ログインFun fact: Perancang busana terkenal dari Highvale yang Jade sebutkan di atas, ada di buku Ibu Susu Bisu Bayi Kembar Tuan Penguasa, lho. Si perancang busana terkenal ini, pernah menolong ibu Jade waktu diremehkan oleh para wali murid karena datang ke sekolah tanpa pernah mengenalkan sosok ayah kandung Jade. Masa-masa di mana orang tua Jade menjalani long Distance Married. :)
Malam itu tidak ada lagi keraguan di mata Jade. Di layar ponselnya, nama Primus masih menyala. Di luar jendela kamar rawat, langit gelap seperti menunggu sesuatu yang akan runtuh. “Target pertama, keuangannya,” desis Jade. Primus tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu diam-diam tertegun mendengar Jade menggunakan nada yang sama ketika Morgan Draxus dulu memutuskan sebuah perang bisnis 20 tahun lalu. “Semua data sudah siap, Tuan. Tiga rekening luar negeri atas nama perusahaan cangkang. Dua di antaranya terhubung langsung dengan proyek konstruksi Vincent,” sahut Vincent lugas. “Bagus.” Jade menatap infus di lengannya sejenak, lalu melepasnya sendiri tanpa ragu. “Kirimkan berkas itu ke Unit Investigasi Keuangan atas nama anonim. Pastikan jejaknya mengarah ke orang di sekitar Vincent.” Primus mengerti. Jika penyelidikan resmi dibuka, para investor akan panik lebih dulu sebelum polisi bergerak.
Morgan menghela napas panjang, napas yang terdengar sangat berat, seakan tengah membawa beban keputusan yang tidak mudah. "Jadi kau akan mengizinkannya?" tanya Morgan sambil menatap istrinya dengan lekat. Sydney mengangguk tegas. Tidak ada keraguan di mata Sydney. Hanya tekad bulat seorang ibu yang sudah lelah melihat anak-anak dan cucunya disakiti. "Terima kasih untuk kepercayaannya, Mami," ucap Jade sambil tersenyum tipis terharu. Kini Jade dan Morgan tidak perlu menutupi apa pun dari Sydney lagi. Sydney sudah merestui jalan yang Jade pilih untuk balas dendam. Jalan yang sama dengan jalan yang pernah Morgan tempuh puluhan tahun lalu. Jade menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan dan baru menyadari bahwa di ruangan ini hanya ada Jade, Sydney, dan Morgan. Kemudian Jade bertanya dengan dahi yang berkerut, "Kenapa Jane, Sereia, dan Zaleia ada di kantor polisi? Ada yang berniat menculik mereka?"
Jade kembali membuka mata perlahan, seperti seseorang yang terbangun dari mimpi buruk yang sangat panjang. Namun kali ini Jade sudah berada di dalam ruangan serba putih dengan bau antiseptik yang menyengat, bau khas rumah sakit yang tidak mungkin salah dikenali. "Jade, akhirnya kau sadar juga!" Suara Sydney di sebelahnya langsung menyapa. Jade menoleh dengan lamban karena lehernya masih terasa kaku dan mendapati sang ibu langsung memeluknya erat sambil mengusap punggungnya lembut penuh perasaan lega. Morgan berdiri tidak jauh di belakang Sydney dengan tangan terlipat di depan dada. Wajah pria paruh baya itu terlihat sangat serius meski ada sedikit kelegaan di matanya. Sydney melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh untuk melihat wajah Jade dengan lebih jelas. "Apa kau masih merasa sakit atau sesak pada dadamu?" tanya Morgan. "Dada?" ulang Jade sambil mengernyitkan dahi dan secara refleks memegang dadanya.
Di pelabuhan, beberapa kapal dengan logo Poseidon Exports bersandar dengan megah di dermaga yang luas. Jade melangkah lebar menuju gudang kapal sambil mendengarkan laporan dari sekretarisnya yang khusus bekerja di lapangan, seorang pria bernama Arvin yang beberapa tahun lebih muda dari Jade dan sangat cerdas dalam hal teknis kapal. "Revitalisasi akan memakan waktu dua bulan, Tuan," lapor Arvin sambil membuka tablet yang menampilkan blueprint kapal. "Mesin utama, sistem navigasi, dan lambung kapal semuanya perlu diperbaharui." Jade mengangguk sambil memperhatikan kondisi kapal yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda usia, cat yang mengelupas, karat di beberapa bagian, serta peralatan yang ketinggalan zaman. Setelah Jade mengawasi secara langsung proses revitalisasi kapal dan memastikan semua berjalan sesuai standar, pria itu kembali mengendarai mobil menuju kantor. Namun dalam perjalanan, ponsel Jade ber
Keesokan harinya di rumah Jade yang biasanya sepi, kini dipenuhi dengan wanita-wanita dari Keluarga Draxus yang membuat rumah itu terasa hidup. Sementara Sydney dan Morgan memutuskan untuk menginap di rumah sakit supaya bisa menjaga Elias yang masih dalam masa pemulihan, meski kondisi adik bungsu mereka sudah jauh lebih baik. Pagi itu, meja makan di rumah Jade sangat ramai dengan suara percakapan ringan dan tawa sesekali. Ada Jane yang duduk paling ujung dengan secangkir kopi di tangan, Sereia yang sedang mengupas buah sambil berbicara dengan Zaleia yang duduk di sebelahnya. Jade adalah yang paling terakhir bergabung di meja makan yang juga sudah penuh dengan berbagai menu sarapan, mulai dari pancakes, telur orak-arik, bacon, roti panggang, salad buah, jus jeruk, hingga kopi panas. Jade sudah memakai setelan jas formal berwarna abu-abu gelap dengan kemeja putih, terlihat sangat profesional dan siap untuk
Namun nyatanya, Daisy masih ada di sana, terbaring lemah di ranjang dengan selang-selang yang menempel di tubuhnya dan tidak sadarkan diri, bahkan setelah Vincent membuka pintu kamarnya kasar sambil memanggil namanya dengan keras.Vincent berdiri di ambang pintu sambil mengatur napasnya yang tersengal. Dadanya naik turun dengan cepat, campuran antara lega dan marah.Pria itu meremas rambutnya dengan frustrasi, lalu berbalik menatap dua anak buahnya yang juga melongok ke dalam dengan wajah pucat."Kalian akan mati malam ini!" ancam Vincent penuh penekanan.Belum sempat mereka merespons untuk memohon ampun atau memberikan penjelasan, ponsel mereka berdering nyaris bersamaan.Bunyi dering yang sangat tidak tepat waktu.Kedua anak buah itu melirik Vincent dengan ragu. Salah satu dari mereka mengangkat ponselnya sedikit, meminta izin untuk menerima panggilan itu lebih dulu.Vincent menghela napas kasar sambil melambaikan tang







