Lulu bukan hanya tidak memakai bra, celana dalamnya pun kosong! Aku langsung menyentuh bagian yang paling lembut. Lu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status